Djeladjah Plengkoeng Magelang

Menelusuri Sisa² Jejak “Saluran Air Kehidupan” Kota Magelang

Matahari masih malu-malu pagi itu, padahal jam sudah menunjukkan pukul 08.30. Cuaca tak secerah biasanya, namun semangat peserta acara Djeladjah Plengkoeng terlihat membara. Minggu, 7 Juli 2013, komunitas Kota Toea Magelang mengadakan acara Djeladjah Plengkoeng [jelajah plengkung]. Satu persatu peserta berdatangan di meeting point, depan radio Polaris. Tak berapa lama, terkumpul sekitar 50an peserta. Saya salah satunya.

titik awal irigasi plengkung di Kel Kedungsari, aliran air masih lancar
titik awal irigasi plengkung di Kel Kedungsari, aliran air masih lancar

Interaksi menarik terjadi ketika sesi perkenalan awal dan absensi. Saya pikir semua peserta adalah anak-anak Magelangan. Namun ternyata saya salah. Beberapa diantara mereka datang dari daerah diluar Magelang, seperti Solo, Bantul, Banjarnegara, Surabaya, bahkan ikut meramaikan juga segerombolan anak-anak hiperaktif dari Bandung dan ada juga teman² dari Forum Traveller Kaskus. Mereka tahu acara ini dari media sosial internet seperti blog, twitter maupun facebook. Salut untuk mereka yang sudah mau datang jauh-jauh dari luar kota, “hanya” untuk menyusuri saluran air kuno warisan penjajahan Belanda.

Setelah berdoa bersama, tepat pukul 09.00 WIB rombongan bergerak menuju titik awal saluran air legendaris yang membelah Kota Magelang ini. Sebuah pintu air kecil di sisi kanan saluran irigasi Kali Manggis di kampung Pucangsari, Kelurahan Kedungsari inilah saluran air itu berasal. Aliran irigasi Kali Manggis berasal dari bendungan Bardran Temanggung & bendungan Plered Payaman timur. Menurut literasi sejarah yang tertuang dalam buku: “Magelang, Middelpunt van den Tuin Van Java” tahun 1936, Kali Manggis sendiri dibangun pada tahun 1857 untuk mengaliri sekitar 625 bau sawah kala itu.

Rombongan Djeladjah Plengkoeng Magelang
Rombongan Djeladjah Plengkoeng Magelang

Saluran air kota atau yang dalam bahasa Belanda disebut Boog Kotta-Leiding ini mengalir sejauh sekitar 5 km dari Kedungsari hingga Jagoan. Belum jelas diketahui kapan pembangunannya, siapa arsitekturnya, berapa biayanya, dll. Hanya sebuah prasati kecil yang menjadi saksi bisu pembangunan saluran air ini, yaitu pahatan tahun 1883 di Plengkoeng Lama Jl Pierre Tendean  dan tahun 1920 di Plengkoeng Baroe di Jl Ade Irma Suryani (Taman Badaan). Ini pun masih multitafsir, bisa jadi tahun pembuatan, bisa jadi pula tahun renovasi.

Dari Kedungsari rombongan bergerak menyusuri saluran air yang berada diatas taman kota sepanjang jalan Ahmad Yani Kebonpolo. Mulai terjadi penyempitan saluran air disini. Hal ini bertujuan agar aliran air lebih lancar karena lokasi jalurnya berada diatas rumah-rumah penduduk. Disadari atau tidak, inilah keunikan dari saluran air ini. Mungkin Magelang adalah satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki saluran air warisan Belanda yang berada diatas pemukiman penduduk. Hal ini juga membuktikan kepiawaian negeri kincir angin yang memang terkenal ahli menaklukkan masalah air.

Rombongan terus melaju berjalan beriringan. Semak belukar yang tinggi kami tembus bersama-sama… (meski sebenarnya gatal juga sih kaki saya, tapi sok² militan aja, jaim dikit hahaha). Sampai di samping Gedung Wanita & PDAM kami tak bisa lagi menyusuri saluran air ini karena terhalang tembok kompleks Balai Diklat Depkeu & PT Telkom. Kami pun harus memutar melewati trotoar samping Panti Mandala hingga Masjid Agung Kauman. Saluran air berbelok ke pemukiman di belakang Bank Jateng. Dan… kondisi saluran air disini… mulai memprihatinkan. Air tidak mengalir siang itu. Banyak sampah rumah tangga dan yang paling nyesek adalah, sampah plastik yang mengapung disana-sini. Tak ayal bau tak sedap pun menyeruak bersamaan dengan proses penguapan akibat sinar matahari. Rupanya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan & saluran air yang bersih masih kurang. Kami pun mempercepat langkah kaki, berharap segera sampai ke daerah yang lebih baik.

