Kompleks Makam Pa Van Der Steur Magelang

Kompleks Makam Pa Van Der Steur Magelang
Kompleks Makam Pa Van Der Steur Magelang

Hari masih pagi ketika saya keluar dari rumah menuju pusat kota Magelang. Lalu lintas kendaraan pun relatif lengang. Memang biasanya di hari Minggu pagi tidak banyak masyarakat yang beraktifitas di jalanan.

Akhir pekan selalu menjadi hari yang spesial bagi saya. Ini adalah kesempatan untuk menikmati suasana kampung halaman setelah selama 5 hari bekerja merantau di kota tetangga. Usai menikmati sarapan semangkuk soto dan segelas teh hangat di seputar Alun-alun, saya mulai menjalankan misi rahasia.

Misi rahasia? Ya! Saya ingin napak tilas mencari sisa-sisa situs bersejarah kompleks pemakaman kuno jaman Belanda. Rasa penasaran muncul ketika suatu hari ketika makan malam, Bapak pernah bercerita mengenai kondisi Magelang ketika beliau masih muda. Salah satu yang menarik adalah tentang hamparan kompleks kerkhof atau pemakaman Belanda & Tionghoa di sisi utara lereng Gunung Tidar yang kini sudah berubah menjadi perkampungan & sentra perdagangan. Namun katanya, masih ada belasan makam yang disisakan.

Rasa penasaran membawa saya ke Jalan Jenderal Sudirman Magelang. Di sisi barat saluran irigasi Kali Manggis, masih berdiri kokoh sebuah gapura beton tua bergaya arsitektur Eropa. Inilah gerbang utama Kerkhoof (pemakaman) Belanda. Menurut data sejarah, pada tahun 80an, demi kepentingan tata kota, ratusan atau bahkan mungkin ribuan makam Belanda & Tionghoa yang ada disini dipindahkan. Ada yang diambil oleh sanak saudaranya & dimakamkan kembali di Belanda, ada yang dipindahkan ke Ereveld, dan ada pula yang di kompleks makam Giriloyo Magelang.

Lalu dimanakah sisa pemakaman Belanda itu?

Saya kemudian menyeberang berbalik arah menyusuri Jalan Ikhlas, lalu berhenti tepat di depan gerbang kerkhoff.

“Bu, apa benar disini makam Pa Van Der Steur?” tanya saya pada seorang ibu setengah baya penjual aneka serangga pakan burung yang menggelar dagangannya di trotoar.

“Benar. Mas dari mana? Ada keperluan apa?” sapanya ramah namun penuh tanda tanya.

“Saya anak Magelang juga Bu, hanya ingin ziarah sebentar saja.”

Setelah mendapat ijin dari pihak pengelola makam, saya diperbolehkan masuk melalui lorong sempit diantara ruko-ruko itu. Pintu di ujung lorong terbuka. Dan saya hanya bisa tertegun…

Kompleks Makam Pa Van Der Steur Magelang 1
kadang masih ada sanak family dari Belanda yang ziarah kesini
Kompleks Makam Pa Van Der Steur Magelang 2
hanya tinggal beberapa nisan yang tersisa

Sekian puluh tahun saya hidup di kota ini, namun baru hari itu menyaksikan sendiri situs ini. Belasan nisan kuno berjejer rapi. Beberapa tanaman bunga mempercantik kompleks makam. Siapa sangka? dibalik deretan ruko yang sibuk dengan hiruk pikuk urusan duniawi, ada sebuah dunia sunyi. Disini terbaring Papa Johan Van Der Steur, seorang warga Belanda yang mengabdikan dirinya dalam misi sosial keagamaan dan beberapa anak asuhnya.

Magelang, sebuah kota kecil yang secara geografis berada di tengah-tengah Propinsi Jawa Tengah ini ternyata menyimpan sejarah peradaban yang panjang sejak lebih dari 1000 tahun lalu. Dari era Mataram Hindu, hingga masa perjuangan kemerdekaan. Pada sekitar abad ke 18, oleh Belanda, Kota Magelang dijadikan Garnisun atau pusat pemerintahan & pendidikan tentara Belanda.

Perang pribumi melawan Belanda memakan banyak korban dari kedua belah pihak. Ribuan anak-anak kehilangan orang tuanya. Melihat anak-anak yang menjadi korban perang, hati Papa Van Der Steur pun tergerak. Pada 28 Desember 1896, beliau mendirikan panti sosial yang diberi nama ”Vereeniging tot bevordering van Christelijk leven en Onderling Hulpbetoon”. Lokasinya di sebelah utara kantor Karesidenan Kedu. Dalam mengurus anak-anak tersebut beliau memperlakukan mereka tanpa memandang golongan. Belanda, Indo, Tionghoa, Ambon, Jawa, semua diurus dan diberikan kasih sayang yang sama.

