Tradisi Lebaran Di Kampung Halaman

Postingan ini untuk meramaikan program PostBar komunitas Travel Bloggers Indonesia

dengan tema #Mudik #Pulang #Lebaran #TentangPulang

*********************

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Secara geografis, kota ini dikelilingi oleh rangkaian pegunungan. Sementara yang terlihat dari sisi timur kampung saya adalah deretan 4 gunung yaitu Merapi, Merbabu, Andong dan Telomoyo. Sedangkan di sisi barat kampung, terlihat gunung Sindoro, Sumbing dan rangkaian perbukitan Menoreh yang gagah memanjang ke selatan. Alhamdulillah, udara disini masih relatif sejuk.

Gunung Merapi Merbabu Andong Telomoyo Magelang

kanan ke kiri: Gunung Merapi Merbabu Andong Telomoyo

Ada sekitar 250 kepala keluarga yang hidup rukun berdampingan. Mayoritas adalah petani, pegawai dan buruh. Kampung agraris. Ahh… saya sangat bersyukur ditakdirkan menjadi penduduk kampung ini.

Mengapa?

Karena disini, hidup-mati pun selalu disayangi. Literally.

Tahu kan maksud saya?

Itulah sedikit gambaran mengenai kampung saya di Magelang. Kesinilah saya akan selalu kembali pulang. Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai tradisi lebaran di kampung halaman.

********************

Ketika idul fitri tiba…

Adzan magrib sore itu menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. Tak berapa lama kemudian, gema suara takbir menggema membelah angkasa menandakan bulan Syawal telah tiba. Kampung yang tadinya sepi, mendadak menggeliat ramai. Kembang api menghiasi langit. Bocah-bocah sibuk bermain petasan sepanjang pinggir jalan depan rumah. Tawa riang mereka begitu polos. Berteriak, berlarian kesana kemari sambil menutup kupingnya. Saya hanya mengamati dari teras depan rumah, tapi sambil geregetan.

“Woi cah! Podo dolanan mercon tapi kok kupinge ditutupi. Yo percumah to Le. Dolanan petasan kan seru-serunan suara njeblug-e. Piye toh?!”

artinya:

“Woi bocah! Situ pada main petasan tapi kupingnya ditutupin. Ya percuma aja dong! Main petasan kan buat kenceng-kencengan suaranya. Gimana sih!”

Iya nggak? haha

Tradisi Idul Fitri Di Magelang

Ketika idul fitri tiba…

Sholat Ied diadakan di Masjid Arrosyad. Lokasinya berada di tengah-tengah kampung. Tua muda, laki-laki perempuan, semua berkumpul bersama. Raut wajahnya terlihat berseri-seri menyambut hari yang fitri. Jamaah putra di lantai bawah, sementara jamaah putri di lantai atas.

Usai shalat ied, tradisi rutinnya adalah bersalam-salaman dengan seluruh jamaah diiringi pukulan bedug yang bertalu-talu sambil membaca shalawat. Dimulai dengan bersalaman kepada imam & khatib lalu sambung menyambung dengan jamaah lain. Antrian salaman akan mengular panjang dari dalam masjid sampai keluar. Disinilah semua warga bisa bertemu. Yang sudah pergi merantau jauh lalu pulang mudik maupun yang masih tinggal di kampung halaman.

Jujur, bulu kuduk saya selalu merinding mengikuti acara ini. Dari jaman kecil dulu, sampai sekarang, tidak ada yang berubah. Di moment itu hanya ada senyum tulus ikhlas dari para warga kampung. Betapa indahnya kebersamaan seperti ini. Ditengah gegap gempitanya gloalisasi, kearifan lokal kampung kami masih bisa terjaga seperti ini.

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

bersalaman saling memaafkan

Ketika idul fitri tiba…

Rangkaian acara di masjid masih belum selesai. Setelah bersalam-salaman, kami semua jamaah pria lalu pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil paket makanan kenduri Idul Fitri yang sudah disiapkan oleh para ibu/istri. Biasanya setiap kepala keluarga membawa satu paket. Kami pun lalu bergegas berangkat ke masjid lagi untuk mengikuti kenduri.

Kenduri Idul Fitri Tradisi Lebaran Di Kampung Halaman

Kenduri Idul Fitri

Semua duduk bersila di serambi masjid saling berhadapan. Acara dimulai dengan laporan singkat pertanggungjawaban takmir masjid, panitia zakat fitrah dan panitia zakat mal. Lalu dilanjutkan dengan doa tahlil bersama-sama dipimpin oleh mbah kyai sesepuh kampung.

