Tuol Sleng Genocide Museum

Cambodia Trip Part 5

Tuol Sleng Genocide Museum – Saksi Bisu Kekejaman Khmer Rouge

Tuk-tuk melaju pelan diantara semrawutnya lalu lintas jalanan, kembali ke pusat kota Phnom Penh setelah sebelumnya saya puas mengunjungi Choeung Ek Killing Fileds yang terletak di luar kota. Cuaca cukup panas, sambil sesekali menenggak air mineral yang dibawa, saya masih terngiang dengan apa yang baru saja saya lihat di Killing Fields. Kok ada ya manusia yang tega membantai saudara-saudaranya sendiri? Ckckck…

Tuol Sleng Genocide Museum

Tuol Sleng Genocide Museum

Destinasi kedua dalam Phnom Penh city tour hari itu, saya diajak Tong Hak mengunjungi Tuol Sleng Genocide Museum yang terletak di st 113 Sangkat Beoung Keng Kang III, Khan Charmkarmorn. Sebuah kompleks bangunan bekas sekolah Chao Ponhea Yat High School yang terdiri dari 5 gedung. Sejak rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot memenangkan perang sipil Kamboja pada tahun 1975-an, kompleks bangunan sekolah ini kemudian dialih fungsikan sebagai kamp konsentrasi penahanan yang dinamakan “Security Prison 21” atau kemudian lebih dikenal dengan (S-21).

Tuol Sleng Genocide Museum Main Gate

gerbang utama Tuol Sleng museum

Setelah membayar tiket seharga 2 $ di loket kecil dekat gerbang utama, saya dipersilakan masukΒ  dan diberi leaflet yang berisi cerita sejarah kelam yang pernah terjadi di kompleks gedung ini. Lantai keramik motif lawas berwarna putih – oranye sudah tampak lusuh di Gedung A. Suasana suram begitu terasa. Ruangan kelas yang dulu berisi bangku untuk belajar, kini hanya berisi ranjang besi kecil yang digunakan untuk menyiksa para tahanan. Mereka ditidurkan di ranjang dalam posisi dirantai sambil diiterogasi. Apabila tidak mau mengaku atau jawaban yang diberikan tidak memuaskan, tahanan tersebut disiksa dengan disetrum atau kukunya dicabut paksa dengan tang lalu dikucuri cuka/air garam. DAMN!!

Tuol Sleng Genocide Museum Killing Bed

ranjang kematian…

Kompleks gedung masih dikelilingi kawat berduri hingga saat ini, meski tak lagi dialiri listrik seperti jaman dulu. Menurut data sejarah, kira-kira sekitar 17.000 orang pernah ditahan & disiksa di Tuol Sleng sepanjang tahun 1975-1979. Mereka adalah siapa saja yang dicurigai masih terlibat dengan pemerintahan sebelumnya. Kebanyakan, mereka yang ditahan berasal dari kalangan militer, pegawai pemerintahan, akademisi, bhiku, jurnalis, bahkan sampai para buruh pabrik. Ketika mereka datang pertama kali, dilakukan pemotretan & pendataan riwayat hidup dari lahir hingga hari penahanan itu.

Victims of Tuol Sleng Genocide Museum

S-21 victims

Anyway, karena hari itu bukan weekend & bukan musim liburan, jadilah suasana di Tuol Sleng relatif sepi. Tidak banyak pengunjung. Bergeser ke Gedung B kaki saya mulai terasa berat. Beban mental mungkin, karena tak terbiasa melihat yang begituan. Gedung 3 lantai ini digunakan sebagai ruang display foto-foto para korban kekejaman Khmer Rouge di Tuol Sleng. Awalnya sempat ragu-ragu mau masuk, karena sepi. Tapi akhirnya nekad juga (sambil terus mbatin baca ayat kursi hehe). Rata-rata ekspresi para korban dalam foto portrait yang dipajang ini menyiratkan ketakutan, kesedihan dan tanpa harapan. Satu demi satu saya beranikan diri untuk menatap mereka. Seolah kami saling berinteraksi, dan mereka bercerita banyak tentang apa yang mereka alami disini. Pedih rasanya…

Mata saya tertuju pada sebuah foto di ujung ruangan. Saya dekati, foto tampak depan seorang ibu yang sedang menggendong bayinya, terpampang cukup besar, sekitar 10 R. Ekspresinya sangat berbeda dengan foto-foto korban lain. Sang ibu terlihat cukup tegar & tidak ada ketakutan sedikitpun di wajahnya. Namun saya langsung tercekat ketika melihat foto lain di sampingnya. Tampak samping, ternyata ibu tersebut sedang di bor kepala bagian belakangnya, dengan sebuah alat yang jarumnya langsung menembus ke otak secara perlahan. Yaa Allah, tak kuasa lagi mata ini… bulir-bulir bening tiba-tiba membasahi pipi. Teringat ibu di rumah…

