Adzan Subuh Terakhir

Pagi ini, kampung saya dikejutkan dengan sebuah berita duka. Pelantang masjid memecah kesunyian subuh. Takmir masjid mengumumkan berpulangnya Bp H. Muhdjahri, seorang warga RT 9 yang juga merupakan muadzin masjid kampung kami. Kaget bukan kepalang, karena hari kemarin beliau masih terlihat sehat dan beraktifitas seperti biasa. Bahkan malam tadi, beliau masih mengikuti khataman Al Quran di masjid kampung.

Yang membuat bulu kuduk tak berhenti merinding adalah cerita bagaimana proses beliau dipanggil Yang Maha Kuasa. Seperti hari-hari biasanya, beliau datang ke masjid lebih awal sebelum subuh, mempersiapkan murattal qur’an yang biasa disetel menjelang waktu subuh. Murattal yang dilantunkan melalui pelantang ini, akan menjadi sarana untuk membangunkan warga kampung kami agar bersiap berjamaah di masjid.

Tibalah waktu subuh, beliau mengumandangkan adzan dengan suara merdunya. Tapi… ketika sampai di kalimat “Khayya Alal Falah” beliau tiba-tiba ambruk. Pingsan lemas tak berdaya dan tak kuasa lagi melanjutkan adzan. Sontak mengagetkan semua jamaah yang sudah datang berkumpul di masjid pagi tadi. Tubuhnya dingin, mata terpejam dan mulut tak lagi bisa terucap. Beliau menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Bapak yang kebetulan berada disampingnya. Bapak adalah sahabatnya sejak kecil. Dikelilingi oleh jama’ah masjid dengan lantunan doa yang teruntai berantai. Kejadiannya begitu cepat. Untuk memastikan, beliau sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun ternyata beliau memang sudah ”pergi” menghadapNYA. Innalillah wainna ilaihi raajiuun.

Sejak subuh warga sudah ramai berkumpul di rumah duka, bergotong royong mempersiapkan segala sesuatunya. Usai dimandikan & dikafani, sekitar pukul 07.00 kami semua warga & keluarga besar berkumpul untuk bersiap menyolatkan jenazah. Dengan sesekali terisak KH Bahrudin Amin menjadi imam. Kami pun larut dalam haru. Namun keharuan itu tak tertahankan lagi ketika KH Ismail Ali memimpin tahlil usai shalat jenazah. Beliau yang terkenal ceria, ramah dan selalu tersenyum, pagi tadi terlihat murung, bahkan hampir tak kuasa memimpin jalannya tahlil karena terus terisak. Tangis haru jama’ah pun pecah. Bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas, tua, muda, semua menitikkan air mata. Baru kali ini saya mengalami situasi seperti ini di kampung kami. Bukannya menangisi beliau yang telah pergi, tapi terharu dengan cara pak H. Muhdjahri “kembali”. Subhanallah…

Kami semua tidak menyangka, adzan subuh pagi tadi menjadi adzan subuh terakhir yang dikumandangkannya. Dan beliau pergi dengan bahagia, seperti arti kalimat terakhirnya, “Khayya Alal Falah”, marilah mencapai kebahagiaan. Kami akan sangat merindukan khotbah jum’at mu, wejangan² ringan kepada pemuda² kampung kalau pas bertemu, dan juga teriakan “sahuuuurr – sahuuurrr, monggo sedherek² sami sahuuurrr” di pelantang masjid bulan ramadhan ini. Selamat jalan pak, semoga khusnul khatimah & mendapatkan jannah. Amien…

===============================

Note: Postingan kali ini memang tidak ada hubungannya dengan traveling. Namun saya ingin mengungkapkannya, sebagai pengingat bagi saya khusunya dan kita semua, bahwa kematian itu pasti datangnya. Kepada siapa saja, dimana saja, kapan saja. Mau tidak mau kita harus bersiap menghadapinya :’)