Sunset di Dermaga Barat Karimun Jawa

Sepotong Surga Itu Bernama Karimun Jawa

Disaat orang-orang sedang terlelap dalam mimpi indahnya, Aku bangkit dan bergegas mempersiapkan segala sesuatunya. Demi sebuah perjalanan yang sudah saya idam-idamkan. Semua perlengkapan traveling sudah masuk dalam sebuah backpack. Bagi saya, petualangan kali ini lebih terasa seperti sebuah perjalanan spiritual, karena saking penasaran akan kata orang-orang yang bercerita mengenai sepotong surga dunia di tengah laut Jawa, Karimun Jawa.

Tengah malam, bersama tiga orang teman, kami berangkat dari Kota Solo menuju Jepara dengan menggunakan Avanza yang sudah kami sewa siang harinya. Perjalanan menembus malam terasa begitu cepat (ya iyalah… secara ga pake macet). Aroma khas laut sudah tercium. Rupanya kami baru saja memasuki gerbang pelabuhan ASDP Pantai Kartini, Jepara.

Seusai menunaikan sholat subuh di mushalla pelabuhan, sambil menunggu jam keberangkatan kapal, kami menyempatkan untuk sarapan di sebuah kedai. Sensasi menyeruput teh hangat pagi itu begitu luar biasa nikmat meskipun sajian teh tidak berbeda dengan yang dibuat ibu di rumah atau office boy di kantor.

***

KMP Muria menuju Karimun Jawa

KMP Muria, kapal ferry yang selalu setia melayani rute Jepara — Karimun Jawa sudah menanti di dermaga. Kapal dijadwalkan berangkat pukul 09.00, one step closer to the heavenly Karimun Jawa. Kami pun mencari tempat duduk yang paling nyaman agar perjalanan selama +/- 6 jam kedepan bisa dinikmati.

6 jam?? Ya!! Karena dengan jarak +/- 90 Km dari Jepara, kecepatan KMP Muria hanya 7,5 knot/hour, rasanya hampir sama dengan perjalanan naik becak dari Semarang ke Jogja. Pelaaaaan banget dan ga nyampe-nyampe hahaha.

Tapi karena sudah menata hati dari awal, ya enjoy aja!

Tentu banyak hal yang dapat kita lakukan selama penyeberangan. Mulai dari nonton TV yang sudah disediakan, ngemil, mendengarkan musik, main kartu, cari kenalan, foto-foto, ngobrol dengan nahkoda, petak umpet, sampai memasrahkan diri pada pil obat tidur dan merebahkan tubuh di geladak kapal tanpa menghiraukan sapaan lumba-lumba yang acapkali berenang di lambung kapal dalam perjalanan.

Pintu gerbang Karimunjawa

Sekitar pukul 15.00 WIB, kapal berhasil sandar di dermaga Karimun Jawa. Alhamdulillah, kami berhasil menginjakkan kaki di tanh lagi setelah terapung-apung plus kepanasan di tengah laut jawa. Bu Munaroh, pemilik homestay yang kami sewa selama di Karimun Jawa sudah menjemput kami di dermaga.

“Piye perjalanane? Kesel?”, sapanya ramah dalam bahasa Jawa.

Dengan sebuah minivan kami kemudian diantar menuju ke rumahnya yang hanya sekitar 800 meter dari dermaga. Saat tiba, kelapa muda, sirup dan es batu sudah terhidang di teras rumah. Oh Tuhaaan… nikmat mana lagi yang kau dustakan? Tanpa tedeng aling-aling, hidangan pelepas dahaga yang sudah terhidang kami hajaaar…!

Karena saya ikut dalam trip komunitas Explore Kariumjawa, maka saya pun berbaur dan bertemu dengan para peserta trip dari daerah lain. Tanpa canggung kami langsung berkenalan satu sama lain. Usai membersihkan diri dan beribadah, kami kemudian bersama-sama menuju dermaga barat untuk hunting sunset. Sungguh, menyaksikan sang surya pulang ke peraduannya adalah sebuah moment yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

“DIA” Maha Kuasa.

Sunset di Dermaga Barat Karimun Jawa
Sunset di Dermaga Barat

***

Malam hari di Karimun Jawa adalah saat yang tepat untuk wisata kuliner. Ada begitu banyak makanan yang dijajakan di alun-alun Karimun Jawa ini.

“Ha?… Alun-alun? Emang ada?”