SALURAN AIR IRIGASI PLENGKUNG MAGELANG
rombongan melintasi plengkung ke-3 di daerah Ngarakan, belakang Pecinan Magelang

Namun harapan tinggal harapan. Ternyata semakin ke selatan kondisi saluran air warisan Belanda ini semakin memprihatinkan. Kami tak nyaman lagi berjalan dipinggirnya. Di daerah Kemirikerep atau kampung sebelah barat RSU Tidar, banyak bangunan semi permanen didirikan diatas Boog Leiding ini. Sampah rumah tangga dan buangan toilet jadi satu menari-nari di genangan air keruh berbau. Parahnya lagi, terlihat mulai terjadi pendangkalan. *yaks*

SALURAN AIR IRIGASI PLENGKUNG MAGELANG
kondisi irigasi plengkung mendekati hilir, memprihatinkan 🙁

Fungsi awal saluran air ini sebenarnya ada 4, yaitu: Penggelontor limbah rumah tangga, pengairan lahan pertanian, penyiram tanaman dan penyuplai air apabila terjadi kebakaran. Namun kesemua tujuan awal tersebut sepertinya tidak berfungsi secara optimal lagi.

Ada cerita menarik dari Bu Wiwik, seorang warga asli kampung Jagoan, tempat dimana Boog Leiding ini berakhir. Beliau bercerita pada waktu masih kecil sekitar tahun 1970an, saluran air yang kebetulan melintas tepat di depan rumahnya ini biasa digunakan warga untuk mandi. “Jaman dulu airnya masih jernih Mas, ikan-ikannya juga masih banyak. Dulu belum dangkal seperti sekarang, kita naik turun kali pakai tangga bambu. Anak-anak lompat-lompatan main air. Kalau kondisi sekarang ya kaya gini ini mas, memprihatinkan” begitu cerita bu Wiwik dengan penuh semangat. Mengenang masa-masa kecilnya yang menyenangkan. Saya tersenyum simpul ikut membayangkan betapa menyenangkannya bermain air bersama teman-teman sebaya, di saluran air depan rumah. Namun kini, semua tinggal kenangan…

Oiya, di jalur saluran air sepanjang 5 km yang membelah kota Magelang ini terdapat warisan peninggalan Belanda yang lain, berupa menara sirine dari plat baja nan kokoh. Ada 3 menara sirine yang tersisa yaitu di Potrobangsan, Poncol dan Kemirikerep. Pusatnya ada di puncak Water Toren, landmark Kota Magelang di alun-alun utara. Pada jaman penjajahan Belanda, menara sirine ini berfungsi sebagai tanda bahaya antisipasi bencana Gunung Merapi. Namun pada masa penjajahan Jepang, sirine diatas menara-menara ini dibunyikan ketika pemberlakuan jam malam dimulai.

Penjelasan sejarah singkat dari Mas Bagus Priyana, ketua rombongan Djeladjah Plengkoeng sekaligus pegiat komunitas Kota Toea Magelang, mengenai spot-spot menarik di sepanjang saluran air ini membuat saya tertegun dan manggut-manggut takzim. Mengapa? Karena sekian puluh tahun saya hidup di kota ini, setiap hari saya melewati spot-spot ini, namun baru kali ini saya tahu sejarahnya. Sungguh keterlaluan…

peserta Djeladjah Plengkoeng Magelang dan Forum Traveller Kaskus
peserta Djeladjah Plengkoeng Magelang dan Forum Traveller Kaskus

Sebenarnya saya memiliki sebuah gagasan, bagaimana kalau Komunitas Kota Toea Magelang ini diberikan kesempatan untuk roadshow ke sekolah-sekolah untuk sosialisasi mengenai potensi heritage dan sejarah seluk-beluk Magelang kepada para siswa agar mereka “lebih mengenal” tempat kelahirannya ini. Tentunya dengan support penuh dari Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Pendidikan ataupun Dinas Pariwisata Pemuda & Olahraga. Karena dengan lebih mengenal, pasti akan timbul rasa sayang & rasa memiliki terhadap kotanya. Sehingga generasi muda Magelang kedepan dapat berperan aktif dalam memajukan kota tercinta ini.

Salam Heritage!

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
37 Responses
  1. Halim Santoso

    Hadirrrrr anak dari Solo hehehe…
    Asli wes lupa cerita sejarah Djeladjah Plengkoeng e mi…makane sampai sekarang belum nulis tentang ini blas. Tapi artikel mu wes komplit, membantu banget buat yang butuh informasi super penting ini. Cheers 😉

  2. Widoyoko Magelang

    Besok Minggu, 13 Oktober 2013, Komunitas Kota Toea Magelang mengadakan acara “Djeladjah Sitoes dan Tjandi di temanggung”

  3. arip

    Seru emang kalau rame-rame napak tilas sejarah. Di Bandung juga yg kaya gini namanya “ngaleut”.

    Salam kenal ya bang.

    1. ikutt nimbrung…mas, kalau heritage di bandung yang recomended buat didatangi apa ya? kebetulan mau ke bandung akhir bulan ini 🙂 …tengkyuuu,..numpang lewat ya mi 🙂

      1. Suhardono

        Jelajahnya bisa diteruskan dari Kedungsari ke Bendung Plered (Desa Manggis) yang membendung Kali Elo menjadi saluran Kali Manggis (tahap 2). Dan dari Payaman (pertemuan irigasi dari K Manggis dan K Progo) ke arah Bendung Badran (Kranggan) yang membendung Kali Progo. Suasana dan bentuk salurannya (Talang, Saluran dan Dam (air terjun) lebih bagus dan spektakuler (tahap 3)

        Irigasi yang dari K Progo dibangun setelah yang dari Kali Elo (K Manggis) karena debit air dari K Elo ternyata kurang. Ini mungkin bisa menjawab mengapa nama salurannya Kali Manggis bukan Kali Progo (atau Kali Badran) walaupun debit air yang dari Kali Progo lebih besar dari yang dari Kali Manggis.

        Jelajah saluran Kalibening bagus juga meskipun tak seindah yang irigasi Kali Progo (tahap 4)

        Sumonggo

    1. fahmianhar

      saya malah udah lama nggak gabung dengan event2 nya komunitas kota toea magelang karena jadwalnya selalu bentrok, semoga next event bisa ikutan lagi 🙂

  4. ratmoko

    waduh.. proficiat buat para kaum muda.. gw sejak tahun 77 meninggalkan magelang.. dan sejak januari 2014 pulang kampung di daerah mertoyudan magelang.. gw ikut prihatin atas keadaan kali manggis dan kali bening sekarang ini.. moga2 ke depan para pejabat, para wakil rakyat, dan anggota masyarakat dapat melestarikan kali manggis dan kali bening.. pasti akan banyak manfaatnya.. sebagai “orang tua” saya ikut mendukung gerakan kaum muda ini dan selalu berdoa.. sukses selalu..

  5. BSKusumo

    Wah menyedihkan sekali melihat foto2 tersebut, terutama setelah Mesjid Agung Kauman… Perlu mendapat perhatian pemda.. Kalo ada temen2 yang punya kontak/ akses ke pak Sigit… disampaikan saja.. Kebersihan dan keindahan kota disamping berkat partisipasi warga, peran pemerintah sebagai leader sangat penting sekali dalam mengarahkan warganya. Bangunan2 semi permanen harus dibongkar..

    1. betul mas, sangat memprihatinkan kondisi ini. harus ada langkah nyata dari pemkot. saya coba sharing dengan teman yang bekerja di pemkot, semoga bisa diteruskan ke Pak Sigit. matur nuwun masukan & supportnya 🙂

  6. Lebaran kemaren sempet mampir ke irigasi Plengkoeng ini. Tiga kilo jogging nyusurin dari start Tuguran sampai finish di Jalan Veteran. Udah bagus jalannya, udah dipaving. Banyak tempat buat duduk duduk juga. Sayang aja airnya keruh ya. Monggo yang mau lihat-lihat cerita saya keliling Magelang kota termasuk irigasi Plengkoeng ini, bisa mampir di https:bardiq.me/2017/07/07/magelangcitytour. 🙂 Matur nuwun.

    1. wah! seru ya mas akbar. sejak di renovasi malah saya belum sempat lagi jalan menyusuri irigasi ini. besok deh kapan-kapan kalau mudik magelang lagi. terima kasih sudah mampir di blog ini 😀

Leave a Reply