Catatan Buruh Migran – Kena Semprot Klien

Suasana pantry sepi. Tak ada siapapun kala itu. Maklum, baru jam 11 siang, belum saatnya karyawan istirahat siang.

Saya duduk termenung di pojokan. Berusaha untuk menenangkan diri, ditemani secangkir chai panas yang masih mengepul.

Kejadian beberapa menit yang lalu cukup membuat jantung dan kepala saya nyut-nyutan.

Apa yang baru saja terjadi?

=======================================

Kata orang, melakukan rutinitas itu membosankan.

Tentu. Saya mengalaminya sekarang, dalam konteks sebagai buruh migran yang sedang mencari nafkah menjadi #pejuangkeluarga di Dubai. Bangun subuh, ngantor sampai sore, malamnya istirahat, begitu terus berulang. Belum lagi dengan aktifitas di kantor yang tak kalah monoton. Duduk di kubikel kecil, berkutat dengan Outlook, Excel dan sebangsanya.

Setelah sekitar 10 tahun ngantor, Alhamdulillah saya sudah bisa berdamai dengan kondisi ini. Ada beberapa cara untuk membunuh rasa bosan ketika bekerja. Yang paling simple dan jadi andalan saya adalah, bekerja sambil streaming radio favorit atau mendengarkan playlist lagu sesuai mood.

Seperti pagi itu. Karena masih terbawa suasana perayaan 17an dan meriahnya opening ceremony Asian Games ke 18 semalam, maka playlistnya pun ikut-ikutan bernuansa nasionalis. The Sounds Of Indonesia nya Addie MS mengalun lembut di telinga, mengiringi jemari menari diatas keyboard membalas tumpukan email dari klien. Orkestrasi Anging Mamiri dan Tanah Airku menjadi favoritnya.

Nah, baru ena-ena dengerin musik, tiba-tiba pundak saya ditowel.

Si OB sudah berdiri di belakang.

Saya lepas earphone.

“Morning Sir, ada tamu di lobby depan. Mau ketemu orang finance.”

“Namanya siapa? Dari klien mana? I don’t have any appointment today.”

“Aduh maap, lupa namanya. Tapi kayanya orang lokal sini soalnya pakai kandura putih dan keffiyeh. Ada 2 orang. Temuin aja dulu gimana?”

“Yee bijimane tong! Laen kali nanya yang bener dong ke tamunya. Jadi tahu mau klien siapa, mau ketemu siapa.”

Doi cuma nyengir bloon.

Bertemu dengan klien untuk meeting, memang lazim dilakukan karena memang sudah menjadi bagian dari pekerjaan. Saya masih ingat, awal masuk sini cuma dikasih 10 klien. Bulan berikutnya ditambah jadi 35. Bulan ketiga, ditambah lagi jadi 121. Bulan keempat, jadi 350an klien. Dan sudah sejak beberapa bulan lalu saya dipercaya, atau lebih tepatnya DIPAKSA untuk pegang +/- 750 klien yang tersebar di seluruh dunia! Emampus!

Pusing, pusing dah lu!

Jadi semakin banyak klien yang dipegang, akan semakin banyak email dan telepon yang masuk dan semakin sering pula mitang-miting ketemu mereka. Terutama yang lokasinya masih dalam satu region.

Dua orang warga lokal terlihat berdiri di depan meja reception. Pakai kandura dan kafiyeh putih. Satu tinggi besar, satu agak pendek dan lebih kurus.

Mukanya pada jutek.

Waini, pertanda buruk ini.

Arab Man Cartoon`

“Assalamualaikum, welcome to our office Sir. Have a seat please.”

Setelah mereka memperkenalkan diri, ternyata memang benar klien saya. Cuma yang ini bos besarnya. Bukan staffnya yang biasa berkomunikasi dengan pihak kantor. Mereka nggak bikin janjian mau meeting pula, maen go show aja. Normalnya kan bikin appointment mau kapan, dimana, jam berapa. Jadi sama-sama prepare.

Tanpa basa-basi, mereka mengutarakan maksud kedatangan ke kantor pagi itu. Menyangkut sebuah permasalahan yang posisinya hanya bisa diselesaikan oleh jajaran manajerial.

Saya coba jelaskan baik-baik duduk permasalahan dan prosedur penyelesaiannya. Karena meski cuma staff, memang sayalah point of contact kepada para klien. Tidak bisa mereka berurusan langsung dengan jajaran managerial internal.

Belum selesai dijelaskan, eh dia jawab dengan nada suara yang semakin meninggi.

Ya klen pada tau lah cemana karakter orang sini kan.

