Save Sharks Mission – Bali Part 1

Save Sharks Mission – Bali Part 1

Jumat, 20 September 2013

Window View Lion Air
Window View Lion Air

Udara panas langsung menerpa wajah kami begitu kaki ini menapaki turunan tangga dari kabin pesawat. Ya, kami baru saja landing di Ngurah Rai International Airport siang itu. Suasana bandara masih tampak semrawut, pembangunan disana-sini, seolah tanpa peduli sibuknya lalu lalang pesawat yang tanpa henti. Bandara ini sedang bersolek diri demi menyambut para tamu agung dalam pagelaran APEC nanti.

Trip ke pulau dewata kali ini bukan untuk liburan ataupun senang-senang. Saya, Vicho, Karin, Wening dan Adhis ditugaskan dalam sebuah misi “rahasia” yang merupakan salah satu implementasi program komunitas Save Sharks Indonesia. Kami harus melakukan observasi terselubung dalam public consultation project, dimana kami harus mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang:

  • Daerah nelayan penangkap hiu
  • Daerah penjual hiu
  • Jenis-jenis hiu yang ditangkap
  • Lokasi penangkapan hiu
  • Metode penangkapan hiu
  • Intensitas & musim melaut
  • Jumlah hiu yang ditangkap
  • Motif penangkapan hiu
  • Pemasaran sirip & daging hiu
  • Adakah tangkapan species lain selain hiu; seperti manta & lumba-lumba

Dan masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan konservasi untuk kita telusuri.

Mengapa disebut misi “rahasia”? karena metode pengumpulan datanya kami lakukan secara terselubung agar tidak menimbulkan kecurigaan dari para nelayan ataupun penjual dan pembeli di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) serta warga kampung-kampung nelayan di pesisir selatan Bali. Nggak lucu juga kalau tiba² kami gerebek pasar, koar² pake TOA, ngelarang² para nelayan untuk tidak nangkap hiu lagi. Kalau kaya gitu, bisa² misi ini malah akan bubar jalan, dan bisa jadi kita akan dimassa hahaha. Maklum lah, isu konservasi hiu masih agak sensitif. Disinilah letak tantangan terbesar bagi kami team Save Sharks Indonesia. Seru, menegangkan dan menantang! Intinya, setiap project & misi #SaveSharks yang dijalankan oleh team Save Sharks Indonesia adalah untuk support pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementrian Kelautan & Perikanan, agar segera terbit peraturan perundangan perlindungan & konservasi hiu. Got it?? Semoga…

Bali dipilih sebagai pilot project dari misi ini karena medannya dipandang relatif lebih “mudah” daripada daerah-daerah lain di Indonesia. Namun konteks mudah dalam lingkup konservasi tentu masih saja akan menemui berbagai macam hambatan. Tapi kami tetap optimis! Berangkat dari rumah dengan niat tulus & ikhlas. Menjalankan misi ini dengan hati. Bismillah !!

Dan setelah briefing singkat, kami langsung bergegas menuju mobil rental yang sudah dipesan sebelumnya. Berikut report singkat hari pertama #savesharks misson berdasarkan spot yang berhasil kami datangi selama 3 hari di Bali

Pantai Kedonganan, Kab Badung

Pantai Kedonganan Bali #savesharks
Pantai Kedonganan Bali

Menurut informasi, disinilah pasar ikan terbesar di Bali. Lokasinya tak jauh dari bandara Ngurah Rai, hanya sekitar 10 menit berkendara dengan mobil. Bahkan kalau kita jeli, sebelum mendarat di runaway, pantai Kedonganan terlihat jelas dari window seat sebelah kanan. Deretan kapal nelayan mendominasi pasir putihnya. Cukup kontras apabila dibandingkan dengan pantai di sebelahnya, yaitu Jimbaran yang bersih dengan kursi & meja makan berderet rapi, tempat para turis memuaskan nafsu makan seafoodnya.

Memasuki pasar ikan Kedonganan, riuh rendah tawar menawar pembeli dengan pedagang ikan, bau amis menyengat di seluruh penjuru ruangan, dan becek tak lagi kami hiraukan. Kami berlima menyebar di dalam pasar, berkeliling dan ngobrol dengan para penjual ikan yang ternyata mayoritas adalah orang Jawa Timur-an sambil sesekali candid merekam. Sekilas pandangan mata, hanya ikan-ikan konsumsi yang banyak disini. Seperti tuna, baramundi, lemadang, kerapu, parrot fish, cumi, sotong, udang, lobster dan kerang. Beberapa kali kami team kami saling bertatapan memberi kode “lega, nggak ada hiu & manta disini”.

Sampai akhirnya… di sebuah lapak di pojokan pasar ikan Kedonganan, teronggok seekor baby shark. Kaget tentu saja, tapi tetap harus berakting senatural mungkin agar tidak mencurigakan. Iseng bertanya kepada si penjual, ternyata baby shark itu dihargai Rp. 40.000,-. Dia juga bercerita kalau pada hari kami berkunjung, Jumat 20 September 2013 sedang purnama, jadi tidak banyak nelayan melaut. Dan memang sedang tidak musim ikan besar.

