Menilik Situs Purbakala Patiayam Kudus

Jalan Menuju Situs Purbakala Patiayam Kudus
Jalan Menuju Situs Purbakala Patiayam Kudus

Mobil berbelok ke kiri, meninggalkan padatnya lalu lintas jalan raya pantura Kudus-Pati, lalu memasuki sebuah jalan kampung kecil. Jalan terasa bergelombang karena sebagian besar aspalnya mulai mengelupas. Awan-awan tipis melayang diantara luasnya langit biru. Matahari bersinar begitu terik. Panas sekali siang itu. Namun hal itu tidak menghalangi keinginan kami untuk melaju terus. Menilik situs purbakala Patiayam Kudus.

Deretan pohon randu berjajar di sepanjang jalan kampung. Hembusan angin menerbangkan kapuk-kapuk lembut dari buah randu yang sudah tua. Hamparan sawah yang menghijau berpadu dengan kebun tebu yang siap panen sedikit menyejukkan mata. Dari kejauhan tampak deretan perbukitan kapur Patiayam yang masih merupakan bagian dari Gunung Muria Kudus.

Saya bersama beberapa teman rela jauh-jauh blusukan sampai ke Dusun Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus Jawa Tengah ini karena penasaran dengan situs purbakala Patiayam. Ya, kami memang memiliki ketertarikan terhadap wisata sejarah dan arkeologi. Mendengar namanya saja sudah mengundang penasaran. Situs purbakala kok namanya Patiayam. Apa karena pernah ditemukan fosil ayam? Atau apa?

Rumah Fosil Situs Purbakala Patiayam Kudus
Rumah Fosil Situs Purbakala Patiayam

Sekitar 500 meter dari jalan raya, akhirnya kami sampai di perkampungan. Mobil berhenti di samping sebuah rumah kecil yang di bagian depannya terdapat papan bertuliskan “Rumah Fosil Situs Patiayam”.

Belum juga turun dari mobil, saya bergumam:

“Yakin ini tempatnya? Kok cuma kaya pos ronda gitu?”

“Udah, kita lihat saja dulu ke dalam. Toh sudah sampai sini juga. Yuk!” ajak teman saya.

Saya dan teman-teman cukup kaget begitu masuk ke ruang utama rumah fosil Patiayam tersebut. Meskipun kecil, ternyata tersimpan harta karun purbakala yang tidak ternilai harganya. Aneka fosil hewan purba tersimpan dalam lemari kaca yang sudah mulai usang dan berdebu. Ada fosil moluska kerang-kerangan, rahang kudanil, kepala kerbau, badak, kura-kura, tanduk rusa dan banteng purba. Namun yang menjadi primadona disini adalah fosil gading gajah purba atau Stegodon trigonocephalus yang panjangnya mencapai 4 meter. Dari hasil uji karbon, diperkirakan fosil hewan-hewan purba ini hidup sekitar 1 juta tahun yang lalu di kawasan perbukitan Patiayam Kudus.

Fosil gading Stegodon Situs Purbakala Patiayam Kudus
Fosil gading Stegodon
Fosil Kerang Situs Purbakala Patiayam Kudus
Fosil kerang

Situs purbakala Patiayam Kudus ini memang tidak setenar kawasan purbakala lainnya seperti Sangiran maupun Mojokerto. Namun menurut riset arkeologi, bisa dibilang temuan fosil di Patiayam relatif lengkap karena selain fosil hewan purba, disini pernah juga ditemukan fosil manusia purba Homo erectus beserta alat-alat penunjang kehidupan manusia purba.

Oleh petugas penjaga, kami juga sempat diajak mengintip gudang rumah fosil Patiayam. Ternyata kondisinya memprihatinkan. Sisa-sisa fosil yang tidak terpajang di depan, disimpan dalam boks-boks plastik yang ditumpuk diatas rak besi. Beberapa fosil yang baru saja ditemukan oleh warga sekitar juga terserak begitu saja di lantai karena sudah tidak ada tempat untuk menyimpan. Namun menurut kabar, di kawasan ini akan segera dibangun museum oleh pihak Direktorat Jenderal Pelestarian Cagar Budaya dan Museum. Semoga segera terlaksana.

Sisa Fosil Situs Purbakala Patiayam Kudus
Sisa Fosil Situs Purbakala Patiayam Kudus

Lalu ada apa lagi di situs purbakala Patiayam?

Kami diberi tahu oleh warga dusun untuk melihat secara langsung seperti apa lokasi situs purbakala Patiayam di kawasan perbukitan belakang desa. Tak lagi menghiraukan teriknya mentari, kami berjalan kaki beriringan menuju kesana.

“Ikuti saja jalan setapak ini mas, nanti ada gapura kecil, jalan menanjak terus. Nah, ada gardu pandang diatas sana. Dekat kok dari sini.” Kata seorang warga.

Benar saja. Kami mengikuti sarannya. Tapi baru setengah jalan, sudah berasa mau pingsan!

“Kata si bapak dekat, mana? Kok nggak sampai-sampai?” teman saya mengeluh.

“Nyet, standar jauh-dekat orang lokal kan suka berbeda. Hahaha udah, ayo terus jalan!”

*pecut pakai cemeti kuda*

Gardu Pandang Situs Purbakala Patiayam Kudus
Gardu Pandang Situs Purbakala Patiayam Kudus
Lembah Situs Purbakala Patiayam Kudus
Lembah itu dulunya adalah selat kecil
Jalan Setapak Menuju Gardu Pandang Situs Purbakala Patiayam
Jalan Setapak Menuju Gardu Pandang Situs Purbakala Patiayam

Dengan agak susah payah kami akhirnya sampai di gardu pandang yang berada diatas bukit. Medan trekking sih tidak terlalu ekstrim, jalan setapak biasa. Tapi panasnya itu lho! Masyaalah.

