Catatan Buruh Migran – Sebuah Jawaban

Part 2

Meski interview kemarin berjalan relatif lancar, namun saya masih kurang percaya diri dengan hasilnya. Ah… nasi sudah menjadi bubur bro! Nggak akan bisa diulang juga wawancaranya. Tidak ada kesempatan kedua pun.

Kini tinggal berserah diri. At least, I’ve tried my best. Lillahita’ala saja. Ikhtiar selanjutnya ya berdoa. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa dalam sujud-sujud panjang menghadapNYA.

“Ya Allah, jika memang ini jalan terbaik yang Engkau berikan, maka mudahkanlah. Namun jika ini bukan jalan yang terbaik bagi hamba sekeluarga, maka tunjukkanlah jalan yang lain yang terbaik. Bimbinglah setiap langkah kami agar selalu dalam keridhoanMU.”

Begitulah doa penutup yang saya panjatkan.

Meskipun sambil H2C, harap-harap cemas, saya tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Tidak ada yang tahu mengenai interview itu. Teman, saudara, bahkan Bapak Ibu sekalipun. Cuma istri yang tahu karena tentunya ketika sudah berumah tangga, semua hal harus dikomunikasikan berdua.

Hingga akhirnya, sebuah notifikasi email masuk itu kembali datang sore itu. Saya masih di kantor.

“Congratulations Fahmi, you have been selected for blablabla

We look forward to hearing from you and hope you will accept the offer and join our family.”

Subhanallah! Ini beneran?

Lutut ini langsung terasa lemas.

Untuk yang kedua kalinya saya baca lagi. Lebih perlahan.

Saya klik attachment dibawahnya.

Sebuah offering letter yang singkat, padat dan jelas. Khas perusahaan internasional yang tidak suka bertele-tele macam pakai pasal 12345 segala.

Ya Allah, inikah jawaban dari doa-doa itu?

Sujud syukur…

Offering Letter

Tangan ini masih sedikit gemetar ketika saya mencoba mencermati kembali setiap detail pernyataan, persyaratan dan klausul dalam surat penawaran kerja tersebut. Tertera hak dan kewajiban pekerja. Ada pula nominal yang akan saya terima setiap bulannya.

Tapi kok nolnya cuma dikit ya?

Baru sadar, mata uangnya Dirham, bukan Rupiah haha.

Mencermati job descriptionnya, insyaallah bisa lah. Namun ketika melihat hak dan benefit yang ditawarkan, saya pun belum tahu benar, apakah penawaran ini memang bagus atau tidak? Apakah dengan angka segitu saya bisa survive di Dubai? Lalu sebenarnya berapa gaji standar untuk posisi yang setingkat? Berapa pula biaya hidup rata-rata disana? Dan masih banyak pertanyaan gimana-gimanu lainnya.

Hanya ada waktu maksimal 2 x 24 jam untuk menerima, atau menolak offering letter ini.

Setelah shalat istikharah, berdiskusi dengan istri dan memantabkan hati, akhirnya dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, saya tandatangani dokumen offering letter tersebut. Meski ada klausul yang menyatakan bahwa perusahaan dapat membatalkan penawaran kerja secara sepihak jika saya tidak dapat memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam waktu tertentu.

Iya lah, mereka juga nggak mau rugi. Buruan masuk kantor biar bisa segera bekerja. Nah, lalu dokumen apa saja yang harus saya persiapkan untuk memproses visa UAE?

Dokumen Visa Kerja Di Dubai

Baru baca listnya saja, udah kebayang gimana ribetnya bakalan bersinggungan dengan birokrasi di Indonesia. Ya meskipun kini sistem birokrasi sudah makin membaik, namun tetap saja kadang suka ada yang ini itu yekan.

Buruh migran yang mendapatkan pekerjaan di luar negeri sendiri, tidak melalui biro atau agen disebut TKI mandiri. Dan dokumen yang dibutuhkan untuk pengurusan visa kerja TKI mandiri antara lain:

  • Paspor aktif yang masa berlakunya masih panjang
  • Hasil medical check up Gamca (Gulf Approved Medical centers Association)
  • Legalisir ijazah yang berbahasa Inggris dari universitas/kampus. Jika belum, maka ijazahnya harus di translate oleh penerjemah tersumpah.
  • Surat pengantar legalisir ijazah ke Dikti
  • Forlap Dikti (online)
  • Legalisir ijazah oleh Kemenristek Dikti
  • Legalisir ijazah oleh Kemenkumham
  • Legalisir ijazah oleh Kemenlu
  • Legalisir ijazah oleh UAE Embassy
  • Surat keterangan kerja dari perusahaan