Pa Van Der Steur menghembuskan nafas terakhir pada Minggu 16 September 1945. Pada hari pemakamannya, di sepanjang jalan Diponegoro, Veteran, Ahmad Yani, Pemuda, hingga ke jalan Ikhlas dipadati oleh ribuan orang yang akan memberikan penghormatan terakhirnya. Hal ini menjadi bukti bahwa beliau banyak berjasa membantu masyarakat kala itu.

Kompleks makam Pa Van Der Steur tentu bukanlah sebuah objek wisata. Namun menjadi bagian dari prasasti sejarah peradaban Kota Magelang tercinta. Hari itu saya banyak mendapatkan pelajaran hidup dari apa yang sudah beliau lakukan. Terutama dalam hal kepedulian sosial terhadap sesama.

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
22 Responses
  1. Benar-benar misi rahasia, dan tumben-tumbenan mas. Biasanya membahas hotel, tiba-tiba main di “lahan bahasan nya” kak Olive, ngomongin makam. Tapi mengejutkan juga ya, gak nyangka di antara kawasan komersial dalam kota Magelang masih tersisa pemakaman lawas yang masih terawatt. Mungkin makam Papa van der Steur ini sengaja disisakan, karena secara historis beliau memiliki kaitan yang erat dan berjasa bagi masyarakat Magelang dan sekitarnya.

    Nice post mas. Singkat dan menarik 🙂

    1. Hahaha beginilah. Ambil spesialisasi hotel review, jadi banyak artikel kategori lain yang belum sempat diposting. Sayang kalau cuma menganggur. Sesekali boleh lah “menghidupkan” kategori tulisan lain di blog ini.

      Memang makam Pa Van Der Steur ini sengaja dipertahankan karena dari sisi historis, beliau memiliki hubungan yang erat dengan masayrakat Magelang kala itu. Ratusan atau mungkin ribuan makam Cina & Belanda di kompleks ini telah dipindahkan ke beberapa pemakanan umum lain seperti di makam Giriloyo dan Ereveld.

      Thanks for dropping by, Bart! 🙂

  2. Hampir setiap kota di Indonesia, dalam proses pembangunan kota terkadang mengesampingkan situs-situs warisan sejarah padahal jika dipelihara atau diberikan tempat sendiri tanpa harus disingkirkan, bisa dijadikan wisata sejarah. Cuma yah gitu, dari segi pendapatan mungkin agak kurang.

  3. ga semua org Belanda itu jahat ya jaman penjajahan dulu :)… org2 seperti van der steur ini seharusnya lbh di publikasiin lagi, supaya org2 juga bnyk tau… aku aja baru tau ttg ini stlh baca postinganmu mas

    1. sebenarnya banyak kok orang Belanda yang kala itu malah berjasa bagi negeri ini. seperti Eduard Douwes Dekker dengan karya fenomenalnya Max Havelaar, dll 🙂

  4. Sebagai orang Magelang yang sekarang sudah tidak ber-KTP Magelang lagi, saya malu mas…banyak hal yang tidak saya tahu tentang kota kelahiran saya itu. Matur nuwun mas atas tulisannya. Jadi obat kangen saat jauh di rantau…hehehehe

    1. Lho? Trada ganti alamat KTP? pindah kemana sekarang? Thanks udah mampir ke blogku. Kapan-kapan kalau mudik Magelang, explore lah hehe. Salam buat om Wisnu Dalijo ya. isih sekantor?

      1. KTP pindah Bojonegoro bang, tapi waktu banyak habis di jakarta 😀
        masih sekantor tapi sekarang udah beda bagian bang. kok tahu aku sekantor sama Wisnu Dalijo?

  5. Bener – bener misi rahasia ya mas,,, dimulai dari obrolan terhadap bapak akhirnya membuat penasaran mas Fahmi juga,,,, Kalau lihat gambar makamnya sepertinya unik mas dan rapi serta bersih,,,, semoga makam ini tetap terjaga sampai suatu saat nanti,,,, kan sayang semisal suatu saat nanti harus dihilangkan juga,,, 🙂

    1. siap! mau banget wisata makam sambil walking tour. masalahnya….. KAPAN? hahaha dari dulu susah banget mau main ke jakarta aja, main yang literally main, bukan dalam rangka diklat, meeting atau upacara di istana hahaha

Leave a Reply