Yoga Pose Di Depan Benteng Fujairah
Kebanyakan tingah di depan Benteng Fujairah UAE

Tujuh tahun lebih saya masuk ke dunia kerja. Menikmati peran sebagai mas-mas kantoran dalam drama kehidupan. Demi pekerjaan, dituntut harus selalu memperhatikan penampilan. Padahal gaji bulanannya juga hanya berumur semingguan. Ruang geraknya pun tak sepadan, hanya sebuah kubikel sempit di ujung ruangan yang penuh dengan tumpukan laporan.

Terbayang kan? Bagaimana rasanya menjalani rutinitas yang menjemukan? *sigh*

Kubikel Kantor

ilustrasi kubikel kantor. bagusan ini sih daripada kubikelku hehe.

Akhir pekan jadi ajang hiburan. Sesekali melakukan perjalanan. Tapi nggak bisa jauh-jauh juga kan? Paling banter ke kota tetangga, propinsi sebelah, atau negara-negara serumpun. Karena masih relatif dekat, jadi tidak banyak menemui perbedaan adat dan budaya di berbagai sektor kehidupan. Weekend traveler.

Padahal… ingin rasanya, sekali waktu melakukan perjalanan yang memperkaya jiwa. Menjelajah destinasi yang sama sekali berbeda alamnya, iklimnya, budayanya, bahasanya & cita rasa makanannya dengan kehidupan di Indonesia. Pokoknya yang totally different! Seperti hiking diatas Perito Moreno Glacier, Argentina misalnya. Menelusuri jejak sejarah penyebaran agama & ilmu pengetahuan di Tibuktu, Afrika, atau menjejakkan kaki di panasnya pasir gurun di jazirah Arab sana.

Duh, harap maklum ya kalau ini anak suka banyak maunya. Haha.

Hari demi hari, angan itu kian terpatri, bertansformasi menjadi sebuah mimpi. Meski saya menyadari, dalam posisi saya saat itu tentu tidak mudah untuk mewujudkan mimpi. Bagai pungguk yang merindukan bulan.

Dulu, saya pernah bercerita mengenai impian-impian saya kepada sahabat yang kebetulan mengerti betul tentang ilmu psikologi. Eh, dia bilang gini : “jika kita memikirkan sesuatu secara terus menerus, disadari atau tidak, alam bawah sadar kita akan berusaha untuk mewujudkannya.”

“Ah, apa iya?” batin saya.

Anyway, berat banget bahasa prolog postingan kali ini ya haha. Boleh lah sekali-sekali curhat dimari.

***

Tahun berganti. Namun impian untuk bisa menjelajahi belahan dunia yang lain masih tertanam lekat di hati.

Hingga pada suatu siang di bulan September 2014. Ketika sedang asyik ngemil rujak di kubikel kantor sambil iseng browsing tiket ke berbagai destinasi.

*Jakarta – Barcelona – Jakarta : mahal*

*Jakarta – New Zealand – Jakarta : lebih mahal*

*Singapura – Dubai – Singapura : 4,5 juta!*

*kucek-kucek mata*

“Buset! Ini seriusan cuma 4,5 juta PP?”

Seperti terbius, jari jemari ini menari diatas deretan keyboard hingga proses transaksi pembelian tiket itu selesai dan muncul kode booking. Ya Tuhan! Apa yang baru saja saya lakukan?! Lalu bagaimana dengan perijinan cutinya? Urusan visa? Hotel? Trus disana mau ngapain? Ntar kalau nyasar di gurun gimana? Atau kalau diculik suku badui arab trus disuruh jadi penggembala unta gimana?

*semakin absurd*

*lalu pengsan*

***

Karena saya berencana stay satu bulan di Uni Emirat Arab, itung-itung optimalisasi visa, maka satu-satunya jalan untuk urusan kantor adalah dengan mengajukan unpaid leave. Berani nggak berani, harus berani. Lha mau kapan lagi? Masa selamanya hanya mau jadi pemimpi yang pasang wallpaper destinasi impian di screen laptop? Haha kasihan!

Setelah discuss & eskalasi ke atasan, akhirnya approved dengan beberapa syarat.

Lalu sampai rumah saya bilang ke istri. “Ntar satu bulan aku nggak dapat gaji dari kantor. Gimana?”

“Nggak apa-apa Mas, masih bisa di manage kok.”

