Sejenak Di Museum Masjid Agung Demak

Makam Raden Patah Raja Kerajaan Demak Bintara

Entah sudah berapa kali saya menginjakkan kaki di Masjid Agung Demak ini. Sejak kecil, saya sudah sering berkunjung kesini. Baik ketika dalam rangka acara keluarga kemudian mampir, jalan-jalan nggak jelas bersama teman-teman, ataupun ketika ikut dalam rombongan ziarah Walisongo. Namun rasanya, selama ini belum pernah saya duduk lama sambil menikmati suasana kompleks Masjid Agung Demak yang bersejarah itu.

Hingga suatu ketika, saya berkesempatan untuk kembali berkunjung ke Demak…

Menara Masjid Agung Demak
Menara Masjid Agung Demak

Hari sudah hampir larut malam. Badan rasanya capai, ingin segera merebahkan diri di kasur kamar. Namun apa daya, perjalanan saya masih jauh dari rumah. Saya dan kasur kesayangan di rumah terpisah jarak lebih dari 100Km. Malam itu saya terdampar di Masjid Agung Demak. Diantara lamunan di serambi, hati ini larut dalam suasana malam hari yang sunyi. Entah mengapa malam itu tidak seramai biasanya. Tak tampak puluhan bus rombongan peziarah yang biasanya berjajar di areal depan masjid. Begitu sepi.

Sedikit mengingat pelajaran sejarah, masjid yang terletak di sisi barat alun-alun kota Demak Jawa Tengah ini menurut catatan sejarah dibangun sekitar abad ke 15, pada masa Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Beliau bersama para Walisongo dan masyarakat bergotong royong mendirikan masjid ini. Yang khas dari Masjid Agung Demak adalah empat buah tiang utama penyangga atap, yang disebut saka guru. Ukuran tiang utama ini sangat besar, padahal 3 diantaranya konon terbuat dari satu batang pohon jati utuh. Wow!. Sementara satu tiang lagi disebut saka tatal. Disebut demikian karena konon Sunan Kalijaga membuatnya dari kumpulan ranting-ranting dan serpihan kayu yang disatukan menjadi sebuah tiang utama. Subhanallah.

Tumpukan Saka Guru Museum Masjid Agung Demak
Tumpukan Saka Guru Museum Masjid Agung Demak

Museum Masjid Agung Demak

Di sisi utara kompleks masjid, terdapat sebuah museum kecil yang berisi koleksi artefak dari jaman Kesultanan Demak dan bagian-bagian asli dari Masjid Agung Demak yang sudah rusak dimakan usia. Tak terlihat ada penjaga ketika saya masuk ke museum. Dengan seksama saya amati benda-benda kuno yang disimpan disini. Ada 2 buah tempayan besar/ gentong tempat air dari jaman Dinasti Ming, kentongan kayu, bedug, miniatur masjid, kitab suci Al Quran kuno tulisan tangan, lampu-lampu hias kuno dan beberapa pernak-pernik bersejarah lain. Namun diantara kesemua itu, yang paling menonjol adalah tumpukan kayu gelondongan yang disimpan di sebuah ruangan berjeruji besi. Gelondongan kayu-kayu tua tersebut merupakan sisa-sisa tiang utama/saka guru Masjid Agung Demak kala itu, peninggalan Sunan Bonang, Sunan Gunungjati, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Epic!

Atap Masjid Agung Demak
Sisa Atap Kayu Masjid Agung Demak

Daftar Hotel Murah Di Semarang

Udara panas khas Demak seakan tak terasa lagi ketika saya berjalan semakin kedalam. Saya mendapati sebuah kompleks makam yang mempesona. Bersih, rapi dan tenang. Puluhan nisan pualam berjajar rapi. Ukuran dan bentuknya tidak sama. Ada yang sangat panjang, ada pula yang pendek. Pagar-pagar besi mengelilingi nisan-nisan tersebut. Sebuah bangunan kecil dari kayu, atau yang biasa disebut cungkup berada di tengah area makam. Temaram lampu seolah menambah sunyi suasana. Hanya beberapa orang yang terlihat sedang asyik membaca surat Yaasin dan Tahlil.

Saya tertegun sejenak…

Kaki ini mendadak lemas. Saya terduduk di atas lantai keramik yang dingin, tak jauh dari sebuah nisan yang sangat panjang. Melihat makam-makam ini, saya langsung teringat akan kematian. Sebuah hal yang pasti akan dialami oleh semua makhluk yang hidup. Begitu juga dengan saya. Entah kapan, dimana, bagaimana. Wallahua’lam. Semoga kita diberikan khusnul khatimah. Aamiin.

