Catatan Buruh Migran – Pamitan Simbah

Part 3

Jumatan Dengan Si Kecil

Lantunan qiro’ah terdengar membahana di seluruh penjuru desa dari pelantang menara masjid. Tanda shalat Jumat akan segera dimulai. Saya mengendap masuk kamar untuk mengambil peci dan bergegas berangkat ke masjid.

Tiba-tiba…

“Ayah, Ais mau ikut ke masjid”

Fariz kecil yg sedari tadi tertidur pulas, rupanya terbangun karena suara derit engsel pintu kamar yang kurang minyak pelumas.

“Tapi janji, di masjid jangan rewel ya dek, duduk anteng dengerin khotbah sama ayah”

Dia hanya mengangguk pelan meski saya yakin dia juga belum tahu betul khotbah itu apa. Tatapannya sayu karena masih mengantuk. Saya kemudian menggendongnya begitu saja, dan begitu sampai teras rumah,

“Ayah, mau pakai sarung!” protesnya.

Yawla ni bocah, baru umur 2 tahun 4 bulan tapi kok ya ngerti detail apa maunya. Dia bersikukuh nggak mau pakai sarung kecil miliknya. Maunya punya ayahnya, dilipat jadi dua!

Dia pun menepati janjinya. Alhamdulillah sepanjang khotbah & shalat Jumat, Fariz hanya duduk terdiam sambil sesekali celingukan mengamati lingkungan sekitarnya. Malah ikut-ikutan sujud segala.

Melihat tingkah polahnya, saya jadi terenyuh sendiri. Ingat bagaimana Bapak mendidik saya ketika masih kecil dulu. Kerap kali diajak Jumatan di masjid. Kala itu saya juga diminta duduk anteng, nggak boleh guyon dengan temannya, nggak boleh rewel, duduk diam dengerin kotbah dari khatib, hingga lebih sering berakhir dengan ketiduran. Bangun-bangun, sudah di kamar. Rupanya digendong Bapak pulang sampai rumah.

Saya juga jadi ingat Alm mbah Kakung. Dulu, beliau didaulat masyarakat kampung menjadi imam masjid ini. Ahh… alangkah bahagianya beliau jika sekarang masih ada dan melihat buyutnya si Cimil ini ikut Jumatan, jalan timik-timik menuju masjid, pakai sarung & peci.

Ziarah Ke Makam Simbah

Usai Jumatan, seperti biasa saya tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan ziarah dulu ke makam keluarga di belakang langgar pondok pesantren yang terletak di sisi utara kampung.

“Dek, Ayah mau ke sarean (makam) simbah, mau ikut apa dianter pulang dulu?”

“Ikut!” Jawabnya lugas, meski saya yakin juga, dia belum tahu betul apa itu sarean/makam.

Asal ngikut aja pokoknya.

Memang sudah menjadi tradisi bagi kami sekeluarga, atau bahkan sekampung, ba’da shalat Jumat ziarah kubur ke makam. Sekedar birul walidain, mengirimkan fatihah & seuntai doa sembari membersihkan dedaunan kering serta rumput yang mulai tumbuh. Sebagai pengingat pula, bahwa kelak di tempat ini kita semua akan kembali.

Begitu sampai di makam, Fariz saya minta duduk bersebelahan di atas batu di samping pusara.

Belum sempat terucap Fatihah sebagai pembuka, mata ini mendadak terasa penuh. Tenggorokan tercekat. Ada rasa haru dan rindu bercampur jadi satu. Kantung mata ini seperti tak sanggup lagi membendung air mata yang saya tahan sedari Jumatan tadi. Bulir-bulir bening mengalir begitu saja.

Iya, rasa kangen kepada Simbah begitu membuncah…

Memori Bersama Mbah Putri

Angan saya kemudian terbang melayang, menembus lorong waktu.