Baby Shark di Pantai Kedonganan Bali #savesharks
Baby Shark di Pasar Ikan Pantai Kedonganan

Sambil menganalisa hasil observasi di dalam pasar, kami berjalan keluar menuju ke bibir pantai. Niatnya sambil mencari udara segar karena bau amis cukup membuat kami mual. Namun, apa yang kami lihat kemudian adalah diluar dugaan. Puluhan sirip hiu aneka ukuran dari yang kecil sampai besar berjajar rapi sedang dijemur diatas tampah dari anyaman bambu. Dua di atas kapal nelayan, dua lagi dijemur di atap gubuk di pinggir pantai. GOD!! Kami pun hanya bisa bengong, saling berpandangan oot dan lemas. Saya amati dari dekat, sudah agak sulit untuk mengenali dari jenis hiu apa sirip-sirip tersebut. Namun beberapa terlihat dari species white tip shark karena ada warna putih di ujung siripnya.

Shark Fin BALI #savesharks
sirip hiu dijemur di pantai kedonganan | #savesharks

Saya dan Karin kemudian ngobrol dengan seorang pemuda yang sedang duduk tak jauh dari sirip-sirip hiu yang sedang dijemur tersebut. Pemuda itu bernama Dimas, bukan warga asli Bali, melainkan perantau dari salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur. Dengan semangat dan “bangga” dia bercerita kalau ternyata musim ikan dan penangkapan ikan besar sudah lewat, karena berlangsung pada bulan Mei s/d Agustus setiap tahunnya. Para nelayan di pantai Kedonganan menggunakan metode jaring super panjang dan besar yang ditebar di laut selatan Bali. Bahkan, Dimas bercerita, butuh waktu 12 jam hanya untuk mengangkat jaring yang sudah ditebar dari ujung ke ujung lainnya. Gila!! kebayang dong gimana panjangnya jaring itu?

Sepengetahuan Dimas, sehari-hari di Kedonganan memang tidak ada nelayan yang spesifik menangkap hiu, penyu, lumba-lumba atau manta. Karena sebenarnya tahu termasuk hewan yang dilindungi, dan akan kena sanksi & denda kalau melanggarnya. Namun kalau ada yang tersangkut jaring, ya dibawa pulang sekalian, karena mereka sudah tau nilai ekonomis sirip hiu. Dimas juga bercerita, sering ada turis dari Taiwan, Hongkong ataupun China yang datang langsung ke nelayan di Kedonganan, memesan sirip-sirip ikan hiu kering untuk dibawa pulang ke negaranya sebagai buah tangan. Para turis itu langsung membeli disini karena harganya jauh lebih murah apabila dibandingkan dengan di negaranya.

Awalnya sekedar iseng nanya, “kalau sirip yang lagi dijemur itu punya siapa Mas? satu tampah kira-kira dihargain berapa?” dan Dimas pun menjawab dengan wajah sumringah “ooh itu punya saya Mas, harganya yaa… sekitar Rp. 10.000.000,- lumayan lah buat beli rokok”

*glek* | *ebusyeeet!!* | *monyeeett %$^#>?+=z~* umpat saya dalam hati

Pantai Kusamba, Kab Klungkung

Usai sholat jumat, team bergerak ke timur menuju kabupaten Klungkung Bali. Tujuan utama kami adalah mengamati aktifitas nelayan di sore hari, karena menurut informasi yang kami dapatkan sebelumnya, para nelayan biasa pulang dari pergi melaut dalam dua tahap, pagi dan sore. Kami ingin melihat langsung hasil tangkapan nelayan yang baru saja pulang melaut.

Pantai Kusamba Klungkung Bali #savesharks
Pantai Kusamba Klungkung

Namun ternyata, kami belum beruntung sore itu. Puluhan jukung nelayan teronggok diam di bibir pantai. Semakin sore, ombak semakin mengganas saja, seolah bersiap melahap apa saja yang mendekat. Sepi, tidak ada seorang nelayan pun yang kembali dari melaut. Pak Ketut, seorang nelayan pantai Kusamba yang sedang bercengkrama dengan teman-teman nelayan lainnya sambil memeriksa jaring bercerita kepada kami bahwa hari itu sedang fase bulan purnama, jadi tidak banyak nelayan yang pergi melaut karena biasanya ikan akan sulit ditangkap. Beliau kemudian menyarankan kami untuk bergegas ke Pantai Pesinggahan yang tak jauh lokasinya. Siapa tahu masih ada aktifitas disana. Dengan semangat, kami pun segera ngesot kesana, namun ternyata… sama saja, nihil. Karena hari sudah beranjak malam, kami memilih untuk kembali ke penginapan, beristirahat & menyiapkan tenaga untuk hari kedua.

~ TO BE CONTINUED ~

Written by
Fahmi Anhar