Hahaha… ya begitulah adanya. Tanah lapang di depan kantor kecamatan seluasa lapangan sepak bola inilah yang biasa disebut alun-alun. Lumayanlah untuk tempat nongkrong sembari menikmati makanan khas seperti aneka ikan bakar, bakso ikan ekor kuning, ikan serepeh, pindang serani, dan yang paling ajib adalah tongseng cumi, beuhh!!  Harga yang dibanderol pun masih murah dan wajar. Apalagi kalau sudah memasuki musim ikan antara bulan Juni—September, ikan disini melimpah sekali.

Hidangan Cumi
Ini cumi ajibnyaaa ujubilah

Puas memanjakan perut, kami pun beranjak pulang dan segera beristirahat karena pagi harinya tidak ingin melewatkan indahnya matahari terbit.

Usai subuh berjamaah di mushalla dekat homestay, saya dan beberapa teman bergegas menuju Palm Beach Nirwana Resort yang jaraknya sekitar 2 Km di sisi timur. Betapa beruntungnya kami pagi itu, mentari muncul perlahan dibalik awan tipis ufuk timur. Semburat biru, kuning, jingga berbaur jadi satu menyeruak di cakrawala. Tak lama setelah setelah mengabadikan momen, kami pun pulang untuk sarapan dan bersiap-siap untuk touri hari pertama.

Palm Beach Nirwana Resort
Palm Beach Nirwana Resort

Perahu untuk island hopping

Dua buah kapal milik Pak Tomo sudah siap di dermaga. Kami memutuskan untuk mengeksplor jalur barat terlebih dahulu. Pagi itu perairan Karimun Jawa tak ubahnya sebuah danau, tenang sekali. Pulau pertama yang akan disinggahi adalah Pulau Cemara Besar. Setelah 40 menit berlayar, gradasi warna biru tua, biru muda, tosca dan putih krem pasir pantai menyambut kami. Deretan hijaunya pohon cemara laut meliuk-liuk tersapu angin.

Tanpa pikir panjang, “byuuuur…” seorang teman dari Jogja langsung menceburkan diri ke laut tanpa alat snorkeling. Tiba-tiba, “Tolooooong…” Ia menjerit kesakitan. Mas Siswanto, guide lokal dalam perahu kami pun dengan sigapnya meraih teman saya itu.

Bukan karena tenggelam karena kedalaman air hanya selutut saja saat itu. Ternyata dia terkena ikan batu atau orang sini menyebutnya sebagai Ripho. Kulit di kakinya mendadak seperti luka bakar dan harus segera diobati. Dia pun harus menikmati liburannya di sebuah puskesmas.

Pelajaran pertama hari itu, selalu gunakan alas kaki ketika berjalan di pantai. Banyak biota laut yang kadang terkubur di bawah pasir nan halus itu. Memang indah dan beraneka ragam biota di sini. Namun dibalik itu tersembunyi toksin yang berbahaya.

Terlena akan keindahan bawah laut dengan ber-snorkeling ria di Pulau Besar, membuat kami lupa untuk mengisi ‘amunisi’ alias makan siang. Segera kami pun pindah ke Pulau Cemara Kecil untuk makan siang dengan bakar ikan sepuasnya hmm… yummy…!

Pulau Cemara Kecil
Pulau Cemara Kecil

Spot favorit di pulau ini adalah berfoto di pulau gosong, yaitu gundukan pasir putih yang hanya muncul saat air surut. Tak peduli dengan teriknya matahari siang itu, aji mumpung pun dihalalkan disini. “Ah… mumpung disini, kapan lagi bisa gini, kan”. Selepas makan dan guling-gulingan di pasir, kami kembali ke kapal untuk kembali berlayar menuju Pantai Tanjung Gelam yang masyhur dengan sunset-nya.

Benar saja, kami mendapatkan momen yang luar biasa kala itu. Semburat senja merah tersaji bagai lukisan maha karya Sang Maestro alam raya. Seolah semua menahan nafas ketika menyaksikan detik-detik matahari perlahan ditelan cakrawala. Begitu hari mulai gelap, kapal mengangkat jangkar dan kembali berlayar mengarungi tenangnya laut Jawa menuju dermaga.

Sunset di Tanjung Gelam

***

Pagi hari selanjutnya, kami berjalan kaki dari homestay ke dermaga. Dipenuhi dengan galak tawa. Kami pun saling ejek karena ternyata baru sadar bahwa kulit muka dan tangan kami sudah jauuhhh berbeda dengan sebelum kami berangkat. Sebagian beranggapan lebih gosong lebih eksotis katanya. Tapi kalo gosongnya belang-belang kan gak lucu ya, apalagi balik cuti langsung ngantor dan harus ketemu customer dan klien. Yah, whatever!!

