Pelajaran Sejarah — Arca Buddha Candi Ngawen Muntilan
Arca Buddha Candi Ngawen Muntilan

Masih lekat dalam ingatan saya, bagaimana dulu Pak Subandi, guru mata pelajaran Sejarah di SMP N 1 Kota Magelang menghukum murid-muridnya apabila tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukannya.

Pak Subandi selalu mengawali kelas dengan melempar pertanyaan dadakan kepada murid-murid secara random. Posisi beliau setengah duduk setengah berdiri di meja guru, sambil memegang kemoceng, senjata pamungkasnya.

Kalau sudah begitu, suasana kelas menjadi tegang! Seolah seisi ruangan kelas diselimuti ketakutan tidak bisa menjawab pertanyaan lalu kemudian akan dihukum. Apa hukumannya? Ya dengan dipukul dengan kemoceng itu! Kan atit… #halah

“Kamu yang di pojok kanan, apa penyebab kerajaan Majapahit runtuh?”

“Syahrini, Siapa nama panglima angkatan laut kerajaan Demak?”

“Pertanyaan buat Dian Sastro yang duduk di depan, Apa jenis manusia purba yang ditemukan di Sangiran dan Trinil?”

#DHUARRR

Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat mudah, karena text book, ada di buku pengantar dan sudah pernah disampaikan sebelumnya. Hanya untuk mengingat kembali saja.

Namun bagi anak-anak yang berjiwa eksak, wajah mereka sudah pucat pasi karena merasa tak menguasai. Sementara bagi yang berjiwa sosial, (seperti saya) mengikuti kelas Sejarah adalah hal yang menyenangkan. Meski tak jarang pula, pukulan kemoceng bulu ayam itu mendarat mulus di lengan saya karena tak bisa menjawab pertanyaan. Oot bawaan sih kayanya hehehe.

Lah ini kok malah jadi ndongeng jaman SMP?

Iya, jadi gini…

Ternyata, apa yang pernah kita alami jaman dulu, baru bisa saya rasakan manfaatnya sekarang. Time flies. Momen pelajaran Sejarah saat SMP sudah berlalu sekian belas tahun lalu. Theoretically. Nah, saya baru bisa menikmati pelajaran sejarah secara literally pada beberapa tahun belakangan ini.

Ketika mengunjungi sebuah objek wisata sejarah seperti museum, candi, benteng, makam, situs purba, dll seolah neuron-neuron di dalam kepala saya kembali bereaksi memunculkan memori pelajaran sejarah jaman SMP-SMA yang pernah disampaikan oleh para guru terdahulu.

Seperti misalnya ketika saya mengunjungi Candi Sambisari di daerah Kalasan Yogyakarta beberapa waktu lalu. Saya dengan mudah begitu menikmatinya. Ingatan saya akan pelajaran sejarah tentang masa kerajaan Mataram Hindu bangkit ketika merunut pahatan relief dinding batu yang membisu.

Bahkan, kadang terlintas pikiran, mengapa dulu saat kuliah saya tidak mengambil jurusan Arkeologi? Kok malah nyasar di FISIP hihihi. Tapi ya sudahlah, tidak ada yang perlu disesali dalam hidup ini. Toh, semua sudah digariskan oleh Ilahi. Jadi, mari selalu kita syukuri.

Begitulah singkat cerita, balada mata pelajaran sejarah, sebuah jawaban mengapa saya bisa menikmati wisata sejarah semacam itu.

Bagaimana dengan kamu? 🙂

Fahmi Anhar
Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.

Catatan Buruh Migran – Kantor Lama VS Kantor Baru

Previous article

Gunung Tidar Magelang, Legenda Dibalik Hutan Cemara

Next article

You may also like

36 Comments

  1. Kalo aku, karena orangnya eksak banget, jadi memang lebih menikmati wisata yang menampilkan eksotisme alam, tumbuhan, terutama hewan. Mmmm…maksud saya, hewan yang sudah disembelih, mmm…maksudnya hewan, disembelih, kemudian dipotong-potong. Mmmmm…kemudian dibumbu, di grill, kemudian disajikan dalam hot plate.
    Kira-kira begitu wisata eksak saya

    1. hmmm… gitu ya? boleh2 saja… sah2 saja…
      *pentung reni pake kemoceng bulu landak*

  2. Kami juga suka wisata sejarah! Salam kenal, dan toss jarak jauh 🙂

    1. 🙂 aloha, salam kenal juga kakak2 Dusty Sneakers, terima kasih sudah mampir. kapan main2 blusukan ke Magelang?

