Dilema Wisata Karimunjawa

Raise Your Voice ~ Not The Sea Level | 5 Juni 2014 | #WED2014

ย 

Tulisan ini diposting untuk berpartisipasi memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day 2014 yang diprakarsai badan PBB – UNEP, United Nation Environment Programme.

ย 

*****************

ย 
Underwater Pulau Cemara Besar Karimunjawa

Underwater Pulau Cemara Besar Karimunjawa | Banyak Coral Patah ๐Ÿ™ | photo by MDC UNDIP

Semua aspek dalam kehidupan selalu memiliki dua sisi yang berkebalikan. Ada positif, ada negatif. Ada baik, ada buruk. Ada yin, ada yang. Begitu pula dengan industri pariwisata yang akhir-akhir ini kian marak dan berkembang. Traveling atau jalan-jalan atau piknik atau backpacking atau apalah orang mau menyebutnya, sudah bukan lagi kebutuhan tersier seperti kondisi beberapa dekade lalu. Kini, traveling sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Bahkan sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Iya nggak?

ย 

Nah, kali ini saya ingin sedikit bercerita mengenai hasil observasi dan analisa di lapangan terkait case perkembangan industri pariwisata di Kepulauan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah. Beginilah dilema wisata karimunjawa.

ย 

โ€œNyet! Ini postingan blog atau karya tulis ilmiah sih? Serius amat bahasanya.โ€ | #Monolog

ย 

Oke, lanjut! Jadi gini ceritanya, ketika bulan April 2014 lalu, saya kembali mengunjungi pulau Karimunjawa untuk mengikuti ujian open water sertifikasi selam. Saya cukup kaget ketika mendapati banyak perubahan yang terjadi disini. Dibandingkan dengan tepat 3 tahun sebelumnya ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kepulauan kecil di utara pulau Jawa ini pada April 2011 lalu. Berikut perbandingannya:

ย 
Sunset Karimunjawa

Sunset Karimunjawa

ย 

Transportasi ke Karimunjawa

Pada 2011 lalu, fasilitas transportasi publik ke pulau Karimunjawa hanya ada 3, yaitu KMP Muria dari pelabuhan Kartini Jepara yang memakan waktu 6 jam pelayaran mengarungi laut Jawa. Lalu menggunakan KMC Bahari Express dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang dengan waktu tempuh 3 jam pelayaran dan Pesawat perintis sistem carter milik Kura-kura aviation yang terbang dari bandara Ahmad Yani, Kalibanteng, Semarang.

Nah, pada 2014 ini akses ke pulau Karimunjawa semakin mudah dengan ditambahkannya KMC Bahari Express 2 dari pelabuhan Kartini Jepara dengan waktu pelayaran hanya 2 jam. Selain itu, KMP Muria yang sudah tua renta kini pensiun, digantikan KMP Siginjai yang lebih โ€œmudaโ€ dengan waktu tempuh selama sekitar 4 jam saja.

ย 

Akomodasi

Ketika saya ke Karimunjawa pada 2011 memang sudah banyak hotel dan homestay disini. Namun 3 tahun berselang, kondisinya sudah banyak berubah. Sepertinya masyarakat setempat berlomba-lomba membangun dan merenovasi rumahnya untuk dijadikan homestay bagi para wisatawan yang datang ke Karimunjawa. Banyak homestay baru. Demografi pun berubah. Saya juga mendengar penuturan warga lokal bahwa akan ada banyak hotel baru di wilayah Karimunjawa.

ย 

Gaya Hidup Penduduk Lokal

Saya menginap di Firzah Homestay milik Pak Arif. Lokasinya di belakang kantor pos Karimunjawa. Saya banyak mendengarkan penuturan dari Bu Arif, yang juga seorang guru disana.

ย 

โ€œSekarang banyak terjadi perubahan lifestyle di Karimunjawa mas. Anak-anak SD tingkah lakunya makin agresif, kalau dulu kalem-kalem. Pemuda-pemudinya juga gaya berpakaiannnya mulai berubah, kalau dulu bajunya sopan, sekarang yang perempuan sudah berani pakai yang agak terbuka, di tempat umum pun sudah nggak malu-malu lagi. Yang laki-laki ada yang rambutnya ikut-ikutan digimbal segala.โ€ Cerita bu Arif panjang lebar.

ย 

Saya pun tergelitik bertanya, โ€œAda yang nikah dengan orang asing nggak bu?โ€

ย 

โ€œWah ada mas, anak pulau sebelah, dapat orang luar.โ€

ย 

Ingin membuktikan cerita bu Arif, saya pun jalan-jalan keliling kampung. Benar saja, saya melihat langsung proses akulturasi budaya itu sedang terjadi disini. Saya sangat berharap, semoga kelak Karimunjawa tidak kehilangan identitasnya sebagai masyarakat bahari yang memegang teguh nilai-nilai islami.