Pulau-pulau di jalur timur telah menunggu untuk dijelajahi. Masih ditemani oleh Pak Tomo dengan kapalnya yang berkekuatan 3 baling-baling, setelah 1 jam berlayar sampailah kami di Pulau Tengah. Dermaga kayu yang menjorok ke lautan nan biru mempesona kami, seolah sedang berada di Maldives atau di Kepulauan Karibia, padahal masih di Indonesia saja. Setelah memakai alat snorkeling, kami langsung larut akan eksotisme karang-karang bawah laut yang masih alami. Kontur tebing membuat snorkeling kali ini lebih memacu adrenalin, karena terlihat jelas perbatasan laut dalam dan karang tepi pantai.

Snorkeling di Karimun Jawa

Kalau beruntung, kita dapat berjumpa dengan Barracuda dan Hiu di disini. Berbagai jenis biota laut ragam warna-warni hidup berkoloni di sekitar pulau ini. Terdapat sebuah keluarga kecil yang mendiami pulau kecil ini. Mereka menjajakan makanan dan jajanan bagi para pengunjung pulau. Termasuk kelapa muda yang tinggal petik langsung dari pohonnya. Ada juga fasilitas homestay apung atau berada di atas laut dengan fasilitas lumayang yang bisa disewa.

Pulau Tengah Karimun Jawa
Pulau Tengah ini Subhanallah deh

Beranjak dari Pulau Tengah, kami kemudian menujut Pulau Kecil untuk menemui spongebob dan teman-temannya. Di bawah dermaga Pulau Kecil, kita disambut dengan ikan-ikan hias yang berkumpul di bawahnya. Sedikit menyelam lagi ke bawah, kita dapat bercanda dengan ikan badut alias nemo yang lucu-lucu. Ikan-ikan kecil itu langsung mengerubungi ketika remah-remah roti dan sisa nasi saya sebarkan di dalam air tepat di depan muka. Ikan-ikan itu pun berebut makanan tanpa malu-malu lagi dengan manusia yang ada di sekitarnya.

Menjelang sore, petualangan belum usai ternyata. Pak Tomo sang nahkoda mengarahkan kapal ke Pulau Menjangan Besar.

“Siap-siap pada uji nyali”, katanya sambil senyum penuh arti.

Ternyata terdapat penangkaran hiu disini. Saya pun tertantang untuk berenang bersama hiu-hiu yang terlihat sadis itu. Ada hiu karang, hiu sirip hitam, hiu kepala martil dan beberapa lainnya.

Penangkaran hiu di Karimun Jawa

Sensasinya? Luarrrrr Biassaaaa!! Bayangkan saja, kita dikelilingi puluhan hiu yang sewaktu-waktu siap menggigit kita jika ada bau darah. Buat kamu para wanita yang sedang datang bulan, silakan menonton saja dari atas jika masih menyayangi diri anda.

Kapal kembali merapat ke dermaga. Setibanya di homestay, listrik sudah menyala. Maklum, listrik di Karimun Jawa hanya hidup dari pukul 18.00—06.00 setiap harinya. Itu pun menggunakan PLTD. Jadi manfaatkan untuk mengisi daya semua alat elektronik selagi listrik nyala. Usai membersihkan diri, beramai-ramai kami langsung menyerbu toko souvenir dan oleh-oleh di sekitar alun-alun. Ada yang memborong rumput laut, teri, kerupuk kerapu, aksesoris, sampai tongkat kayu dewandaru khas Karimunjawa.

Karena malam itu malam terakhir dan tidak mau terlewat begitu saja, kami berkumpul, bercanda dan sharing satu sama lain. Dalam pembicaraan kami, terungkap ternyata masih banyak tempat-tempat seru yang belum kami jelajahi di Karimun Jawa ini. Misalnya trekking di mangrove forest, berziarah di makam Sunan Nyamplungan, Kampung Bugis di Pulau Kemujan, mandi di air terjun Songgolangit, diving di IndoNor shipwreck dan masih banyak pulau-pulau kecil nan eksotis lainnya.

Baca juga: Tips Wisata Ke Karimunjawa

Dalam perjalan pulang menuju Jepara, saya berkontemplasi dan berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan liburan ke Karimun Jawa kali ini benar-benar membuat pikiran dan jiwa saya fresh lagi. Menikmati keindahan alam di Karimun Jawa, bertemu dengan teman-teman baru, penduduk asli yang ramah, makanan lezat nan murah dan yang terpenting kita menemukan nilai-nilai kehidupan yang baru dalam setiap perjalanan.

Semua itu saya temukan dalam perjalanan menuju sepotong surga di tengah laut Jawa bernama, Karimun Jawa — April 2011.

Written by
Fahmi Anhar
Join the discussion