Observasi #WonderfulEclipse Dan Shalat Gerhana Matahari Di Masjid Agung Jawa Tengah

“Krriiiiiiing”

Alarm gawai saya berbunyi di pagi buta. Angka di layar menunjukkan pukul 4 pagi. Waktu dimana kebanyakan orang sedang tidur pada level ternyenyaknya. Kelopak mata masih lengket satu sama lain. Beranjak dari kasur pagi itu terasa jauh lebih berat daripada ketika harus move on dari mantan.

Hari itu Rabu, 9 Maret 2016, bukan hari libur nasional biasa. Karena selain menjadi perayaan hari raya Nyepi, namun juga karena akan terjadi fenomena alam gerhana matahari total di sebagian wilayah nusantara seperti di Ternate, Palu, Palangkaraya, Palembang, dll. Sementara di wilayah lain akan terlihat gerhana matahari sebagian. Sebuah fenomena langka dimana garis edar matahari, bulan dan bumi berada pada satu garis lurus sehingga sinar matahari tertutupi bayangan bulan untuk sesaat.

Hari masih gelap ketika saya berangkat menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Jalanan lengang, tak banyak kendaraan lalu lalang di jalan protokol Kota Semarang. Saya sengaja memilih Masjid Agung Jawa Tengah untuk menikmati fenomena ini karena selain tempatnya yang lapang menghadap arah matahari terbit, juga sekaligus ingin mengikuti shalat kusuuf berjamaah disini.

Masjid agung kebanggaan masyarat Jawa Tengah yang berada di kawasan jalan Gajah Raya, Semarang ini berdiri diatas lahan seluas 10 hektare. Perencanaan pembangunannya dimulai pada tahun 2001 namun baru diresmikan pada 14 November 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu. Arsitekturnya cukup unik karena merupakan perpaduan gaya Jawa, Arab dan Romawi. Kubah utama masjid yang bergaya limasan khas Jawa, dipadukan dengan kubah puncak bergaya Arab yang dikelilingi oleh empat menara di setiap sisinya. Sementara di pelataran masjid, terdapat 25 pilar bersambung bergaya Colosseum Romawi yang berhiaskan kaligrafi.

Kubah Masjid Agung Jawa Tengah

Kubah Masjid Agung Jawa Tengah

Jamaah Shalat Gerhana Masjid Agung Jawa Tengah

Jamaah Shalat Gerhana Matahari

Pilar Masjid Agung Jawa Tengah

Pilar Masjid Agung Jawa Tengah

Langit begitu cerah pagi itu. Hanya awan tipis yang mengambang diatas kota Semarang. Di ufuk timur sana, sang surya mulai menampakkan wajahnya. Wajah ceria karena tak lama lagi ia akan segera berpelukan dengan sang pujaan, si rembulan.

“Warga masyarakat yang baru saja hadir, mohon dapat segera menempatkan diri di halaman masjid. Mengisi shaf-shaf yang kosong karena beberapa saat lagi rangkaian acara akan segera dimulai.” Seru panitia dari pelantang suara yang membahana.

Saya yang sedari tadi (sok) sibuk mondar-mandir jepret kesana-kemari, kaget mendengar pengumuman itu. Ternyata acara akan segera dimulai. Dengan setengah berlari saya menuju pelataran masjid mencari tempat yang pas untuk observasi sekaligus shalat berjamaah. Tak berapa lama kemudian, pelataran Masjid Agung Jawa Tengah sudah dipenuhi oleh puluhan ribu jamaah. Lantunan tasbih dan tahmid menggema memecah kesunyian pagi. Saya merinding.

“Sudah dapat foto gerhananya?” tiba-tiba seorang bapak berusia setengah baya yang duduk bersila di samping saya bertanya sembari menunjuk layar kamera.

“Hehe belum pak, nanti kalau proses gerhananya semakin penuh saya coba foto lagi.”

Siswa SMK N Jawa Tengah

Siswa SMK N Jawa Tengah

Usai Shalat Gerhana Matahari di Masjid Agung Jawa Tengah

Ribuan Jamaah Memadati Pelataran Masjid Agung Jawa Tengah

Terdengar lagi pengumuman dari panitia.

