Jejak Genosida di Kamboja

Cambodia Trip Part 4

Menelusuri Sejarah Kelam Jejak Genosida di Kamboja

Choeung Ek Killing Fields

Choeung Ek Killing Fields Cambodia
Gerbang Masuk Choeung Genocidal Center

Dalam kondisi masih rada puyeng karena motion sickness perjalanan darat dengan midnight bus dari Siem Reap ke Phnom Penh, pagi itu saya berjalan keluar dari Eighty8 Backpackers Hostel bersiap untuk city tour. Saya sudah janjian via email dengan Polan, seorang supir tuk-tuk disini. Namun saat akan berangkat, handphonenya berbunyi. Entah ada obrolan apa karena menggunakan bahasa Khmer. Tapi raut mukaya berubah jadi sedih dan sesaat kemudian Polan meyampaika permintaan maaf karena mendadak ada urusan penting katanya. Jadilah saya ditemani adik laki-lakinya yang bernama Tong Hak. It’s oke lah, dia native juga kok.

Tuk-tuk melaju pelan diantara semrawutnya lalu lintas Phnom Penh pagi itu. Asap kendaraan, debu dan suara bising knalpot bergantian menyapa saya. Suasananya berasa kaya di Bekasi saat jam berangkat kantor. Semua tumpah ruah dijalan. Dan yang bikin lebih ribet adalah, nggak ada yang mau mengalah. Misalnya di perempatan jalan nih, dengan muka innocentnya masing-masing pengendara asal nyelonong aja gitu, kaya nggak ada siapa-siapa. Nggak ada yang mau ngalah kasih jalan duluan. Alhasil kemacetan pun sering terjadi. Ajaib deh hahaha. Belum lagi yang pada nggak pake helm, boncengan motor bertiga, tuk-tuk overload, dll dst. Kayanya kalau di Indonesia udah ditilang semua sama polisi. Tapi kalau polisinya kaya Briptu Eka Frestya sih mau² aja ditilang, dengan senang hati malah… #halah #murahan #apasih #abaikan.

Meanwhile, polisi di Phnom Penh, IMO (maaf) terlihat kurang berwibawa dengan seragamnya yang berwarna biru muda dan helm ciduk stye 80an gitu. Bahkan seingat saya, di beberapa perempatan besar di jalan protokol, hanya ada satu orang polisi yang berdiri kewalahan mengatur lalu lintas di tengah jalan. *puk puk*

Ketika menyusuri jalanan kota menuju Choeung Ek Genocidal Center, first impression terhadap Phnom Penh seperti  Indonesia tahun 90an. Sepengamatan saya bulan Mei 2013 kemarin, hanya ada satu gedung pencakar langit… Iya beneran cuma satu. Itu pun belum kelar pembangunannya. Lainnya berupa ruko, ruko dan… ruko. Jalan layang juga sedang dibangun. Jauh lah kalau dibandingin Jakarta, dalam konteks sama-sama sebagai ibukota negara. Dan berikut destinasi pertama yang saya kunjungi ketika di Phnom Penh:

Magic Tree Choeung Ek Killing Fields Cambodia
Magic Tree : tempat menggantung speaker yang menyetel lagu² secara lantang ketika para tahanan dibantai agar dari luar kompleks tidak terdengar jeritan & rintihan para korban. SADIS!!

Phnom Penh Killing Fields

Setelah sekitar 40 menit tuk-tuk nya Tong Hak melaju diantara jalanan kota yang berdebu, akhirnya saya sampai di destinasi pertama.

Tong Hak: “Finally we’ve just arrived in Choeung Ek, commonly called as Killing Fields. You can buy a ticket at the office and i’m waiting under those tree. Oke? Enjoy”

Saya: “So this is the famous Killing Fields? Oke, im so excited. Just wait me for an hour ya…”

Dengan penuh penasaran saya melangkahkan kaki menuju ticket counter yang berada disamping gapura masuk. Tersedia dua macam tiket, 5 $ dilengkapi dengan audio self guide dan 2 $ tanpa alat. Saya memilih yang 2 $ saja karena sebelum berangkat saya membaca sekilas tentang sejarah tempat ini.  Jadi tinggal napak tilas saja. Selain itu tentu karena alasan hemat uang saku.