Usai tahlil, acara makan-makan pun dimulai. Suasana menjadi riuh rendah. Masing-masing berlomba menawarkan masakannya kepada jamaah yang lain. Menu khas yang biasanya dihidangkan adalah ketupat dan lontong yang disajikan dengan opor ayam/bebek/menthok, mangut ikan gurame/nila/lele, rendang, sambal goreng ati-ampela, sambel goreng krecek, kering kentang, abon, dan berbagai menu khas lebaran lainnya.

Uniknya acara kenduri idul fitri ini adalah kami akan saling bertukar masakan. Jadi, saya akan makan masakan para tetangga. Dan masakan yang saya bawa pun akan dimakan oleh para tetangga/warga lain. Seru lah pokoknya! Tradisi ini turun temurun dari generasi ke generasi. Diadakan setahun 2 kali, setiap usai shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Kenduri Idul Fitri Di Magelang

makaaaan !!

Ketika idul fitri tiba…

Acara kenduri di Masjid biasanya selesai sekitar pukul 9 pagi. Semua warga pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap saling kunjung silaturahmi. Namun sebelum keliling kampung, biasanya setiap keluarga akan melakukan ujung/sungkeman dengan anggota keluarga inti. Biasanya keluarga besar saya berkumpul di rumah simbah. Namun karena mbah kakung & mbah putri sudah meninggal, maka paklik, bulik dan saudara-saudar sepupu akan berkumpul dirumah saya karena Bapak sebagai kakak tertua. Biasanya moment ini akan diwarnai dengan mewek berjamaah, terharu. Rasanya campur aduk. Sedih karena teringat ketika mbah kakung & mbah putri masih ada dulu. Senang karena masih dikaruniai umur & kesehatan sehingga keluarga besar kami masih bisa berkumpul lengkap. Lega karena masih bisa saling memaafkan dan kembali bersih dari khilaf.

*mendadak melow*

Jangan heran ya, sudah menjadi tradisi lebaran di kampung halaman saya, semua rumah didatangi. Tidak pandang itu tua/muda yang penting silaturahmi. Jadi taruhlah ada sekitar 200 rumah, ya semua akan dimasuki meski hanya masuk untuk bersalaman, lalu keluar pindah ke rumah-rumah di sebelahnya.

Eh tau nggak? dalam sehari itu saya bisa bersalaman dengan orang-orang yang sama sampai minimal 6 kali…
Ketika pagi ketemu di masjid sebelum shalat ied
Ketika usai khotbah shalat ied di masjid, salaman dengan semua jamaah
Ketika akan mulai kenduri idul fitri di serambi masjid
Ketika saya berkunjung di rumahnya
Ketika di jalan putar-putar kampung silaturahmi
Ketika orang-orang tersebut gantian berkunjung ke rumah saya

Kebayang kan gimana “hangatnya” suasana idul fitri di kampung halaman saya di Magelang? Benar-benar masih tradisional dan “ndeso” hahaha. Tapi disitulah serunya. Kebersamaan lebaran sangat terasa. Biasanya ramainya perayaan idul fitri baru akan selesai pada tanggal 13 Syawal, ditutup dengan pengajian syawalan rutin di Masjid.

Nah, begitulah ceritaku. Lalu bagaimana cerita tradisi lebaran di kampung halamanmu?

Gunung Sumbing dan Sindoro

view dari balkon kamar saya, after sunset Gunung Sumbing & Sindoro

 

45 Comments
  1. August 11, 2014
    • August 11, 2014
      • August 11, 2014
        • August 11, 2014
          • August 11, 2014
  2. August 11, 2014
    • August 11, 2014
  3. August 11, 2014
    • August 11, 2014
  4. August 11, 2014
    • August 11, 2014
  5. August 11, 2014
    • August 12, 2014
  6. August 11, 2014
    • August 12, 2014
      • August 12, 2014
    • August 12, 2014
  7. August 12, 2014
    • August 12, 2014
  8. August 12, 2014
    • August 12, 2014
  9. August 12, 2014
    • August 12, 2014
  10. August 12, 2014
    • August 12, 2014
  11. August 13, 2014
    • August 14, 2014
  12. August 14, 2014
    • August 14, 2014
  13. August 15, 2014
    • August 15, 2014
  14. August 20, 2014
    • August 21, 2014
  15. August 28, 2014
    • August 28, 2014
      • August 28, 2014
  16. September 3, 2014
    • September 4, 2014
  17. September 4, 2014
    • September 4, 2014
  18. January 16, 2015
    • January 16, 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*