8 Tips Mengawali Karier Sebagai Travel Blogger

Bagi sebagian orang awam, menjadi seorang travel blogger itu dinilai seru, asyik, kerjaannya jalan-jalan terus, dapat voucher ini-itu, makan enak melulu, diundang trip kesana-kemari dan diendorse produk-produk hits. Padahal sebenarnya dibalik itu semua, ada fase “berdarah-darah” yang telah dilalui seorang travel blogger sebelum mencapai posisi seperti itu.

Rupanya, dunia per-travel blogger-an ini cukup menarik minat banyak orang. Terbukti dengan semakin banyaknya travel blogger yang muncul. Wajar jika kemudian banyak yang tergiur akan iming-iming benefit menjadi seorang travel blogger. Yaa selain itu karena saat ini traveling sudah menjadi bagian dari gaya hidup, ditambah pula dengan keterbukaan akses informasi sih.

Seringkali pula saya mendapatkan pertanyaan dari teman, saudara, maupun pembaca tentang bagaimana mengawali karier sebagai travel blogger? Tentang apa saja yang sebaiknya ditulis, bagaimana membuat konten blog yang menarik, bagaimana membangun interaksi dengan pembaca, bagaimana melebarkan network.

Kok pada tanya ke saya?

Lha saya juga bukan siapa-siapa. Hanya travel blogger ala-ala yang menulis dan postingnya pun suka-suka.

Karena kadang capek ngetik jawaban di whatsapp atau email, maka terbersitlah ide untuk membuat postingan ini. Biar besok kalau ada yang tanya lagi mengenai hal itu, tinggal kasih linknya hahaha. Praktis! Jadi, saya mencoba merangkum 8 tips mengawali karier sebagai travel blogger berdasarkan pengalaman pribadi berikut ini.

1. Blog sebagai sarana kreasi dan ekspresi

Mulailah dengan konsep dasar ini. Jangan terlalu ribet dulu dengan keyword, SEO, widget dan segala macam hal-hal berbau teknis lainnya jika memang masih awam dengan istilah digital. Coba untuk fokus pada kualitas konten postingan karena itulah yang akan menjadi “nyawa” dari blogmu. Menulislah dengan hati. Tuangkan saja dulu apa yang ada di pikiran dan hati ke dalam bentuk tulisan. Lepasin aja broh. Etapi bukan berarti hal-hal teknis tadi dianggap tidak penting lho. Tetap penting karena itu juga akan menunjang kualitas blog secara keseluruhan. Nah, baru setelah lancar membuat postingan yang berkarakter dan oke, kita bisa sambil jalan untuk mempelajari SEO, mencari keyword yang unik, memasang widget yang bermanfaat, dll.

2. Personal branding

Sebelum memulai blogging, coba tentukan akan seperti apa image mu di dunia maya? Konsep branding apa yang akan melekat pada blogmu? Lalu bagaimana mengangkat personal branding itu ke tengah-tengah dunia persilatan yang kini semakin ramai saja. Disadari atau tidak, saat ini sudah banyak sekali travel blogger. Lalu apa yang membedakan kamu dengan travel blogger lainnya? Jika ingin “dilihat” maka kamu harus berani tampil beda.

Saya sendiri memilih personal branding nama asli “Fahmi Anhar” sebagai nama blog saya. Mengapa? Karena konsep travel blog saya adalah menceritakan perjalanan yang sudah pernah dilalui dari sudut pandang pribadi. Nah seiring berjalannya waktu, saya memilih spesialisasi tarvel blogger – hotel reviewer karena memang saya suka staycation di hotel/villa, dan mencoba memberikan jawaban atas kebingungan sebagian orang tentang memilih hotel yang pas di sebuah kota. Kadang saya sendiri suka bingung kalau main ke sebuah kota, enaknya stay di hotel yang mana ya? Secara ada banyak pilihan.

Ada juga travel blogger lain yang mengangkat brand sendiri seperti keluarga mbak Ade Kumala dengan Traveling Precils, Ariev Rahman dengan Backpackstory, Rinta Adita dengan Malesmandi, Kak Cumi dengan Cumi Lebay, Bobby dengan Virus Traveling, Koko Sinyo dengan Koper Traveler, dan masih banyak lagi.

