Perjuangan Menuju Kamboja

Cambodia Trip Part 1

Perjuangan Menuju Kamboja

Suasana LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Malaysia ramai sekali pagi itu. Hari masih gelap, matahari pun belum muncul dari ufuk timur. Begitu turun dari Sky Bus yang membawa saya dari Kuala Lumpur, saya langsung lari menuju check in counter karena departure gate akan ditutup dalam waktu 30 menit lagi. Damn! Mepet banget! Ransel 38 liter lumayan bikin ngos-ngosan. Terbayang antrian panjang di imigrasi & security check. Kalau sampai ketinggalan pesawat, maka hancurlah rencana liburan saya. Yah, meskipun hanya berbekal beberapa lembar dolar & ringgit, namun ini adalah salah satu trip yang sudah saya inginkan sejak lama.

Begitu naik eskalator, apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Terlihat antrian panjang calon penumpang yang akan keluar dari Malaysia di counter imigrasi. Terlihat juga antrian yang mengular di bagian security check. Haduh, ini dengkul langsung lemes! Mana belum sarapan pula. Semoga masih cukup waktu untuk mengejar sebelum gate ditutup.

ringgit malaysia
130 $ & 52 RM uang saku selama ngesot

Setelah antri sekitar 10 menit, tibalah giliran ransel saya masuk ke mesin detector. Berdoa semoga nggak digeledah seperti bapak-bapak di depan saya. Ealah ternyata luput pemirsa! Saya malah kena geledah juga. Dengan muka rada jutek, si ibu petugas airport ngeliatin saya dari atas sampai bawah. *jangan-jangan si ibu naksir saya* | #halah #lostfocus. Ransel dibuka, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam… dan sesuatu itu adalah… jeng jeng!! sekaleng susu bear brand hehe. Dengan lugasnya si ibu bilang: “minum dulu lah,  susu ni tak bole bawa naik” logat melayunya terdengar  kental. Ternyata saya disuruh minum susu. *terus nape?*

Pagi itu Tuhan masih memberikan kemurahanNYA. Saya berhasil melewati semua itu dalam waktu 20 menit. Dan ketika saya melewati gate T-6 keberangkatan menuju Siem Reap, Kamboja, kursi sudah kosong, tidak ada satupun penumpang disana. Ground floor staff menyarankan saya untuk segera menuju gate F-34 tempat pesawat Air Asia AK 1482 parkir. Dan… lari pagi pun berlanjut di selasar runaway LCCT. *sigh*. Tapi begitu sampai di F-34, senyum manis mbak-mbak pramugari langsung mengobati kekesalan saya pagi itu. Duduk santai di window seat, yang terlihat hanya remang-remang sorot lampu di kawasan LCCT dan puluhan pesawat bercat merah yang sedang loading penumpang. Ya, LCCT adalah kerajaannya Air Asia. Dan tak berapa lama pesawat pun bergerak menuju runaway dan take off.

sunrise above the sky
sunrise – negeri diatas awan

Ngomong-ngomong soal morning flight, kadang emang ngeselin sih, karena persiapannya sejak dini hari, rada ribet dan masih ngantuk. Tapi menjadi salah satu penerbangan favorite juga. Kenapa? Karena semua pengorbanan itu akan terbayar ketika kita sudah berada diatas awan. Melihat matahari terbit dibalik awan, sejajar dengan posisi  duduk kita itu… priceless moment!! Iya nggak? 🙂

Penerbangan menuju Siem Reap ditempuh kurang lebih selama 2 jam dari Malaysia. So far belum ada direct flight dari Indonesia. Jadi kudu transit via Thailand, Malaysia atau Singapore. Ketika menjelang mendarat, kontur Siem Reap sekilas mirip dengan Kupang, NTT. Gersang dan banyak pohon lontar. Namun jangan salah, meskipun Siem Reap International Airport tidak terlalu besar, namun bangunan dan interiornya oke punya. Bersih dan nyaman.

siem reap international airport cambodia
touchdown: siem reap international airport

Sembari mengantri pemeriksaan imigrasi, dengan cueknya saya iseng membentangkan selembar kertas bertuliskan “Sharing Cost Tuk-Tuk One Day Angkor Tour”. Tujuannya nyari temen buat menekan biaya transport. Secara saya kan solo traveling, padahal tuk-tuk itu muat untuk 4 orang. Ongkos untuk full day tour di kompleks Angkor dengan short route berkisar 15-20$ kala itu (Mei 2013). Kalau harus saya tanggung sendiri lumayan ngabisin uang saku. Malu juga sih sebenernya, etapi bodo amat lah, nggak ada yang kenal juga disana hehehe. Jimatnya adalah: sunglasses item!

Nah, sekalian jadi tips juga tuh buat yang mau solo traveling. Bisa irit biaya transport sekaligus nambah temen baru. Well, anyway upaya saya membentangkan kertas itu teryata membuahkan hasil. Tanpa disangka seorang wanita cantik bernama Daphne dari Malaysia menghampiri saya dan menyatakan bersedia untuk sharing cost tuk-tuk. Wooohooo!! leganya…

tuk tuk siem reap
tuk tuk nya Vanny jalannya pelaaaann banget 😐

Kejadian unik lagi bagi saya adalah saat keluar dari airport. Kalau di dalam saya membentangkan kertas buat nyari temen, eh giliran diluar, saya yang disambut dengan selembar kertas bertuliskan: “Fahmi, Welcome To Siem Reap” oleh Vanny, sang tuk-tuk driver yang sudah saya email bikin appointment beberapa hari sebelum keberangkatan. Surprise juga sih hehe. Untung doi nggak sampe pasang spanbduk/baliho penyambutan. #yakali #emangsiapegue

Perjalanan menuju pusat kota Siem Reap ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Jalanan disini lurus, panas dan agak berdebu. Saya sempat agak canggung ketika tahu cara berkendara di Kamboja berbeda dengan di Indonesia. Yaitu American way, berkendara di sebelah kanan. Sepanjang jalan terlihat rumah penduduk, ruko dan hotel. Saya juga baru tahu kalau di Kamboja yang mayoritas memeluk Budha ini, di setiap depan rumah terdapat rumah altar kecil untuk persembahan setiap harinya. Mirip seperti di Bali. Unik!

Find the best hotel rates at Wego.com

spirit house
spirit house a la kamboja

To Be Continued…