Duh, istri sholehah.

Semesta pun mendukung. Entah bagaimana, sepertinya semua proses persiapan dimudahkan. Alhamdulillah. Unpaid leave approved, visa UAE granted. Awal Februari 2015, hari keberangkatan itu pun tiba.

***

Jetlag baru hilang setelah 3 hari stay di Dubai. Maklum, saya menepuh penerbangan marathon dari Yogya, menuju Singapura, transit di Malaysia, baru terbang ke Dubai dengan karpet terbang. Seminggu awal di Uni Emirat Arab, saya masih sering merasa pusing dan mual. Mungkin ini salah satu indikasi adaptasi lingkungan yang sama sekali berbeda dengan keseharian saya di Indonesia.

Saking pusingnya, saya pernah hampir pingsan di dalam Metro/LRT ketika perjalanan pulang dari Emirates Mall. Suhu bulan Februari kala itu masih relatif sejuk. Temperaturnya seperti kalau kita ke Puncak, Bogor, bedanya kalau di iklim tropis dingin lembab, di Arab dingin kering.

Dubai, Abu Dhabi mungkin sudah familiar dimata orang-orang. Kota yang bergelimang gemerlapnya surga dunia. Saya pun penasaran dengan sisi lain Uni Emirat Arab. Seperti apa kehidupan di emirates/negara bagian lain? Saya juga penasaran seperti apa peradaban masa lalu negeri ini. Akhirnya tersusunlah rute ini:

Peta Rute Jelajah Uni Emirat Arab

Peta Rute Jelajah Uni Emirat Arab: Dubai – Sharjah – Ras Al Khaimah – Dibba – Fujairah

***

Matahari baru sepenggalah ketika saya meninggalkan Dubai. Menyusuri emirates road yang lebar nan mulus. Jalur utamanya memiliki 16 lajur. Di setiap beberapa kilometer, terpasang alat sensor kecepatan kendaraan yang dilengkapi kamera super canggih. Barang siapa melebihi kecepatan yang sudah ditentukan, akan dikenakan denda. Pelanggar langsung dapat SMS notifikasi pelanggaran secara real time. Bahkan foto mobil yang terbukti melanggar kecepatan pun ada karena semua jalan di UAE dipantau radar. Ya ampun!

Awal penjelajahan sisi timur Uni Emirat Arab ternyata tidak mudah. Mobil harus melaju pelan menembus badai pasir yang menerpa kawasan ini sejak 2 hari lalu. Jarak pandang menjadi sangat terbatas. Ini pertama kalinya saya terjebak dalam badai pasir. Ternyata mengerikan! Mulut hanya bisa komat-kamit menyebut namaNYA.

Badai Pasir Di Dubai

Badai Pasir Di Dubai

Mobil mulai sampai di luar kota. Saya lemparkan pandangan keluar kaca jendela, badai mulai reda. Ahh… masih sulit untuk dipercaya rasanya. Bagaimana tidak? Saya yang hanya seorang anak kampung, beberapa hari lalu masih sibuk berkutat dengan deadline monthly report di kubikelnya, tiba-tiba hari ini sudah berada di negeri antah berantah. Berjalan membelah hamparan gurun pasir tak berujung, menembus bukit-bukit tandus, menuju daerah yang sama sekali tak dikenalnya.

Subhanallah…

Toko Emas Di Pasar Biru Sharjah UAE

Toko Emas Di Pasar Biru atau Blue Souq Sharjah UAE

Yoga Pose Di Depan Benteng Fujairah

Kebanyakan gaya di depan Benteng Fujairah UAE

Usai eksplorasi “Pasar Biru” yang isinya deretan toko emas di negara bagian Sharjah, saya melanjutkan perjalanan menuju negara bagian lain yaitu Ras Al Khaimah melewati Jazirat Al Hamra, sebuah kota kecil yang terkenal dengan julukan “kota hantu” karena memiliki  situs-situs horror. Disini ada juga “beginian” ternyata.

Sambutan hangat saya dapatkan ketika masuk ke Museum Ras Al Khaimah. Petugasnya sangat ramah dan memberikan sebuah gantungan kunci miniatur lentera arab sebagai merchandise. Disini disimpan artefak-artefak peradaban arab kuno.