3. Kenali potensi diri

Jika belum menemukan personal branding yang tepat denganmu, coba untuk menganalisa potensi diri. Coba jawab beberapa pertanyaan ini:

  • Kamu paling senang dengan destinasi apa? Wisata alam? Sejarah? Religi? Arsitektur? Kuliner? Dll
  • Skill apa yang paling kamu kuasai? Fotografi? Video? Atau penulisannya?
  • Coba lihat kembali database networkmu. Paling banyak di bidang apa? Kuliner? Hotel? Pemerintahan? Dll

Dari menjawab 3 pertanyaan itu saja, kita sudah bisa menganalisa akan jadi seperti apa karakter travel blognya. Tinggal ditambah kreatifitas dikit untuk menentukan pembeda/ciri khas dengan blog lain.

4. Kemas blogmu dengan menarik

Nah kalau ini masalah teknis. Menyangkut layout & interface blog, jenis font yang akan dipakai, warna dasar tampilan blog, foto & video pendukung, placement iklan & banner, dan pemasangan widget yang bermanfaat.

5. Komitmen & Manajemen Waktu

Haha kalau tentang ini, saya ngomong ke diri sendiri dulu. Sebagai self reminder juga. Urusan konsistensi ini memang paling berat. Bagus jika setiap hari bisa bikin satu postingan. Kalau tidak bisa, at least seminggu dua kali atau sekali lah. Perhatikan juga manajemen waktu yang baik agar bisa membagi waktu untuk pekerjaan utama, keluarga, sosial kemasyarakatan dan blogging.

6. Blog bukan Wikipedia

Kita menulis apa yang kita lihat, dengar, rasakan dan pikirkan. Blog kita bukanlah wikipedia yang semua informasi ada di dalamnya. Memang betul dalam setiap penulisan kita harus berpegang pada data yang valid, referensi yang tepat dan prinsip cover both side meskipun dari sudut pandang personal. Namun jangan sampai malah terbebani dengan semua informasi harus dituangkan dalam postingan itu. Pilih saja mana yang perlu dan membuat konten lebih menarik. Kadang saya mengalami hal ini, terutama ketika ingin menulis tentang destinasi wisata sejarah yang kita kunjungi. Banyak sekali fakta sejarah yang ingin diceritakan. Sampai bingung mau menulis mana dulu. Tapi kemudian saya kembalikan lagi ke basic bahwa blog ini sarana ekspresi kok, bukan Wikipedia. Sepakat?

7. Expand the network

Jika sudah yakin dengan hasil karyanya, baik tulisan, foto maupun video, mari kembangkan network. Bagaimana caranya? Mulailah dari yang terdekat. Jika ada teman atau saudara yang bekerja di tourism industry, bisa dijadikan penghubung dengan klien. Jika memang database kliennya masih nol alias belum ada, jangan malu untuk memperkenalkan diri kepada klien majalah, portal online, agensi, hotel, airlines, travel agent, tourism board maupun teman-teman jurnalis.

Tapi untuk memperkenalkan diri pun ada tata caranya, ada adabnya. Jangan tiba-tiba langsung ngoceh panjang lebar. Apalagi baru mau kenalan, belum kenal dekat. Ntar klien pikir, “Lah siapa ente? Tiba-tiba tawarin ini itu.”

Jangan takut ditolak. Saya mah udah biasa. Jangan menyerah! Begitu kita deal sebuah project dengan klien, berikanlah yang terbaik. Jika klien puas, dia pasti akan kontak untuk project-project selanjutnya. Tapi jika ternyata klien tidak puas atau kamu melakukan kesalahan fatal, bisa saja kamu masuk daftar blacklist!

Untuk memudahkan komunikasi, buat media kit dalam berbagai versi. Ada yang singkat, ada yang panjang dengan mencantumkan semua portofolio karyamu. Namanya juga show off hasil karyanya.

8. Maintenance hubungan dengan klien

Kalau sudah dapat banyak klien, jangan lupa dimaintain. Sekedar bertegur sapa via WA atau email, rasanya juga tidak ada salahnya. Keep in touch! Asal jangan keseringan, kecentilan dan kegatelan. Ntar terkesan menjilat. Klien risih juga dong.

Beberapa abad lalu, saya pernah diwawancara oleh team Phinemo untuk berbagi tips travel blogging. Berikut videonya:

Note: Sebenarnya ada 9 tips yang ingin saya sampaikan, tapi tips terakhir saya tulis sebagai tambahan saja hihi.

9. Perluas pergaulan & behave please!

Perluas pergaulan, jangan batasi diri hanya mau dengan teman itu-itu saja. Kenalan dengan blogger-blogger lain, klien lain, jangan terkungkung di satu komunitas tertentu saja. Coba ambil sisi positif dari semuanya. Tapi jangan jadi oportunis! Catet!