Dari nama tempatnya aja udah ketahuan kalau serem. Yup, begitulah. Killing Fields adalah sebuah lahan kosong di desa Choeung Ek yang berada sekitar 15 km dari pusat kota Phnom Penh yang digunakan untuk membantai & mengeksekusi warga kamboja yang ditahan oleh rezim Khmer Merah sekitar tahun 1975 – 1979. Pembantaian ini terjadi setelah perang sipil Kamboja berakhir (1969–1975). Khmer Rouge yang dipimpin Pol Pot menangkap setiap orang yang dicurigai memiliki hubungan dengan pemerintahan sebelumnya. Tidak pandang bulu itu pejabat, ilmuwan, wartawan asing, aktor film, penyanyi terkenal sampai masyarakat sipil yang tidak tahu menahu tapi menjadi korban “asal comot”. Sebenarnya di Kamboja ada banyak killing fields yang terletak di propinsi lain, namun Choeung Ek ini yang paling terkenal.

Jangan Lewatkan Harga Tiket Pesawat Termurah di Wego.co.id !!

Choeung Ek Killing Fields Phnom Penh
Choeung Ek Memorial Tower

Memasuki gerbang, langkah kaki saya mulai terasa berat. Sebuah monumen berbentuk menara dengan atap bergaya khas Khmer setinggi 15 meter berdiri kokoh menjulang. Beberapa karangan bunga dan altar kecil disertai dupa dan rangkaian kuncup bunga teratai menghiasi lantai di keempat sisinya. Lepas alas kaki, naik ke dasar menara, saya tercekat! Tak bisa berkata-kata…. melihat ratusan atau mungkin… ribuan, tumpukan tengkorak manusia dalam kotak kaca bersusun. Tengkorak para korban yang digali dari kompleks Killing Fields ini pada proses ekskavasi tahun 1990an. Di kotak kaca yang paling bawah terdapat tumpukan baju-baju lusuh yang masih dikenakan korban ketika mayatnya digali. Menurut cerita, para korban pembantaian tersebut ditemukan dalam kondisi masih terbelenggu tangan & kakinya. Tak lupa saya panjatkan doa untuk para korban ini, semoga mereka tenang di “alam sana”.

Di Killing Fields ini terdapat banyak sign yang menjelaskan masing-masing spot dan sejarah singkatnya. Menyusuri jalan setapak yang sepi baru ditemani kicau burung perkutut liar, waktu terasa berjalan begitu pelan disini. Tengok kanan kiri, sepiii sekali, hanya ada sepasang bule dan saya di area seluas itu. Tidak ada siapa-siapa lagi. Ternyata saya datang kepagian. Tambah merinding.

Sisa Tulang di Choeung Ek Killing Fields
tulang-tulang korban masih berserakan di sekitar killing fields

Kubangan-kubangan tanah bekas galian ada dimana-mana. Menunjukkan disitulah bekas kuburan massal para korban yang dibantai Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Beberapa kuburan massal masih dibiarkan seperti aslinya, tidak digali, hanya diberi atap sebagai penanda. Saya hampiri satu persatu kuburan massal tersebut. Namun langkah saya terhenti ketika tak sengaja kaki saya terantuk sesuatu yang runcing. Kaget setengah mati ketika tahu yang saya injak tadi adalah… sisa-sisa tulang belulang para korban. Saya hanya bisa jongkok sambil termenung. Campur aduk rasanya! Terlebih ketika terlihat robekan baju yang terserabut di permukaan tanah tersamarkan rerumputan. Oh Tuhan! Kejam sekali pembantaian disini…

Belum selesai menata hati, saya menemukan sebuah pohon besar yang legendaris. Killing Tree julukannya. Di pohon inilah balita dan anak-anak dari para tawanan juga ikut “dihabisi”. Mereka dipegang kakinya, lalu diayunkan ke batang pohon dengan keras hingga menemui ajalnya. Damn!! Apa salah mereka sampai-sampai harus ikut dihabisi? Ternyata menurut data sejarah, rezim Khmer Merah melakukan itu agar di masa mendatang tidak ada generasi yang bisa membalas dendam atas perlakuan buruk yang diterima orang tua mereka. Untuk menghormati arwah para korban, masyarakat Kamboja biasa meletakkan gelang/pita warna warni di pagar kuburan massal & pohon tersebut.

Killing Tree Killing Fields Phnom Penh
Mystical Killing Tree

Di bagian belakang Killing Fields terdapat sebuah danau buatan yang lebih mirip empang memanjang. Saya terduduk lesu di bangku pinggir danau ditemani semilir angin pagi. Merenung mencoba mencari makna dari perjalanan ini. Mengapa Tuhan memberikan saya kesempatan untuk melihat semua ini? Jawabannya adalah supaya kita dapat selalu bersyukur atas semua nikmatNYA. Karena barang siapa mensyukuri nikmatNYA niscaya akan selalu bertambah pula nikmat yang lain.