Penasaran juga dengan cita rasa Nasi Mandi, masakan lokal arab, saya mampir di sebuah restoran lokal di kawasan Corniche Ras Al Khaimah hasil rekomendasi seorang warga yang saya temui di trotoar depan museum. Begitu pesanan dihidangkan, saya kaget bukan kepalang! Porsinya SUPER! Piringnya besar, nasinya buanyak dan ayamnya pun berukuran setengah potong! Herannya, warga lokal sini bisa habis lho segitu. Mereka makan lesehan, nasinya dikepal-kepal lalu dimasukkan ke mulut, sambil tangan kirinya sesekali ribet membetulkan letak ghutra/surban. Begitulah pemandangan khasnya.

Ras Al Khaimah Museum

Ras Al Khaimah Museum

Chicken Mandi Rice

Nasi Mandi Ayam Khas Arab. Iya… itu ayamnya segede bagong!

Sunset Di Ras Al Khaimah

Sunset dari lereng pegunungan Hajjar, Ras Al Khaimah

Fujairah Museum UAE

Fujairah Museum UAE

Hari selanjutnya, dilanjutkan menuju negara bagian Fujairah di pesisir timur UAE. Namun sebelum sampai sana, mampir di kota Dibba, sebuah kota kecil yang berbatasan langsung dengan negara Oman. Selemparan kancut doang sudah beda negara.

Benteng Fujairah nampak gagah dari kejauhan. Lokasinya berada diatas bukit dan dibawahnya terhampar kebun kurma. Menurut catatan sejarah, benteng kuno ini dibangun pada abad ke 16, namun sempat rusak parah ketika dibom tentara Inggris pada tahun 1925. Kini sudah direstorasi. Berikut rekaman video presenter dadakan ketika di dalam benteng:

Akhirnya saya kembali ke Dubai lagi dengan selamat. Penjelajahan pesisir timur Uni Emirat Arab berakhir setelah beberapa hari hidup di jalan menempuh sekitar 500 kilometer. Dalam perenungan saya, begitu banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini. Betapa indahnya perbedaan dalam kebersamaan. Begitu besar nikmat yang sudah diberikan olehNYA. Dan saya menjadi semakin menyadari, betapa kecilnya kita semua, manusia, dihadapanNYA.

Apapun keinginanmu, kemanapun impianmu, yang terpenting luruskan niatmu & ambil langkah pertamamu! Maka semesta akan merengkuhmu. Dream, believe & make it happen! Yakin deh, selalu ada jalan untuk setiap impian kita. Asal kita mau berusaha untuk mewujudkannya.

How far will you go? You decide!

Dubai Downtown

Mengamati kehidupan di pusat Dubai dari lantai 49

***

Tulisan ini diikutkan dalam lomba Cross|Over Writing Competition. For more info, just check www.neversaymaybe.co.id

 

Fahmi Anhar
Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.

Review Tune Hotel Johor Bahru

Previous article

Jatuh Cinta Pada Wastra Nusantara

Next article

You may also like

50 Comments

  1. Memang perlu keberanian dan kenekadan untuk mewujudkan cita-cita.
    Kantor tempat mas Fahmi bekerja baik banget.

    1. alhamdulillah ada fasilitas itu, bahkan sampai 6 bulan, jika karyawan dapat beasiswa studi/short course di luar negeri misalnya. 🙂

      1. Iya nih, kantornya baik banget. Ada lowongan ga di sana? 😀

        1. kita tukeran kantor aja gimana mas? hahaha

  2. Kak, selama ini aku gak naksir pergi ke UAE karena aku kayaknya gak naksir-naksir banget sama kota gemerlap yang relative masih baru. Tapiiiiii, setelah baca ini, aku jadi pengen jalan ke UAE. Gak nyangka kalau mereka punya kota-kota bersejarah juga dengan benteng-bentengnya yang keren, plus museum juga.

    Dan aku setuju banget secara prinsip dengan apa yang ditulis di dalam postingan ini. Aku juga gitu. Banyak perjalanan-perjalanan yang dimulai dengan impian yang dibangun terus menerus. Akhirnya kesampaian deh.

    Makasih yaaa ,, inspiratif! 🙂

    1. Thanks for sharing kak! Memang kita tidak pernah tahu ada apa di daerah itu sampai kita benar-benar melihat, merasakan & menjelajahi sendiri. Sebuah pengalaman berharga ketika kita bisa eksplorasi tempat baru, apalagi yang bukan mainstream. Ada banyak pelajaran hidup yang didapat.