ย 

Kondisi Lingkungan

Sebuah pemandangan ironis saya temui di pinggir jalan raya utama ketika berjalan dari pelabuhan perintis menuju ke pusat Karimunjawa. Sebuah papan himbauan untuk menjaga alam dan laut Karimunjawa namun di belakangnya, sampah plastik berserakan. Ya Allah, pemandangan macam apa ini…

Di lain tempat, saya mendapati sebuah lahan mangrove/bakau mulai rusak dan mengering karena mungkin akan dijadikan rumah. Ahh…

ย 
Papan TN Karimunjawa

ironis…

ย 

Kondisi Ekosistem Laut

Pada kunjungan ke Karimunjawa tahun 2011 lalu, saya sempat mencicipi indahnya taman bawah laut pulau Cemara Kecil, Cemara Besar, Tanjung Gelam, Pulau Tengah dan Pulau Kecil. Yang paling berkesan adalah keanekaragaman jenis karang di Pulau Cemara Besar dan coral wall yang menghunjam ke dasar laut dalam di Pulau Tengah. Kadang terlihat sekelebat ikan-ikan pelagis di spot ini.

Namun apa yang saya dapatkan 3 tahun kemudian sudah sangat berbeda. Beberapa warga lokal mengatakan kondisi coral di pulau Tengah sudah tak sebagus dulu, banyak yang rusak karena massive tourism. Begitupula ketika saya diving di spot coral garden di pulau Cemara Besar. Sudah banyak karang yang patah dan mengalami coral bleaching. Bahkan seorang teman dari MDC Undip menemukan spesies Crown of Thorns (COT) atau yang nama ilmiahnya Acanthaster planci. Spesies ini memakan polip karang, jadi apabila karang sudah dihinggapi COT, maka tipis harapan hidupnya. COT dan bulu babi merupakan indikator kerusakan ekosistem laut.

ย 
Crown of Thorns

Crown of Thorns

ย 

Status Pulau-Pulau di Kepulauan Karimunjawa

You know what guys? Saat ini sudah banyak pulau-pulau kecil di sekitar Taman Nasional Karimunjawa yang dibeli oleh pihak asing dengan mengatasnamakan warga lokal sebagai pengelola. Diantaranya pulau Tengah, pulau Kecil, pulau Menjangan Besar, pulau Menjangan Kecil dan lain-lain.

ย 

โ€œAwalnya warga lokal pemilik pulau pada seneng mas, lahannya dijual, dapat duit banyak dari orang asing. Tapi setelah berjalan beberapa waktu, sekarang mereka pada bilang menyesal sudah menjualnya. Tapi gimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Padahal pulau-pulau itu kan aset wisata Karimunjawa.โ€ kata Bu Arif ketika kami mengobrol di bawah gazebo guesthouse.

ย 
Pulau Tengah Karimunjawa

Pulau Tengah Karimunjawa

ย 

Harapan

Saya yakin, hampir semua daerah yang memiliki potensi wisata, khususnya wisata alam memiliki permasalahan yang serupa. Banyak wisatawan datang, perekonomian masyarakat berjalan. Namun disisi lain kondisi alam akan semakin memprihatinkan karena banyak kerusakan.

Dibutuhkan kesadaran bersama untuk bisa saling menjaga.

Ayo sama-sama kita majukan industri pariwisata di Indonesia.

Ayo sama-sama kita berdayakan masyarakat lokal agar kemajuan pembangunan semakin merata.

Ayo sama-sama kita nikmati keindahan alam ciptaanNYA.

TAPI

Ayolah sama-sama kita jaga lingkungan.

Ayolah jangan buang sampah sembarangan.

Ayolah jangan sentuh-sentuh karang dan biota laut lainnya.

Mari kita sama-sama terapkan dan laksanakan prinsip-prinsip eco tourism dan sustainable tourism.

ย 

Klik Disini Untuk Cek Perbandingan Rate Hotel Di Semarang

Pulau Kecil Karimunjawa

Di Pulau Kecil Karimunjawa

 

 

35 Comments
  1. June 5, 2014
    • June 5, 2014
  2. June 5, 2014
    • June 5, 2014
  3. June 5, 2014
    • June 5, 2014
  4. June 5, 2014
    • June 5, 2014
  5. June 5, 2014
    • June 5, 2014
  6. June 5, 2014
    • June 6, 2014
  7. June 6, 2014
    • June 6, 2014
    • June 6, 2014
      • June 11, 2014
  8. June 6, 2014
    • June 6, 2014
  9. June 10, 2014
    • June 10, 2014
  10. June 12, 2014
    • June 12, 2014
  11. June 12, 2014
    • June 12, 2014
  12. June 17, 2014
    • June 18, 2014
  13. June 18, 2014
    • June 19, 2014
  14. June 25, 2014
  15. June 26, 2014
  16. September 12, 2014
    • September 12, 2014
  17. June 25, 2015
  18. August 3, 2015
    • August 4, 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *