Interior Masjid Cholon Saigon Vietnam

Cerita Toleransi Ramadhan Di Vietnam

Seringkali saya lebih senang berbagi cerita mengenai orang-orang yang saya temui selama perjalanan. Bukan tentang destinasi traveling itu sendiri.

Karena hari gini, kalau mau cari informasi mengenai tempat wisata mah tinggal googling saja, sudah lengkap! Tapi kalau pengalaman personal, tentu hanya si pejalan itu yang memiliki kisahnya.

Seperti pada postingan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman traveling saat bulan bulan Ramadahan di negara orang.

Saya dikirim oleh maskapai Royal Brunei Airlines melancong singkat selama tiga hari ke Ho Chi Minh City Vietnam. Sebuah negara di semenanjung Indochina yang berhaluan kiri. Mayoritas penduduknya non muslim. Tapi saya menemukan nilai-nilai luhur dari mereka yang saya temui.

Baca juga: Suasana Ramadhan di Brunei Darussalam

Inilah kisah toleransi Ramadhan di Vietnam.

***

Baru saja saya merebahkan badan di kursi, bahkan belum sempat mengenakan sabuk pengaman, tiba-tiba seorang pramugari menghampiri dan melayangkan seulas senyum.

“This is your takjil, Sir.”

“Oh, terima kasih.”

Daphne namanya. Pramugari maskapai Diraja Brunei, Royal Brunei Airlines ini memberikan satu gelas kecil air mineral dan kotak karton berisi tiga butir kurma. Alhamdulillah, bisa untuk membatalkan puasa hari itu.

Setelah sekitar 30 menit lepas take off dari Bandar Seri Begawan, sang kapten mengumumkan waktu Magrib telah tiba, penumpang sudah diperbolehkan berbuka.

Ini menjadi pengalaman pertama saya berbuka puasa di udara bersama para musafir lainnya, di dalam pesawat, menuju negara tetangga. Sensasi dan auranya sungguh berbeda.

Takjil Royal Brunei Airlines
Takjil Royal Brunei Airlines

Setelah menempuh dua jam penerbangan dari Brunei Darussalam, akhirnya saya mendarat di Tan Son Nhat International Airport, Ho Chi Minh City, Vietnam.

Rintik gerimis menyambut kedatangan saya. Ini kali pertama menginjakkan kaki di negeri Paman Ho. Diantara sekian banyak orang di arrival hall, ada seorang mas-mas berdiri dengan membawa selembar kertas bertuliskan “Welcome, Mr Fahmi Anhar.” Ada perasaan lega campur malu. Kok penyambutannya pakai beginian segala? Haha.

Ternyata saya dijemput Mas Bon dari Dong Travel Vietnam. Dia yang akan menemani saya selama eksplorasi kota Saigon beberapa hari kedepan. Dalam perjalanan ke hotel, kami pun terlibat obrolan seru mengenai rencana piknik singkat disini.

Mr Bon Dong Travel Vietnam
Sambutan dari Mas Bon di bandara

“Fahmi, sayang sekali kamu kesini saat bulan ramadhan, tidak bisa puas wisata kuliner Vietnam.” Kata Mas Bon, warga lokal yang ternyata Bahasa Indonesianya sudah sangat fasih.

“It’s oke. Kapan-kapan bisa main kesini lagi. Puasa bukan halangan untuk beraktifitas. Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang muslim.”

“Besok kalau kita jalan kaki kesana-kesini, main ke Cu Chi Tunnel, ke pasar, museum, kamu tidak takut lapar dan haus?”

“Hahaha nggak lah, enjoy saja.” Saya terkekeh.

Dan malam itu, Mas Bon sengaja mengajak saya ke sebuah restoran halal di dekan Ben Thanh market untuk bertemu juga dengan Pak Mickey, bos Dong Travel.

“Fahmi, sepertinya kamu lapar. Ayo pesan makan yang banyak.” Katanya penuh empati.

