Catatan Buruh Migran – Terdampar di Al Rigga

Catatan Buruh Migran – Terdampar di Al Rigga

Part 8

Begitu teman-teman tahu kalau saya bekerja di Dubai, rata-rata responnya adalah…

“Wiih keren ya sekarang kerja di Dubai.”

“Ngggggggg…..” cuma nyegir kuda aja.

Keren apaan?! Iya kalau yang dimaksud keren itu kotanya, okelah, memang infrastruktur di megapolitan ini bisa dibilang keren banget. Fasilitas lengkap dan tertata rapi.

Tapi ketahuilah saudara-saudara, tidak semua orang yang ada di Dubai ini hidup bermewah-mewah, bergelimang harta bermandikan emas berlian haha. Klasifikasi soasialnya dimana-mana tetap saja sama. Ada kaum jetsetter, kelas menengah cihuy, kelas menegah ngehe dan kasta sudra. Bahkan ironisnya, disadari atau tidak, sebenarnya kota ini dibangun dengan keringat para buruh konstruksi yang upah bulanannya terasa nggak masuk akal!

Ahh, kapan-kapanlah saya cerita tentang beragam profesi underdog disini. Di postingan lain.

Kali ini, mau cerita tentang akomodasi selama hidup di Dubai.

Read moreCatatan Buruh Migran – Terdampar di Al Rigga

Catatan Buruh Migran – Cerita Hari Pertama Kerja Di Dubai

Dubai Downtown UAE from 8 Boulevard Tower

Part 7

Hari pertama ngantor…

Pagi-pagi sudah dandan rapi jali mewangi dong. Saya pun melangkahkan kaki keluar dari hotel yang lokasinya tak begitu jauh dari kantor baru ini, meskipun masih agak kliyengan karena baru sampai tengah malam tadi.

Meskipun sekarang diterima bekerja di perusahaan multinasional, kantornya berada di sebuah menara bergaya arsitektur unik setinggi 58 lantai di kawasan elit Business Bay, tapi ya tetap saja namanya buruh. Karena masih ikut orang. Yakan?

Read moreCatatan Buruh Migran – Cerita Hari Pertama Kerja Di Dubai

Catatan Buruh Migran – Pamitan Simbah

Catatan Buruh Migran – Pamitan Simbah

Part 3

Jumatan Dengan Si Kecil

Lantunan qiro’ah terdengar membahana di seluruh penjuru desa dari pelantang menara masjid. Tanda shalat Jumat akan segera dimulai. Saya mengendap masuk kamar untuk mengambil peci dan bergegas berangkat ke masjid.

Tiba-tiba…

“Ayah, Ais mau ikut ke masjid”

Fariz kecil yg sedari tadi tertidur pulas, rupanya terbangun karena suara derit engsel pintu kamar yang kurang minyak pelumas.

“Tapi janji, di masjid jangan rewel ya dek, duduk anteng dengerin khotbah sama ayah”

Dia hanya mengangguk pelan meski saya yakin dia juga belum tahu betul khotbah itu apa. Tatapannya sayu karena masih mengantuk. Saya kemudian menggendongnya begitu saja, dan begitu sampai teras rumah,

“Ayah, mau pakai sarung!” protesnya.

Yawla ni bocah, baru umur 2 tahun 4 bulan tapi kok ya ngerti detail apa maunya. Dia bersikukuh nggak mau pakai sarung kecil miliknya. Maunya punya ayahnya, dilipat jadi dua!

Read moreCatatan Buruh Migran – Pamitan Simbah

Catatan Buruh Migran – Sebuah Jawaban

Catatan Buruh Migran – Sebuah Jawaban

Part 2

Meski interview kemarin berjalan relatif lancar, namun saya masih kurang percaya diri dengan hasilnya. Ah… nasi sudah menjadi bubur bro! Nggak akan bisa diulang juga wawancaranya. Tidak ada kesempatan kedua pun.

Kini tinggal berserah diri. At least, I’ve tried my best. Lillahita’ala saja. Ikhtiar selanjutnya ya berdoa. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa dalam sujud-sujud panjang menghadapNYA.

“Ya Allah, jika memang ini jalan terbaik yang Engkau berikan, maka mudahkanlah. Namun jika ini bukan jalan yang terbaik bagi hamba sekeluarga, maka tunjukkanlah jalan yang lain yang terbaik. Bimbinglah setiap langkah kami agar selalu dalam keridhoanMU.”

Begitulah doa penutup yang saya panjatkan.

Read moreCatatan Buruh Migran – Sebuah Jawaban