Behave please! jaga attitude. Banyakin berkarya, jangan kebanyakan nyinyir haha. Baik di dunia nyata atau di dunia maya. Ingat, timeline, feed dan postingan kita di blog atau di social media juga dipantau para klien lho. Kalau isinya negatif mulu, ya mana ada klien mau hire atau ajak kerjasama. Mana ada yang mau ajak temenan. Oke? Okesip.

***********

Saya sharing postingan tips mengawali karier sebagai travel blogger ini tentu bukan untuk menggurui siapapun. Selain sebagai jawaban kepada teman-teman yang menanyakan, juga sekaligus sebagai self reminder kepada diri saya agar tetap konsisten ngeblog meski kian hari, tantangan yang datang semakin berat. Semoga bermanfaat. Ada yang mau menambahkan tipsnya? 🙂

Happy traveling, happy blogging !!

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
72 Responses
  1. Secara keseluruhan dari tulisan di atas, perjuangan menjadi travel blogger itu sangat sulit. Ada banyak orang yang mempunyai minat sama, menulis sama, sehingga orang harus punya ciri khas yang unik.

    Saya setuju dengan ulasan bahwa tulisan itu “nyawa”, mas. Sejenak lupakan SEO, DA PA, atau lainnya. Ketika tulisan kita dirasa bagus pembaca dan tidak membosankan, itulah yang terpenting.

    Selain semua itu menjalin mitra dan saling berbagi informasis esama travel blogger harus diutamakan. Dari mereka lah kita bisa menjadi lebih baik dan mempunyai semangat lebih untuk menulis pengalaman kita di blog.

  2. Setuju banget kalo konsisten itu yang paling berat … untuk terus menulis dan sharing kadang kaesang merasa lelah.

    Btw yaa ampun nama ku disebut, jadi makin manja … makasih kakak

  3. Langsung di bookmark 😀

    haha selama ini aku hanya nulis tentang destinasi saja. Abis baca ini, dan play videonya. Saya jadi mikir “ah iya juga ya”

  4. blog bukan wikipedia, itu setuju bangettt :D.. aku biasanya lgs bosen dan males baca lagi kalo ketemu blog yg isi tulisannya kayak wikipedia, datar, bosenin :D.. tulis aja pake gaya bahasa sendiri, trs tulis yg seru2nya ajalah.. biar jd lbh menarik ya mas :)..

  5. Komitmen dan manajemen waktu. Hem, hal yang sampai sekarang masih menjadi bayang-bayang yang ingin terus saya perbaiki dalam duni perblogingan. Dulu pernah komitmen minimal 2 kali menulis dalam seminggu, namun gagal. Hanya berlangsung beberapa kali saja. Terkadang virus males juga muncul saat pekerjaan dan rutinitas harian yang menyita waktu dan tenaga. Padahal ada beberapa bahan untuk menulis.

    1. permasalahan klasik sih ini masbro, saya juga alamin sampai sekarang. tapi akhirnya berdamai dengan satu minggu satu postingan.

      kadang yang bikin kacau kalau pas ada project barengan antara kerjaan kantor, order review, deadline nulis buat majalah dan nulis buku haha. pusing!

  6. 5. Komitmen dan Manajemen Waktu

    Aku tertampar hahahahahahah, aku selalluuu aja nunda2 nulis kalo lagi ada ide, ujung2nya ga jadi nulis hahahahaha *diketok papan tulis*

    1. hahaha berdarah-darahnya jangan jadi patokan. mungkin ada jug akok bloher yang heits dengan jalan lebih smooth. meski kebanyakan akan melalui jalan terjal.

      aku masih punya pertanyaan besar, sebenarnya akan sampai kapan ere tren travel blogger ini ya. karena pasti akan ada titik jenuhnya atau ganti platform yang lebih futuristik.

      1. nha itu saya juga masih mencoba menebak sampai kapan, karena beberapa bloger sudah main vloger. Mungkin nanti sampai ke VR mas, biar bisa ikutan nonton jalan-jalan dari sudut pandang orang pertama.

  7. Konsistensi, hal yang sangat sulit bagi ane krn terbentur jadwal kerjaan utama, xixixi, soalnya kerjaan utama inilah yg memberikan nafkah buat ane traveling, udah gt setaon paling cuma 2 destinasi traveling nya, kebentur jatah cuti, jadi ga punya bahan nulis setiap saat, its mean “FIX ane Blogger Gagal..” hiksss.. -__-” , namun yg terpenting kita bisa berbagi pengalamandan bermanfaat utk yang larn, bener kan om? :)) ,

    1. Konsistensi ini masalah klasik dan mendasar bagi teman-teman blogger. Yang konsisten ya akan bertahan dari seleksi alam dunia persilatan. Tapi intinya ngeblog kan berbagi manfaat kepada sesama. Toss!