“Haha tahu saja kalau saya lapar. Hari ini saya berangkat dari rumah jam 3 pagi tadi, marathon 3 penerbangan, lintas 3 negara, dan sedang berpuasa.”

Dia hanya bengong.

Setelah melihat daftar menu, saya memilih memesan mie sapi, nasi goreng seafood, dan dua gelas minuman. Kalap! Saking laparnya.

Makanan Halal Vietnam - Beef Mee
mie sapi – rasanya ini mie kuah terenak yang pernah saya makan.
Nasi goreng seafood
Nasi goreng seafood
Restoran Halal Di Ho Chi Minh City Vietnam
Restoran halal di dekat Ben Thanh Market Vietnam

Selama 3 hari di Vietnam, karena Mas Bon tahu saya muslim, maka dia tidak hanya mengajak saya ke tempat-tempat wisata seperti Cu Chi Tunnel, Ben Tanh Market, Reunification Palace, War Museum, Katedral Notre Dame, Kantor pos besar, Opera House, City Hall, Sungai Mekong, Kuil-kuil kuno, tapi juga ke beberapa masjid yang ada di kota ini agar sekaligus bisa shalat lima waktu.

“Ini masjid Cholon. Lokasinya masih di Distrik 5. Cho Lon artinya pasar besar, karena memang lokasinya dekat dengan pasar. Disini banyak warga Vietnam muslim dari suku Champ. Silakan kalau mau masuk dan beribadah, saya tunggu disini.”

Briefing singkat dari Mas Bon mendadak mengingatkan saya pada data sejarah bahwa sampai saat ini, di Indonesia masih terdapat beberapa makam kuno dari silsilah negeri Champa atau Kamboja pada masa kerajaan-kerajaan Hindu, Budha dan Islam dulu.

Mungkinkah suku Champ di Vietnam ini masih ada garis keturunan dengan kerajaan Champa yang bermitra dengan kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa?

Belum cukup rasanya tiga hari menjelajahi kota Saigon ini. Banyak taman-taman cantik, bangunan bersejarahnya terawat dan makanannya enak-enak. Meski lumayan bikin pusing ya kalau mau menyeberang jalan. Semrawut luar biasa! Hahaha.

Masjid Cholon Ho Chi Minh City Vietnam
Masjid Cholon Ho Chi Minh City Vietnam
Saigon Tour Dong Travel Vietnam
Keliling Saigon bersama Mas Bon | #rhyme

***

Le Duy Hotel menjadi basecamp saya selama traveling di Saigon. Hotel bintang tiga yang sederhana ini berada di pusat kota. Namun meski sederhana, saya menemukan kehangatan disana.

Kala itu malam kedua. Sudah hampir jam 10 malam. Telepon kamar berdering.

“Good evening Sir. Can I speak to Mr Fahmi?”

“Fahmi speaking.”

Dari resepsionis hotel. Intinya dia menanyakan, apakah besok saya puasa? Kalau tidak sarapan, makan akan dibuatkan makan malam ini sebelum saya tidur agar bisa untuk sahur di kamar. Jika berkenan, ingin dibuatkan makan apa?

Nah, dari pada bikin repot orang lain dan ingin main aman agar halal, maka saya jawab:

“Anything. Halal food. Bread or eggs is okay.”

Terus terang saya terharu mendengar pertanyaan dari staff hotel malam itu. Mereka orang lokal Vietnam. Bukan muslim. Tidak sedang menjalankan puasa. Mungkin juga tidak tahu detail tata cara berpuasa. Tapi sebegitu perhatiannya dengan tamunya yang sedang menjalankan ibadah Ramadhan.

Tak begitu lama kemudian, pintu kamar diketok. Seorang pegawai hotel mengantarkan satu nampan berisi sandwich telur super besar dan sebotol air mineral. Aromanya wangi.

Baru saja saya pasang alarm untuk sahur dan akan mematikan lampu, telepon berdering lagi.

“Sorry Sir for calling again. Have you had your sandwich?”

“Sure, your staff just gave me a huge sandwich and egg. Thank you.”

“Anything else do you want to eat? Milk, or fruit maybe?”

“Mmmm…—jeda 2 detik—… can I have a glass of hot milk and fruit? Thank you so much.”

“Our pleasure, Sir.”

Dan lima menit kemudian, datanglah senampan hantaran berisi segelas susu hangat, yoghurt, dan buah leci segar. Subhanallah…

Buah Vietnam
Leci, yoghurt dan susu hangat
Le Duy Hotel Saigon Vietnam
Le Duy Hotel Saigon Vietnam
Lobby Le Duy Hotel Saigon Vietnam
Le Duy Hotel Saigon Vietnam

Terlepas dari mungkin memang begitulah standar pelayanan di hotel tersebut atau ini murni inisiatif staff hotel, saya sangat mengapresiasi atas apa yang mereka lakukan terhadap saya.

Bukan masalah menawarkan aneka makanannya, tetapi lebih ke membantu seorang musafir untuk mempersiapkan makan sahurnya agar tetap kuat berpuasa selama traveling di kotanya sementara mereka sendiri tidak berpuasa. Salut!

Pagi harinya bertemu mereka. Saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya. Sambil ngobrol, terungkaplah bahwa sekarang industri pariwisata di Vietnam khususnya Ho Chi Minh City sudah semakin aware dengan banyaknya kunjungan wisatawan muslim ke negaranya. Terutama dari Malaysia dan Indonesia.

Itulah mengapa mereka juga berusaha memberikan yang terbaik bagi wisatawan muslim yang sedang traveling kesana.

Good job!

Written by
Fahmi Anhar
Join the discussion

42 comments
  • Pengalaman yang seru. Aku belum pernah merasakan puasa di negeri orang, baca tulisan ini cuma bisa ngebayangin aja. Mudah2an tahun depan bisa nyicip puasa di Makkah hehe amin. Btw, jadi diajak jalan sama Royal sekaligus paket wisata ya mas? Jika nggak, boleh bagi info paket wisata yang dipilih, kayaknya kece bener pelayanannya.

    • Aamiin, semoga suatu hari nanti bisa kesampaian merasakan nikmatnya ibadah bulan Ramadhan di tanah suci Mekah.

      Trip ini all in Omndut, jadi modal badan aja. Semua sudah disiapkan hehe. Cek aja websitenya Dong Travel Vietnam ini, ada buanyak pilihan paket wisata yang ditawarkan.

  • Sungguh pengalaman yang menarik kak Fahmi merasakan suasana Ramadhan di negara yang minoritas muslim. Sebuah toleransi yang seharusnya selalu dijunjung di muka bumi ini, Jika halnya demikian mungkin dunia akan aman tanpa ada peperangan dan kerusuhan terutama yang berhubungan masalah Agama. Saat ini paling penting memang adalah toleransi.

    • Makanya, saya suka heran sendiri dengan warga negeri ini. Indonesia yang katanya negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tapi diantara pemeluknya malah seringkali lupa dengan penerapan nilai-nilai keIslamannya.

      *kok comment kita malah jadi kaya khotbah ya Kak Akbar?*

  • Luar biasa ya solidaritas orang – orang di sana sama yang sedang puasa, mungkin pengaruh juga karena masih serumpun

    • Bisa jadi begitu, tapi saya rasa itu semua kembali ke pribadi masing-masing ya. Mau serumpun atau nggak, kalau memang berjiwa toleran makan akan menerapkan toleransi kepada sesamanya 😀

  • Ikut hanyut membaca kisah Mas Fahmi liburan ramadhan di Vietnam. Betapa banyak yang musti dipelajari lagi soal toleransi ya Mas.

    • Kalau hanyut pegangan mbak Evi hahaha, ntar sampai laut lho.

      Iya, semoga ini juga menjadi pengingat bagi kita semua agar bisa terus menerapkan toleransi kepada sesama.

