Jatuh Cinta Pada Wastra Nusantara

Deretan aneka sayuran bertumpuk tak beraturan di kios-kios kecil bersekat triplek. Segala macam kebutuhan dapur ada disitu. Kol, buncis, kacang panjang, cabe rawit, tomat, garam laut curah, asam jawa, dan masih banyak lagi. Siang itu, saya menyusuri lorong-lorong sempit nan becek di Pasar Inpres Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Hawa panas tak lagi saya hiraukan karena terlalu bersemangat menyelami kehidupan masyarakat lokal.

Sekian lama berkeliling, langkah kaki saya terhenti di depan lapak seorang penjual sayuran. Bukan, saya bukan mau beli kubis dan sawi. Tapi deretan kain tenun ikat motif warna-warni yang dipajang di belakangnya lah yang telah mencuri perhatian saya. Ini yang saya cari!

Penjual Kain Tenun Ikat Manggarai

Penjual sayuran sekaligus kain tenun ikat Manggarai

“Pak, kainnya bagus-bagus. Berapa harganya?” tanya saya.

“Lima ratus ribu. Mau lihat dulu?” jawabnya sambil menyodorkan selembar kain.

Benang kain ini terasa halus. Ditenun manual satu persatu hingga menyatu. Sebuah mahakarya. Tapi ketika mengelus dompet tipis di saku celana, saya jadi galau dibuatnya. Ingin sekali beli kain cantik ini, namun sisa perjalanan di bumi Nusanipa masih beberapa hari.

Secara di pasar tradisional nggak bisa bayar gesek juga kan yaaaa?!

“Saya ambil syal aja deh pak. Yang ujung kanan.”

Selembar rupiah berwarna merah mejadi penebusnya. Dan hingga postingan ini saya tulis, hari itu, Selasa 25 September 2012 termasuk menjadi hari yang paling saya sesali karena tidak jadi membeli kain tenun ikat cantik itu.

PR banget kan kalau sekarang mau balik ke Ruteng lagi!!

*****

Kain Tenun Ikat Flores

Kain tenun ikat pertama saya dapatkan dari teman blogger Jakarta. Senin pagi, 8 Agustus 2011, ketika saya sedang asyik ngopi bekerja di kubikel, security kantor datang mengantarkan paket misterius. Setelah dibuka, ternyata isinya emas batangan…

Eh gimana? haha bukan lah! isinya sehelai syal tenun ikat khas Desa Bena, Flores, NTT. Sekian lama saya merindukan bisa memiliki kain etnik ini. Ternyata Tuhan mendengar doa hambaNYA. Iya, dikasih gratis!

Tanpa disangka, syal tenun ikat itu membawa saya mewujudkan mimpi besar lainnya. Setahun kemudian, saya mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan satu minggu eksplorasi bumi Nusa Tenggara Timur mulai dari Labuan Bajo, Ruteng, Ende, Kupang dan Alor. Saat itulah saya semakin jatuh cinta dengan kekayaan wastra nusantara. Setiap daerah di NTT memiliki motif tenun dan filosofi tersendiri. Alhamdulillah, saat ini koleksi kain tenun ikat pelan-pelan bertambah. Sebuah peti kuno dari kayu jati sudah saya siapkan untuk menyimpan “harta warisan” ini.

Koleksi Kain Tenun Ikat Flores

Sebagian koleksi kain tenun ikat NTT

Syal tenun ikat kini menjadi semacam identitas ketika saya traveling. Kemanapun perginya, selalu dibawa. Jika tidak, seperti ada yang kurang. Bahkan teman-teman saya pun sudah hafal dengan trademark saya ini.

“Beuh! Si Mamik nih, pasti pake tenun ikat. Sekali-sekali pakai kaftan gih!” ledek seorang teman.

Saya pun hanya cengar-cengir.