Ikatan batin saya dengan Mbah Putri khususnya begitu erat. Banyak hal yang telah kami lewati semasa beliau momong saya dari kecil. Meski sudah berpuluh tahun lalu, namun masih segar dalam ingatan ketika Mbah Putri menggendong saya di belakang dengan jarik yang sudah mulai pudar warnanya, sembari memasak di pawon/dapur untuk mempersiapkan hidangan yang akan dijadikan hantaran makan siang Mbah Kakung di sawah.

Asap dari tungku kayu bakar mengepul memenuhi seisi dapur yang dindingnya masih terbuat dari gedhek/anyaman bambu. Lantunan shalawat Nabi tak henti-hentinya beliau nyanyikan secara lirih untuk meninabobokkan. Sementara saya semakin terlelap dalam gendongannya.

Karena rumah kami berdekatan, semasa SD, pulang sekolah pun lebih sering ke rumah Simbah. Kalau sehabis ngaji sore, kumpul-kumpul lagi di rumah Simbah dengan saudara-saudara yang lain. Magrib menjelang, kami pun shalat magrib berjamaah di langgar depan rumah. Iya, ada sebuah surau kecil yang dipakai untuk shalat jamaah Magrib dan Isya setiap harinya bersama para kerabat dan tetangga sekitar rumah.

Ritme seperti ini berlangsung hingga saya SMA. Baru terputus setelah tamat SMA saya melanjutkan kuliah di Solo, dan jarang pulang pun. Setelah 4 tahun  merantau untuk belajar (padahal aslinya jaman dulu lebih banyak bolos kuliah demi cari duit hihi), akhirnya saya kembali pulang karena selepas kuliah langsung diterima bekerja di sebuah kantor di Magelang. Saya jadi bisa kembali mengikuti rutinitas keluarga ini.

Bahkan sampai saya sebesar ini, sudah bekerja sendiri, Mbah Putri akan kemudian mencari jika saya tidak kelihatan batang hidungnya pada saat Magriban di langgar. Kalau ketahuan sedang sakit, maka ditungguin di kamar, kepala saya dielus-elus, kadang dibawakan kolak ubi atau sale pisang buatan Simbah sendiri hasil dari panen kebun belakang rumah. Kalau ketahuan saya nggak di rumah karena lagi traveling kemana tapi nggak pamitan, maka seringnya Mbah Putri yang jadi sakit karena kepikiran. Hahaha hadeuh mbaaaah. Ampuni kelakuan cucumu ini.

Hingga pada suatu malam di awal tahun 2009…

Kami berjalan berdua usai turun shalat Isya dari langgar. Hanya berdua. Saya masih pakai sarung dan Mbah Putri pun belum melepas mukenanya. Di tengah jalan, beliau ngendika:

“Nang, nek sesuk Simbah dipundhut, aku pingin ditunggoni kowe. Dingajikke.”

DEG! Hati saya tersentak!

Artinya, Nang (kanang – panggilan untuk anak laki-laki di kampung) jika kelak meninggal, Simbah ingin ditemani kamu pada saat-saat terakhir itu. Dibacakan Al Qur’an.

Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba beliau mengatakan seperti itu.

Saya menghentikan langkah.

“Kok Simbah ngendika ngaten?” Saya hanya mencoba tersenyum untuk menutupi kegelisahan yang mendadak meliputi hati.

“Tenan iki. Simbah pingin ditunggoni koe. Mulakno ora usah kerja adoh-adoh. Ojo lunga adoh-adoh!”

Artinya: Ini serius, Simbah ingin ditungguin kamu. Makanya nggak usah cari kerja jauh-jauh. Jangan pergi jauh-jauh.

Tak ada lagi kata yang bisa terucap. Kami berpelukan di tengah jalan kampung yang sepi.

Semilir angin malam turut memeluk kami berdua.

Sebuah wasiat dan amanah yang berat…

Dari sekian banyak cucunya, kenapa saya? Kenapa beliau mengatakan seperti itu? Padahal cucu-cucu lainnya sudah menyebar sampai Kalimantan, Bali, Jakarta, dan kota-kota lain untuk berkarya menggapai cita-citanya. Tapi kenapa saya dilarang pergi jauh? Boro-boro ke luar negeri. Bekerja di luar kota aja nggak dibolehin. Sementara cucu yang satu ini tipikalnya nggak bisa diem. Dan saat itu masih punya cita-cita muluk-muluk untuk menjadi seorang diplomat atau news anchor di Al Jazeera, BBC atau VOA. Atau at least TV swasta nasional lah.