  • Mas, itu Mie sapinya beneran enak kayaknya tuh…kalo nasgor kok dikit ya..hehehe..btw service hotel dan guide saya acungi jempol, mereka sangat care dengan aktivitas muslim dari tamunya…

  • Wah, senangnya, ikut teduh baca pengalaman Mas Fahmi yang merasakan toleransi yang cukup kuat dari non muslim. 🙂

  • Kamu gegaresan kaaaak yaaa ternyataaa hahahahaha. Ingat, puasa itu untuk berkecukupan, bukan berlebihan x)) Duh jadi pengin nyobain puasa2 di negara orang. Paling banter di kota orang. :’)

    • Gegaresan iku opo kak Tiw? hahaha nggak ngerti aku. Eh, puasa di negara lain beda banget sensasinya lho, seru! 😀

      Tapi lebih seru kalau coba puasa sambil Umroh ya kak… semoga kapan-kapan bisa ke Baitullah

  • baca ini, kdg malu ama sikap bangsa sendiri.. negara bukan mayoritas muslim, dan bekas komunis pula, tp toleransinya luar biasa.. :).. coba org2 yg suka seenak jidatnya merazia warung makan dgn cara kekerasan itu, ato org2 yg suka melarang pembangunan tempat ibdah bukan mesjid, belajar dr org2 ini. Biar tau arti dr TOLERANSI itu apa 🙂

  • Aku belum pernah merasakan puasa di negeri orang sih, cuma selalu berusaha setidaknya nyobain jumatan di negeri orang. Soalnya penasaran dengan khotbah-khotbah jumat dalam bahasa lokal. Shalat jumat di negara lain itu selalu menghadirkan nuansa yang agak ‘aneh’. Sewaktu khotbah disampaikan dalam bahasa lokal, rasanya asiiiiing banget, tapi begitu semuanya sampai pada bahasa Arab (doa-doa, ayat-ayat dan bacaan shalat), masya Allah rasanya seperti kembali ke rumah seketika.

    Pengen juga nih suatu saat bisa merasakan Ramadhan di negara lain seperti dirimu mas. Kalau tahun lalu sudah kesampaian untuk road trip ke beberapa kota di Jawa sambil berpuasa, mungkin lain kali -kalau ada umur- pengen meraup pengalaman berpuasa di negeri lain.

    Agak-agak terharu gimana gitu, pas baca dan komen di postingan ini hehehehe 🙂

    • Seru ya ikut Jumatan di Nepal kemarin? Bisa merasakan apa yang kamu rasakan ketika mendengar rangkaian doa di khotbah kedua. Kalau aku nggak harus jumatan sih, cuma sebisa mungkin menyempatkan ke masjid agung kota yang sedang dikunjungi. Semoga suatu saat nanti bisa merasakan berpuasa di negara lain ya bro, akupun ingin dapat pengalaman itu lagi karena semakin menyadarkan bahwa beribadah itu bisa dimana saja, di buminya Allah SWT.

  • Luar biasa ya. Bagi saya ini bukan sekedar toleransi, tetapi rasa plurarisme, persamaan, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah sehingga harus menyesuaikan. tetapi semua merasa sama. humanity.

  • senengnya bisa disambut baik dan diperlakukan spt itu.
    Kayaknya mau pulang aja berat kaki mau ngelangkah tuh

  • hotelnya walau bintang – 3 bagus juga ya Mas. Soal Vietnam, terutama Ho Chi Minh, saya jatuh cinta dengan makanannya. Slompret. enak banget! Sampai saya kepikiran, kalau ngidam makanan kayak gini gimana yak, mosok hrs ke Vietnam. Hahaha.

    • kalau travelingnya full day jalan-jalan, prefer hotel yang secukupnya saja. seperti ketika jalan ke Vietnam ini, dari pagi sampai malam di jalan, jadinya hotel begini sudah lebih dari cukup lah. tapi kalau memang ingin staycation di hotel, baru deh cari hotel yang bagus. anyway sepakat dengan makanan vietnam yang enak-enak! toss!