Tuol Sleng S-21 Victims

can you imagine? it hurts…

Saya masih tidak habis pikir, bagaimana orang-orang itu melakukan penyiksaan sedemikian rupa terhadap saudara sebangsanya. Bagaimana bisa mereka memotret detik-detik kematian seseorang dengan suka cita. Apa itu hati nurani? Apa itu kemanusiaan? Mereka sudah lupa, atau bahkan… tak lagi kenal…

Kawat berduri masih menyelimuti lantai 1 Gedung C. Ruang kelas disekat-sekat dengan bata merah menjadi ruang-ruang sempit untuk sel para tahanan. Bayangkan saja, sel seukuran tak sampai 6 mΒ² diisi belasan orang dengan kondisi diborgol tangan & kakinya secara paralel. Iya, paralel… ruang gerak tahanan sangatlah sempit. Saya sempat mencoba masuk ke salah satu sel di pojok ruangan, saya tutup pintunya, berdiam sejenak. Mencoba merasakan apa yang pernah terjadi pada para tahanan di Tuol Sleng sekitar 37 tahun yang lalu. Tapi saya tidak berani bertahan lama, karena tiba-tiba batin saya mengatakan, ada yang sedang meringkuk lemas di pojokan. Merintih kesakitan. Entahlah apa itu. Saya pun langsung bergegas keluar.

Tuol Sleng Genocide Museum Torture

torture, persecution

Sementara, Gedung D pun sama fungsinya kala itu. Lantai 2 & 3 nya dulu digunakan untuk ruang tahanan massal. Ratusan orang ditempatkan dalam sebuah ruangan besar. Makan seadanya, mandi pun dengan cara disemprotkan air melalui selang dari luar jendela, seminggu hanya 2 kali. Kebayang kan gimana kondisinya? :’( Entah berapa ribu orang yang sudah diinterogasi, disiksa hingga menggelepar meregang nyawa di tempat ini.

Kini ruangan tersebut difungsikan sebagai museum untuk menyimpan foto-foto korban, alat-alat penyiksaan, terngkorak korban & altar persembahyangan. Sementara di Gedung E, kita bisa bertemu Opa Bou Meng, seorang survivor S-21 yang masih hidup hingga kini. Beliau membuat buku tentang kesaksian kekejaman di Tuol Sleng.

Tuol Sleng S21 Genocide Museum

mereka yang sudah tak bernyawa :'(

Eksplorasi Tuol Sleng S-21 siang itu berakhir di sebuah bangku dibawah pohon bunga kamboja yang rimbun, di depan 14 nisan putih, makam korban terakhir yang ditemukan di kompleks ini ketika tentara United Front for the National Salvation of Kampuchea (UFNSK) merangsek masuk pada 7 Januari 1979. Sebagian besar, setelah tahanan diinterogasi & disiksa di Tuol Sleng S-21 ini, mereka dikirim ke Choeung Ek Killing Fields untuk di eksekusi lalu dikubur secara massal.

Kembali saya merenung. Ini saya traveling kan niatnya jalan-jalan senang-senang. Lha kok malah stress yang didapat gara-gara wisata sejarah di Phnom Penh. Pesan moralnya adalah, kalau kamu juga akan traveling ke Phnom Penh, silakan menata hati sejak dari Indonesia. Biar nggak terlalu shock.

Well, ayway ada tips nih buat kamu yang mau kesana. Kalau nggak mau keluar ongkos sewa guide tapi pengen tahu sejarah detailnya, ikutin aja arus rombongan yang menyewa guide. Ikut nguping aja gitu sambil ngintil di belakangnya. Cuek aja lagi hehehe. Sukur-sukur sekalian kenalan sama peserta rombongan itu, kan malah jadi dapa teman baru. Tapi kalau memang mau benar-benar merasakan & menghayati sejarahnya, ada baiknya cari moment-moment sepi & sendiri ketika berkunjung ke Tuol Sleng ini. Jangan lupa baca ayat kursi, biar nggak ada yang ngikuti hihihi…

To Be Continued…

30 Comments
  1. July 16, 2013
    • July 16, 2013
      • July 16, 2013
  2. July 16, 2013
    • July 16, 2013
  3. July 16, 2013
  4. July 16, 2013
    • July 16, 2013
  5. July 16, 2013
  6. July 16, 2013
    • July 16, 2013
      • July 18, 2013
        • July 18, 2013
  7. July 16, 2013
    • July 16, 2013
  8. July 16, 2013
    • July 16, 2013
  9. July 16, 2013
    • July 16, 2013
  10. July 16, 2013
    • July 16, 2013
  11. July 17, 2013
  12. August 11, 2013
    • August 11, 2013
  13. December 9, 2013
    • December 9, 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*