“Hadirin yang terhormat, saat ini kita masih menunggu kedatangan rombongan bapak Wakil Gubernur Jawa Tengah beserta tamu undangan yang lain. Sementara itu, informasi dari team pengamat astronomi, saat ini proses gerhana matahari sudah memasuki 20%. Jika ingin mengamati, silakan menggunakan kacamata khusus, jangan menatap langsung.” Panitia mewanti-wanti.

Payung hidrolik raksasa yang tadinya tertutup, lalu perlahan dibuka agar jamaah bisa melihat proses terjadinya gerhana matahari. Mendengar pengumuman itu, sontak ramai-ramai jamaah balik badan dan memakai kacamata khusus untuk melihat proses gerhana matahari. Banyak juga yang mengantre untuk melihat dari teropong khusus yang memang disediakan oleh panitia maupun pihak jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo yang turut berkontribusi dalam acara itu.

Ada yang unik dari pembukaan acara ini. Jamaah yang sudah duduk rapi bershaf-shaf tiba-tiba diminta berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama-sama. Wow! Baru kali ini saya mendapati momen spesial ini. Kalau biasanya lagu kebangsaan dinyanyikan pada saat upacara bendera, kali ini sebelum shalat gerhana. Aura nasionalisme terasa membuncah menelisik diantara para jamaah. Bulu kuduk saya kembali berdiri melihat ribuan jamaah bersarung, berpeci dan bermukena secara bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hati saya berdesir. Bangga!

Setelah acara sambutan-sambutan dari berbagai pihak (yang khas Indonesia banget itu), kami semua kemudian melakukan shalat gerhana matahari 2 rakaat. Suasana yang tadinya cerah terang benderang, mendadak meredup perlahan. Seolah sudah sore menjelang magrib. Ketika jutaan orang di luar sana sedang sibuk merayakan gegap gempita menyambut proses gerhana matahari, kami semua disini memilih bersujud kepadaNYA. Dalam keheningan pagi. Dalam selimut temaram cahaya semu mentari.

“Wasy syamsu tajrii limustaqarril lahaa, dzaalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliim. Wal qamara qaddarnaahu manazila hatta ‘ada kal ‘urjunil qadiim…”

Deg!

Tenggorokan saya seperti tercekat ketika pada rakaat kedua imam shalat kusuuf membacakan rangkaian surat Yaasin ayat 38-39 yang berarti: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. Dan telah kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.”

Menyadarkan saya bahwa ternyata semua hal dalam kehidupan ini sudah tertuang dalam kitab suci. Betapa  kecilnya kami makhlukMU ini diantara hamparan alam semesta yang tak berujung. Betapa sebenarnya kami penghuni planet bumi ini hanyalah butiran debu diantara alam semesta.

Mata saya terpejam, larut dalam kontemplasi sujud yang panjang…

Shalat Gerhana Matahari di Masjid Agung Jawa Tengah

Rombongan Wakil Gubernur dan Ulama MUI di Masjid Agung Jawa Tengah

Rombongan Wakil Gubernur & Ulama

Pejabat Dan Tamu Undangan Shalat Gerhana Masjid Agung Jawa Tengah

Kelihatan kan gerhana mataharinya pak? 😀

Panitia Shalat Gerhana Matahari Masjid Agung Jawa Tengah

Panitia shalat gerhana matahari diinterview oleh para wartawan

Usai shalat gerhana, masyarakat kembali melakukan observasi di pelataran Masjid Agung Jawa Tengah sembari mendengarkan khotbah dari khatib. Sayang, saya belum punya lensa kamera yang mumpuni untuk memotret fenomena seperti ini. Jadinya ya seadanya saja hasilnya.

Seperti inilah kami semua para warga masyarakat yang saat itu berkumpul di Masjid Agung Jawa Tengah dalam memaknai fenomena gerhana matahari sebagai salah satu tanda kekuasaanNYA. Meskipun kami warga kota Semarang belum dapat menikmati indahnya gerhana matahari total karena hanya sebagian atau sekitar 80%, namun dalam kesempatan langka ini, kami semua menikmati indahnya kebersamaan.

Salam Jateng Gayeng!

10 Comments
  1. March 24, 2016
    • March 28, 2016
    • March 31, 2016
  2. March 26, 2016
    • March 28, 2016
  3. March 28, 2016
    • March 28, 2016
  4. March 29, 2016
    • March 31, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*