Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali

Berawal dari tidak sengaja melihat sebuah kartu pos, lalu mengamati, tertarik, kepikiran, dan… berkhayal pengen ke tempat itu. Menunggu lama tanpa tahu kapan bisa kesampaian kesana.

Nggak enak banget rasanya.

Ada yang pernah mengalami hal serupa?

Ya, begitulah, selama bertahun-tahun saya penasarannya dengan suasana Desa Adat Tenganan Pegringsingan yang ada di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Sampai pada akhirnya saya kesampaian berkunjung kesana.

Tak sia-sia rasanya setelah dua jam duduk manis sambil terkantuk-kantuk menyusuri jalan bypass Ida Bagus Mantra ke arah timur yang menghubungkan Denpasar & Karangasem. Akhirnya saya dan teman-teman sampai juga di pemukiman Suku Bali Aga, Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Gumpalan awan hitam di langit menandakan segera turun hujan. Kami pun bergegas.

Desa Tenganan Karangasem Bali
Suasana Desa Tenganan Pegringsingan

Baca juga: Staycation Seru Di Villa Origami Seminyak Bali

Memasuki sebuah gapura kecil yang menjadi pintu masuk desa, saya serasa masuk ke dunia lain. Aura di dalam pagar begitu berbeda dengan di luar. Begitupun dengan bentuk bangunannya. Rumah-rumah beratap rumbia berdempet memanjang berhias aneka kerajinan.

Bentuknya tidak seperti rumah adat Bali pada umumnya. Terkesan kuno dan etnik. Kain-kain tenun terayun melambai tertiup angin. Warna-warninya membuai mata pengunjung agar mau mampir ke rumah, membeli souvenir. Sementara ayam-ayam jago nan kekar tak berdaya dalam kurungan. Pohon-pohon bunga kamboja menambah kesan magis kampung ini.

Saat sedang asyik melihat-lihat, tiba-tiba…

“Mari dek, silakan mampir” kata seorang wanita setengah baya di teras rumah dengan logat khas Bali. Senyum ramahnya membelokkan langkah kaki kami

Kain Tenun Pegringsingan
Kain Gringsing Desa Tenganan Bali

Kami masuk ke sebuah rumah diantara deretan rumah-rumah adat Bali Aga itu. Kain tenun aneka motif tergantung dimana-mana. Benang-benang masih bertebaran tak jauh dari sebuah alat tenun manual dari kayu. Gagangnya sudah licin mengkilap, menandakan betapa seringnya alat tenun itu digunakan, bergesekan dengan tangan. Pelinggih berdiri di pojok ruangan lengkap dengan canang & dupa yang masih mengepul. Kami dipersilakan duduk.

Ni Komang namanya. Sambil lesehan, beliau lalu bercerita banyak tentang proses membuat kain tenun Pegringsingan, sejarah desa adat Tenganan, peraturan adat yang berlaku, pernikahan adat Tenganan (disini mengenal sistem endogamy, menikah dengan orang yang masih satu lingkungan), perayaan hari raya keagamaan (disini tidak merayakan Nyepi), prosesi pemakaman di setra desa (disini tidak ada upacara Ngaben/Palebon) sampai pada intrik desa tetangga yang membuat desa adat tenganan “abal-abal” hanya untuk menarik wisatawan.

Cukup lama kami berbincang di dalam rumah. Begitu banyak hal yang diceritakan, dan saya hanya bisa bengong. Ada banyak perbedaan adat istiadat dengan masyarakat Bali pada umumnya. Tapi disinilah uniknya. Disinilah letak kekuatan karakter desa adat Tenganan Pegringsingan itu. Memegang teguh adat istiadat & keyakinan, sehingga masih tetap lestari hingga saat ini.

Makam desa adat Tenganan
Tangga menuju setra Desa Tenganan

Usai ngobrol di rumah Ni Komang, karena penasaran saya lalu menuju ke setra/makam desa yang ada di bukit belakang desa. Vegetasi pohon dan perdu nya masih rapat. Agak spooky. Namun baru sampai gerbang setra, gerimis membasahi bumi. Saya urungkan niat untuk masuk kedalam hutan dan lari berteduh di balai banjar tempat warga biasa mengadakan pertemuan. Untungnya hujan segera reda. Kami pun lalu memutuskan untuk pulang.

Namun satu hal yang masih mengganjal. Karena nggak sempat ambil uang di ATM hari itu, maka duit di dompet tinggal beberapa lembar saja. Akhirnya saya mengurungkan niat membeli kain tenun Pegringsingan.

Nyeselnya setengah mati 🙁

Baca juga: Menyepi Di Private Villa Club B Residence Canggu Bali

Desa Adat Tenganan Pegringsingan
Desa Adat Tenganan Pegringsingan

***

Catatan tentang Desa Adat Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali:

  • Di Karangasem, Bali, ada 2 desa adat yaitu Tenganan Pegringsingan & Tenganan Dauh Tukad. It’s different.
  • Biasanya pada bulan Juni diadakan upacara adat pesta perang pandan. Menarik banget!
  • Setahu saya belum ada transportasi umum untuk mencapai kesini. Dapat dijangkau dengan sepeda motor / mobil pribadi.
  • Kerajinan khas Desa Adat Tenganan Pegringsingan selain kain tenun, ada juga ukir/lukis daun lontar. Worth to buy, karena unik untuk koleksi.
  • Try to mingle with the locals, seru deh!! Masyarakat disini ramah dan kita bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup dari kearifan lokal mereka 🙂

Happy Traveling !!