  8. Makasih tipsnya ya Mas Fahmi penting bangeet, daku baru bikin pejalansantai.com biar lebih rapi blognya ngga canpur-aduk hihi semoga istiqomah apdetnya

  9. keren euy tipsnya… apalagi yang terakhir.. tetap bekarya jangan banyak nyinyir..
    nah saya sendiri juga bingung mau dibilang travel blogger, tapi ada opini budaya, dan sejarah didalamnya.. hahaha

    intinya, saya menjual aceh apa adanya dari blog.. selebihnya.. biarlah bang fahmi yang menilai sendiri :))

    1. tak perlu bingung dengan sebutan bang, mari kita ekspresikan saja apa yang ingin diekspresikan. traveling ya ayo traveling, beropini ya ayo beropini, blogger mah bebas kok hehe. semangat!!

  10. Ternyata menjadi travel blogger itu juga susah ya.. Bingung mau nulis darimananya. Iya, Kalo nulis masih bingung, Kalo jalan mah ayok, sudah lebih dulu kelilingnya zaman beuhula. Yo,wes aku tak jadi diriku aja. Kalo inget ditulis Kalo nggak nunggu digali gali dulu #trusditabokblogger

  11. Kereeeennnn…… aku simak satu satu dan aku jadikan acuan…seacra masih blogger baru juga..baru belajar nulis dikit dikit dan bergaul dengan blogger blogger kece – meski sebagian ada drama drama nya juga yaa ternyata – ku kira hanya di dunia entertain aja yang ada drama nya hahahahha…. salam kenal mas Fahmi – saya Indra Pradya – empunya akun http://www.duniaindra.com – stay di Lampung.

    1. Salam kenal juga mas Indra, semoga kapan-kapan bisa main ke Lampung. Haha banyak drama yang terjadi ya dimana-mana, enjoy aja sih. Selama nggak merugikan kita ya sudah buat lucu-lucuan aja biar nggak stress. Anyway selamat ya terpilih Kerala Blog Express 2017. Have fun!

    1. hahaha saya juga sering dapat pertanyaan seperti itu. “kok jalan terus, duitnya dari mana? apa nggak sayang buang-buang uang? ditabung aja.” nah justru dari jalan-jalan tersebut kita bisa dapat uang. dari nulis artikel untuk majalah, jual foto, diminta jadi narasumber workshop/seminar, dll. uang yang terkumpul dipakai modal jalan-jalan lagi. balik traveling nulis lagi. begitulah siklusnya 😀

  12. Kalo udah nyangkut konsisten, aku ngaca ke diri sendiri. Duluuu awal-awal ngeblog, rajin minimal seminggu ada, atau sebulan beberapa kali. Lama-lama waktunya abis saking sok sibuknya. Sekarang duhh pengen nangis aja. Blogku apa kabar hahaha

  13. Wah tips yang bermanfaat banget, Mas Fahmi. Apalagi untuk saya yang lagi belajar ngeblog. Yang paling susah itu gimana caranya biar pede ngeshare postingan blog kita di sosmed biar pada baca. Karna sering banget minder dengan tulisan sendiri, ngerasa remah-remah ketombe banget. Mhehehe…
    Kadang yang bikin agak down itu ketika kita ngeshare ke temen-temen sendiri di grup gitu misalnya, yang mana itu temen-temen deket, ternyata nggak ada yang baca tulisan kita. Alias horak digagas. Ditambah ada yang komen “ngeblog dapet apa?” dengan tatapan hina. Yaolooo…pedih bats aselik.
    Maturnuwun tipsnya & sukses selalu, Mas…

    1. Hai Mbak Warih Mustikawati,

      Kalau saya mah cuek aja, asal share ke socmed. Bodo amat mau pada baca atau nggak yang penting share duluan. Masalah gimana cara biar pada tertarik baca postingan kita, itu ada triknya. Misalnya bikin judul postingan yang bikin penasaran, kasih foto pendukung yang cakep, dll.

      Semangat!

  14. memang bener jadi traveler bloger tu harus mengenal potensi diri trlebih dhulu, nggk asal terjun aja, n harus punya jaringan juga sih,,, hhm trims infonya berguna sekali

Leave a Reply