Jembatan Gantung Selo Boyolali

Motor Touring di Lereng Merapi

Traffic light di perempatan jalan raya Klaten terasa sangat lama pagi itu. Lampu merah tak kunjung berganti menjadi hijau. Saya tengok kanan kiri, tidak terlalu banyak kendaraan yang antri. Hanya beberapa sepeda motor dan truk besar di belakang saya. Tepat di samping kanan, sepertinya seorang tukang sayur yang baru saja pulang dari pasar. Sebuah kotak besar berisi aneka sayuran dan jajan pasar nangkring di belakang motornya. Siap untuk dijual keliling kampung langganannya.

Landscape Puncak Garuda Gunung Merapi
Landscape Puncak Garuda Gunung Merapi

Rencananya, Minggu pagi itu saya mau pulang dari rumah Klaten ke Magelang. Mata masih terasa berat akibat kurang tidur semalam. Yang ada di pikiran saya hanya ingin segera cepat sampai Magelang dan kembali tidur. Agar cepat sampai, tadinya saya sengaja mengambil rute lewat jalan raya Solo-Yogya-Magelang mengingat jalur ini cukup lebar dan aspalnya mulus. Biasanya 2 jam sampai.

Mini screen yang memperlihatkan hitungan mundur diatas lampu traffic light masih menunjukkan 15 detik lagi menuju lampu hijau. Saya memandang jauh ke utara, Puncak Garuda Gunung Merapi terlihat begitu gagah. Tak ada awan yang menyelimutinya. Nah, entah apa yang merasuki saya saat di traffic light itu, tiba-tiba saya memutuskan untuk memutar arah ke Boyolali, bukan ke Yogya. Saya seperti terbius pesona Gunung Merapi pagi itu. – Saya ingin kesana –. Kata batin saya.

Desa Lereng Merapi
Desa Lereng Merapi

Akhirnya saya memilih jalur pulang ke Magelang melalui Klaten – Boyolali – Selo – Ketep Pass Sawangan – Magelang. Mungkin ini adalah keputusan impulsif tercepat yang pernah saya ambil. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa dengan melalui jalur ini, jarak tempuhnya lebih jauh dan lebih lama. Tapi it’s oke lah, motor touring di lereng Merapi sesekali, pikir saya.

Entah sudah berapa kali saya melalui jalur ini. Tak terhitung lagi karena dulu sering touring dengan teman-teman. Namun rasanya sudah lama sekali saya tidak melewatinya. Kangen juga rasanya. Kalau tidak salah ingat, terakhir ketika Gunung Merapi meletus hebat di bulan Oktober-November 2010 saat menyalurkan bantuan kepada para pengungsi.

Lepas dari kecamatan Cepogo Boyolali, sentra peternakan sapi perah Boyolali, pemandangan di kiri kanan jalan mulai terlihat menyenangkan. Namun, berkebalikan dengan kondisi jalan aspal yang mulai jelek. Banyak lubang dan bergelombang. Kabupaten Boyolali ini berada di sisi timur Gunung Merapi. Dari sini terlihat ”geger boyo” atau dalam bahasa Indonesia “punggung buaya”, sebutan masyarakat lokal untuk kubah lava sisa letusan Merapi jaman dahulu. Disebut demikian karena kontur perbukitannya kasar, tidak mulus, jadi terlihat seperti punggung buaya.

Makam Warga Lereng Gunung Merapi
Makam Warga Lereng Gunung Merapi
Desa Wisata Selo Boyolali
Desa Wisata Selo Boyolali

Jalanan semakin menanjak saat saya sampai di kawasan desa wisata Selo yang masih masuk wilayah kabupaten Boyolali. Desa ini terlihat lebih rapi. Phon cemara menghiasi kiri dan kanan jalan. Rumah-rumah berjajar rapi, khas perkampungan di lereng gunung. Tampak aktivitas warga di sawah dan ladang mereka. Kehidupan agraris begitu terasa disini.

Perjalanan saya lanjutkan. Yamaha Vixion merah kesayangan saya ini memang tahan banting. Kemanapun saya ajak pergi, nggak pernah sekalipun menolak…

~ Ya iyalah nyet, gila aja! Mana ada motor bisa ngomong menolak diajak jalan. Cuma Belalang Tempur-nya Ksatria Baja Hitam yang bisa! ~ | #monolog #apasih #abaikan

Oke bro, lanjut !!

Sebuah papan petunjuk bertuliskan “Gardu Pandang Irung Petruk – 500 meter” membuat adrenalin saya semakin meningkat. Posisi saya semakin tinggi. Di sisi kiri, terlihat hamparan kontur kabupaten Boyolali. Di sisi kanan Puncak Garuda semakin terlihat jelas. Disini saya berhenti sejenak, menikmati segarnya udara pegunungan yang berpadu dengan hangatnya sinar mentari pagi. Namun tidak bisa lama, karena perjalanan masih panjang.

Jalur wisata Solo – Selo – Borobudur Magelang ini diresmikan sebagai salah satu objek wisata andalan Jawa Tengah pada 17 Oktober 2002 oleh Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri. Kala itu, jalanan pasti sangat mulus karena dilewati oleh orang nomor satu di negeri ini. Iring-iringan mobil pejabat ada di belakang mobil yang ditumpang Bu Mega. Namun, sekarang tentu kondisinya sudah sangat berbeda. Motor saya tidak bisa melaju kencang karena harus menghindari lubang di sana-sini. Banyak aspal yang sudah mengelupas. Bahkan di beberapa tikungan, pasir tebal dan kerikil sisa aspal yang terkelupas masih memenuhi jalan. Sangat berbahaya bagi pengendara sepeda motor.

Kiri jurang, kanan tebing. Kiri Gunung Merapi, kanan Gunung Sumbing. Begitulah pemandangan yang ditawarkan jalur ini. Entah berapa kali saya berhenti. Banyak sekali spot yang fotogenik. Namun, yang menjadi favorit saya adalah jembatan gantung Sepi, Dukuh Salaran, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali. View-nya debess lah. Dari sini terlihat jelas kontur gunung merapi dari sisi utara dan kontur gunung Merbabu dari sisi selatan.

Jembatan Gantung Selo Boyolali
Jembatan Gantung Selo Boyolali

Puas menikmati keindahan ciptaanNYA, saya memutuskan pulang. Lagian, kabut sudah mulai turun menutupi agungnya Puncak Garuda. Sepanjang perjalanan turun menuju Sawangan Magelang, akan banyak ditemui warga sekitar yang menjemur tembakau dan menjual berbagai macam bibit sayuran dan buah seperti cabai, tomat, brokoli, sawi, kubis, dan lain-lain.

Bibit Cabai Rawit
Bibit Cabai Rawit
Jemur Tembakau Merapi
Tembakau Merapi

 

Saya terlambat sampai rumah hari itu. Namun saya puas dengan keputusan impulsif yang saya ambil. Jiwa saya seperti di-charge lagi. Segar dan bersemangat meski badan lelah. Memang, refreshing itu tidak melulu harus pergi ke tempat wisata nun jauh di luar pulau atau luar negeri sana. Kalau jeli & bisa menikmati, banyak hal yang bisa kita temui di sekitar kita. Tinggal kembali lagi, bagaimana kita memaknai sebuah perjalanan itu sendiri….

Hotel Murah di Magelang

Written by
Fahmi Anhar