Semangkuk Asa Serabi Ambarawa

Wisata Kuliner Semarang Serabi Kuah Santan Ambarawa

Serabi Ambarawa

Mendung menggelayut di langit selatan. Jika membaca tanda alam, sepertinya dalam perjalanan pulang kali ini saya akan menemui hujan. Saya mempersiapkan jas hujan untuk berjaga-jaga.  Semarang – Magelang PP sudah menjadi rute mingguan menjelang akhir pekan. Beginilah nasib menjadi buruh korporat di tanah rantau. Berusaha menikmati segala kondisi meski harus terpisah jarak dan waktu dengan anak istri.

Pulang ke rumah selalu menjadi momen yang saya tunggu. Awalnya saya sempat mengeluh menempuh perjalanan darat bolak-balik Magelang – Semarang. Tapi lama kelamaan, kebal juga. Angap saja ini touring. Menaiki gunung, melewati lembah, menelusup diantara rangkaian truk gandeng dan bernafaskan karbon monoksida dari sisa pembuangannya. Hal biasa. Lagian, saya jadi bisa explore banyak hal. Salah satunya, wisata kuliner.

GAPURA DESA SENENG NGAMPIN AMBARAWA

Wisata Kuliner Semarang Serabi Ambarawa

Deretan penjual serabi Ambarawa

Seperti siang itu. Ketika melewati kawasan desa Ngampin Ambarawa Kabupaten Semarang, saya melihat deretan lapak penjual serabi berjajar rapi. Puluhan jumlahnya. Dan saya baru tersadar bahwa sekian lama saya melewati rute ini, selama itu pula saya belum pernah mencicipi sama sekali.

Saya pun menepi, berhenti di depan sebuah lapak kosong yang sedang sepi pembeli. Entah warung serabi mana yang enak karena semua terlihat sama. Jadi ya random saja. Seorang ibu duduk dibalik tenong berbentuk kerucut tempat serabi. Guratan di wajahnya membuat saya langsung berusaha menerka berapa usianya. Sudah lebih dari setengah baya. Wajahnya berbinar melihat kedatangan saya.

“Monggo pinarak mas.” Ibu itu mempersilakan saya duduk di lapaknya, sembari mengibaskan kain lap untuk membersihkan debu jalanan yang menempel di tikar.

“Nggih bu. Nyuwun setunggal mangkok.” Saya duduk bersandar sambil menyeka keringat yang bercucuran. Mendung yang menggelayut menebarkan hawa pengap di bumi.

Ibu itu lalu menyodorkan semangkuk serabi hangat yang baru saja dibuat.

“Kalau kuahnya kurang, boleh minta lagi. Gratis!” timpalnya sembari mengulas senyum.

Di mangkuk itu ada lima buah serabi berwarna putih dengan bulatan hijau di tengahnya. Setengah mengambang diatas kuah santan cair berwana coklat dari gula aren. Aromanya wangi, khas masakan Jawa. Satu suap masuk mulut, serabi Ngampin Ambarawa ini ternyata begitu lembut. Perpaduan rasa gurih serabi dan manisnya kuah santan beraroma pandan menggoyang indera perasa saya. Perut yang mulai keroncongan sepanjang perjalanan tadi pun mulai berdamai. Tidak meronta-ronta lagi.

“Kados pundi Mas? Remen mboten?” tanya si ibu membuka obrolan sambil membetulkan letak kayu bakar di tungkunya agar apinya terjaga.

“Eco kok bu, saestu.” Saya tidak sedang basa-basi karena serabinya memang enak.

Promo Hotel di Semarang

PENJUAL SERABI AMBARAWA

Tungku Serabi Ambarawa

SERABI AMBARAWA

Tanpa sadar, kami pun terlibat obrolan seru siang itu. Namanya Bu Sukarti, beliau adalah generasi kedua dalam keluarganya yang menjadi penjual serabi di Ngampin Ambarawa ini. Konon, ini semua berawal dari tradisi serabian dalam menyambut datangnya bulan Sya’ban di kampungnya. Lalu beberapa orang mulai menjual serabi di pinggir jalan raya. Lama-kelamaan berkembang menjadi puluhan, bahkan mungkin sekarang ada hampir seratusan penjual serabi yang tergabung dalam paguyuban.

Asyik mengobrol tentang sejarah serabi Ambarawa, ternyata saya sampai pada suapan terakhir. Satu mangkok pertama ludes tak bersisa.

“Bu, nyuwun setunggal mangkok malih.” Pinta saya tanpa malu-malu.

Dengan sigap beliau membuatkan saya satu mangkok lagi serabi hangat. Ini saya doyan, lapar atau maruk sih? Haha apapun itu, niat saya “nglarisi”. Lha kalau bukan kita sebagai pengguna jalan yang membeli serabi, lalu siapa lagi. Coba sekali waktu berjalan pelan deh kalau lewat daerah ini. Perhatikan wajah-wajah penuh harap mereka ketika menatap setiap pengguna jalan yang melintas. Berharap ada yang mau mampir sejenak di lapak mereka hanya untuk sekedar mencicipi serabi kuah santan buatannya yang sebenarnya harganya juga tak seberapa. Sangat mudah untuk membuat orang lain bahagia.

“Jaman dulu jalanan sini masih sepi mas, yang lewat kebanyakan sepeda onthel. Sekarang ramai karena jadi jalan utama penghubung Semarang – Jogja.” Beliau melanjutkan bercerita, sementara saya asyik menikmati mangkuk serabi kedua.

“Saya ini kan cuma pedagang kecil mas. Jualan serabi ini untungnya berapa to? Kan nggak seberapa. Asal bisa untuk hidup sehari-hari saja, anak-anak bisa makan dan tetap sekolah.”

Deg! Saya tersentak. Beginilah perjuangan orang tua dalam mencari nafkah bagi anak-anaknya. Begitupun saya yang baru saja diamanahi menjadi orang tua.

“Kalau serabinya nggak habis bagaimana bu?” Tanya saya penasaran.

“Ya bagaimana lagi, kadang dikasih ke orang, kadang dibuang. Bagaimanapun kondisinya ibu terus berusaha bersyukur. Alhamdulilah masih diberi kesempatan hidup dan berkarya sama yang Maha Kuasa. Rejeki sudah ada yang atur, manusia hanya wajib ikhtiar… berusaha.”

Saya menghela nafas panjang. Campur aduk perasaan saya kala itu. sejenak termenung mendengarkan curhatan si ibu. Curhat sekaligus nasihat dan pengingat bagi saya. Dengan segala kondisi yang ada, namun beliau memiliki jiwa besar untuk menjalani kehidupan. Saya jadi malu sendiri. Sudah diberikan beragam nikmat olehNYA namun masih saja terkadang mengeluh. Bu Sukarti menyadarkan saya untuk selalu bersyukur. Siang itu, saya menemukan semangkuk asa dalam serabi Ambarawa.

 

30 Comments
  1. May 25, 2016
    • May 25, 2016
  2. May 25, 2016
    • May 25, 2016
  3. May 25, 2016
    • May 25, 2016
  4. May 25, 2016
    • May 25, 2016
  5. May 26, 2016
  6. May 26, 2016
    • May 31, 2016
  7. May 27, 2016
    • May 31, 2016
  8. May 28, 2016
    • June 3, 2016
  9. June 2, 2016
    • June 3, 2016
  10. June 7, 2016
  11. June 12, 2016
    • June 12, 2016
  12. June 18, 2016
  13. August 2, 2016
  14. August 25, 2016
    • August 26, 2016
  15. October 17, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*