Eksotisme Rumah Candu Lawang Ombo Lasem

Langkah kaki saya terhenti di depan sebuah gerbang kecil bercat kuning. Tembok yang cukup tinggi memagari sekeliling bangunan. Luas sekali. Penasaran ada apa di dalamnya, saya pun masuk didampingi oleh teman dari Lasem Heritage Society. Siapa sangka dibalik sebuah gerbang kecil, terdapat sebuah rumah kuno nan megah yang sangat bersejarah. Inilah, sepenggal kisah tentang Eksotisme Rumah Candu Lawang Ombo Lasem, Rembang Jawa Tengah.

Rumah Lawang Ombo Lasem
Rumah Lawang Ombo Lasem

Rumah Candu Lawang Ombo terletak di Jalan Dasun, Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Jalan kampung yang tak terlalu lebar ini dikenal juga sebagai heritage streetnya Lasem. Disini tersimpan berjuta kenangan sejarah peradaban Lasem yang membisu dimakan waktu. Bangunan-bangunan kuno tersebut masih dapat dilihat hingga kini, namun sebagian besar tak terawat. Jalan Dasun bersebelahan dengan Sungai Bagan atau masyarakat lokal menyebutnya dengan Kali Lasem. Konon, dahulunya sungai ini merupakan jalur berlayar kapal-kapal dagang yang bersandar di dermaga pantai Caruban Lasem, tak jauh dari Jalan Dasun. Maka tak heran jika jalan ini memiliki peran penting bagi peradaban Lasem.

Altar perabuan rumah candu lawang ombo lasem
Altar Perabuan

Halaman Lawang Ombo cukup rimbun oleh pohon mangga dan beberapa jenis pohon lain. Terlihat sekali gaya arsitektur tiongkok di rumah ini. Pintu utama dan dua buah jendela di sisi kiri kanannya memang benar-benar lebar dan besar. Sepertinya dari kayu jati pilihan. Begitu memasuki pintu utama, aroma hio menyeruak di seluruh ruangan. Sebuah altar perabuan berhiaskan lampu warna-warni menyambut kami. Altar ini untuk mengenang sang empunya rumah. Beberapa furniture kuno berupa almari dan peralatan rumah tangga lainnya masih tersimpan rapi di salah satu kamar. Ubin terakota merah yang sudah mulai tergerus adalah saksi bisu langkah-langkah kejayaan masa lalu rumah ini. Tapi, diantara rasa kagum ketika memasuki rumah ini, ada perasaan aneh yang menghinggapi saya. Ah entahlah…

Rumah seluas 5.500 m2 ini terdiri dari rumah induk bagian depan, rumah tinggal di bagian belakang dan gudang. Disebut Rumah Candu Lawang Ombo karena pada sekitar tahun 1.800an rumah ini merupakan salah satu pusat gudang candu/opium yang diselundupkan dari kapal-kapal dagang yang berlabuh di Lasem untuk kemudian diedarkan ke seluruh pulau Jawa, diantaranya ke Semarang, Parakan dan Magelang. Salah satu bukti sejarah perdagangan candu di Lasem kala itu adalah lubang kecil yang terletak di dalam bangunan induk. Lubang ini terhubung langsung dengan Sungai Bagan yang ada di depan rumah. Konon dulunya lubang ini berdiameter 3 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Namun karena sungai sering meluap ketika air laut pasang dan masuk ke rumah, saat ini lubang diperkecil hanya menjadi berdiameter 1 meter saja.

Lubang Penyelundupan Candu - Rumah Candu Lasem
Lubang Penyelundupan Candu

Berjalan menuju halaman belakang, perasaan aneh itu saya semakin menggelayut. Seperti memasuki dimensi lain & sudah berbeda “frekuensi” dengan lingkungan luar. Sebuah bangunan kuno beringkat dua berlantai kayu jati, dulunya dijadikan rumah tinggal. Tangga menuju lantai dua sudut elevasinya cukup tajam, hampir vertikal malah. Beberapa sudut lantai kayu jati sudah agak keropos dan miring. Namun secara keseluruhan kondisi Omah Candu relatif terawat karena beberapa waktu lalu generasi penerus pemilik rumah ini melakukan renovasi di beberapa bagian.

Ketika saya mencoba jujur mengatakan ada perasaan aneh kepada penjaga rumah, beliau malah tersenyum penuh arti. Saya pun bingung jadinya. Katanya ya memang begitu aura banguan ini. Tak lama saya diajak ke pekarangan disamping kanan rumah. Tanah becek sisa hujan semalam membuat langkah kaki terasa sedikit berat karena banyak tanah yang menempel di alas sepatu. Cahaya matahari menembus diantara lebatnya daun pohon jati yang ditanam berjajar rapi.

Saat melihat beberapa meter kedepan, rupanya pertanyaan saya mulai terjawab. Sebuah batu nisan makam khas tiongkok berukir relief huruf cina berada di lahan pekarangan ini. Diyakini, ini adalah makam keluarga Kapitan Liem sang pemilik rumah. Tak jauh dari nisan, dua buah patung anjing langit dan tiang batu cukup tinggi berujung kuncup teratai turut menghiasi makam ini. Makam itu berciri khas siang gong (satu kuburan dua liang lahat). Dan uniknya, sampai saat ini belum ada yang bisa membaca atau menterjemahkan tulisan yang ada di nisan makam tersebut karena jenis huruf kanji nya yang berbeda. Bahkan dari kalangan akademisi sekalipun.

Makam Kapitan Liem di dalam kompleks Omah Lawang Ombo
Makam Kapitan Liem di dalam kompleks Omah Lawang Ombo

Setelah dirasa cukup melakukan observasi singkat di makam Kapitan Liem, saya kembali ke teras rumah tinggal Omah Candu. Ada sebuah jangkar kapal yang berukuran cukup besar terbuat dari besi. Diperkirakan merupakan salah satu jangkar kapal rombongan Laksamana Cheng Ho saat melintasi pelabuhan Lasem kala itu.

Berkunjung ke rumah Lawang Ombo atau Omah Candu merupakan salah satu trip yang sangat berkesan bagi saya. Banyak pengatahuan tentang sejarah, arsitektur, sosial budaya, antropologi dan bahkan pengalaman mistis. Sungguh, tidak heran jika Lasem juga disebut sebagai tiongkok kecil du utara pulau Jawa. Begitu banyak situs bersejarah disini. Sayang, seolah masih terpinggirkan dan kurang mendapat perhatian. Padahal, sudah sepantasnya Lasem menyandang gelar sebagai Heritage City in Indonesia.

Daftar Hotel Murah Di Jawa Tengah

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
24 Responses
  1. DianRuzz

    Memangnya kenapa pas di rumah belakang Mi? Aku kok gak ngerasa apa-apa ya
    Kamu ikut naik ke lantai atas kan waktu itu?

    1. sejak sebuah “kejadian”, entah kenapa aku jadi agak sensitif dengan hal-hal seperti itu. walau hanya sekedar merasakan, tidak melihat atau diganggu.

      aku ikut naik ke lantai atas mbak 🙂

  2. pernah ke lasem, tapi gak sempet jalan-jalan keliling lasem…
    bantu job temen pagi harinya, siangnya gak berani keluar-keluar, belum terbiasa dengan suhu di lasem…
    bisa jadi destinasi di trip selanjutnya jika mengunjungi rembang kembali ini 😀

      1. piye yo mas… kalo yang titik itu semacam “poke” soale semacam rasa penasaran kenapa komenku doang yang belum dibalas gitu hehehe… sorry ^_^

        kalo yang hm ini aku juga pernah ngalami situasi kayak gini :p di museum vredeburg di jogja..serem dan gelap

        *siap2

  3. Aaaakkk.. ada foto kakiku…. *heboh gak jelas*

    Ceritain dong Mi tentang ini -> sejak sebuah “kejadian”, entah kenapa aku jadi agak sensitif dengan hal-hal seperti itu.

    1. fahmianhar

      kejadiannya jaman kelas 3 SMA, lagi jagain pos untuk ujian kenaikan tingkat sekaligus “uji nyali” adek2 Paskib. sebelum acara mulai, aku koordinasi dg pak penjaga sekolah utk matiin semua jaringan listrik di sekolah malam itu. aku pun ikut mencetin panel2 listrik bareng beliau. make sure aja semua sudah off. dan sekolah pun jd gelap gulita.

      bangunan sekolah SMA ku termasuk kuno, 3 lantai warisan jaman Belanda. aku jaga di pos lantai 2, di dalam sebuah ruang kelas dg seorang teman. sunyi & gelap pekat. sementara adek2 Paskibra satu persatu berjalan melintasi lorong-lorong panjang nan gelap. tak jarang langkah kaki mereka terdengar setengah berlari sambil mengucap ayat kursi hihihi.

      awalnya semua berjalan dg lancar, sampai tiba2…

      byarrr… lampu neon ruang kelas yang saya jaga menyala dengan sendirinya. saya panik bukan main. antara kaget dan takut… kok bisa ya tiba2 nyala sendiri, sementara kelas2 lain masih gelap gulita. padahal pusat arus listrik di sekolah jelas2 sudah dimatikan.

      saya kemudian turun, menemui beberapa senior & alumni yang malam itu hadir memantau. dan mereka hanya bilang itu adalah malam “keberuntungan” saya

      dan sejak saat itu, saya merasa menjadi agak sensitif dg hal-hal yg berbau seperti itu. tapi entahlah, bisa jadi hanya perasaanku saja…

  4. Rumah Murah Yogyakarta

    Terima kasih info tentang ini sangat bermanfaat.
    Rumah minimalis, asri, dan bersih memang lebih banyak diminati oleh calon pembeli rumah.
    Semoga website ini terus menyajikan info yang menarik dan bermanfaat bagi pengunjung dan pembaca.

Leave a Reply