      Semoga perjalanan impianmu segera terwujud! Aamiin!

      Lha pengen kemana sih? #GantianNanya 😀

      1. Wah banyak kalau ditanya pengennya kemana sih. Hmmm pengen trekking di salah satu jalur trekking Himalaya (Annapurna, Everest, Khumbu mana aja deh), pengen ke Andalusia, pengen ke Timur Tengah ,,, kalau ditanya sih gak ada habisnya hahaha 😀

  3. hahaha… kocak dan lucu ceritanya. bisa2 nya beli tiket dulu tanpa plan.

    1. ajaib memang. saya sendiri masih nggak habis pikir sampai sekarang haha

  4. Andaikan di kantorku juga ada unpaid leave, asik banget kayake. Ternyata banyak banget tempat seru untuk dikunjungi di dunia ini ya.

    1. Tips: next, kalau cari kantor baru, bisa ditanyakan ada fasilitas seperti ini atau nggak kak haha

  5. Ini planningku 2018 ;p.. soalnya 2 thn kedepan udh ada rencana traveling lainnya :D.. pgnnya kalo ke dubai itu cm 1 mas, yg paling utama nyobain rollercoaster tercepat sedunianya itu :D.. pgnnya sih sekalian umroh, baru kmudian k Dubai 😀

    1. bah! 2018 udah diplanning sejak sekarang kak? haha keren kali lah jadwal halan-halannya. semoga berjalan dengan lancar ya, aamiin.

      anyway roller coaster tercepat di dunia itu ada di ferrari world Yas Island Abu Dhabi, sekitar 1-1,5 jam dari Dubai kalau jalur darat. 🙂

    2. mending Umroh dulu aja mba fanny. hheheu

  6. wah keren pengalamannya.prolognya itu loh mas aku banget hahaa..kadang kita jenuh dikantor cuma bisa jadi weekend traveller 🙂

    1. yak toss! meski jadi weekend traveler seru juga sih sebenarnya, suka impulsif. kapan-kapan deh bikin blogpost tentang ini. 🙂

      *malah jadi dapat ide postingan*

      1. iya mas saya selalu pake hastag atau tag #weekEndTraveller 🙂 cocok itu buat ide..khusus pekerja hhaaha

        1. haha sama kita! weekend traveler 🙂

  7. Aku nggak bisa membayangkan semengerikan apa badai pasir di sana sampai dirimu harus mengucap-ngucap. Tapi transportasi umum di sana masih bisa melintas di tengah badai pasir, mestinya aman-aman aja ya, Bang?

    1. masih aman sih kak, nggak sampai yang tornado pasir gurun gitu. cuma angin kuenceng tapi bawa pasir gurun gitu. jadi kalau keluar dijamin bakal kelilipan. nggak bisa jemur pakaian pula. dalam kondisi seperti itu jadi semakin merasakan kebesaranNYA.

  8. Assalamualaikum mas fahmi,

    wah, lama ga mampir di blogmu ternyata banyak perubahan. Sepertinya bisa nih kita duet jadi host traveling hehehehe

    1. waalaikumsalam. haha ayo lah kalau mau duet presenter traveling ala2 😀

  9. Wuihhhh udara di Dubai…kirain juga kebagian kabut asap dari Indonesia . Hehe

    1. kejauhan mas kiriman kabut asapnya haha. tapi ngeri-ngeri sedap berada dalam pusaran badai gurun kaya gitu lho

  10. foto mas fahmi belakang bangunan khas dubainya itu lohh, bikin ngilerr, hehe..

    semoga aku juga bisa segera kesana ^^ harus nabung ekstra rajin nih, hoho

    1. aamiin semoga segera terbang ke dubai. selain sering nabung, rajin juga cek2 web maskapai, siapa tau dapat rejeki nomplok tiket promo haha

  11. Bentuk nasinya rada aneh ngga kayak di Indonesia ya, itu kayaknya teksturnya keras gitu kayak nasi goreng. Sebenernya empuk apa keras itu mas? 😀

    1. hahaha itu kalau nggak salah jenis beras basmati. bulir-bulir berasnya lebih besar & panjang. tapi rasanya tetap enak kok, empuk juga. 😀

  12. Kalo di kantor gw dulu, cuti 3 hari aja dah macam orang maling sendal #DiliatinHRD

    1. haha begitulah, beda kerjaan, beda divisi, beda kantor, beda kultur & rules. 🙂

  13. Alhamdulillah..istrinya solehah bin pengertian ya Mas..dan kalian ngetrip berdua? Ini road trip nyetir mobil sendirikah? Seru pindah-pindah negara antar perbatasan serasa sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Kadang sebagai traveler sensasi pindah2 daerah otonomi negara dalam satu kali perjalanan itu yang bikin dijadiin target.

