Di Antara Keheningan Candi Gedong Songo Ungaran Part 2

Sebelum baca postingan ini, simak dulu part 1 – klik disini.

bekas-area-flying-fox-candi-gedong-songo-ungaran
Track dari Candi Gedong 1 ke Gedong 2

Jalur trekking akhirnya berbelok ke kiri, sedikit menurun melewati bekas area flying fox yang kini sudah tidak digunakan lagi. Dan begitu berada di sekitar situ…

DEG! Hati saya tersentak!

Astaghfirullah! Beberapa sosok berkelebat diantara pepohonan. Tidak banyak memang. Namun perasaan saya seperti ada yang melompat dengan cepat dari pohon satu ke pohon lainnya. Seperti dalam adegan film-film silat jaman dahulu itu.

Dengan sedikit gemetar saya terus melangkahkan kaki ini. Namun apa daya, baru beberapa langkah kedepan, ternyata “ada juga” yang hanya terdiam di pinggir jalur trekking  yang mau tidak mau saya harus melewatinya. Bulu kuduk saya berdiri. Tengkuk mendadak terasa dingin. Yang jelas otak saya segera merespon untuk berjalan lebih cepat agar segera keluar dari sana mencari tempat yang lebih terbuka sambil berusaha menguasai hati agar tidak kalut.

Siang-siang kok ya ada beginian to yaa.

Ahh… entahlah apa itu. Wallahu a’lam.

Dengan setengah berlari saya menghampiri Citra yang sudah sibuk berfoto-foto di candi gedong 2. Ingin rasanya bertanya ke Citra tentang apa yang ada di jalur trekking barusan. Namun saya mengurungkannya. Dia masih asyik berkutat dengan DSLR nya.

candi-gedong-dua-candi-gedong-songo-ungaran
Candi Gedong Dua

Sembari duduk mengatur nafas, rombongan teman-teman blogger hore pun datang. Mereka masih terlihat ceria semua. Syukurlah, berarti tidak terjadi apa-apa selama melewati jalur tadi. Saya pun tidak ingin merusak keceriaan mereka dengan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Jalur yang harus kami tempuh masih sangat panjang. Nggak lucu dong kalau karena “takut berjamaah” lalu mereka memilih untuk kembali ke basecamp di bawah.

Candi Gedong Songo memang terasa “lain” diantara candi-candi lainnya. Kompleks candi Hindu yang berada di desa Candi, kecamatan Bandungan, kabupaten Semarang ini dibangun di lereng Gunung Ungaran pada abad ke 8 masa kekuasaan dinasti Sanjaya. Dari sini kita bisa menikmati hamparan bentangan alam deretan gunung Merbabu, Telomoyo, Sindoro & Sumbing. Menurut catatan arkeolog, konon Candi Gedong Songo dahulunya digunakan sebagai tempat pemujaan, karena kalau dilihat dari lokasinya, gunung merupakan kayangan. Dimungkinkan juga ada beberapa candi yang difungsikan sebagai perabuan/pemakaman.

Setelah apa yang saya alami tadi, saya memilih untuk berjalan beriringan dengan teman-teman menuju ke candi gedong tiga yang lokasinya sedikit lebih tinggi lagi. Salah satu candi yang paling menarik menurut saya. Karena disini terdapat 3 buah candi. Dua menghadap timur, satu candi perwara menghadap barat dan sebuah arca ganesha. Kondisinya pun masih terawat.

“Lanjut trekking yuk! Baru setengah jalan lho. Ntar nggak cukup waktunya.” Saya mengingatkan teman-teman untuk kembali melanjutkan perjalanan karena waktu kunjungan yang terbatas.

candi-gedong-tiga-candi-gedong-songo-ungaran
Candi Gedong Tiga

Jalur trekking menurun dari candi gedong tiga menuju gedong empat yang kami lewati cukup licin karena sisa hujan semalam. Sebagian besar paving sudah mulai berlumut. Jika tidak berhati-hati bisa terpeleset. Di lembah ini terdapat sebuah kawah kecil yang masih aktif mengeluarkan belerang. Sesekali asapnya mengepul membumbung tinggi.

DEG! Ada beberapa sosok lagi disini.

“Permisi, saya cuma numpang main disini.”  Batin saya.

Belajar dari kejadian tadi, saya memilih untuk segera pergi meninggalkan area lembah sembari komat-kamit membaca doa tanpa sempat berpamitan dengan teman-teman yang masih asyik foto-foto dan eksplorasi disana. Lagian bau belerang terasa cukup menyengat. Saya tidak tahan.

mistis-candi-gedong-songo
Dapur belerang di lembah Candi Gedong Songo Ungaran

Penampakan Di Candi Gedong Songo

Tanpa disadari saya kembali berjalan seorang diri menuju kompleks candi gedong empat dan lima. Jalurnya menanjak. Sebelah kanan dinding tebing, sebelah kiri jurang. Hanya jalan setapak kecil yang bisa dilalui.

Hampir sampai di atas, saya berpapasan si Incess Bulan yang terlihat begitu menikmati trekking naik kuda.

“Famiiiiiiiikk.” Panggilnya ceria dengan nada yang khas.

“Bibiiiiiiiiiiiik.” Kami berteriak-teriak layaknya sahabat pena yang sudah lama tak berjumpa.

“Sekte jompo berkuda yang lain mana? Richo, Lenny, Kakatete, sama Ghana?”

“Haha tuh masih pada di belakang. Aku duluan ya Fam.” Dia berpamitan.

“Woke, ati-ati.”

sewa-kuda-candi-gedong-songo
Pasukan berkuda Candi Gedong Songo
pemandangan-candi-gedong-songo
Landscape candi gedong dua dan tiga di kejauhan

Saya pun kembali melanjutkan trekking. Belum jauh melangkah, di ujung belokan saya melihat sesuatu yang membuat tertegun. Langkah saya terhenti.

Saya melihat penampakan sosok seorang wanita sedang menunggang kuda dengan ekspresi meringis khawatir. Kepalanya terangguk-angguk kaku. Tangannya memegang erat tali kekang kuda. Kakinya mengejang menginjak pijakan sadel seperti layaknya menginjak rem mobil ketika berada di jalan menurun, takut kalau merosot.

Dialah Kakatete alias Parahita Satiti.

Namun ada pemandangan yang lebih membuat saya kaget. Yaitu si mas-mas penarik kudanya. Kenapa?

KARENA DIA NARIK KUDA SAMBIL BAWAIN TAS HERMES COKLAT MILIK KAKATETE YANG HEITS ITU!!

YAMPUN! SUNGGUH TEGANYA DIRIMU DIRIMU DIRIMU WAHAI KAKATETE!!

Hahahaha inilah penampakan yang paling seram selama saya trekking di Candi Gedong Songo. Sepanjang trekking, si mas itu bawain tas Hermes milik Kakatete. Entah apa isi tas cokelat itu sampai-sampai harus dibawa-bawa kesana kemari naik turun gunung. Bongkahan berlian mungkin haha. Antara geli setengah mati tapi juga kasihan lihat masnya yang dengan besar hati membawakan tas. Sungguh romantis sekali pasangan ini. Semoga langgeng ya Kakatete. #eaaa

candi-gedong-songo-hermes-kak-titi
Lebih horor lihat adegan ini daripada lihat yang “lain” hahaha

Duh, maaf ya teman-teman pembaca, kalau ending ceritanya jadi absurd begini hahahaha. Karena ya memang begitulah jalan ceritanya. Di awal saya bertemu yang aneh-aneh, di akhir saya bertemu dengan yang lebih aneh. Kalau saya bertemu “sesuatu” yang horror, maka mas pemandu kuda Kak Titi ini bertemu dengan tamu paling horor yang pernah dia bawa. Hahaha.

Semoga cerita pengalaman saya trekking di Candi Gedong Songo Ungaran ini tidak menyurutkan niat kalian untuk berkunjung kesini. Seru kok! Wisata alam sambil belajar sejarah sekaligus olahraga. Yuk nikmati wisata alam Semarang. Eksplorasi wisata Jawa Tengah.

Salam Jateng Gayeng!

=================

Baca juga postingan teman-teman travel blogger tentang Candi Gedong Songo:

Citra Rahman – Misteri Jumlah Candi Gedong Songo

Parahita Satiti – Saya, Mama, Kuda dan Cerita Tentang Candi Gedong Songo

Dhanang Sukmana – Jalan-jalan Ke Candi Gedong Songo

Winny Marlina – Jalan Kaki Keliling Candi Gedong Songo

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
47 Responses
  1. Ok mas, walaupun katamu pemandangan terakhir itu lebih seram, aku penasaran sama yang dirimu lihat sebelumnya. Karena pas aku ke sana, aku lihat …….. *nunggu jawaban dulu*

    1. waktu trekking di candi gedong songo, aku lihat 5 candi mas, dari candi gedong 1 sampai 5 hahaha. lihat juga deretan pepohonan, kuda-kuda yang ditunggangi tamu, sama lihat banyak muda-mudi pacaran di candi :p

      kalau kamu dulu lihat apa?

      *siap2 dijewer*

  2. riyanti

    Hahaha…. seru banget baik yang awal maupun yang akhir… gpplah kita berbagi alam semesta ini kan?
    BTW, aku penasaran banget sama gedongsongo ini, ga pernah bisa kesampean dari dulu.. entah kenapa. Bagus yaa…

  3. Tes…tes… 1,2,3! *nyalain mik*

    Jadi gini ya, PapaCimil… saya sebagai seseoknum pembawa tas Hermes laknat itu (yang belakangan tas itu gw kasih nama “Si Amplet”) akan menuliskan eksepsi atas ending tulisan ini.

    Pas mau naik kuda, gw udah sadar itu tas bakal bikin ribet. Tapi, mau balik lagi ke bis, udah males. Mau ditinggal di kandang kuda, ya ga bisa lah ya… secara itu tas isinya batu permata, berlian, emas batangan 24K 10 kilo, kenangan masa lalu, bekal makan siang, dan foto-foto aib bersama mantan, yekan…

    Jadi yo wis, dibawa aja.

    Lagian Mas Nur, si pemilik kuda, mau membawakan dengan sukarela, kok! *tempelin piso makin erat ke pinggang Mas Nur*

    Sekian eksepsi dari perempuan rempong penunggang kuda bawa Hermes.

    1. baik saudara tersangka. eksepsi anda akan ditinjau ulang oleh hakim. sidang lanjutan akan digelar pekan depan dengan agenda pengungkapan isi tas hermes yang kemudian diberi nama “Si Amplet” sebagai barang bukti utama persidangan. silakan saudara berkoordinasi dengan tim pembela untuk persiapan famtrip selanjutnya. hahahaha

      hahaha you made my day Kakatete! sumpah epic banget itu naik candi gedong songo pake kuda sambil bawa hermes tapi endingnya yang bawain mas nur si penarik kudanya hahaha, masih geli sampai sekarang

  4. Saya no comment soal penampakan yang terakhir yak, hehe. Tapi untungnya pas saya ke sana (sudah dua kali dan mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa tandang untuk yang ketiga kalinya) tidak pernah dapat kejadian yang aneh-aneh. Jangan sampai deh, hihi.
    Setahu saya sampai sekarang Gedong Songo masih dipakai tempat pemujaan. Katanya sih yang dipakai Candi Gedong Satu dan Gedong Tiga. Untuk hari raya juga kadang ada umat Hindu yang sembahyang di sana, hehe.

    1. wahahaha kenapa no comment untuk penampakan yang terakhir bro? padahal disitu gong-nya. takut dijitak kakatete kah? hehe. ternyata sudah dua kali berkunjung ke candi gedong songo? dan akan ketiga kalinya? seru ya! candi ini memang punya daya tarik tersendiri sehingga kita ingin kembali lagi. begitupun saya. tapi besok lagi kalau cuaca sudah cerah 🙂

  5. itu asap yah? kok mirip aer terjun.

    btw sejak ngeliat candi borobudur beberapa tahun lalu, sekarang kalo ngeliat candi lain rasanya gimana gitu, kecil soalnya hahaha

  6. Huhahah aku jadi penasaran mas fahmi, sebenernya itu sosok bentuknya macam apa *nantang huheue.. kalau ke Gedong songo jadi inget sekalian ke Gunung Ungaran, pas di pos ke 3 itu juga ngeri ?, kayak ada yg ngikutin aromanya jg lain.

    1. haha istilahnya wisata bebatuan ya kalau main ke candi? lucu.. lucu.. betul, kompleks candi gedong songo ungaran ini luas sekali, berada di lereng gunung ungaran yang masih sejuk hawanya

    1. Saya rasa kalau indigo sih nggak mbak, tapi “bersentuhan” dengan kejadian-kejadian macam begini udah lumayan sering. Kalau pas siap ya santai-santai aja. Tapi kalau pas nggak siap, ya kagetan juga haha.

Leave a Reply