Menyepi di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta

Punggung mulai terasa panas, pantat pun mengeras. Saya menggeser posisi duduk sedikit ke kanan sembari menarik napas dalam-dalam, menikmati hembusan angin malam yang mulai terasa semakin dingin. Indera pendengaran saya dimanjakan dengan riuhnya paduan orkestra malam. Jangkrik dan kodok bersahutan menciptakan harmoni nada-nada alam.

Malam itu saya sengaja menyendiri. Menjauh dari hingar bingar kehidupan. Dari pekerjaan kantor, urusan keluarga, ketagihan gadget, tayangan tv, dan bahkan kejaran deadline artikel dari editor

Me time! Titik!

Hmmm… entah sudah berapa jam saya duduk menyendiri disini. Di sebuah amphitheater kecil di belakang kompleks villa Tembi Rumah Budaya Yogyakarta.

Taburan gemintang begitu menghanyutkan. Langit malam di musim kemarau tak menyisakan sekelebat awan pun. Bersih sekali. Bahkan tak banyak polusi cahaya karena lokasinya jauh dari pusat kota. Angan saya melayang membumbung tinggi, melesat diantara gugusan bimasakti. Lalu menyadari sebenarnya betapa kecilnya kami, manusia, di hadapan Ilahi.

“Mas!”

Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunan saya. Ternyata istri saya sibuk mondar-mandir mencari suaminya yang tiba-tiba hilang selepas makan malam.

“Sudah malam lho. Jangan kelamaan diluar.”

“Iya, nanti sebentar lagi. Balik saja ke kamar duluan kalau ngantuk.”

Hati dan pikiran saya memang sedang suntuk hari-hari itu. Jenuh. Itulah mengapa saya memilih untuk menyepi sejenak di villa Tembi Rumah Budaya di selatan Yogyakarta ini. Lokasinya yang jauh dari keramaian dan masih dikelilingi hijaunya hamparan sawah adalah alasan mengapa saya memilih staycation disini.

Kamar Tidur Tembi Rumah Budaya Yogyakarta
Kamar Tidur Tembi Rumah Budaya
Toilet Villa Tembi Rumah Budaya Yogyakarta
Toiletnya semi terbuka, sensasi mandinya jadi berbeda *ihik*

Adzan subuh sayup-sayup terdengar mendayu. Getaran suaranya merambat diantara pekatnya kabut pagi. Kedua kelopak mata ini seolah lengket terkena lem, susah dibuka saking masih mengantuknya. Maklum, saya tidur larut malam.

Usai shalat subuh berjamaah, saya memilih untuk… melanjutkan tidur.

***

Dalam keadaan setengah sadar, saya merasa kaki ini terasa seperti dijilat kucing. Geli.

“Mas, bangun, ayo sarapan, udah hampir siang.”

Ternyata istri saya yang mengelus-elus kaki, membangunkan suaminya yang masih terlelap ketika matahari sudah mulai beranjak tinggi.

“mmmm…” jawab saya singkat sembari mengumpulkan nyawa.

Tidur di ranjang kayu berkelambu putih di dalam sebuah rumah joglo kuno ternyata memberikan sensasi yang berbeda. Hangat dan sangat nyaman. Ukiran kayu menghiasi joglo yang saya tempati. Saya mendapat tempat di joglo Kriyan Kidul. Kamar utama yang luas, teras kecil dan kamar mandi model semi outdoor dengan atap agak terbuka dan lantai bebatuan. Konsep villa ini memberikan kesan menyatu dengan alam.

Villa-villa joglo di Tembi Rumah Budaya ini memiliki nama-nama yang berbeda sesuai dengan ukuran, fasilitas dan rate menginap per malam. Ada Badegan, Wuryantoro, Adikarto, Gandjuran, Polaman, Kriyan Lor, Kriyan Kidul dan Morangan.

Kami berjalan menuju resto di bagian depan villa melewati jalan setapak diantara deratan villa lain dan kolam ikan. Begitu sampai di restoran dan melihat deretan menu yang tersaji.

“Lah, kok menunya sama aja kaya di rumah?” bisik saya kepada istri.

Ada nasi putih, sayur asem-asem, ayam goreng, tempe tahu goreng, sambal tomat, kerupuk dan beberapa jenis buah-buahan. Saya sempat berharap akan ada banyak pilihan seperti jika menginap di hotel berbintang. But it’s oke, saya tetap sarapan dengan lahap. Gampangan sih anaknya kalau soal makan. Apa yang ada ya dinikmati, disyukuri saja. Ya tho?

Usut punya usut, memang beginilah konsep makanan di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Masakan rumahan. Nah, uniknya kalau menginap disini, sudah include makan pagi, siang dan malam.

Restoran Tembi Rumah Budaya Yogyakarta
Restoran Tembi
Kolam Renang Tembi Rumah Budaya Yogyakarta
Kolam Renang Tembi Rumah Budaya diambil dari Joglo Morangan

***

Saya sempat terkesima melihat bangunan besar di belakang pendopo utama. Ketika masuk, ternyata berisi ratusan koleksi benda-benda antik khas budaya jawa. Ada aneka wayang, gerabah, batik, keris, tombak dan pusaka-pusaka lainnya. Namun entah mengapa saya tidak nyaman berlama-lama disini. Seperti ada sesuatu. Entahlah apa itu. Atau… hanya perasaan saya saja?

Di gedung sebelah, terdapat gallery pameran lukisan yang cukup menarik. Beberapa lukisan besar karya seniman lokal sedang dipamerkan. Sementara di bagian belakang kompleks Tembi Rumah Budaya, siang itu terlihat beberapa anak perempuan sedang berlenggak-lenggok di bawah pendopo sambil belajar tarian jawa klasik ditemani seorang pelatih. Senang melihat generasi muda masih semangat belajar budaya & tradisi leluhur, nguri-uri budaya Jawi.

Gallery Tembi Rumah Budaya Yogyakarta
Gallery Tembi Rumah Budaya
Pameran Lukisan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta
Pameran Lukisan Tembi Rumah Budaya

***

3 hari 2 malam menyepi di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta sudah cukup menenangkan jiwa. Asupan oksigen pedesaan yang bebas polusi cukup menyegarkan badan. Pikiran pun menjadi lebih rileks setelah sejenak lepas dari rutinitas. Tembi Rumah Budaya Yogyakarta menghadirkan konsep hunian balai inap dengan nuansa budaya Jawa yang kental. Cocok untuk tempat menyepi sejenak dan menikmati quality time bersama keluarga maupun sahabat.

Mobil Antik Tembi Rumah Budaya Yogyakarta
Mobil antik di depan pendopo Tembi

***

Tembi Rumah Budaya Yogyakarta

Jl. Parangtritis Km 8.4
Desa Tembi, Kel. Timbulharjo, Kec. Sewon
Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55186
(0274) 368000