Akhirnya karena wasiat itu, saya jadi sering “kucing-kucingan” dengan Simbah kalau pas ikut tes kerjaan di ibukota, atau hanya sekedar traveling ke negara tetangga. Bapak Ibu pun kalau ditanya Simbah cucunya kok ilang beberapa hari kemana? Dijawabnya sedang ikut diklat kantor hahahahaha. Yampun!

Pernah suatu kali Ibu keceplosan bilang kalau saya sedang ke Kamboja.

Langsung lah Simbah diare karena kepikiran, Kamboja itu dimana? Ntar cucunya kalau ilang disana gimana? Shalatnya gimana? Makan apa? Dan seterusnya hahaha.

Begitu dikabari Simbah sakit gara-gara mikirin saya, sepulangnya ke rumah saya langsung sungkem minta maaf. Saat itu pun berjanji gak akan lagi-lagi tergoda promo kursi gratis dari maskapai merah, promo terbang gratis dengan nuker air miles, promo hotel dan promo ini itu lainnya!! hahaha.

Tentang Kehilangan dan Sebuah Wasiat

Tiga tahun berselang sejak wasiat itu diucapkan…

Mendakak Mbah Putri jatuh sakit dan harus di opname di rumah sakit. Siang-malam, anak cucunya saling bergantian berjaga di rumah sakit untuk mendampingi Mbah Putri yang semakin hari kondisinya semakin menurun. Payahnya, selama seminggu itu, saya belum bisa ikut menjaga karena sedang ada audit di kantor.

Hingga pada Jumat sore, tanggal 23 Maret 2012 sepulang ngantor saya baru bisa ikut jaga di rumah sakit karena masuk weekend.

Kamar rumah sakit yang ditempati Mbah Putri relatif cukup luas. Lepas jam 10 malam, semua tertidur lelap di atas karpet yang di gelar di lantai kamar. Hanya saya dan Bulik Eny yang masih terjaga. Tak henti-hentinya kami berdoa di samping Mbah Putri yang sudah tidak sadarkan diri sejak siang tadi. Kondisinya terlihat seperti orang tidur biasa saja.

Matanya terus terpejam. Badannya tak bergerak. Namun kami masih bisa monitor tarikan nafasnya dari gelembung udara tabung oksigen di sebelahnya.

Jam 23.30, pintu kamar diketuk. Dokter dan perawat melakukan visit untuk pengecekan malam.

Raut muka Mbak perawat nampak kebingungan setelah mencoba mengukur tensi.

Dia oper ternsimeter kepada perawat lain di sebelahnya.

Tangan simbah diraba-raba. Kulitnya yang sudah keriput tampak begitu tipis.

“Tensinya sudah tidak bisa dikukur dok.”

Pak Dokter hanya mengangguk pelan

“Simbah didampingi sambil didoakan terus ya, pokoknya jangan ditinggal. Saya ikut mendoakan.”

Kemudian mereka pamit pergi.

Mendengar ucapan dokter, saya pun tercenung sembari mengamati gelembung-gelembung di dalam tabung oksigen yang semakin sedikit. Rentang nafasnya semakin jarang.

Semakin erat saya genggam tangan Mbah Putri. Kulit keriputnya terasa begitu tipis, menempel dengan tulangnya. Saya lantunkan surat Yaasin, Al Kahfi, Ar Rahman, Al Waqiah, Al Mulk, surat-surat pendek, pokoknya aaaapa saja saya baca sebisanya. Sementara di seberang kasur, Bulik Eny terus menuntun dengan lafadz tahlil dan syahadat.