Ternyata, ini adalah kompleks makam keluarga Kesultanan Demak. Terlihat dari tulisan-tulisan yang tertempel di nisan, ada makam Raden Patah yang menjadi raja pertama Kesultanan Demak. Disampingnya, makam Raden Patiunus, sultan kedua yang terkenal dengan ketangguhan armada perang angkatan lautnya yang dengan gagah berani berlayar hingga ke Melaka menyerang Portugis kala itu.

Saya begitu asyik mengamati makam-makam itu. Pikiran saya kembali terbang ke mata pelajaran sejarah saat SMP dulu. Betapa beruntungnya saya dapat “bertemu” dengan para tokoh awal yang menjadi penyebar ajaran islam di tanah Jawa.

Makam Raden Patiunus Kerajaan Demak Bintara
Makam Raden Patiunus – Kesultanan Demak Bintara

Sebenarnya, Museum Masjid Agung Demak masih menyisakan banyak tanya dalam benak. Namun apa daya, malam semakin pekat, dan perjalanan pulang saya tak bisa diperlambat…

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
25 Responses
  1. Saya mengapresiasi pihak pengelola (takmir) masjid Agung Demak yang bersedia “mendokumentasikan” benda-benda bersejarah seperti tiang dan atap. Akhir-akhir ini saya khawatir, benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan agama terancam “disingkirkan” karena beberapa orang beranggapan benda-benda tersebut rawan dikultuskan.

    1. fahmianhar

      semoga benda-benda bersejarah sisa masjid agung demak kuno jaman walisongo ini tetap aman & terawat namun juga tidak dikultuskan oleh orang-orang musyrik. sehingga bisa dijadikan objek belajar sejarah bagi generasi penerus kita:)

  2. mitos tentang para sunan yang membangun masjid ini adalah salah satu yang membuat saya selalu ingat dengan masjid demak

    kapan ya bisa berkunjung bareng bareng teman ke sana 🙂

    1. fahmianhar

      itu bukan hanya mitos mas, tapi memang sejarahnya begitu. semoga bisa segera berkunjung ke masjid agung demak 🙂

  3. Seumur-umur baru sekali pernah singgah di sana, itupun waktu masih imut-imut ikut rombongan ziarah masjid sebelah. Semoga nanti ada kesempatan lagi utk ke sana^^

    1. fahmianhar

      udah bolak balik mampir menara kudus pul, sampe jajan sate kerbau di utara masjid itu segala. kamu masih di kudus sekarang?

  4. Menarik nihhh *endus bau Museum* hehehe
    Penasaran pingin lihat pintu yang konon menyimpan petir yang diambil Ki Ageng Sela. Btw saka guru dan sirap-nya diletakkan di ruang terbuka atau terlindung di dalam lemari kaca, Mi?

    1. fahmianhar

      ah iya itu, pintu bledeg ki ageng selo yang legendaris !! saka guru & sirap nya ditaruh di sebuah ruangan yang hanya dilindungi teralis besi tanpa kaca. jadi kita bisa lihat langsung tumpukan kayu kuno itu

  5. Dulu waktu masih SMP sering kali ke masjid agung, karena kebetulan SMP masih diwilayah Alun-alun. Dulu belum ada musium itu, barang2 peninggalan hanya disimpan disebuah ruangan. Sekarang sudah dibangun musium baru. Sudah lama tak singgah disitu karena jarang pulang ke demak 🙂

    Nice post:)

    1. fahmianhar

      sekarang sedang merantau dimana mas? semoga segera bisa mudik & nostalgia di masjid agung demak 🙂

    1. fahmianhar

      ah firsta mah diajak kemana-mana mau hahaha, ayo kalau mau ikut ke Demak, masih masuk area visit ku tiap bulan kok 🙂

  6. ainun

    Pertama kali kesini pas masih SD dan nggak ngerti sejarahnya. Kedua kalinya cuman numpang lewat pas mau ke Jepara. Niat pengen ke sini lagi, keturutan pas ya itu tadi numpang lewat aja

    1. fahmianhar

      seru ya kalau bisa jalan2 “tour de masjid” yang bersejarah di tanah jawa ini. pengen ah kapan2 🙂

  7. Aku tak pernah ke Demak tapi masjid ni memang sangat terkenal. Pernah juga aku dengar tapi tak tahu pasal sejarahnya 🙂

Leave a Reply