Parade Sejuta Bunga Kota Magelang

Kontingen SMP N 3 Magelang Parade Sejuta Bunga

Kontingen SMP N 3 Magelang

Ribuan warga magelang tumpah ruah memenuhi jalan-jalan utama pada Mingu, 15 Juli 2012. Sejak pukul 12.00 masyarakat sudah berjubel di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Jl Pemuda, Jl Tidar dan Jl Tentara Pelajar. Peluh berjatuhan seiring sengatan matahari yang begitu terik siang itu. Namun masyarakat masih tetap semangat menanti para peserta parade. Pukul 13.00 peserta parade mulai diberangkatkan dari kompleks lapangan Rindam. Lebih kurang seratusan peserta parade yang terdiri dari mobil hias perwakilan instansi pemerintahan dan swasta, sekolah-sekolah di Magelang dan group kesenian mulai bergerak menuju panggung kehormatan di alun-alun timur. Disana sudah menunggu Bp Walikota, Wakil Walikota, jajaran Muspida, dan para tamu undangan lainnya.

Panggung Kehormatan Parade Sejuta Bunga

Panggung Kehormatan Parade Sejuta Bunga

Event ini pada awalnya adalah hajatan pribadi sebuah Toko Emas yang berencana akan mengundi kupon hadiah tahunan para pelanggan toko. Namun karena event ini seiring sejalan dengan misi dan tagline baru Magelang, yaitu Kota Sejuta Bunga, maka event ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak pemerintah kota yang juga ingin mensosialisasikan gerakan “Magelang Sejuta Bunga” kepada masyarakat secara langsung melalui parade ini.

Kontingen SMP N 2 Magelang di Parade Sejuta Bunga

Kontingen SMP N 2 Magelang

Dimeriahkan juga oleh 5 Putri Indonesia yang datang jauh-jauh dari Jakarta. Mereka duduk cantik diatas mobil hias sambil terus tersenyum kepada masyarakat yang setia menunggu. Lambaian tangan khas ajang beauty pageant sepertinya sudah menjadi trademark para putri ini (ala² robot) #eh. Dibelakangnya diiringi mobil hias peserta lain yang tak kalah unik. Namun tak jarang ada juga mobil hias yang terkesan asal-asalan tampilannya. Maklum saja untuk membuat mobil hias seperti ini dibutuhkan biaya yang tidak sedikit dan proses pembuatan memakan waktu berhari-hari. Peserta parade group kesenian yang berjalan kaki juga tak kalah semangat meski di sinar matahari terasa sangat terik kala itu. Tapi yaaa lumayan lah, jadi hiburan gratis untuk masyarakat luas.

Mobil Hias SMK N 3 Magelang Parade Sejuta Bunga

Mobil Hias SMK N 3 Magelang

Notes: 

Event-event seperti parade, karnaval, festival atau apalah namanya, pada dasarnya memang bagus untuk menumbuhkan kreatifitas masyarakat, promosi pariwisata dan potensi daerah, memupuk jiwa seni, optimalisasi kegiatan ekonomi masyarakat kecil dan tentunya merupakan salah satu upaya melestarikan budaya dan tradisi yang ada. Namun, apabila dalam pelaksanaanya ternyata “pesan moral” yang ingin disampaikan tidak tersampaikan dan malah menimbulkan efek negatif tentu malah akan menjadi bumerang. (kok malah jadi ribet gini bahasanya ya? hehe) Gini contoh nyatanya: Pada saat acara berlangsung, ribuan orang tumpah ruah di sepanjang jalanan. Mereka menikmati parade/karnaval sambil makan snack/cemilan dan parahnya sebagian besar dari mereka membuang sampah plastik secara sembarangan di jalan. Oke fine, kalau niatnya mau campaign/sosialisasi ke masyarakat luas akan sebuah misi positif. Tapi apalah artinya jika selama acara berlangsung, masyarakat berdesakan berebut tempat terbaik untuk melihat peserta parade tanpa menghiraukan dimana mereka berdiri. Taman-taman kota, tanaman-tanaman hias nan cantik di sepanjang pinggir jalan diinjak-injak dengan tanpa merasa bersalah, dan pada akhir acara sampah berserakan dimana-mana. Ironis

Prihatin dong dengan kondisi seperti ini. Kaya hanya hura-hura sesaat & tidak banyak hal positif yang didapat masyarakat setelah event selesai digelar. Bayangkan bagaimana beratnya para petugas kebersihan yang harus menyapu jalanan agar terlihat bersih lagi sesegera mungkin. Sungguh, sebenarnya merekalah pahlawan tanpa tanda jasa. Memang tidak mudah mengatur ribuan orang yang menonton. Hanya kesadaran bersama dari masyarakat akan kecintaan pada lingkungan sekitar yang bisa merubah situasi yang selalu berulang ini.

Postingan dalam “notes” ini tidak ditujukan kepada pihak manapun, karena kondisi seperti ini terjadi dimanapun di kota-kota tempat berlangsungnya sebuah event. I’m not blaming. Hanya sebentuk kegelisahan rakyat kecil yang mencoba peduli lingkungan sekitar.

One Response
  1. February 26, 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*