Diving di Alor, A Dream Come True [Nescafe Journey Series]

Dermaga Kalabahi cukup ramai pagi itu. Terlihat kapal-kapal nelayan yang baru pulang melaut sedang menurunkan hasil tangkapannya. Ikan-ikan segar begitu melimpah disini. Kerapu, Tengiri, Kakap, Tuna, GT dan masih banyak lagi.

Kapal Theodoras kembali mengarungi Teluk Mutiara yang tenang menyibak kabut pagi yang tipis mengambang diatas permukaan laut.

Sambil menikmati secangkir kopi panas di halauan kapal, briefing untuk spot penyelaman hari ini terasa sangat santai. Di tengah-tengah briefing, beberapa ekor lumba-lumba tiba-tiba melintas berlawanan dengan arah kapal.

Bahagia rasanya melihat mereka berenang bebas di habitatnya. Lantas sedih ketika mengingat nasib lumba-lumba lain yang kurang beruntung, terkurung di pertunjukan sirkus lumba-lumba keliling, yang terpaksa hidup di kolam buatan yang tak terlalu dalam dan mengandung klorin. Dipaksa untuk menuruti kemauan sang pawang dalam kondisi makanan yang terbatas. Huh!!

Let’s #SaveDolphins  #StopSirkusLumba

Berlayar di Pulau Pura Alor

Mike’s Delight, menjadi spot pertama kami di hari kedua pelayaran di Alor ini. Karakter spot ini merupakan tempat pertemuan arus dari beberapa arah. Jadi lumayan ngos-ngosan ketika saya snorkeling melawan arus. Bahkan saking asyiknya melihat Parrot Fish, Lion Fish, Moorish Idol, Regal Tang, Nemo dan beragam Anemon.

Tiba-tiba…

“Jedukkk…”

Kepala saya kejedot kapal, hahaha konyol.

***

Pulau Pura memiliki banyak sekali spot diving yang mengagumkan. Alam bawah lautnya masih terjaga dengan baik. Masyarakat menangkap ikan dengan bijaksana. Mereka hanya menggunakan jala dan ‘bubu’, sejenis perangkap ikan yang terbuat dari bambu.

Bubu-bubu itu diletakkan diantara karang dan ditinggal sehari semalam. Ikan yang terjebak di dalamnya ditangkap dan dikonsumsi.

Cara lain masyarakat Alor menangkap ikan adalah dengan cara menombak dengan tombak kecil. Semoga cara-cara ini masih terus dilestarikan demi kelangsungan hayati alam bawah laut Alor.

Anak² Pulau Pura Alor
Anak² Pulau Pura

Kapal pindah ke spot selanjutnya, sekitar 30 menit menyusuri timur Pulau Pura menuju utara, sampailah kami di Paradise Point yang juga merupakan salah satu spot favorit Donovan, karena dia juga ikut menemukan spot itu.

Anak-anak SD Desa Abila menyambut kapal kami di dermaga. Kebetulan kami datang pas jam pulang sekolah. Anak-anak menanggalkan seragam dan lompat terjun dari dermaga mengitari kapal kami. Saya dan Teh Riyanni pun spontan langsung ikutan loncat-loncatan.

Setelah pemanasan lompat-lompatan, Teh Riyanni, Nisa dan Om Adhe langsung diving. Sementara saya dan si campers, bang Pelan, lagi-lagi snorkeling aja.

Sambil snorkeling bersama anak-anak, kami bagikan gula-gula/permen, kontan saja mereka saling berteriak dan berebut. Senyuman tulus dan ucapan terima kasih mereka tidak akan pernah terlupa.

***

Kejutan datang ketika Donovan naik ke atas kapal dan mengajak saya untuk discovery diving di sekitar Paradise Point. Rupanya Teh Riyanni sudah berembug dengan Donovan hari sebelumnya, untuk memberi kesempatan kepada saya merasakan bagaimana nikmatnya diving melalui discovery dive.

Maklum, sebelum berangkat Nescafe Journey ke Alor, saya sudah tidak sempat lagi mengambil diving course untuk mendapatkan license menyelam. Jatah cuti habis.

Dengan semangat 45 saya langsung bersiap untuk diving.

Diving Preparation with Donovan
Diving Preparation with Donovan

Sebelum turun, saya tanya ke Donovan:

“what should i prepare for this discovery dive?”
Dia malah tersenyum dan jawab, “Nothing, just prepare your mental.”
“Dono, dont take me too deep”
“don’t worry Fahmi, it is Alor. In 5-7 meters you can met up so many amazing things”, katanya

Okelah kalau begitu. Saya langsung memakai wetsuit, pasang sabuk timah pemberat, memanggul tabung oksigen, pasang fin dan masker lalu mengambil langkah panjang di buritan kapal… “byurrrrrrrrr”

Saya masuk ke air lengkap dengan peralatan selam.

Girangnya setengah mati.

Maklum, selama ini hanya penasaran gimana rasanya diving itu. Akhirnya kesampaian juga hehehe.

Discovery dive ini cukup aman bagi pemula. Karena saat menyelam kita didampingi dengan sang Dive Master dan kedalamannya pun tidak lebih dari 10 meter.

Ikan dan coral berwarna-warni mengindikasikan bahwa Alam bawah laut Alor merupakan salah satu yang terbaik di dunia karena masih sehat, alami dan dalam kondisi yang bagus. Ditambah dengan visibility bawah air yang mencapai 20-30 meter, jernih banget.

Saya sempat melihat Walking Devil Fish. Ikan yang bentuknya aneh, bertanduk dan bukan berenang melainkan jalan diantara karang. Creatures bawah laut itu unik-unik banget, out of my mind, or even, alien like maybe.

Berenang melayang diantara ikan-ikan warna warni membuat saya pengen teriak-teriak kagum, “Woooww… woowww” tapi apalah daya, yang keluar dari mulut hanyalah gelembung-gelembung udara.

Hahaha maklum kalo katro, kan baru pertama.

Team Explorer Nescafe Journey Diving di Alor
Team Explorer Nescafe Journey Diving di Alor

Hari menjelang sore ketika kapal kami kembali ke Pelabuhan Kalabahi. Hari ini kami hanya diving di dua spot karena rencananya akan lanjut eksplor darat. Niatnya sih mau langsung meluncur ke Desa Adat Takpala, tapi karena waktunya sudah tidak mencukupi lagi, kami nggak jadi kesana.

Akhirnya, kami malah ngesot ke pasar Kadelang. Pasar tradisional adalah tempat yang tepat untuk mengetahui tradisi & kultur budaya setempat. Segera setelah sandar, kami menuju Pasar Kadelang, Kalabahi.

Kami mencari penjual Jagung Tembak, semacam popcorn yang dibuat secara tradisional menggunakan tabung baja yang dipanaskan. Ketika dirasa sudah matang, alat dibuka, langsung terdengar “dhuarrrr” suara ledakan seperti petasan besar dan popcorn pun beterbangan kemana-mana. Bahkan yang tercecer di jalanan pasar yang kotor pun dipungut & dimasukkan karung oleh penjualnya. Dalam batin saya, mungkin ini yang bikin enak. Nah Lo!!

Kue Rambut, Kenari, Beras Hitam & Jagung Titi Alor
Kue Rambut, Kenari, Beras Hitam & Jagung Titi

Tak hanya jagung tembak, makanan khas Alor dan hasil bumi lainnya juga banyak dijual di sini.

Kue rambut, jagung titi, kenari, beras hitam, dll. Nisa & Teh Riyanni sempat mencicipi lezatnya sirih pinang… (lezat dari hongkong??!!). Raut muka Nisa langsung berubah drop dan muntah-muntah hahaha. Sementara saya mengeluarkan jurus rayuan gombal ke mama-mama saat menawar kain tenun khas Alor. Dapet diskon, temen-temen yang lain jadi pada ikutan borong kain ikat. Menyenangkan berbelanja di pasar ini, semua murah & fresh.

Malam harinya, kami habiskan dengan makan malam bersama dengan menu makanan khas Alor tentunya.

What a beautiful day!!

***
Hari #5 dari rangkaian jurnal harian Nescafe Journey