Sensasi Dubai Desert Safari

Sunset Padang Pasir Dubai - Dubai Desert Safari

Sunset Padang Pasir Dubai

Sabtu sore lepas waktu ashar, saya sudah nongkrong di depan sebuah supermarket di kawasan Burjuman, Dubai. Sendirian. Kaya orang hilang. Celingak-celinguk kanan kiri nggak ada yang kenal. Saya berlindung dibalik kacamata hitam andalan. Cuek.

Lokasi ini ditentukan menjadi meeting point bagi para peserta tour desert safari. Ya, sore itu saya berencana mengikuti Dubai Desert Safari setelah hampir dua minggu berada disana. Penasaran, sebenarnya ada apa sih di tengah gurun pasir sana?

Saya membeli paket Dubai Desert Safari melalui situs Gr*up*n karena rasanya lebih murah dan praktis jika dibandingkan dengan membeli langsung dari travel agen. Satu paket trip desert safari saya tebus dengan 82 dirham atau sekitar Rp. 280.000,-. Ketika membeli paket wisata ini, terus terang saya sempat kebingungan karena ada begitu banyak travel agen yang menawarkan paket wisata desert safari di situs ini dengan selisih harga yang tipis. Sementara saya juga belum tahu bagaimana reputasi masing-masing travel agent ini. Jadi random sajalah. Entah bagaimana servisnya nanti, yang penting enjoy saja.

Tidak lama menunggu, sebuah mini van berhenti di area parkir. Tiba-tiba sang supir turun dan berteriak lantang.

“Fahmi, Indonesia… Fahmi, Indonesia… Phoenix Tours”

Saya yang sedang melamun, kaget bukan kepalang! Kok saya terkenal disini nama saya dipanggil-panggil?

Ternyata dialah supir penjemput dari travel agen yang vouchernya sudah saya beli secara online. Setelah print out tiket desert safari diperiksa, saya diminta naik ke mini van. Sudah ada tiga orang ibu-ibu dari Belanda dan sepasang suami-istri dari India yang sepertinya sedang menikmati bulan madu. Lha tangannya pegangan terus. #baper

Padang Pasir Dubai

Padang Pasir Dubai

Kami berenam lalu dibawa menuju luar kota Dubai. Gedung-gedung pencakar langit yang tadinya berdiri di sisi kiri-kanan jalan, kini sudah terlihat mengecil nun jauh disana. Bahkan Burj Khalifa, menara tertinggi di dunia pun sudah tak kelihatan lagi puncaknya. Hanya hamparan gurun pasir coklat kemerahan nan luas. Kami semua hanya bisa pasrah dibawa ke daerah antah berantah. Sepertinya sudah di perbatasan dengan daerah Sharjah.

Ya gimana nggak cuma bisa pasrah. Nggak lucu kan kalau tba-tiba kami diturunkan di tengah padang pasir lalu ditinggal pergi begitu saja sama supirnya? Atau ternyata kami diculik dan diserahkan kepada kabilah pedagang untuk dijadikan budak belian? Who knows!

~~Haha oke Fahmi, stop it! Itu hanya imajinasi liarmu!~~

Tapi baru saja saya mau menata hati untuk berbaik sangka, ternyata ketakutan saya itu benar-benar kejadian. Setelah sekitar 45 menit perjalanan, mobil yang tadinya melaju kencang lalu perlahan mengurangi laju kecepatannya, kemudian berhenti di pinggir jalan raya yang sepi di tengah hamparan padang pasir yang sunyi.

Kami semua benar-benar diminta turun!

Hati saya berdegup kencang. Kami berenam hanya saling berpandangan tanpa bisa berkata-kata…

“Somebody will pick you up, just wait here.” Katanya dengan santai. Raut mukanya dingin. Mobil yang tadi kami naiki pun berlalu begitu saja. Melesat dengan cepat.

Ebuset! Travel agen macam apa ini?! Tiba-tiba ditinggalin. Saya dengar tiga ibu-ibu yang berasal dari Belanda pun ngomel-ngomel nggak jelas.

Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil 4WD menghampiri kami berenam yang sedang terlihat seperti monyet nyasar, bengong di padang gurun. Supirnya lain lagi. Seorang bapak berwajah Pakistan berbadan tambun menghapiri kami dan mempersilakan naik.

“Are you ready for the desert safari?” nada suaranya terdengar berat.

Kami pun kompak hanya tersenyum meringis. Antara lega dan bingung.

“Fasten your seatbelt!”

Dibawah langit jingga menjelang senja, kami memulai petualangan ini. Pak gendut menaikkan tombol volume musik. Lantunan lagu clubbing berirama Arab pun menghentak membahana di dalam kabin. Kemudian dia mulai menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil kami menari-nari diatas licinnya pasir yang berdesir. Menabrak gundukan pasir, menuruni lembah dengan kecepatan tinggi, banting kanan, ngepot kiri. Adrenalin mengalir deras, perut kami seperti diperas.

Sedang asyik-asyiknya kami berteriak-teriak, tiba-tiba pak gendut memperlambat laju mobilnya. Kemudian berhenti di depan sebuah tenda super besar yang penuh dengan turis lain. Dia tak berkata sedikitpun. Hanya memandang kami berlima, seolah itu kode untuk segera turun dari mobilnya. Raut mukanya datar.

“Finish?” Tanya saya polos.

“Yes.” Jawabnya singkat, padat, jelas.

“Yah pak, kentang banget nih! Lagi seru-serunya kita kebut-kebutan di padang pasir, eh udah kelar aja. Belum juga tiga puluh menit. Masa udah kelar? Kan kita udah bayar. Gimana sih?” kata saya dalam hati sambil turun dari mobil. Iya, cuma membatin saja haha.

Antrian Naik Unta Dubai Desert Safari

Daripada antri panjang buat naik unta, mending antri naik hatimu | #pret

Selfie Unta Dubai Desert Safari

Selfie bareng unta: done!

Sand Art Dubai Desert Safari

Sand Art

Kami berenam pun turun. Ada semacam camp semi permanen di tengah gurun pasir ini. Suasana disana sudah ramai, ada banyak pengunjung lainnya. Sepertinya gabungan dari berbagai travel agen. Disediakan beragam fasilitas hiburan lainnya seperti berkeliling naik unta, main ATV dan berfoto pakai baju tradisional Arab. Sebenarnya saya penasaran bagaimana rasanya naik unta. Tapi karena antriannya super panjang dan saya malas antri, jadinya saya pilih untuk…. selfie saja dengan unta!

Meskipun agak drama awalnya, tapi ternyata ada juga asyiknya mengikuti tour ini. Kita dipersilakan minum soft drink sepuasanya. Sampai kembung pun. Tapi hanya boleh diminum disana, tidak bisa dibawa pulang. Yakali bisa dibawa pulang, kan lumayan buat dijual lagi. *malah bakulan*

Usai shalat magrib, pengunjung dipersilakan untuk makan malam. Tersedia beragam hidangan khas Arab, Lebanon dan India. Ya kalau makanan khas Arab & India, saya masih bisa memakannya karena rasanya masih bisa diterima lidah ndeso saya. Tapi kalau makanan khas Libanon, saya menyerah! Ada Tabouleh, Fattoush, dan lain-lain. Undescribeable rasanya hahaha.

Aneka Makanan Khas Lebanon

Aneka Makanan Khas Lebanon

Panggung Pertunjukan Dubai Desert Safari

Camp Dubai Desert Safari

Jeep Hummer Dubai Desert Safari

Disini mobil ganteng begini cuma buat kebut-kebutan di padang pasir. Hfft.

Oh iya, ada kejadian absurd nih ketika mengikuti rangkaian desert safari ini. Absurd banget menurut saya.

Ketika peserta tour mulai makan malam, panggung hiburan yang berada di tengah camp pun dimulai. Irama padang pasir menghentak semarak.

Tiba-tiba terdengar suara dari pelantang.

“Welcome to Dubai, Jamaah Umroh from Arm*na R*ka Indonesia.

Serombongan besar jamaah umroh dari Indonesia datang memasuki arena. Mereka lalu menepati meja-meja yang sudah dipersiapkan oleh penyelenggara. Kebanyakan masih mengenakan baju batik seragam.

Setelah puppet show dan Tanura Arabic dance, pertunjukan dilanjutkan dengan belly dance atau tari perut khas Arab yang dibawakan oleh mbak-mbak cantik nan gemulai. Meski badannya agak berisi, namun tetap lincah menari. Sontak semua gadget terangkat. Kamera-kamera merekam dengan beringas. Termasuk bapak-bapak jamaah umrah dari negara kita yang baru saja hadir. Kebetulan saya berdiri di belakang area meja mereka. Seorang bapak yang masih mengenakan kupluk dan batik seragam umrah tournya tampak kegirangan dan melongo di bawah panggung sambil terus merekam menggunakan gawainya.

Tiba-tiba…

PLAKKKK!!

“Pak! Istighfar!” seorang ibu setengah baya memukul punggung bapak itu dari belakang. Lebih tepatnya “menggablok”, karena lumayan keras. Sang ibu memasang raut muka masam. Cemberut.

Sang bapak kaget bukan main. Terlihat malu ketika menyapu pandangan diantara jamaah lainnya. Mungkin berharap tidak ada yang melihatnya. Padahal orang-orang yang berada di sekitarnya jelas-jelas melihat kejadian itu.

Saya tertawa geli melihatnya. Bagaimana tidak? Pulang umroh mampir Dubai, Eh! Disuguhi tari perut oleh wanita yang busananya setengah terbuka. Jelas-jelas bukan mahramnya pula. Hahaha. Duh… paket umroh yang aneh…

Ya beginilah kira-kira gambaran tour Dubai Desert Safari pada umumnya. Salah satu pilihan kegiatan wisata menarik di Dubai. Bagian paling seru adalah ketika kebut-kebutan di pasir dan belly dance. Udah itu saja. Terlalu banyak orang, terlalu ramai, jadi membuat saya merasa kurang nyaman. Akan lebih seru kalau menikmati paket private tour Dubai Desert Safari yang overnight atau menginap di tenda sambil bakar-bakar BBQ. Tapi ya itu, tentu harganya lebih mahal.

Dan malam sudah semakin larut. Kami pun mulai beringsut. Meninggalkan padang pasir, kembali menuju Dubai yang pusat keramaianya tak pernah berhenti berdenyut.

 

34 Comments
  1. April 26, 2016
    • April 26, 2016
  2. April 26, 2016
    • April 26, 2016
  3. April 26, 2016
  4. April 27, 2016
    • April 27, 2016
  5. April 27, 2016
    • April 28, 2016
  6. May 1, 2016
    • May 2, 2016
  7. May 2, 2016
    • May 2, 2016
  8. May 15, 2016
  9. May 16, 2016
    • May 18, 2016
  10. May 25, 2016
    • May 25, 2016
  11. June 2, 2016
    • June 3, 2016
  12. June 3, 2016
    • June 4, 2016
  13. June 21, 2016
    • June 22, 2016
  14. June 22, 2016
    • June 23, 2016
  15. June 24, 2016
    • June 30, 2016
  16. June 29, 2016
  17. October 17, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*