  3. masa sma, saya benar-benar benci pelajaran sejarah yang terkesan kuno. eh sekarang pas mo nulis harus banyak menggali sejarah. sejarah menjadi bumbu sebuah tulisan hehe..

    1. sepakat, pengetahuan sejarah bisa dijadikan “bumbu” tulisan agar lebih menarik 🙂

  4. aku suka pelajaran sejarah sejak SMP, membaca tuntas semua buku paket dari P & K tentang fosil-fosil, tentang perjuangan. tapiiiii… nilai sejarahku nggak pernah lebih dari angka 7! itu karena aku lemah dalam hafalan, jadi tanggal2 bersejarah itu sulit kuingat (tapi kalau tempat2 sih ingaat!). dan guruku pun galak juga,.. yeehh guru fisika aja baik..

    lalu semuanya berubah ketika negara api menyerang.. #eh

    lalu waktu kuliah semester 3, tiba-tiba aku mendapatkan nilai A dalam pelajaran Kompendium Arsitektur, untuk essay tentang agora, pasar, ruang berkumpul di zaman Yunani. (lumayan 3 SKS..) saat itu aku pikir bahwa yang harus diajarkan itu bukan cuma tentang tanggal-tanggal (yang sulit diingat itu) tapi soal kenapa, esensi kenapa peristiwa-peristiwa itu perlu ada.

    bukan hanya kapan Perang Diponegoro 1825-1830 itu berlangsung, dan anak siapa Diponegoro itu, tapi soal nilai-nilai hidup, perjuangan dan keteguhan sikapnya yang seharusnya dijadikan pelajaran, sehingga tujuan untuk mengetahui sejarah dan meningkatkan nasionalisme meningkat..

    eehh, terus matkul Kewiraan aku sempat dapat C. hahaha… (lumayan lah dicuci jadi B).

    1. ~ menyimak tsurhat kak indri yang panjang nan lebar ~ hahaha

      sepakat dengan esensi pelajaran sejarah itu harusnya lebih ke nilai-nilai kehidupan dari peristiwa sejarah yang sudah terjadi, sehingga murid lebih memahami peristiwa sejarah tersebut secara mendalam, tidak hanya tekstual | *malah berasa jadi guru BP*

      kalau aku emang dari SD nggak suka mata pelajaran eksak. paling pusing kalau pelajaran MENCONGAK ! apalagi kalau pas SMP disuruh ngitung persamaan, pertidaksamaan, trigonometri, dll hih!!
      *pengsan*

  5. Hahahhahhahhaaa paragraf penutupnya bjak banget Miiiii 😆

    Iya sih, sebagian yang dialami di bangku baru terasa manfaatnya setelah sekian tahun berlalu.

    1. aku kan emang bijak mbak anaknya… bijak sawah… itu bajak sawah fahmiii !! #krik #garing #abaikan

  6. Wha ini mata pelajaran Favorit………….sayang nggak bisa maksimal waktu diajar pak Bandi……ingatnya Eugene Dubois…hahahaha

    1. hahaha sama! ingetnya Eugene Dubois & Pithecanthropus Erectus :p

  7. Jadi inget pas ulangan sejarah, yang nilainya kurang dari 6,0 disuruh maju ke depan kelas, disuruh baris kemudian ditanyain satu persatu kenapa hasilnya jelek. Dan kemudian yang paling dihindari, tiba2 dicubit kecil di bagian perut. sakiiiit banget..
    Tapi malah jadi berkesan.. haha

    1. nah itu! epic banget moment itu! dicubit perutnya sama pak bandi hahaha. aku yo wis pernah jadi korban. coba dulu udah ada Komnas Perlindungan Anak ya… hahaha

  8. Metode mengajar ala Pak Bandi memang tampak diktator, arogan, dan menganiaya murid2nya….
    Tapiiii….dari situlah ingatan-ingatan tentang abbrisousroches, kjokkenmondinger, kapak perimbas, kapak persegi, megantropus paleojavanicus, Raden Wijaya, Tribuanna Tunggadewi, pun demikan halnya dengan arti “jaman berburu dan meramu” tetap fresh dalam ingatan kita (mohon koreksi jika ada salah penulisan).
    Di sisi lain, pada metode didik itulah muncul murid-murid yang -mau tidak mau- jadi rajin belajar, dan menghargai topik bahasan dalam pelajaran.
    Coba bandingkan dengan murid-murid sekarang yang tiap ada hukuman fisik barang sedikit saja pasti langsung mengadu ke orang tua, ujung2nya orang tua protes ke KepSek, bahkan demo minta guru tersebut dipecat. Bagaimana dengan kualitas murid-muridnya?? Apakah mereka masih peduli pada pelajaran-pelajaran tidak populer semacam sejarah?? Dan apakah melunaknya metode didik inilah yg membidani lahirnya generasi 4l4y???