Choeung Ek Killing Fields Cambodia
hening, semilir angin kering & kicauan perkutut liar… diatas bekas ladang pembantaian

To Be Continued…

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
25 Responses
  1. sayang kamu ga pake alatnya mas… duhhh, ada 1 yg menceritakan ttg MAGIC TREE, di mana digantung loudspeaker besar di pohonnya..trs diputer lagu yg nyaring spy seolah2 ada pesta di situ..jd org luar ga curiga… pas lagunya diputer, gilaaa, merindingggg… 🙁 menyayat hati bgt tuh lagu… aku coba cari d internet ga bisa nemu tapi…

    btw, ke S21 nya jg ga? g sekolah itu?

    1. sengaja gak pake alatnya krn sblm brngkt udh baca sejarahnya hehe, jd niat napak tilas gt. itu ada foto magic tree nya, tp kelewatan ceritanya hahaha, krn udh kepanjangan, tar gak enak dibaca. tp thnks dah ingetin, mgkin bs ak tambahin sdkit ttg magic tree nya 🙂

      untuk S-21 di postingan selanjutnya mbak, prefer satu objek tp rd detail, drpd lsngsung semua diceritain di satu pistingan hehe

  2. Penyesalan terbesarku waktu ke kamboja tuh gak mampir ke sini, gara2 temenku pada gak mau Mi, aku nyesel banget pas sudah sampai rumah…hiks. Kayaknya memang harus ke sana lagi menebus utang 🙂

  3. hellooooo……..ni gue lagi, dysta yg di twitter…..
    pas gue ke KF kmaren (kamis, 2 oktober 2014) lagi rameeee bangeettt, mayoritas turis asing sih… gue dkk sampe situ jam 12.30 siang setelah menempuh kemacetan phnom penh yg bikin emosi jiwa!!!
    awalnya sih gue masih oke lah jalan sambil dengerin audionya, dan mengikuti step by step yg diarahkan oleh audio tsb. Namun pas sampe section 7, yg isinya 450 mayat ditemukan dengan sisa baju mereka, gue langsung nangiiissssss :(( Gak tega banget ngeliat bekas tanah itu dimana ada sisa potongan kain baju korban yg tercabik-cabik…. Dan melihat pita/gelang yg mengitari bangunannya pun bikin merindingggg…..
    Dan rupanya gue gak nangis sendirian, ada 2 turis wanita yg juga sedang nangis sesenggukan di section 7 itu, jadilah kami saling menepuk bahu untuk menenangkan & menguatkan 🙁
    Gue nangis lagi di killing tree, tempat para bayi & bocah tak berdosa itu dibantai sampai mati. Dan disini pun makin ada banyak turis wanita yg nangis juga :(( Ohya saat itu di killing tree ini sedang ada ritual doa oleh 4 orang warga lokal, pake dupa, jajanan & mainan anak kecil. Mungkin mereka keluarga korban, karena gue liat doanya lamaaaaa & khusyuk, dengan ritual khmer gue rasa.

    bener-bener wisata batin yaahhh di killing field ini, dan gue bersyukur diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mengunjungi tempat ini, dan mendoakan para korban secara langsung. Alhamdulillaahhhh….

    -d-

    1. akupun begitu dysta, bersyukur bisa berkunjung kesini, banyak pelajaran tentang kehidupan yang didapat. emang sih traveling kesini bukannya happy tapi malah stress, under pressure. but at least, we got something different, paradigma baru dalam menjalani kehidupan, dalam menjalani takdirNYA. thanks for sharing, selalu senang mendengar cerita dari para pembaca blog ini yang sebelum & sesudah traveling menceritakan kisah perjalannya :’)

      1. ohya mi………. pas kamu ke KF tiketnya brp? pas aku kmarin udah USD 6 aja (IDR 72.000), itu udah paket komplet tiket masuk plus audio+headset.

        padahal katanya ada paket tanpa audio yaaa, alias cuma tiket duank? tapi pas aku dkk masuk kmaren langsung dimintain USD 6 dan dikasih audio. Di papan tiketing juga udah tercantum USD 6 sihhh jadi emang smua pengunjung lgsg dapet audio itu keknya 🙂

        tapi audionya mayan membantu loohh… banyak cerita dan lagu-lagu seputar pembantaian KF yg diputar disitu, termasuk musik yg mengiringi pembantaian yg dipasang di magic tree. Damn, gue sampe merindingggg bangeetttt dengernya, makanya gue gak lama-lama di pinggiran danau bekas kuburan massal itu…. sereemmm booo,,,,,,

Leave a Reply