    1. haha iya, sensasinya berbeda, lebih seru mbak 🙂

  14. Bikin ngiler aja nih,.. bagi2 tips dong, biar bisa ikut kelayapan kemana-mana

    1. tips nya banyakin baca shalawat nabi | #eaaa

  15. Kamu mending punya kubikel, mas. Aku cuma punya island doang, satu deret meja panjang dipake rame-rame haha. Sebagai pekerja kantoran baru, aku pun cuma bisa long trip setahun sekali, dan harus mengabaikan undangan-undangan event traveling yang sering banget diadakan di hari kerja. *nyesek*

    Aku mengamini ungkapan temenmu itu ya, mas. Jepang yang selalu ada di dalam hati, pasti bisa menjadi realisasi 😀

    1. kubikelku juga ala-ala doang Nug sebenarnya, nggak se kece kaya foto diatas haha, meski lebih banyak aku tinggalin sih karena lebih sering dinas luar.

      BTW kamu curcol banget ituh ahahha, sering melewatkan undangan famtrip dari klien2 gara2 hari kerja atau jatah cuti abis. tapi tenang, banyak temennya kok, akupun 😀

  16. Trip nya mas Fahmi slama dsana, udah deh keren banget. Cuman prolog di awal nya menarik banget dan benar2 real nih. Udah gitu seolah mewakili pengalaman pribadiku, Beda nya ak belum curhat kayak gini di blog, hahaa 😀

    1. prolog awalnya akan ngena bagi para jamaah kubikeliyah kak hahaha. ini sebenarnya curhat begini aku mikir2 lho… terlalu jujur apa nggak ya? secara ini kan public space. but final decision, ya udah lah ya, namanya blog kan emang buat ajang bercerita. jadi… nulis ya nulis aja 😀

  17. Ah, keren sekali mas ceritanya. Andai dikantorku ada juga fasilitas ngambil cuti tanpa dibayar hihi.
    Baca ceritanya ini jadi bikin semangat lagi buat ‘menanam dan memupuk mimpi’ deh. Kalimat diakhir cerita juga beuhhhh ngena banget 😀 Pokoknya there’s a will, there’s a way ya. Hope, effort and pray a lot, inshaa Allah.

    1. terima kasih sudah mampir 🙂
      yup! it there’s a will, there’s a way!
      semoga impiannya segera terwujud ya hehe
      pengen jalan kemana sih?

  18. Salut kakkkk sama perjuangannya
    Emang bener sih, berani bermimpi pasti ada jalan untuk meraihnya. Setujuuu
    *Angkatjempolsemua*

    1. thanks kak! ayo raih mimpimu! 🙂

  19. Kamu udah cocok jadi Host MTMA loh kak hehe

    1. wahahaha cuma sayang, mukanya nggak “indo” :p

  20. Salut. Demi sebuah ‘pendobrakan’, keputusan berani harus diambil. Tinggal setelahnya kembali bekerja keras dan konsekuen atas pilihan yang telah diambil. Pakai kacamata gitu, di Dubai yang lagi badai pasir, berasa jadi Fahmi Hunt di Mission Impossible 5,5 😀

    1. yang belum saya tulis diatas, konsekuensi sebenarnya dari unpaid leave kelamaan adalah, bisa saja saya nggak bisa menempati posisi yang sama atau di lokasi kantor yang sama. gambling beneran! disitu tantangannya.

      haha kemarin disana juga kebayang film mission impossible 😀

  21. hmmm… kayanya keberanian mengambil keputusan berani kaya mas fahri ini perlu ditiru,,, to cuman sebulan ini ga dapat gajih… siaplah mas.. makasih inspirasinya… 🙂

    1. nama saya Fahmi mas, bukan Fahri…

      Iya sih “cuma” sebulan nggak gajian… tapi… balik trip tabungan kosong dan siap rajin puasa senin kamis lho :p

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *