WHY #SaveSharks ?

shark finning [sumber foto: http://www.ourbreathingplanet.com]

Foto inilah yang mengagetkan saya

Foto inilah yang mengusik pikiran saya

Foto inilah yang menggerakkan hati saya

Dan

Foto inilah yang menyadarkan saya

Akan pentingnya #SaveSharks

Demi keberlangsungan ekosistem laut

Saya bukanlah siapa-siapa. Bukan aktivis lingkungan, bukan mereka yang terjun langsung dalam campaign #SaveSharks. Saya juga tidak banyak tahu tentang kelautan, bahkan rumah saya pun jauh dari laut. Saya cuma orang desa yang sedang prihatin dengan kondisi di luar sana… dan… belum bisa berbuat banyak…

Melihat realita pahit, dibalik tersajinya semangkuk sup sirip hiu di restoran mewah yang biasa dikonsumsi kalangan elite, TERNYATA “pengorbanan besar” terjadi di luar sana… Dan parahnya, tidak banyak yang menyadari bahwa sebenarnya rentetan panjang dampak negatif kerusakan ekosistem laut karena perburuan hiu  akan dirasakan oleh kita semua… entah kapan…

Dalam postingan ini, blog Destination Anywhere kedatangan tamu, teman saya Sefin yang baru saja sekolah alam di Raja Ampat Papua Barat dan menyumbangkan sekelumit cerita mengenai campaign: WHY #SaveSharks. Check this out…

                   ======================================

#SaveSharks: Bukan Sekadar Hashtag

Oleh: Josefine Yaputri

Why #SaveSharks? Pertanyaan ini seringkali muncul dan mengarah pada saya, sebagai salah satu orang yang cukup gencar ikutan kampanye penyelamatan hiu. Sekadar informasi, kampanye ini diawali oleh Divemag Indonesia dan Riyanni Djangkaru dengan ikon Itong atau Hiu Tonggos yang menggemaskan. Dengan hashtag #SaveSharks amat terkenal di Twitter, saya pada akhirnya bergabung dengan misi ini untuk Nescafe Journey 2.

Kenapa hiu? Kenapa bukan hewan lain? Bagi yang belum tahu, hiu sendiri adalah predator utama dalam rantai makanan ekosistem laut, sehingga hiu memegang peranan yang sangat penting. Tanpa adanya hiu, keseimbangan ekosistem secara total menjadi sangat terganggu. Jumlah hiu turut mempengaruhi jumlah spesies-spesies yang di bawahnya dalam rantai makanan. Singkatnya, bila jumlah hiu berkurang terus-menerus, kemungkinan kita untuk makan seafood enak akan menjadi sangat kecil. Nggak mau, kan?

Hiu yang selama ini dianggap sebagai hewan laut yang buas dalam film-film nyatanya nggak seseram itu. Buktinya, para diver/penyelam bisa berenang bersama hiu dengan aman dan biasa saja, seperti ikan-ikan lain dan nggak mengganggu kami sama sekali. Dan menurut hasil penelitian, jumlah manusia yang terbunuh karena diserang hiu setiap tahunnya hanya dua belas, sementara jumlah hiu yang diburu manusia tiap tahunnya mencapai lebih dari 100 juta! Hiu-hiu ini diburu karena daya jualnya yang tinggi. Siripnya diburu untuk sup yang katanya bergizi, padahal nggak ada rasanya dan mengandung merkuri 40 kali di atas batas aman! Yang lebih menyedihkan lagi, di kota-kota besar di Indonesia, kuliner daging hiu menjadi tren untuk disajikan bareng nasi goreng, sate, dll. Konsumen yang nggak bijak tentu langsung ikut-ikutan dan makan ini semua tanpa memikirkan dampaknya. FYI, merkuri dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker dan penyakit Minamata yang menyebabkan kecacatan juga masalah saraf. Seram nggak, tuh?

sharks finning, sharks slaughtering, save sharks
sharks finning – sharks slaughtering [sumber foto: http://news.bbc.co.uk]

#SaveSharks bukan sekadar gerakan yang membicarakan tentang “Ayo kita sama-sama selamatkan hiu!” saja. Kampanye ini lebih dari itu. Semua orang yang getol mengampanyekan #SaveSharks turut berkontribusi dalam penyelamatan lingkungan. Kita riset bareng-bareng dan melakukan aksi nyata untuk menghentikan perburuan hiu. Sosialisasi langsung ke masyarakat juga kita lakukan, terlebih karena masyarakat sebagai konsumen utama yang memesan menu hiu menjadi alasan mengapa perburuan hiu masih ada. Kita nggak hanya melakukan pencerdasan atau sosialisasi massa lewat media sosial seperti Twitter. Beberapa teman yang berprofesi sebagai guru bahkan melakukan sosialisasi #SaveSharks kepada murid-muridnya hingga mereka menjadi lebih peduli dan memutuskan untuk tidak makan menu apapun yang terbuat dari bahan dasar hiu. Siapapun bisa ikut berperan dalam kampanye ini. Tidak harus terjun langsung ke lapangan, atau demo restoran/supermarket yang menjual hiu. Cukup dengan menyampaikan informasi akan bahaya mengkonsumsi ikan hiu atau sedikit bercerita mengenai dampak apabila populasi hiu semakin menurun kepada teman/relasi untuk membangun kesadaran mereka, itu sudah merupakan  langkah kecil untuk berperan aktif dalam #SaveSharks

Hashtag #SaveSharks sendiri hanya sebagian kecil dari aksi nyata yang kami lakukan. Tapi dari hashtag ini, sudah cukup banyak orang-orang yang mengerti akan pentingnya hiu dan bahanya mengonsumsi makanan berbahan dasar hiu hingga memutuskan untuk tidak memakannya lagi. Petisi online #SaveSharks di website Change.org juga salah satu aksi untuk kampanye ini. Link nya disini. Dan sudah lebih dari 1,680 orang menandatangi petisi ini! Kami percaya pada perubahan yang dimulai dari langkah-langkah kecil, oleh karena itu kami melakukan kampanye ini. Sekarang semuanya kembali lagi pada konsumen, sudah siapkah kita menjadi konsumen yang bijak dan tidak memesan serta mengonsumsi makanan berbahan dasar hiu?

More about Save Sharks, just click www.seashepherd.org

save sharks
Happy Sharks Year from DiveMagz

Jangan Lewatkan Harga Tiket Pesawat Termurah di Wego.co.id !!

29 thoughts on “WHY #SaveSharks ?”

    • nyesek liat fotonya… hiu ditangkap hidup², diangkat ke kapal, dipotong sirip²nya, setelah buntung… dibuang gitu aja ke dasar laut dan… mati pelan² 🙁

      Reply
    • Hai. Ya, memang tragis bagaimana hiu diperlakukan seperti itiu..kurangnya pengetahuan membuat konsumen tdk waspada akan bahaya dan dampaknya..

      Reply
  1. Malangnya nasib hiu-hiu itu…,teman Anda lagi belajar sekolah Alam di Raja ampat ya? dekat banget ma tempat saya,di Sorong,Papua Barat.

    Reply
  2. Ngenesin banget lihat foto itu. Demi makanan yang dimitoskan, rela menjagal hewan dengan brutal. 🙁

    Reply
    • siapa yg tega liat foto itu… hiu tergeletak tak berdaya di dasar lautan, dibuang begitu saja setelah sirip²nya dipotong… kemudian mati perlahan… hanya demi semangkuk sup 🙁

      Reply
  3. Hai mas, salam kenal. aku ijin re-blog topik ini ya. Sunggug setiap orang harus tau tentang ini, miris 🙁

    Reply
  4. manusia ! benar-benar ya, nafsu akan membuat manusia menjadi lebih ganas dari makhluk apapun di bumi ini ..

    save shark, save the ocean ..

    kenapa ? sederhana, karena saya masih pengin anak cucu saya kelak bisa tau seperti apa hiu itu, juga fauna samudera lainnya .. 🙂

    Reply
  5. Liat gambar yang dibantai berdarah2 itu ngeri…

    Baru tahu saya kalo ternyata kandungan merkuri di hiu tinggi. Saya share ah.

    Reply
  6. Ohmaigootttt >,<

    Fahmi, aku pernah tinggal di Sabang (Pulau Weh). Di tempat pelelangan ikan biasanya ada yang jual bayi-bayi hiu. Kalo nggak gitu hiu potong. Nggak tau deh nangkepnya dari mana (kalo nggak Selat Malaka ya Laut Andaman).

    Kalo buat masyarakat kepulauan, hiu memang seolah menjadi makanan sehari-hari. Soalnya mudah dapetinnya.

    Reply
    • oya? di Sabang kaya gitu situasinya? menyedihkan sekali 🙁 mereka belum tahu apa bahaya dibalik konsumsi hiu & belum menyadari dampak lingkungan yang terjadi kalau populasi hiu di lautan merosot… that’s why, kita harus membangun social awareness pentingnya save sharks & save the ocean

      Reply
    • Aduh. Serem banget denger hiu dimakan sehari-hari.. masyarakat yang kurang pengetahuan jadi asal konsumsi.. 🙁

      Reply

Leave a Comment