Traveling Bersama Ibu

Kereta Api Lodaya

Traveling Bersama Ibu

“Ibu kok pengen ngrasakke numpak sepur yo… tapi sing eksekutif.”

Tiba-tiba ibu saya membuka pembicaraan ketika kami berdua sedang asyik memasak di dapur pada suatu pagi.

“Lha Ibu pengen tindak pundi?”

“Ya ngendi wae, sing penting numpak sepur. Terakhir jaman sekolah biyen, numpak sepur kluthuk.” Jawabnya polos.

Hati saya berdesir mendengar jawaban beliau. Mau naik kereta api saja sampai menunggu bertahun-tahun lamanya. Ya wajar sih, karena di jalur kereta api di Magelang sudah tidak aktif sejak beberapa dekade lalu. Jadi kami sangat jarang bepergian menggunakan kereta api. Harus ke Jogja dulu. Ribet.

“Hmm… oke Mak! Jangan kaya orang susah! kita halan-halan ke Bandung aja!” jawab anaknya songong.

Kanjeng Mami langsung sumringah!

“Kapan? Sesuk libur akhir tahun ya. Mosok anake wae sing dolan-dolan terus.”

#eaaa

*****

Singkat cerita, tiket kereta api Lodaya Malam kelas eksekutif jurusan Yogyakarta – Bandung PP sudah ditangan. Kanjeng Mami begitu semangat packing. Dari Magelang kami berdua naik travel Rahayu Persada menuju Stasiun Tugu. Terlihat sekali antusiasme Ibu pada traveling kali ini. Selain karena akhirnya akan kesampaian naik kereta api eksekutif, juga karena sebentar lagi akan bertemu dengan saudara-saudara, budhe, bulik, sepupu dan krucil-krucil yang tinggal di Jakarta dan Bandung. Kami semua sepakat reuni, berkumpul di Bandung untuk liburan keluarga bersama.

Malam itu suasana Stasiun Tugu cukup ramai, banyak calon penumpang yang menunggu di peron. Maklum, menjelang liburan akhir tahun, jadi banyak penumpang yang traveling juga. Kami duduk di deretan kursi dekat Roti B*y. Wangi aroma rotinya menyeruak kemana-mana menggelitik hidung setiap orang yang berada di dekatnya.

Tak lama kemudian, suara klakson kereta api terdengar membahana.

“Kae rangkaian keretane?” tanya Ibu sambil menunjuk kereta api yang baru saja memasuki jalur 3 Stasiun Tugu.

“Nggih, siap-siap masuk.” Jawab saya sambil merapikan ransel.

Memasuki gerbong 4, mata Ibu terlihat berbinar-binar. Berjalan perlahan menyusuri lorong sambil mencocokkan nomor kursi dan nomor yang tertera di tiket. Saya mengikuti di belakangnya dengan perasaan campur aduk. Antara terharu, senang dan geli.

Sekitar pukul 20.00 rangkaian kereta api Lodaya Malam mulai bergerak meninggalkan Stasiun Tugu Yogyakarta. Ibu duduk di samping jendela sembari makan sedikit cemilan yang kami bawa di tas sebagai pengganjal perut selama di perjalanan. Berselimutkan kain biru donker dari KAI, ibu duduk santai menikmati suasana di dalam kereta.

“Alhamdulillah, akhirnya Ibu kesampaian numpak kereta eksekutif yo Le.”

“Alhamdulillah….” saya mengulas senyum. Speechless. Tangan kami berpegangan erat.

Mata ini mulai semakin terasa berat. Alunan simponi sambungan rel menjadi irama pengantar tidur kami. Dan kami pun terlelap.

*****

“Bangun, subuhan” Ibu mencolek lengan saya.

Tirai jendela kereta dibuka, hari masih gelap. Saya lirik jam tangan, pukul 04.45 WIB. Segera saya ambil tayamum dan shalat subuh. Sekitar 1 jam kemudian, kereta sampai di Stasiun Bandung. Kami pun bergegas menuju meeting point yang sudah ditentukan bersama.

Selama di Bandung, karena terdiri dari 4 keluarga, kami pun sewa Elf untuk berkeliling kesana kemari. Mulai dari Trans Studio, factory outlet, wisata kuliner, nonton bioskop rame-rame sampai jalan kaki di sekitar kawasan Gedung Merdeka. Standar sih. Yang penting kebersamaannya karena momen seperti ini jarang-jarang terjadi. Secara tempat tinggalnya pada mencar di berbagai kota. Sebuah perjalanan singkat namun hangat.

Savoy Homann Bidakara Hotel Bandung

Savoy Homann Bidakara Hotel Bandung

Gedung Merdeka Bandung

Gedung Merdeka Bandung

Museum Konferensi Asia Afrika Bandung

Museum Konferensi Asia Afrika Bandung

Trans Studio Bandung

Roller coaster Trans Studio Bandung

*****

Setelah beberapa hari di Bandung, akhirnya saya & Ibu pulang ke Yogyakarta dengan kereta api Lodaya Pagi. Jalur selatan menawarkan pemandangan yang begitu menawan. Hamparan sawah, pegunungan, sungai besar, jembatan kuno, serta terowongan-terowongan legendaris peninggalan jaman penjajahan Belanda dulu. Saya tidak tidur selama menempuh 8 jam perjalanan menuju Yogyakarta karena pemandangannya sayang untuk dilewatkan.

Jalur Kereta Api Selatan Jawa

Jalur Kereta Api Selatan Jawa

Saya sangat bersyukur atas perjalanan kali ini. Betapa bahagianya saya masih bisa traveling bersama Ibu, menuruti apa yang diinginkan Ibu, dan mendampinginya hingga pulang ke rumah dalam keadaan sehat wal afiat. Sungguh, nikmat yang luar biasa.

Setelah kini memiliki keluarga kecil sendiri, saya menjadi lebih merasakan betapa berartinya kedua orang tua kita. Tidak mudah menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Sebuah amanah besar yang harus diemban yang langsung diberikan olehNYA dan harus dipertanggungjawabkan pada hari akhir nanti.

Melihat secara langsung proses persalinan istri ketika melahirkan si kecil, membuat saya semakin mengerti betapa berat perjuangan seorang Ibu. Pertaruhannya nyawa! Tentu begitu pula situasi yang dihadapi Ibu ketika dulu melahirkan saya. Saya tobat. I love you mom!

“Rabbighfirli waliwaalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran. Rabbana aatinaa fiddunya hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaa bannaar”

Bandung, 23-26 Desember 2012

Jadi… kapan terakhir kamu peluk Ibu?…..

Postingan ini ditulis dalam rangka merayakan Hari Ibu, 22 Desember 2015. Selamat Hari Ibu!

 

50 Comments
  1. December 22, 2015
    • December 22, 2015
      • December 22, 2015
        • December 25, 2015
  2. December 22, 2015
    • January 19, 2016
  3. December 22, 2015
    • January 19, 2016
  4. December 22, 2015
    • December 25, 2015
  5. December 22, 2015
    • December 25, 2015
  6. December 22, 2015
    • December 25, 2015
  7. December 22, 2015
    • December 25, 2015
  8. December 22, 2015
  9. December 22, 2015
    • December 25, 2015
  10. December 22, 2015
    • December 25, 2015
  11. December 23, 2015
    • December 25, 2015
  12. December 23, 2015
    • December 25, 2015
  13. December 26, 2015
    • December 26, 2015
  14. December 30, 2015
  15. January 6, 2016
    • January 8, 2016
  16. January 7, 2016
    • January 8, 2016
  17. January 18, 2016
    • January 18, 2016
  18. January 29, 2016
    • March 19, 2016
  19. February 3, 2016
    • February 4, 2016
  20. February 11, 2016
    • February 16, 2016
  21. March 15, 2016
    • March 17, 2016
  22. March 16, 2016
    • March 17, 2016
  23. April 12, 2016
  24. June 29, 2016
    • June 30, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *