Kenangan Pilu Di Museum Sisa Hartaku

Lava Tour Gunung Merapi Yogyakarta
Lava Tour Gunung Merapi | photo milik @ubermoon

Sore itu, saya dan beberapa teman team Nescafe Journey sedang reuni setelah terakhir bertemu setahun yang lalu. Reuni kami yang terakhir diadakan di kawasan Megamendung Bogor, dan tahun ini kami memilih untuk berkumpul Yogyakarta.

Meskipun tidak semua bisa bergabung, namun acara tetap berjalan seru. Saya, Rey, Nugie, Om Adhe, Bulan, Gebby, Odie, Nia, Karin, Meliza, Sore itu kami memilih untuk Lava Tour di kawasan Kaliadem, lereng Gunung Merapi. Dua buah jeep kami sewa untuk mengangkut kami ber-10. Wajar saja jika sepanjang lava tour kami heboh sendiri, selain karena lama tidak bertemu dengan teman-teman ini, kami juga excited dengan jalur off road yang akan dilewati.

Sampai pada sebuah perhentian…

=========================

Rangka Motor Sisa Letusan Gunung Merapi
Rangka Motor

Tawa canda itu lenyap begitu saja ketika jeep yang kami tumpangi mulai memasuki area parkir berdebu yang dikelilingi rumpun bambu. Suasana mendadak hening. Raut wajah ceria berganti menjadi syahdu. Semua terdiam, saling bertatapan.

“Inilah Museum Sisa Hartaku, saksi bisu dahsyatnya erupsi merapi 2010 lalu” kata Mas Rudi, pemandu kami.

Puing-puing rumah sisa korban erupsi Merapi yang kini disulap menjadi sebuah museum mini yang berisi barang-barang dan berbagai perabotan rumah tangga yang rusak dan meleleh terkena dampak awan panas Merapi pada letusan dahsyat tahun 2010 lalu. Museum Sisa Hartaku yang berada di desa Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Yogyakarta ini adalah milik bapak keluarga Riyanto.

Mata saya tertuju pada dua buah kerangka sapi yang dipajang di teras rumah. Tak terbayang bagaimana nasib sapi-sapi ini yang pada saat itu ditinggal pemiliknya mengungsi, dalam kondisi kelaparan dan terikat di kandang, dan tiba-tiba awan panas Merapi datang menerjang…

Saya dan teman-teman berpisah. Menyebar. Sibuk dengan rasa penasarannya masing-masing. Meskipun pernah berkali-kali melihat liputan tentang museum ini di TV, tapi ternyata rasanya sangat berbeda ketika mengunjunginya langsung. Sebuah kerangka sepeda motor Suzuki juga dipajang di teras. Kondisinya sudah berkarat. Diperparah dengan debu tebal yang menempel. Tampak begitu usang.

Memasuki ruang tamu, saya hanya bisa tertegun melihat kondisi sekelilingnya. Di sisi kiri ruang tamu, terdapat sebuah jam dinding rusak yang plastiknya sudah meleleh. Diatasnya, dipasang sebuah papan kayu bertuliskan: Bukti Erupsi Merapi, Hari Jumat 5 November 2010, dan jarum jam menunjukkan pukul 12.05 WIB.

Kaki mendadak terasa lemas. Susah untuk digerakkan. Mata saya terpaku pada jarum jam yang sudah berhenti bergerak itu. Waktu seolah berputar, kembali pada detik-detik ketika awan panas Gunung Merapi yang bersuhu ribuan derajat celcius tiba-tiba meluncur kencang dari Puncak Garuda dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, melahap apa saja yang dilewatinya, tak peduli lagi apa dan siapa.

Kengerian itu begitu terasa disini. Empati atas tragedi erupsi Merapi dengan mudah muncul dan berapi-api. Pikiran dan perasaan saya berkecamuk penuh emosi dihadapkan pada contoh nyata cobaan dari Sang Ilahi.

Saya hanya bisa beristighfar…

Memohon ampun kepada yang Maha Kuasa agar kita semua dijauhkan dari mara bahaya…

Di ruangan lain, dipajang juga perabotan rumah tangga yang terkena dampak awan panas. Cangkir, gelas, teko, panci semuanya rusak. Beberapa barang yang terbuat dari plastik dan kaca pun meleleh seperti televisi, mini compo, kaset, compact disc, botol minuman, pigura foto, dll. Begitu banyak kenangan pilu di Museum Sisa Hartaku.

Kerangka Sapi di Museum Sisa Hartaku Merapi Yogyakarta
Kerangka Sapi di Museum Sisa Hartaku
Museum Sisa Hartaku Merapi Yogyakarta
Museum Sisa Hartaku Merapi
5 November 2010 Bukti Luncuran Awan Panas Merapi di Desa Petung Kinahrejo Cangkringan Yogyakarta
5 November 2010 Bukti Luncuran Awan Panas Merapi di Desa Kinahrejo
Cangkir di Museum Sisa Hartaku Merapi Yogyakarta
Sisa Cangkir dan Teko
TV Meleleh Akibat Awan Panas Gunung Merapi - Museum Sisa Hartaku Yogyakarta
TV Meleleh Akibat Awan Panas
Alquran di Museum Sisa Hartaku Merapi Yogyakarta
Alquran dan Sajadah

=========================

Meskipun tidak lama kami berada disini, namun paling tidak ada banyak hikmah yang saya dapatkan. Dengan mengunjungi museum sisa hartaku ini saya semakin tersadar. Bahwa semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan. Harta, jabatan, keluarga, anak, istri, tidak ada yang secara hakiki kita miliki.

Bahkan nyawa ini sekalipun…

Ketika Tuhan berkehendak, maka… “kun fayakun!”

Note:

Maaf ye kalau postingan kali ini bahasanya agak berat endingnya, bukannya mau ceramah, tapi terus terang saya terbawa emosi. Postingan kali ini adalah sebuah memoar perjalanan singkat sekaligus untuk memperingati dahsyatnya tragedi eruspsi Gunung Merapi, 5 November 2010.

Museum Sisa Hartaku Gunung Merapi

Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Yogyakarta

Bisa dicapai dengan menggunakan jeep off road yang disewa di sekitar kawasan wisata Kaliadem

Harga sewa jeep off road lava tour Merapi sekitar Rp. 250.000

Cek Rate Hotel Di Yogyakarta

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
22 Responses
  1. Itu kerangka sapi beneran ya Mi?
    Benar-benar unik ya ide bikin museum ini. Bisa buat bahan perenungan dan pengingat tentang musibah merapi ini

    1. kerangka sapi beneran bro, masa artificial? haha
      sebenarnya di desa ini nggak cuma satu museum ini, namun ada beberapa rumah lain yang juga dijadikan museum serupa, tapi sepertinya paling lengkap ya museum sisa hartaku milik pak riyanto ini

  2. saya masih merasakan kengerian merapi waktu bertugas mengelola kamp pengungsi tahun 2010. Tulisan ini mengingatkan lagi bahwa kita hanya manusia yang bisa hilang tiba-tiba saat alam marah.

Leave a Reply