Menilik Situs Purbakala Leran Dan Binangun Rembang

Laut Jawa terhampar membiru di sisi kiri jalan raya yang kami lewati. Jaraknya hanya beberapa meter saja. Sangat dekat. Lengah menyetir sedikit saja, bisa-bisa terjun ke laut. Dari kejauhan tampak kapal-kapal nelayan yang sedang sandar membuang jangkar. Terjebak diantara perairan dangkal sembari menunggu air laut kembali pasang. Di kiri dan kanan jalan, deretan gubuk-gubuk kecil menjajakan hasil laut yang dikeringkan. Ya, begitulah pemandangan yang akan didapati begitu sampai di kawasan Desa Bonang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Situs Purbakala Leran Rembang

Situs Purbakala Leran Rembang

=================

Hari itu, saya dan beberapa teman kantor sengaja pergi ke Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tujuan utamanya adalah untuk hunting batik tulis Lasem di rumah para saudagar batik Lsem di desa Karangturi & Soditan. Namun, begitu menjelang sampai ke Lasem, saya usul usil kepada teman-teman.

“Eh, sebelum beli batik, kalau kita wisata sejarah dulu mau nggak? Sebentar doang, lihat pantai kita!”

Mendengar ajakan itu, ekspresi wajah teman-teman saya langsung berubah.

“Wisata sejarah apaan?” kata mereka sambil mengerutkan dahi.

Maklum, teman-teman kantor saya ini masih belum terbiasa dengan wisata sejarah. Tapi karena saya adalah komandan trip hari itu, akhirnya mereka pasrah saja mau diajakin kemana. Yang peting happy katanya. Hahaha. Jadi saya ajak mereka untuk menilik situs purbakala Leran dan Binangun Rembang.

Situs Purbakala Leran

Mobil saya arahkan lurus ke arah timur menyusuri jalur pantura arah Surabaya. Sekitar 10 Km dari kecamatan Lasem, akan sampai di desa Leran Kecamatan Sluke. Penandanya mudah, sebelum kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

“Kok masuk desa kaya gini Mi? Jalannya sempit pula.” kata seorang teman dengan khawatir.

“Udah asyikin aja nyet, udah hampir sampai kok. Depan dikit.” jawab saya sotoy berusaha menenangkan. Padahal gambling juga, karena saya juga belum pernah ke situs ini sebelumnya :p

Semakin ke ujung desa, jalanan semakin mengecil. Mobil kami melewati jalan setapak yang sangat sempit, hanya pas dilewati mobil ini. Tidak bisa untuk papasan, dengan orang yang berjalan kaki sekalipun. Sisi kanan jalan kebun yang posisi tanahnya sekitar 1 meter lebih tinggi dari jalan. Sisi kirinya sungai tanpa pembatas jalan, tertutup lebatnya semak belukar.

Jalan Menuju Pantai Situs Manusia Purba Leran Rembang

Jalan Menuju Pantai Situs Leran

Suara debur ombak sudah terdengar, namun melihat kondisi medan yang dilalui, saya menjadi ragu. Kami putuskan untuk bertanya kepada salah seorang penduduk yang terlihat sedang mengumpulkan kayu bakar di tengah kebun. Ternyata jalan yang kami ambil benar. Maju sedikit, sampailah kami di bibir pantai.

“Mana situsnya Mi? Kok gini doang?” teman saya ini protes mulu.

“Ssstttt!” sambil saya tempelkan jari telunjuk di bibirnya. Saya tatap matanya dalam-dalam. Berusaha untuk meyakinkannya.

Zzzzz oke! Mulai ngaco nulisnya. Fix! Yang ini drama ya hahaha. #abaikan

Jadi pemirsa, jangan dibayangkan bahwa situs purbakala Leran ini adalah sebuah situs yang sudah rapi dan terawat. Saat saya berkunjung kesana, situs purbakala Leran ini hanyalah lahan kebun warga yang lokasinya tepat di bibir pantai utara Laut Jawa yang kondisinya semakin hari semakin terancam abrasi. Mengkhawatirkan.

Disini pernah ditemukan beberapa kerangka manusia purba, artefak pecahan gerabah tembikar, dan peralatan kerang. Setelah dilakukan penelitian dan uji karbon oleh tim gabungan dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Univeristas Gajah Mada dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, maka diperkirakan bahwa fosil kerangka manusia purba di situs Leran ini berasal dari sekitar 4000 tahun sebelum masehi. Wow!

Berdasarkan cerita dari tokoh masyarakat pegiat Lasem heritage yang sempat dilibatkan dalam penelitian oleh para ahli kala itu, fosil yang ada di situs Leran ini diperkirakan termasuk manusia prasejarah penutur bahasa Austronesia yang bermigrasi menyusuri kawasan samudera pasifik dari utara ke selatan hingga ke semenanjung Malaysia, Kalimantan dan pulau Jawa.

Ketika saya dan teman-teman berjalan menyusuri pantai yang berlumpur di sekitar situs Leran ini pun, kami menemukan banyak fosil tulang belulang yang berserakan begitu saja. Ada potongan tulang paha, lengan, belikat dan beberapa bagian lain. Tak hanya itu, saya juga menemukan fosil kima dan kerang-kerangan lainnya. Sementara jika diperhatikan lebih detail, di tebing lahan perkebunan warga yang berada di pinggir pantai pun akan banyak tulang-belulang yang terlihat mencuat.

Fosil Tulang Manusia Purba di Situs Purbakala Leran Rembang

Fosil Tulang Manusia Purba di Situs Leran

Tulang Di Tebing Situs Purbakala Leran Rembang

Tulang Menonjol Diantara Tebing Situs Purbakala Leran

Fosil Kerang Di Situs Purbakala Leran Rembang

Fosil Kerang

Berada di situs purbakala Leran, perasaan saya campur aduk. Antara kagum karena bisa melihat langsung sisa-sisa peradaban manusia purba yang kaya akan nilai sejarah namun juga sekaligus miris melihat kondisinya yang terancam abrasi. Apabila tidak segera diselamatkan dengan membuat pemecah ombak permanen, maka tak ayal, bisa-bisa situs purbakala ini akan lenyap dalam waktu yang tidak lama karena pelan-pelan tergerus ombak pasang perairan laut Jawa yang tenang namun menghanyutkan.

Situs Purbakala Binangun

Dari situs Leran di kecamatan Sluke, kami bergerak kembali menuju ke pusat kecamatan Lasem namun mampir dulu di situs purbakala Binangun, desa Bonang, Lasem. Lokasi situs ini juga berada di pesisir pantai utara Pulau Jawa.

Saya pernah melihat foto situs ini di internet. Sebuah kerangka manusia purba berwujud relatif utuh dari tengkorak hingga telapak kaki tersimpan rapi dalam sebuah kotak kaca usang dimakan cuaca di bibir pantai Biangun. Itu yang saya ingat. Saya juga mendapatkan informasi bahwa di pesisir pantai dari Lasem hingga Kragan, banyak ditemukan fosil kerangka manusia purba karena diperkirakan kawasan ini adalah kompleks pekuburan tua manusia purba ras Austronesia.

Namun betapa kecewanya kami begitu mendapati situs ini sudah rusak ketika kami datang. Kotak kaca sudah pecah, artefak fosil manusia purba tidak lagi kelihatan di area kaca karena sudah tertimbun tanah. Tidak ada yang bisa dimintai keterangan siang itu. Penduduk lokal pun tidak terlihat. Saya kurang tahu apa penyebabnya. Apakah memang fosil di situs purbakala Binangun ini sudah di ekskavasi dan dipindahkan ke tempat yang layak, atau jangan-jangan situs ini dirusak oleh tangan-tangan jahil oknum yang tidak bertanggung jawab. Hhfftt….

Situs Purbakala Binangun Rembang

Situs Purbakala Binangun Rembang

Kotak Kaca Manusia Purba Situs Binangun Lasem

Bekas Kotak Kaca Manusia Purba Situs Binangun

=================

Situs purbakala Leran dan Binangun bukanlah tempat wisata, bukan pula untuk mereka yang ingin mencari hiburan. Namun situs yang merupakan aset berharga milik Kabupaten Rembang Jawa Tengah ini adalah sarana pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya arkeologi dan sejarah.

Pulang dari Lasem, teman-teman kantor saya yang tadinya tidak suka dengan wisata sejarah, mulai tertarik dengan sejarah. At lest, tertarik dulu lah. Setelah itu akan timbul rasa suka. Jika sudah suka, pasti akan ikut andail menjaga situs-situs ini. Sehingga semakin banyak generasi masa kini yang peduli. Karena kalau bukan kita, lalu siapa lagi?

Yang jelas, dari beberapa kali kunjungan saya ke Kecamatan Lasam, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, saya sangat mendukung jika kedepan, kawasan Kecamatan Lasem dijadikan sebagai Kota Warisan Cagar Budaya. Ada ratusasn situs dan cagar benda budaya bersejarah yang harus dilestarikan.

#VisitJawaTengah

Lasem Trip

Klik Disini Untuk Cari Promo Hotel Di Semarang

32 Comments
  1. January 6, 2015
    • January 7, 2015
  2. January 6, 2015
    • January 7, 2015
  3. January 6, 2015
    • January 7, 2015
  4. January 6, 2015
    • January 7, 2015
  5. January 6, 2015
    • January 7, 2015
  6. January 6, 2015
    • January 7, 2015
  7. January 7, 2015
    • January 7, 2015
  8. January 7, 2015
    • January 8, 2015
  9. January 8, 2015
    • January 8, 2015
  10. January 8, 2015
    • January 8, 2015
  11. January 8, 2015
    • January 9, 2015
  12. January 10, 2015
    • January 12, 2015
      • October 10, 2016
        • October 12, 2016
  13. January 12, 2015
    • January 12, 2015
  14. January 13, 2015
    • January 14, 2015
  15. February 11, 2016
    • February 11, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*