Mihrab Masjid Negara Malaysia

Mencari Kedamaian Di Masjid Negara Malaysia

Sebuah kisah tentang mencari kedamaian di Masjid Negara Malaysia ~~

Terdampar di negara tetangga ketika menunggu penerbangan lanjutan dengan waktu singgah yang “nanggung” itu nggak enak banget rasanya. Jadi bingung mau ngapain. Itulah yang saya rasakan ketika harus singgah semalam di Malaysia ketika akan menuju Kamboja.

Mendarat sore hari, saya langsung menuju Kuala Lumpur menggunakan Sky Bus. Sampai di KL Sentral, Bang RaW sudah menunggu saya di depan counter B*rger K*ng.

Interior Masjid Negara Malaysia
Interior Masjid Negara Malaysia

“Maaf Bang, terlambat. Delay 30 menit tadi. Sudah menunggu lama?”

“Yaa lumayan. It’s okay. Sudah makan?”

“Belum, kita ke foodcourt lantai 3 saja lah” ajak saya

Lalu kami pun mengisi perut sambil berbincang mengenai kegiatan mengisi waktu transit disini. Tadinya saya ingin bermain ke iCity namun cuaca sore itu tidak mendukung. Langit gelap. Hujan mengguyur Kuala Lumpur secara merata.

“Kalau wisata kuliner malam di Jalan Alor gimana Bang?”

“I don’t think so, banyak makanan tak halal disana”

Kemudian saya urungkan niat untuk menikmati suasana malam di kawasan Bukit Bintang.

“Ah, got it! Kita nongkrong di Masjid aja lah, nyaman”

Prasasti Masjid Negara Malaysia
Prasasti Masjid Negara Malaysia

Dan kami pun sepakat untuk pergi ke Masjid Negara yang lokasinya berada di Pusat Bandaraya Malaysia, tak jauh dari Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur. Kami berjalan setengah berlari menghindari rintik hujan yang masih turun melewati depan sebuah bangunan kolonial bernuansa islami. Banguan itu rupanya adalah kantor Ibu Pejabat Keretapi Tanah Melayu Berhad.

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Masjid Negara Malaysia. Masjid kebanggaan rakyat Malaysia. Masjid Kenegaraan Malaysia. Megah. Subhanallah. Tempat wudhunya luas dan bersih. Ada juga bilik-bilik untuk mandi. Bisa jadi option tuh, kalau mau mandi gratis ketika di Kuala Lumpur hehehe.

Tempat Wudhu Masjid Negara Malaysia
Tempat Wudhu Masjid Negara Malaysia

Usai wudhu, saya langkahkan kaki menapaki tangga pualam yang terlihat licin dan dingin. Ketika memasuki ruangan utama di dalam masjid, karpet tebal nan halus menyambut kaki-kaki lelah ini, membawa kehangatan bagi setiap orang yang datang untuk menghadapNYA. Damai…

Arsitektur interior Masjid Negara ini begitu detail. Lampu gantung yang dipasang di beberapa sudut memancarkan cahaya kuning temaram. Hangat. Mihrab atau tempat imam memimpin sholat berhiaskan kaligrafi ayat-ayat suci Al Quran. Sekilas, ada pengaruh gaya arsitektur Persia dan Turki. Ornamen dan lekukan dindingnya begitu detail dan rumit. Entah bagaimana cara membuatnya. Saya hanya bisa takjub. Tiang-tiang yang tinggi menjulang menyangga masjid juga berhiaskan ornamen serupa. Mozaik berwana biru, putih dan krem mendominasi.

Cari Hotel Murah Di Malaysia? Klik Disini

Mihrab Masjid Negara Malaysia
Mihrab Masjid Negara Malaysia
Mimbar Masjid Negara Malaysia
Mimbar Masjid Negara Malaysia

Masjid Negara Malaysia dibangun dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun, dari tahun 1963 – 1965. Dirancang oleh arsitektur Dato’ Baharuddin Kassim. Saat ini bisa memuat sekitar 15.000 jamaah. Bentuk banguannya pun unik. Kubahnya utama berbentuk mirip payung kerajaan yang sedang terbuka. Sedangkan menaranya berbentuk seperti payung kerajaan yang sedang tertutup.

Berada disni, saya kemudian teringat Masjid Istiqlal di Jakarta yang juga megah dan memegang predikat sebagai Masjid Terbesar di Asia Tenggara. Sejenak saya lupa dengan lelahnya badan ini yang tadi harus berangkat pagi dari rumah ke airport Jogja, meunggu boarding, delay, harus duduk diam selama 2,5 jam penerbangan sampai harus antri proses imigrasi di LCCT. Saya juga lupa kalau beberapa jam kedepan saya harus mengejar penerbangan di pagi buta menuju Kamboja. Semua rasa itu hilang ketika akhirnya terdampar di Masjid Negara ini.

Masjid Negara Malaysia

Entahlah, selalu ada perasaan yang sama ketika saya memasuki masjid manapun. Damai dan tenang. Betul? 🙂

Written by
Fahmi Anhar