Beberapa menit berlalu, hingga ketika saya membaca surat Al Fajr sampai pada ayat 27, genggaman tangan Mbah Putri terasa lebih kuat. Lalu beberapa detik kemudian, genggaman itu melemas dan terlepas…

Kepalanya lunglai, air mata mengalir di pipi kiri dan kanan Mbah Putri.

Tak ada lagi gelembung udara keluar di indikator tabung oksigen.

Innalillahi wainna ilaihi raajiuun…

Dalam keheningan malam, pada Sabtu, 24 Maret 2012 jam 00:15 Mbah Putri pergi menghadap sang Ilahi. Dalam kondisi persis seperti apa yang telah beliau amanahkan kepada saya, tiga tahun sebelumnya. Ditemani saya, cucunya, sambil dibacakan Al Qur’an.

Seperti sebuah kebetulan. Tapi ini diluar kuasa manusia. Allah SWT sudah menggariskan memang beginilah jalannya.

Saya masih bisa tegar saat itu. Saya peluk Mbah Putri dengan erat. Erat sekali. Seperti ketika beliau memeluk saya dulu. Ini adalah pelukan terakhir saya sebagai tanda perpisahan.

Tangis saya baru pecah satu menit kemudian ketika menelpon Bapak di rumah, mengabarkan bahwa Mbah Putri, ibu yang dicintainya telah tiada.

Ternyata seperti ini rasanya mendampingi orang sakaratul maut.

Ternyata seperti ini beratnya kehilangan orang yang kita kasihi.

Saya jadi sedikit mengerti tentang arti kehilangan.

Dan karena itulah, saya menjadi begitu menghargai sebuah kebersamaan.

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku. ” – QS Al Fajr : 27-30

Pamitan Dengan Simbah

Sengatan matahari terasa makin terik, namun Fariz kecil masih tak bergeming. Duduk setia di samping ayahnya yang sedari tadi khusyu berdoa di kompleks makam leluhurnya.

Usai berdoa, saya hampiri deretan nisan tak bernama. Terbaring disana, jasad Mbah Kakung dan Mbah Putri yang begitu kami sayangi.

“Assalamualaikum mbah, cucumu kangen….”

“Ini buyutnya, namanya Fariz….”

Tenggorokan ini kembali tercekat…

“Apa yang Simbah amanahkan dulu, sudah saya laksanakan. Atas seijin Allah, saya bisa menemani saat-saat terakhir Simbah, seperti yang dikersakke. Sekarang, saya nyuwun pamit untuk berangkat kerja ke Dubai, ijinkan saya berjuang mencari nafkah buat keluarga. Insyaallah cucumu ini tetap akan selalu mendoakanmu.”

Yaa Ilahi Rabbi…

Karena sejauh apapun saya pergi, kelak ke tempat inilah saya, kita, akan kembali.

============

Bersambung Part 4 – Catatan Buruh Migran : Vlog Selalu Ada Drama Di Bandara

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
21 Responses
  1. IndraPrasta

    sukses mas……
    baca tulisan sampeyan, ga terasa juga teringat akan almarhumah mbah putriku juga mas….
    tapi diriku tidak bisa menemani beliau di waktu-waktu terakhirnya….(waktu itu masih di jakarta dan mbahku ada di Klaten)…hanya bisa menemani waktu beliau masih di rumah sakit dan tepat seminggu balik ke tempat sekolah, beliau sudah di tempat yang tenang…

    fuihhh….

    by the way….tetap semangat mas…
    semoga kapan-kapan bisa ke sana…(hahahahah…kapan yah)…..

    1. Sekali-sekali nulis lepas di blog gpp lah ya, bosan aku dengan kondisi dunia persilatan sekarang ini. Isinya orderan klien semua, semu. Palsu. Makanya aku pingin balikin konsep blog sebagai tempat tsurhat haha. Makasih ya udah mampir Kak Dosen

  2. Huaaaa kampret banjir malam2 gara2 baca tulisan ini. Tahu betul gimana rasanya menjaga orang yang kita cintai bersiap untuk berpulang. huhuhu. Sukseb buat kak Fahmi, Alfatihah buat simbah. Aamiin.

Leave a Reply