Red Square Malacca Yang Mempesona

Beberapa waktu lalu ketika backpacking #LandtripMalaya dari Kuala Lumpur ke Singapore, saya menyempatkan mampir ke kota tua Melaka. Kota kecil di pesisir barat Semenanjung Malaysia ini menyimpan sejarah peradaban yang panjang. Mulai dari masa Kesultanan Melayu abad ke 14 hingga masa penjajahan negara-negara eropa atas wilayah ini pada awal abad 16 karena letaknya yang strategis di pusat lalu lintas perdagangan Hindia Belanda di perairan Selat Malaka.

River Cruise Malaka
River Cruise Malaka

Badan sudah mulai lemas ketika turun dari Panorama Bus, angkutan yang membawa saya dari terminal Melaka. Udara panas menyengat, perut lapar, dan musti berdesakan dengan penumpang lain di dalam bus yang aromanya nano-nano menjadi sebuah perjuangan tersendiri. Jarum jam menunjukkan pukul 14.30 saat saya menginjakkan kaki di depan Bangunan Merah, Stadthuys. Sebuah bangunan yang selama ini hanya dapat saya lihat di internet atau kartu pos, saat itu berdiri megah di hadapan saya. “akhirnya sampai disini juga” batinku sambil tersenyum terpana melihat bangunan sisa peadaban berabad lalu yang masih mempesona. Hamparan taman dengan bunga warna-warni bermekaran, air mancur di tengah-tengah, pohon rindang dan bangku-bangku untuk duduk bersantai ada di depan Stadthuys. Sebuah bangunan menara jam tua ada di pojokan taman. Disamping Red Square mengalir Sungai Melaka yang merupakan jalur penting ketika jaman Kesultanan Melayu Melaka sebagai jalur transportasi dan perdagangan pada abad 14.

Red Square Malaka - Stadthuys
Red Square Malaka – Stadthuys

Nama Stadthuys berasal dari bahasa Belanda, Stad yang berarti kota dan Huis berarti rumah. Jadi, dulunya Stadthuys adalah balai kota Melaka di jaman kolonial Belanda. Gedung ini dibangun pada tahun 1650 sebagai kantor Gubernur Jenderal kala itu. Warga sekitar menyebutnya Bangunan Merah. Panas yang menyengat siang itu tak menyurutkan para wisatawan berfoto ria di depannya, termasuk saya dan 2 teman ngesot bareng, Sisca dan Faiz hehe. Sementara Beberapa becak hias terlihat mangkal disekitar taman menunggu calon penumpang yang minta diajak keliling kota. Lalu lintas yang padat menambah semrawut Red Square, maklum hari libur ketika saat itu.

Backpacking To Malaka - Red Square
Trio Ngesot: Faiz, Sisca & Fahmi

Di Red Square, saya, Sisca dan Faiz sepakat berpencar sejenak. Kami sibuk dengan interest masing-masing. Saya yang [ngakunya] pengagum heritage site langsung menelusuri setiap sudut Red Square, Stadthuys, Surau Warisan yang berada di seberang barat jalan dan St. Francis Xavier Church di belakang Bangunan Merah. Sisca terlihat asyik menikmati es krim blueberry seharga 2 Ringgit di taman sambil cuci mata dan ngobrol dengan bule entah dari negara mana yang sedang bersantai di taman. Sementara Faiz berjalan eksplorasi kesana kemari, sesekali membidikkan kameranya mengambil foto dengan kaki yang agak terpincang, sisa cedera saat mendaki Semeru katanya.

Puas berkeliling, akhirnya kami berkumpul kembali di Red Square. Dan ngesot ke objek-objek selanjutnya di kawasan Melaka Heritage Center ini. So much fun !!

#LandtripMalaya ~ To Be Continued