    Ahh yaa, ngomong-ngomong masih ingatkah kebiasaan Pak Bandi yang tidak pernah bawa pulpen, hanya bermodalkan pensil 2B??

    1. yup, setuju dengan mas yeremia adi, terlihat sekali perbedaan karakter murid-murid jaman dulu dengan metode pengajaran yang seperti itu dan murid-murid jaman sekarang dengan metode belajar & kurikulum sekarang. dan setelah berselang sekian tahun, kita baru bisa merasakan manfaat atas apa yang sudah diajarkan oleh guru-guru kita. so thankful !

  9. wakakakaka…pak bandi…inget dong….kalo gak kemoceng ya penggaris 1 meter…makanya aku heran…jaman sekarang anak2 sekolahan manja banget…bisa2 pak bandi dilaporin ke polisi kalo masi ngajar…
    tapi jujur lho…aku lebih suka guru model pak bandi ini (dan pak Toto KG biarpun blum pernah diajar beliau) daripada guru2 jaman sekarang yang kalo muridnya nanya buka tab-nya dulu buat nyari di gugel 😀

    1. hahaha kamu pernah jd korban penggaris 1 meter Gil?

      dulu pas jalanin masa smp, mungkin kita merasa keberatan dengan hukuman2 dari para guru (termasuk pak sudiyono, seni rupa, hih!) tapi ternyata sekarang kita baru merasakan manfaatnya dididik keras seperti itu…

  10. duh jaman smp aku paling ga suka pelajaran sejarah krn gurunya judes suka nuduh nyontek padahal aku belajar beneran. SMA lebih parah lagi gurunya rajin masuk tapi lebih suka menyuruh merangkum buku dibandingkan menjelaskan…. baru merasakan indahnya sejarah yg gegara travelling… ada pengalaman lucu aja sih, jauh traveling liat nekara raksasa tapi ga tahu sejarahnya. sejak itu jadi rajin ngulik sejarah…

    1. nah, itulah cara mengajar yg salah, kalau guru males kadang suka nyuruh merangkum buku doang, nggak asik. padahal yang diinginkan siswa kan interaksi dua arah secara komprehensif, jadi siswa benar-benar “mudeng” dengan pelajaran tersebut | *ini udah berasa pengamat pendidikan aja*

  11. Hahaha senasib juga. Dulu pas masih duduk di bangku sekolah merasa pelajaran sejarah itu susah. Kalang kabut kalau mo ulangan sejarah… belajar sekian jam ala sistem kebut semalam yo tetep nggak nangkap nama rumit, tanggal, peristiwa bla bla bla… akhirnya nilai ulangan dapat jelek #curcol
    Setelah badan gedhe, survey ke tkp langsung ternyata sejarah itu mudah dipelajari, bahkan bikin nyandu pingin telusur ke candi/ museum sejarah yang lain. Jadi yang salah itu si guru yang terpaku ama buku pelajaran tanpa survey lapangan atau muridnya yang kurang cakap ya? ahh bener-bener misteri ilahii… hahaha

    1. lah? kirain udah suka sejarah sejak jaman dulu lim… ternyata nggak to? owalah…

  12. Guru sejarahku dulu juga galak minta ampun, namanya Pak Imron…ulangan (bahasane lawas) sejarah selalu lisan….kalau gak bisa dipermalukan! Dihukum disuruh nyanyi Indonesia Raya, atau apa kek, yang penting bikin malu. *masih dongkol hahaha. Sekarang malah cinta mati sama sejarah, tapi bener belajarnya dengan cara yang beda
    *kirim surat ke mendikbud minta merombak pengajaran mata pelajaran sejarah *eh lha daku ini siapa *sok pede 🙂

    1. cara guru menghukum muridnya, ternyata membawa dampak negatif juga ya. jadi nggak terlalu respek dengan mata pelajaran yang diajarkan. tapi sekarang kalau ingat moment2 seperti itu geli sendiri. bahkan kangen 🙂

  13. Wow Dian sastro n Sahrini pernah tercatat sebagai siswi smp n 1 mgl

    kerennnn bgt

    1. hahaha SMP N 1 Magelang kan emang sekolahnya artis2 :p #yakali

  14. Mas fahmi, kebetulan tulisan Anda ini dishare ke saya oleh Bu Yayuk, guru fisika yg juga guru saya di tahun 1984-1985…. Saya tertarik dgn tulisan ini. Boleh ya saya masukkan ke dalam tulisan saya, kebetulan sedang menulis ttg pelajaran sejarah di Majalah Insan Budaya, Kemdikbud… Salam kenal

    1. waa dengan senang hati mas, monggo. kali aja kutipannya juga dibaca pak menteri 😀

  15. wah. inget banget deh sama pak bandi. pernah nih ada anak baru di kelas yang kaget sama cara ngajar yang seperti itu dan akhirnya waktu giliran dia dapet pertanyaan, dia udah nyiapin tas buat tameng dengan muka pucat sambil menghindar gitu waktu mau dipukul pake penggaris. gegara itu semua yang awalnya tegang malah jadi ketawa, sampe pak bandi juga ketawa.

    1. hahaha seru ya liat temennya “disiksa” pake penggaris kayu 1 meteran itu. walau sering juga akhirnya kena timpuk penggaris itu juga hehe

  16. Tulisan mas Fahmi membawa memori saya sewaktu belajar di SMP 1 Magelang… Pak Bandi dulu mengajar saya olahraga sekaligus sejarah.. Waktu pelajaran sejarah saya rame sendiri dgn teman sebangku dan hasilnya digampar dgn buku oleh pak Bandi, hehehe… Tetapi saya suku gaya beliau mengajar sejarah… Guru-guru lain yang berkesan bagi saya adalah pak Toto KG (alm), pak Kustomo, pak Sediyono… Walaupun beliau2 semua “killer” tetapi hasil didikannya (disiplin, rajin, kerja keras, tertib, teratur, kesopanan, dsb) sangat terasa (bagi saya pribadi) sampai saat ini…

    1. setuju mas, guru2 kita di SMP N 1 Magelang emang bener2 juara!! juara cara ngajarnya, juara disiplinnya, sehingga mencetak para juara. paling berkesan juga dg pak kustomo, bu irine, pak sediyono, pak totok, dll 🙂

  17. kalo guru sejarah semasa SMP namanya Pak Sambi, paling ingat selalu dengan tokokh Dewi Sambi di Tutur Tinular…..btw, sejarah dengan dibawakan melalui dongengan lebih menarik minat belajar dan tanpa sengaja si anak juga hafal di luar kepala. Anak saya juga lebih senang didongengi kisah sejarah daripada dongen fabel kayak Kancil Nyolong Timun, salam sejarah!

    1. sejarah memang akan lebih mengena apabila disampaikan dengan tepat oleh para guru, misal dengan dongeng dan terjun langsung ke situs sejarahnya. jadi siswa bisa dengan mudah memahaminya. matur nuwun sudah mampir & sharing disini. salam sejarah 🙂

  18. Untung dulu nggak ambil jurusan arkeologi Mas, katanya bakal susah nyari kerjaannya, hahaha.

    Saya dulu yang sekolah di Ibukota juga nggak begitu suka pelajaran sejarah. Habisnya ya itu, pak gurunya galak dan nggak ada kaitannya dengan hidup sehari-hari seorang anak di Ibukota.

    Baru pas kuliah di kota Gudeg ini saya jadi suka sejarah, hahaha. Mungkin karena interaksi saya dengan obyek-obyek bersejarah lebih sering dibandingkan pas saya masih di Ibukota. Kan kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang” kan?

    1. memang guru memiliki peran besar bagi seorang murid menyukai mata pelajaran yang diajarkan atau tidak. kita baru menyadarinya setelah lulus dari sekolah 🙂

      yup, tak kenal maka tak sayang. begitu kita tahu objek-objek bersejarah secara langsung, barulah kita jatuh cinta. disinilah kita menyadari pentingnya praktek dan terjun ke lapangan, bukan hanya teori dan text book.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *