Drama Bagasi Hilang di Changi Airport

Bagaimana perasaanmu jika setelah turun dari pesawat lalu bagasi yang ditunggu-tunggu tidak segera keluar dari conveyor belt bandara?

Bagaimana perasaanmu ketika harus menghadapi kenyataan bahwa bagasimu tidak diketahui keberadaannya? Padahal semua barang ada di dalamnya dan kamu tidak membawa apapun! Apapun!

Sakitnya dimanaaaaa?

*nunjuk dengkul karena capek kelamaan berdiri*

Ketika traveling, pasti kita berharap semua akan berjalan dengan baik-baik saja, mulus, lancar tanpa halangan. Tapi apalah daya kita ini, semuanya Tuhan yang menentukan.

Pada awal bulan Maret 2015 ini, ketika perjalanan pulang dari Dubai, Uni Emirat Arab ke Indonesia, saya sempat kehilangan bagasi di Changi Airport Singapura. 3 koper besar dan satu tas tenteng tiba-tiba lenyap entah dimana keberadaannya. Tidak terangkut satu pesawat dengan saya.

Kok bisa?

Ya bisa saja, kan unpredictable.

Berikut cerita drama bagasi hilang di Changi Airport:

Malaysia Airlines KUL Dubai

Sabtu, 28 Februari 2015 | 16.00 | Terminal 1 Gate B, Dubai International Airport

Hampir satu jam saya menunggu di departure hall. Counter check in Malaysia Airlines belum juga dibuka. Suasana Terminal 1 DXB tidak terlalu nyaman, berbeda dengan tetangganya, Terminal 2 yang jauh lebih bagus karena memang khusus untuk melayani semua penerbangan Emirates Airlines. Saya memang sengaja datang lebih awal untuk antisipasi antrian check in yang panjang, karena penerbangan Malaysia Airlines dari Dubai belum bisa web check in.

Sekitar jam lima sore, counter check in dibuka. 3 koper dan 1 tas tenteng yang kami bawa pulang ini berisi baju, buku, sedikit oleh-oleh dan lebih banyak perlengkapan bayi untuk persiapan kelahiran anak saya nanti. Total bagasi hanya 57 Kg.

Saya hanya menggendong ransel berisi laptop, kamera, tab, charger, paspor dan beberapa batang coklat untuk cemilan. Sedangkan istri juga hanya membawa tas tentengnya saja. Setelah drop bagasi, saya bergegas menuju pemeriksaan imigrasi. Antrian sudah mengular panjang. Terlebih ketika pemeriksaan barang bawaan menggunakan mesin X-ray. Detail sekali. Banyak calon penumpang yang sampai diminta lepas baju sepatu segala. Bikin lama.

Kami pulang menggunakan Malaysia Airlines MH 163 dengan rute Dubai-Kuala Lumpur-Singapore. Tepat pukul 20.15 pesawat push back dari apron gate 25 bersiap take off membelah angkasa melintasi Samudera Hindia.

Minggu, 1 Maret 2015 | 06.00 | Terminal M, Kuala Lumpur International Airport

Penerbangan selama sekitar 7 jam tidak terlalu terasa lama. Inflight entertainment yang disediakan cukup variatif dan up to date. Saya sempat nonton 3 film meski sambil ketiduran hehe. Airbus 330-300 mendarat dengan mulus di runaway KLIA. Saya mengucap syukur karena tidak ada halangan apapun dalam penerbangan ini. Terlebih setelah beberapa tragedi yang menimpa Malaysia Airlines beberapa waktu lalu.

Hari masih gelap, matahari pun belum terbit di ufuk timur. Baru jam 5 kalau di Indonesia bagian barat. Kami lalu naik sky train menuju gedung terminal keberangkatan domestik KLIA untuk boarding melanjutkan penerbangan menggunakan MH 611 menuju Singapura.

Sampai jam yang ditentukan, pesawat masih tenang saja parkir di apron C6. Tak lama ada pengumuman dari purser kalau penerbangan ini delay 30 menit. Hzzz.

Minggu, 1 Maret 2015 | 09.30 | Terminal 2, Changi Airport Singapura

Badan lemas, pantat tepos, kaki kaku, perut lapar dan… belum mandi. Jetlag pula! Begitu landing, kami sengaja tidak segera keluar imigrasi dan ambil bagasi, namun memilih untuk menghabiskan waktu di dalam bandara dengan duduk santai sambil pijat mesin otomatis. Nikmatnya!

“Gimana nanti ambil bagasinya mas?” tanya istri saya.

“Aahh tenang saja, kalau telat ambil bagasi, biasanya sudah ditaruh disebelah conveyor belt nya kok. MH 611 di belt 38 kan? Atau ntar tinggal ambil aja di lost and found. Santai dulu lah.” Jawab saya sambil merem-merem keenakan dipijit.

Satu jam lebih kami nongkrong disitu. Santai tanpa beban. Niatnya sambil nunggu jam check in hotel, kan baru bisa masuk jam 14.00.

Setelah keluar imigrasi Terminal 2, drama itu pun dimulai…

Conveyor belt 38 sudah sepi. Tak bergerak. Tak ada pula koper-koper di sekitarnya. Saya celingak-celinguk kiri kanan, belt yang lain juga sepi. Perasaan mulai nggak enak.

Kami mempercepat langkah menuju counter lost and found, dan… jengjeeeng! Terdapat antrian panjang para penumpang yang beberapa wajahnya tidak asing bagi saya karena duduknya tak begitu jauh ketika penerbangan Dubai-Kuala Lumpur. Ada ibu-ibu berwajah India dan bapak berwajah oriental dan mas-mas berwajah arab.

Saya hampiri mereka dan bertanya: “Hi, do you lost your baggage?”

Mereka kompak mengangguk lesu. “Yes, all the baggage from MH 611 are lost.”

“What? Are you kidding? How come?”

Perasaan saya campur aduk antara kaget, bingung, khawatir tapi juga agak tenang karena banyak temannya yang juga kehilangan bagasi. Saya berdiri di antrian terakhir untuk lapor. Di Singapura, Malaysia Airlines menunjuk perusahaan SATS sebagai agen ground handling.

Setelah sekian lama, tibalah giliran saya. Semua data dicatat. Data diri, nomor bagasi, jenis & merk koper, isi bagasi, alamat hotel selama transit semalam di Singapura dan detail penerbangan pulang ke Indonesia keesokan harinya.

“Ok, we will do our best. There are 3 options for you.” Kata si mbak customer service.

“What?”

“First, there are still 5 more Malaysia Airlines flights from Kuala Lumpur to Singapore, you can wait at the same belt. Second, in case we found your baggage by tonight, we deliver to your hotel. Third, the worst case, if we can’t find your baggage until you leave Singapore, we will deliver to your country. Make sure you give me the correct address. This is the receipt, you can check the baggage status online. Good luck!” Penjelasan si mbak panjang lebar dengan logat singlish yang kental.

“Thank you so much, in Changi we trust.”

Ketika saya bilang begitu, si mbak malah tertawa haha. Akhirnya dia bisa tertawa setelah melayani ratusan komplain kehilangan bagasi. Oiya, bagasi hilang di Changi Airport bukan menjadi tanggung jawab pihak bandara, melainkan perusahaan ground handling yang sudah ditunjuk oleh maskapai.

Setelah makan, kami memutuskan untuk naik MRT menuju hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Sampai di stasiun interchange MRT Tanah Merah, kami baru sadar bahwa… semua baju dan alat mandi ada di dalam koper yang hilang. Belum mandi dan tidak punya baju ganti. Yassalam!

Minggu, 1 Maret 2015 | 13.30 | Hotel Singapura

Saya berpesan kepada resepsionis hotel agar memberi tahu jika ada koper yang dikirimkan dari Changi. Bersyukur sekali akhirnya bisa merebahkan badan, bisa mandi apakai air hangat dan bisa mencuci baju di wastafel haha. Ketika menjelang tidur, belum ada kabar apapun. Saya cek online, status bagasi juga masih “not available yet”.

Bangun tidur, cek status juga masih sama, belum ditemukan. Tidak ada sms atau telepon dari pihak SATS – lost and found Changi pun. Kami check out bahkan ketika hari masih gelap agar mendapatkan waktu luang lebih untuk mengecek bagasi kami di lost and found Terminal 2 Changi.

Dan… ternyata… drama bagasi hilang di Changi Airport belum berakhir…

Senin, 2 Maret 2015 | 07.30 | Terminal 2 Changi Airport, Singapura

Sebelumnya, saya lapor ke Changi information center terlebih dahulu untuk mendapatkan pass masuk ke arrival hall sebagai visitor. Suasana kantor lost and found masih sepi, saya ditemui mbak-mbak berwajah India.

“Morning, could you help me to check my baggage status?”

“Hi, so you will back to Jogjakarta this morning?”

“Yup”

“Okay, let me check it first”

Raut mukanya berubah. Dahinya berkerut. Jarinya menggaruk bibir bibir.

“Mmmm, i think your baggage already in hotel. We deliver last night. 2 am.” Dia menunjukkan monitor komputernya kepada saya.

“Really? Oh my god! They don’t tell me anything. Even when check out.” Jantung saya mau copot rasanya!

“They don’t tell you, ha? Ok, wait a minute.” Si mbak juga nggak kalah panik, namun terlihat berusaha menenangkan.

Dia kemudian masuk ke dalam ruangan, lapor kepada supervisornya. Analisa saya, kemungkinan karena pergantian shift resepsionis, jadi informasi pesanan saya missed. Dan salah saya juga sih, tidak menanyakan ulang ketika check out hotel.

Saya nguping percakapan by phone antara supervisor dan pihak hotel tempat saya menginap. Dan dipastikan, koper-koper terlantar itu masih berada disana. Lalu beberapa saat kemudian, sang supervisor menelpon orang lain, meminta tolong untuk mengambil bagasi saya itu di hotel. Dugaan saya, dia menelpon pihak kurir.

Bapak-bapak supervisor dan mbak-mbak India kemudian keluar dari balik ruangan. Mereka meminta maaf dan memberitahu bahwa koper kami masih tertinggal di hotel, sementara agen kurir baru bisa mengambil pada sore atau malam harinya. Otomatis tidak bisa saya bawa pulang dalam satu penerbangan. Padahal saya sudah membeli bagasi online sebanyak 50 Kg untuk penerbangan Air Asia SIN-JOG. Yasudah, hangus, mau bagaimana lagi.

Pihak SATS lost and found Changi berjanji akan secepatnya mengirimkan bagasi yang tertinggal via bandara Adisucipto Jogja atau Adisumarmo Solo. Mereka juga sempat bilang, kalau tidak bisa pakai direct flight, bagasi akan dikirimkan melalui Cengkareng atau Denpasar terlebih dahulu. Buset dah! Mana semua koper itu tidak saya kunci! Mereka juga berjanji akan memberikan update melalui email, sms ataupun telepon. Awalnya ragu, secara ini kan lintas negara. Namun ya memang itu jalan satu-satunya yang bisa ditempuh. Untuk memotivasi diri, saya hanya bisa positive thinking, pihak lost and found Changi pasti profesional.

Selasa, 3 Maret 2015 | Semarang

Seharian saya klak-klik retrieve email, cek notifikasi handphone, cek status bagasi online di website Malaysia Airlines. Hasilnya: NIHIL

*glundang-glundung di kamar kos, nggak bisa tidur sampai dini hari*

Rabu, 4 Maret 2015 | Semarang

Sedari pagi saya mengulangi hal yang sama. Sampai pada malam harinya, saya tidak kehabisan akal. Mencoba tanya ke teman-teman di group whatsaap Travel Blogger Indonesia, barangkali ada yang sedang di Changi, atau akan transit disana. Bantuan pun berdatangan, dari Bobby, Firsta & Tracy. Tapi saya minta mereka menunggu update hingga keesokan harinya dulu.

Kamis, 5 Maret 2015

Whatsapp ke istri: “Coba cek bagasinya ke Adisumarmo, soalnya mereka bilang prioritas mau dikirim via Solo. Tadi aku cek online, status deliverynya: 3 hours ago”

Namun ketika istri saya cek ke bandara Adisumarmo, koper-koper tersebut tidak ada. Lalu inisiatif telepon ke bandara Adisucipto Jogja, ternyata… ada disana!!

Dari Solo langsung meluncur ke Jogja. Alhamdulillah, bagasi tersebut benar-benar ada disana. Meskipun dalam keadaan tidak digembok, semuanya utuh, tidak ada barang yang hilang. Dari baggage tag yang menempel di koper, ada logo Singapore Airlines & Garuda Indonesia. Ternyata pihak SATS lost and found Changi mengirimkannya menggunakan SQ via Jakarta, diteruskan ke Jogja menggunakan Garuda Indonesia.

Saya bayangin jadi si koper, pasti capeknya minta ampun. Terbang dari Dubai, transit di Kuala Lumpur, Singapura, Jakarta dan akhirnya mendarat di Jogjakarta. What a journey!

Dan drama kehilangan bagasi pun berakhir.

TAMAT.

Bagasi yang hilang
penampakan bagasi yang hilang

Note:

  • Jika kehilangan bagasi di bandara, segeralah melapor ke counter lost and found
  • Dalam setiap penerbangan, pastikan dokumen seperti boarding pass, baggage tag dan kartu identitas tersimpan dengan baik. Just in case ada sesuatu.
  • Demi keamanan, jangan lupa pasang kunci/gembok koper yang akan dititipkan ke bagasi selama penerbangan. Kalau perlu, di wrap.
  • Saya mengucapkan terima kasih kepada SATS agen ground handling Malaysia Airlines di Terminal 2 Changi Airport Singapura yang telah bekerja dan membantu saya serta penumpang yang lain sampai menemukan bagasinya yang hilang bahkan sampai dikirim kembali ke negara asalnya. Saya percaya, mereka profesional.