Dibawah gardu pandang Patiayam ini terdapat sebuah situs fosil kepala banteng purba raksasa dengan tanduknya yang masih relatif utuh. Kaca penutupnya sudah kotor dan berdebu. Namun jika kita memandang jauh kedepan, terlihat jelas hamparan kontur perbukitan dan lembah yang dalam. Konon, lembah ini dulunya adalah selat kecil yang memisahkan bukit Patiayam dengan Gunung Muria. Jadi dulunya, daerah di bawah sana adalah laut. Maka wajar jika ditemukan banyak fosil moluska, kerang-kerangan & biota laut lainnya.

===================

  • Lokasi: Situs Purbakala Patiayam di desa Patiayam, Terban, Jekulo, Kudus.
  • Transportasi: lebih mudah & enak menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil atau sepeda motor.
  • Waktu: saat terbaik untuk berkunjung ke situs purbakala Patiayam adalah pagi atau sore hari.
  • Tips: Jangan lupa juga siapkan perbekalan air minum agar tidak dehidrasi.
  • Note: foto diambil pada akhir 2013

 Ayo kenali & kembangkan potensi wisata daerahmu!

Postingan ini diikutkan dalam lomba blog Visit Jawa Tengah periode II dengan tema Cagar Budaya.

Lomba Blog Visit Jawa Tengah

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
29 Responses
  1. mawi wijna

    Untuk saat ini saya berdoa semoga bangunan gudang rumah fosil Patiayam segera diremajakan supaya fosil-fosil yang ada bisa disimpan di tempat yang lebih layak.

  2. Waduh, enggak keliatan kayak museum sama sekali tempatnya 😐 Sayang sama fosilnya, kalau perawatan seadanya pasti enggak bisa bertahan lama :/

    1. kan statusnya memang belum jadi museum kak, baru rumah fosil. untuk mengumpulkan fosil temuan warga sekitar. beberapa koleksi yang bagus sudah disimpan di museum-museum besar, misalnya museum radyapustaka semarang. semoga rencana pembangunan museum disini segera terealisasi

  3. Dari berlimpahnya artefak jadi membayangkan betapa riuhnya kehidupan purba di tempat ini dulu. Bagaimana manusia Jawa Kuno berburu mencari makan dan menyantapnyq di gua-gua…

    1. sepakat! aku juga bayangin bagaimana kehidupan purba di kawasan patiayam kudus ini, pasti ramai. eh, di rumah fosil & museum yang sekarang ada ilustrasinya juga 🙂

  4. aku tuh penasaran pgn tau gmn sih par ahli itu bisa tau, benda yg ditemukan itu fosil, krn aku yg org awam ngeliatnya itu kyk batu biasa… trs, cara nentuin umur fosil udh brp ratus thn itu jg gimana, 😀 Ah, sejarah itu emg asik bgt dikulik ya mas… suka nih ama museum yg begini…bikin penasaran dan cari tau jd nya

  5. Udah jalannya jauh, salah kostum pula. Haha.
    Penasaran, sekarang gimana kondisinya situs itu ya? Kalau gak salah dulu kan katanya mau direnovasi tempatnya menjadi lebih representatif.

  6. Dian Rustya

    Sudah jalannya nanjak terus, pakenya high heels pula! #keceplosan

    Jadi penasaran sama museum yang barunya, Kapan2 mampir ah klo pas lewat daerah sana

  7. SlamSR

    Wah.. Pengetahuan baru nih. Di Kudus ada rumah fosil juga. Lebih santai denger di sangiran dan ronggowarsito.

  8. Syokkk ternyata tahun lalu separah ini Situs Patiayam e… Sekarang udah ada bangunan baru yang lebih bagus kok, Mi. Nggak sebagus Sangiran sih, tapi worthed lah buat dikunjungi dan lihat replika gajah purbanya.
    Tapi sayangnya kondisi gardu pandang e sekarang malah lebih parah daripada yang ada di gambarmu hehehe

  9. mia kamila

    hahaha…baca artikel ini lagi, tgl 5 kemaren abis posting ttg ini sih, Ini muncul versi jadulnya,, masih ada lokasi wisata lagi sih di daerah situ. Tapi……

  10. Selama iki mung ngerti Kudus sekadar Sunan Kudus, Jenang Kudus, Rokok Djarum, Gunung Muria. Alhamdulillah baca perbandingan kondisi yang dituliskan di sini sama tulisannya Yasir, bahwa ada langkah serius menyelamatkan situs purbakala ini 🙂

    1. sepakat! karena situs patiayam kudus ini potensial banget untuk penelitian arkeologi. sampai sekarang pun masih ditemukan fosil-fosil, kalau di ekslore lebih lanjut pasti akan keren!

  11. Fosil kerangnya segeda-geda kelapa!

    Kak, eyke ga pernah mau lagi percaya kata-kata “dekat, kok… cuma 500 meter”-nya orang jawa (don’t get me wrong, gak bermaksud rasis ya, wong eyke yo jowo), soalnya ya gitu, 500 meter pasti berakhir dengan 2 kilo. Minimal. hehehe…

  12. Mas… njenengan haus coba ke Pati Ayam lagi… Insfrastruktur sudah dibenahi. Kini ada museum yang sudah tertata rapi karena perhatian pihak terkait dan bantuan dari Museum Arkeologi Sangiran.

Leave a Reply