Catatan Buruh Migran – Mengurus Residence Visa & Emirates ID

PART 10

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Karena sekarang hidup di negara orang, maka harus mematuhi semua peraturannya juga dong. Termasuk kelengkapan administrasi kependudukan seperti visa dan kartu identitas.

Hari itu saya diminta untuk medical check up oleh orang HR. Do’i cuma ngasih dua lembar formulir yang sudah diisi lengkap. Satu untuk medical check up yang akan dipakai untuk propose residence visa Dubai, satu lagi untuk Emirates ID, semacam KTP elektroniknya sini gitulah. Katanya sih saya sudah tidak perlu isi apa-apa, tidah perlu bayar apa-apa. Tinggal datang & serahin formnya. Ntar kalau jadi akan dikirim ke kantor. Ngono.

Instruksinya, pergilah ke Karama Medical Center, ntar disana kamu bisa check up sekaligus finger print untuk emirates ID. Beda instansi, beda gedung, tapi deketan. Jadi palingan nggak lama. Kelar urusan langsung balik kantor lagi.

Gitu wanti-wantinya.

Secara saya pernah stay di Dubai selama sebulan di area Al Jafiliya pada tahun 2015 lalu, which is lokasinya nggak jauh-jauh amat dari Karama, maka saya iya-iya aja. Dengan sotoynya nggak nanya-nanya lagi, langsung cuss berangkat.

Naik metro red line, turun di stasiun ADCB lanjut taksi bentar ke gedung yang dimaksud. Celingak-celinguk liat kanan kiri akhirnya nemu Al Karama Medical Center yang lokasinya berseberangan dengan Dubai Central Post Office.

Sumringah banget dong karena langsung ketemu. Meski ketika masuk, sempat agak ragu karena di lembar bookingan medical check up dari kantor, tertulis Al Mankhool Health Center, buka Karama Medical Center.

Reception disini dipisah antara cowok dan cewek. Yang jaga mas-mas Indiahe gitu.

“Mas, disini beneran Karama Medical Center kan?”

“Yoi bro! Ada yang bisa dibantu?” sambil kepalanya geleng-geleng dikit.

“Ini bro, saya mau medical check up.” Seraya menyerahkan lembaran formulir yang tadi.

“Ooh, ini bukan disini mase. Tapi di Karama satunya. Jauh dari sini.”

“What do you mean?! “

Belum sempat dijawab, dia malah geser ke meja sebelah untuk melayani orang lain karena memang sedang ramai.

Ebuset, trus bijimane nih nasib guweh?! Tanggung jawab!

Saya menggebrak meja!

~tapi hanya dalam angan-angan, karena ya mana berani ngamuk-ngamuk di negeri orang yang apa-apa dikit ada dendanya yekan.~

Dengan gontai saya melangkah keluar. Pindah ke gedung sebelah untuk mengurus Emirates ID. Alhamdulillah nggak sampai 5 menit, urusan kartu identitas sudah kelar karena data pendaftaran saya sudah ada di system, tinggal verifikasi barcode dan ambil sidik jari saja.

Karena masih bingung, saya tanyalah ke reception Emirates ID sembari menunjukkan form tadi. Dia menyuruh saya untuk naik taksi lagi dan minta diantar ke alamat klinik yang tertulis di formulir itu. It’s near katanya.

Dan benar saja, letaknya memang nggak begitu jauh. Hanya sekitar 5 Km dari Karama.

Hari sudah menjelang siang, belum winter kala itu, jadi panasnya masih lumayan mak nyoss.

Klinik ini relatif lebih sepi. Tidak seramai yang di Karama. Wah lumayan, nggak bakal antri banyak nih kayanya. Pikir saya.

Namun begitu sampai di meja reception, aplikasi saya ditolak mentah-mentah! Bukan disini katanya. Lha saya ngeyel dong karena nama klinik ini sudah sesuai dengan yang tertera di formulir dari kantor. Dibilangnya, klinik ini tempat medical center buat renewal aja. Kalau untuk orang baru nyampai di Dubai, medicalnya di Karama Medical Center yang lokasinya di Al Quoz Mall. Yawla, mana lagi ituuuuh!

Jeng jeeeng! Jadi ada dua nama Karama Medical Center?

Ealah!

Maka dikasih tahulah saya gemana cara ke tempat itu saya karyawan klinik situ.

“Jadi saya order taksi dari sini bang?”

“Nggak usah mas, jauh tempatnya. Ntar mahal lho. Mending naik metro aja, trus ntar lanjut naik bus. Stasiunnya deket kok. Jalan kaki juga sampai.” Kata mas Indiahe yang mencoba meyakinkan saya.

Belajar dari kejadian sebelumnya, jangan sotoy, kali ini saya manut aja.

Beneran jalan kaki dari Al Mankhool ke statsiun ADCB di tengah hari yang panasnya langsung bikin dehidrasi.

Jalan selangkah dua langkah, lima puluh meter, seratus, lha mana? Katanya deket? Kok nggak kelihatan stasiunnya? Usut punya usut,

TERNYATA JARAKNYA 1,2 KM!!

GOSTIALAAAH, PARINGANA MOTOR NINJA!

Al Mankhool Clinic ke ADCB Metro Station

Sudah mau pingsan rasanya ketika akhirnya saya sampai di peron stasiun ADCB.

Waktu itu belum punya nomor lokal dan belum ada paket data, jadi belum bisa internetan. Menghindari kesalahan yang sama, saya bertanya kepada bapak-bapak yang lagi nyantai di stasiun untuk memastikan arah ke Al Quoz Mall.

“Take metro to First Abu Dhabi Bank station, and then take bus F25 to Al Quoz Mall”

“Ok noted, syukran”

Mendengar penjelasan si Bapak, kebayang dong gimana jauhnya tempat itu. Harusnya pagi tadi saya ambil metro arah ke kiri, la ini malah ambil yang ke kanan. Ngemplang jauhnya!

Dilemma pun melanda. Kalau balik kantor, takut diomelin karena urusan belum beres. Tapi kalau lanjut, babang udah lemas karena belum sempat sarapan dari pagi. Sementara kalau mau makan dulu, takut nggak keburu waktunya karena jauh & urusannya masih banyak. Hffft.

Sampai di FAB metro station, Alhamdulillah saya langsung dapat bus F25 tanpa menunggu lama. Rute bus ini muter-muter nggak karuan. Dari tadinya jalan di sekitaran Emirates Mall yang masih penuh dengan peradaban, lalu bus ini malah masuk ke kawasan industri yang penuh dengan komplek pabrik dan gudang, serta flat-flat pemukiman buruh. Cerobong asap dimana-mana, truk-truk besar lalu lalang di jalan yang sempit, debu beterbangan dimana-mana. Menambah penat suasana.

Jangan-jangan saya nyasar lagi nih?!

“Is this the right bus to go to Al Quoz Mall?” Tanya saya ke mas-mas di sebelah.

“Ya, sure. I’ll let you know when arrive Al Quoz Mall.”

Jawabannya agak menenangkan sih, at least nggak salah bus. Tapi, kalau lihat lingkungan sekitar yang isinya pabrik & gudang semua, mana ada mall di komplek kaya gini?

Yang namanya mall, kebayangnya ya bangunan megah, bersih dan dingin ber-AC layaknya mall-mall itu lah. Tapi sejauh mata memandang, nggak terlihat bangunan bertingkat macam mall gitu. Aneh.

Pingin tanya lagi, ntar dibilang bawel. Mau main gawai, mati gaya karena nggak ada paket datanya. Mau merem, takut kebablasan. Paringana sabar.

Setelah sekitar 40 menit bus muter-muter di kawasan ini, akhirnya saya sampai di Al Quoz Mall. Iya, ternyata beneran ada “mall” di kawasan industri ini.

TAPI BANGUNANNYA BUKAN KAYA DUBAI MALL, MALL OF EMIRATES, GRAND INDONESIA, ATAU ION ORCHARD MALL GITU!

MELAINKAN SEMACAM DERETAN RUKO MEMANJANG DAN DI DALAMNYA ADA LOS-LOS KIOS KAYA PASAR MODERN GITU.

#Zonk

Oalah ini yang namanya Al Quoz Mall? Hahahaha yayayaya.

Antrian pagi hari kedua, masih relatif belum terlalu panjang

Benar saja, ada Al Karama Medical Center disini. Letaknya di kompleks ruko paling ujung. Terlihat antrian panjang mengular sampai halaman parkir depan klink. Tidak hanya puluhan, ratusan orang bediri mengantri dibawah terik matahari. Sebagian besar orang India, Pakistan dan Filipina.

Setelah memastikan kondisi kepada petugas jaga, saya no thank you ajalah kalau harus ikutan antri sambil dijemur begini. Kalau pengsan urusan jadi runyam.

Keesokan paginya, saya tancap gas kesini lagi. Alhamdulillah antrian belum terlalu panjang. Saya dapat nomor 29. Sekitar pukul 8.10, klinik memulai pelayanannya. Dari lantai 1 bagian verifikasi, saya kemudian diarahkan ke lantai 2 untuk proses selanjutnya. Hanya tes kondisi fisik, tes darah, urine dan rontgen paru-paru. Sepertinya untuk deteksi narkoba, HIV & TBC. Karena dengar-dengar kalau sampai kena 3 case ini, tidak dapat mengajukan visa kerja dan bisa-bisa disuruh pulang ke negara asalnya.

Disuruh pulang lho ya, bukan dipulangin.

Nyesek, nyesek deh.

Hari semakin siang, antrian semakin panjang. Saya baru sadar kalau ternyata kode antrian di klinik ini berbeda-beda tiap orangnya. Usut punya usut, dibedakan berdasarkan negara asal kita. Asia selatan, Asia tengah kode sendiri. Filipina kode sendiri, Asia Tenggara kode sendiri, begitu pula bagi Afrika. Yang agak berbeda perlakuannya bagi yang berasal dari Eropa atau Amerika. Kheses mereka, ndaperlu antri. Diskriminasi yes.

Selang seminggu kemudian, hasilnya sudah keluar. Alhamdulillah dinyatakan fit.

Bersambung…

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
7 Responses
  1. Kebayang banget capeknya kak, gak cuma di Indonesia urusan seperti begini yang runyam tapi disana juga yah. hahaha

    Dari sini kamu harus belajar kak, Perspektif arti jauh dan dekat tiap orang itu beda2?

  2. Hahaha kalo cuma baca kisahnya sih seru ya, tapi kebayang kalau ngalamin sendiri.. pfft! Btw senangnya kamu tetap fit, untung selama traveling bareng kita selalu main aman ya kak..

    *kalau tadi komen serius, kali ini kembali ke komen binal*

Leave a Reply