YAMPUN ! kebayang kan betapa jauh, panjang, berat dan lamanya perjalanan selembar fotokopi ijazah untuk dilegalisir demi memenuhi persyaratan untuk membuat visa kerja ini. Dan karena saya tinggal di Magelang, KEBAYANG JUGA DONG GIMANA SAYA JUMPALITAN BOLAK BALIK MAGELANG – SOLO – SEMARANG – JAKARTA – SOLO – MAGELANG – SEMARANG – JAKARTA BUAT NGURUS INI sementara saya masih punya tanggungan kantor dan urus keluarga tentunya.

Kalau sampai pas udah berangkat ke Jakarta trus ternyata ada yang ketinggalan satu dokumen aja misalnya, maka KHALAS ! WASSALAM ! sementara saya hanya diberikan 30 days notice dari kedua perusahaan. Jadi dalam waktu satu bulan ini saya harus beresin semua, termasuk urusan handover kerjaan.

Sebenernya, cerita ngurus dokumen persyaratan visa Dubai ini bisa kutulis jadi postingan tersendiri karena drama abis. Tapi Babang lelah ngetiknya hahaha. Jadi singkat cerita, setelah kesana kemari, akhirnya saya memilih menggunakan jasa pihak ketiga untuk membantu mengurus ini semua.

Alhamdulillah setelah semua persyaratan lengkap dan saya kirim ke human capital, selang seminggu kemudian sebuah email baru pun masuk.

Berupa tiket keberangkatan dan visa kerja sementara.

Ya Allah Mak! Anakmu mau jadi buruh migran, jadi TKI !!

==========

Bersambung Part 3 – Catatan Buruh Migran: Pamitan Simbah

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
30 Responses
  1. IndraPrasta

    barakallahu….selamat masku….
    Semoga ini menjadi perjalanan yang indah ….mencoba menjadi perwakilan Indonesia di negeri tetangga nun jauh di sana…

    proud of you my brother…

    1. Gak jauh-jauh sama yang dulu pernah disamperin ya haha, nggak kebayang juga sih akan jadi buruh migran disini. Tapi yang jelas, jarak ribuan kilo bukanlah halangan untuk terus main #SepakTakraw !

  2. congrat mas..wah kece..
    kemarin sih aku ketemu mas fahmi catperku..
    dia cerita-cerita para blogger termasuk kamu katanya ke Timur Tengah ya hahah
    ternyata ini toh jawabannya…

    wah jarang di Indo dong sekarang..

    1. Selama belum dapat jatah tiket pulang dari kantor ya bisanya disini dulu mas haha. Salam buat temen-temen di Solo yes, belum sempat ikut kumpul-kumpul malah keburu cabs 🙂

  3. Haaaaa.. Aku mbayanginnya itu harus legalisasi, harus ada surat pengantar legalisasi dari dikti, harus ini itu. Astaghfirullah. Ribetnyaaa. Jauh lebih ribet dari jaman ngurus wisuda Sarjana.
    Tapi emang kalau dijalani aja, tau-tau selesai ya, mas?

    1. Demi masa depan keluarga, mau beratnya kaya apa ya harus dijalani hehe, bismillah. Pas ke kampus minta legalisir dan surat pengantar kan antri di depan ruang dosen tuh, trus ngemper sama mahasiswa-mahasiswi jaman now. Ditanyalah aku, “masnya jurusan apa? angkatan berapa? baru lulus kemarin ya?”

      “kujawab aja jurusan Jogja-Surabaya mas!” hahaha

    1. Sure, more to come! tapi tak akan banyak foto rasanya. kamera mirrorles sudah kujual untuk preparation ke Dubai bang hahaha.

      Maybe next project nak cuba bikin vlog la, kalau pas malas menulis.

      Eh jom balik kerja sini lagi lah

  4. Reni Agasha

    MashaAllah An…
    Malah mbrebes mili aku mocone.
    Tambah mbrebes gara2 ketinggalan sekian episode huahahuahuaa…

    Cah Magelang. Pejuang 💪

    An…doain kita bisa silaturahmi ke Dubai yaaa

  5. Luke

    Selamat sore mas, bisa share informasi agen yg dipakai untuk urus dokumen? Mudah2an bisa join nih. Terimakasih.

Leave a Reply