Eh! Jangan salah! Saya merasa bangga ketika jalan ke luar negeri, selalu saja ada orang luar yang naksir saya tenun ikatnya. Mau diminta lah, dipinjam untuk berfoto lah, diajak barter lah, sampai mau disamperin kalau suatu hari nanti dia datang ke Indonesia. Hahaha. Ada-ada saja. Well, at least dengan begitu, saya bisa memperkenalkan wastra nusantara, salah satu kekayaan budaya yang adiluhung ini.

*benerin jambul*

Traveling Fahmi Anhar

nampang dikit boleh lah ya ^__^

*****

Selain kain tenun ikat, saya juga mulai mengumpulkan batik & kain dari berbagai daerah seperti batik Jogja, Solo, Lasem, Pekalongan & Madura. Kain-kain dari daerah lain juga tak kalah menarik seperti lurik Klaten, kain tenun Troso Jepara dan kain tapis Lampung. Sebuah peti kayu kuno juga telah saya siapkan untuk menyimpan jenis kain selain tenun ikat.

Batik Lasem

Mulut saya tak henti-hentinya berdecak kagum ketika melihat sehelai kain batik yang masih dalam proses pengerjaan. Batik bermotif burung merak ini begitu menawan. Detailnya begitu rumit. Pasti membutuhkan keahlian & kesabaran dalam membuatnya.

“Kalau sudah jadi nanti harganya sekitar dua juta mas. Ini pesanan orang Jakarta.” Kata pengrajinnya.

Saya bertekad, suatu saat nanti akan kembali ke Lasem lagi dan memesan batik tulis motif burung merak, burung phoenix, kapal saudagar ataupun tiga negeri. Itulah motif-motif impian saya untuk dikoleksi. Bagaimana denganmu?

Jadi, kalau nanti kamu berkunjung ke Lasem, Rembang, Jawa Tengah, mampirlah ke rumah batik Bu Sutra atau Bu Kiem yang ada di desa Karangturi. Siapkan hati & dompetmu ya! Haha.

Batik Tulis Lasem Motif Burung Merak

Batik Tulis Lasem Motif Burung Merak

Batik Tulis Lasem Bu Sutra

Batik Tulis Lasem Bu Sutra

Kain Tenun Troso Jepara

Lain lagi dengan cerita ketika beberapa bulan lalu saya mampir ke desa Troso, kecamatan Pecangaan, Jepara. Saya anaknya suka lemah iman kalau melihat Dian Sastro kain etnik cantik hehe. Usai melihat sendiri bagaimana sehelai kain tenun itu dihasilkan di workshop belakang gallery, saya jadi semakin jatuh cinta dengan kain tenun troso ini. Helai demi helai benang ditenun satu per satu. Njlimet kalau istilah Jawanya. Maka sebagai wujud penghargaan & apresiasi atas jerih payah pengrajin itu, sudah selayaknya kita membeli hasil karya anak negeri sendiri dan mengenakannya dengan penuh kebanggaan.

Kain Tenun Troso Jepara

Kain Tenun Troso Jepara

 

*****

Dukung terus kerajinan khas bangsa kita. Mari sama-sama menjaga kelestarian kekayaan wastra nusantara. Doakan pula agar saya bisa terus menambah koleksi kain dari berbagai daerah di Indonesia. Selalu ada cerita dibalik setiap lembar kain-kain ini. Tujuan saya hanya satu. Agar setelah dewasa nanti, anak saya yang kini masih bayi juga bisa mengenal warisan budaya leluhurnya. Wastra nusantara.

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakan Wego.

16 Comments
  1. October 23, 2015
    • October 23, 2015
  2. October 23, 2015
    • October 23, 2015
  3. October 24, 2015
    • October 25, 2015
  4. October 25, 2015
  5. October 25, 2015
    • October 25, 2015
      • October 27, 2015
        • October 27, 2015
  6. October 28, 2015
    • October 29, 2015
  7. November 5, 2015
    • November 6, 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*