Saya mencoba tetap tersenyum. Sambil jelasin lagi pelan-pelan.

Eh, sialnya doi tambah marah dong!

Maksa mau minta ketemu atasan saat itu juga.

“Maaf Pak, nggak bisa. Mereka lagi meeting. Apalagi nggak bikin janjian dulu.”

Dan merekapun tetep ngeyel. Nada bicaranya tambah keras.

“Saya memaksa! Pokoknya harus ketemu! Kalau nggak saya mau terobos masuk nih!” Si Bapak setengah bangkit tapi kemudian terduduk lagi.

“Astagfirullahal’adziiim…” Mereka menghela nafas panjang.

At least marahnya orang sini masih nyebut yang bener. Nggak keluar kosakata terminalan yekan.

Untungnya sejurus kemudian, saya langsung teringat bagaimana tips meredakan kemarahan orang Arab. Yaitu… dengan mengajak shalawatan!

“Shallu ‘alan Nabi!”

“Allahumma shalli alaiih.” Jawab mereka kompak, tapi sambil bengong.

Kenapa bengong?

Jadi, karena saking banyaknya pekerja migran asal Filipina disini, which is mayoritas non muslim, maka stigma yang terbentuk kepada pemilik wajah-wajah Asia Tenggara adalah, you are Filipinos. Semua dianggapnya orang Filipin dan non muslim. Bukannya mau nyinggung SARA, tapi begitulah adanya.

“Enta Kabayan?” (sebutan bagi warga negara Filipina).

“La, ana min Indunisiya” jawab saya.

“MasyaAllah blablablabla” si bapak nyerocos panjang lebar pake bahasa Arab yang sayangnya saya nggak ngerti doski ngomong apaan. Yang jelas ada Indonesia-Indonesianya.

Kalau kejadian gini, saya jadi nyesel kenapa nggak belajar Bahasa Arab dengan baik. Kan bisa communicate better. Mana baru sekitar semingguan lalu saya bikin vlog tentang penting tidaknya Bahasa Arab sebagai pendukung karier bekerja di Dubai pula. Eh, kena sendiri deh.

Lalu tiba-tiba doski balik lagi ke pembicaraan semula.

Mau minta ketemu atasan saat itu juga.

Tapi udah sambil ngeloyor jalan masuk aja gitu macam adegan di film-film.

Aku ora iso berbuat opo-opo gaes. Ngintil aja dari belakang sambil komat kamit berdoa semoga nggak terjadi apa-apa di kantor.

Karena banyak atasan lagi pada cuti, akhirnya doski ditemui bos divisi sebelah, yang memang masih related dengan case ini sih. Diskusi ini itu, Alhamdulillah ada kesepakatan sementara dan mereka langsung cabs.

Meski masih agak gemeteran, tapi sempat juga saya anterin mereka sampai lobi depan. Yanamanya tamu kan mo gimana aja kan tetep harus dihormati. Ini pertama kalinya saya dimarah-marahin sama orang sini.

Ya Allah, kerja gini amat yak. Pake acara dimarahin orang lain atas sesuatu yang sebenarnya tidak kita lakukan. Hanya jadi tempat luapan esmosi aja gituh. Nyesek nggak?

Saat kembali ke kubikel, teman-teman pada kasak-kusuk nanyain apa yang baru saja terjadi. Siapa mereka, apa maunya, gimana kronologisnya, dll.

TERNYATA KEDENGERAN ORANG SELANTAI hahahahaha.

 

=======================================

 

Untuk mengembalikan mood yang drop, saya memilih untuk menyepi sejenak di pantry, menyesap secangkir chai seorang diri.

Kalau kalian pernah nggak mengalami hal serupa?

 

Bersambung…

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
9 Responses
  1. IndraPrasta

    wkwkwkwkwwk….tetep semangat mas Fahmi…sejatinya emang begitu kerja….kena semprot sama klien..belum lagi kena semprot sama atasan…namanya juga bawahan mas….menjadi ujung tombak kantor……
    .
    .
    .
    .
    keep smile ajah mas heheheheheh

  2. Ya Allah, ngakak pas bagian shalawatan, hahahahaha….

    Karena salah satu kerjaan ku adalah mbayarin tagihan supplier/vendor, dicaci maki orang adalah hal yang biasa. Apalagi pas cash flow kantor lagi seret, dan harus ada vendor yang “dikorbankan”. Tapi ngadepin yang mara-mara gitu sih aku biasanya sans aja. Dengerin aja, masuk kuping kiri keluar kuping kanan.
    Justru aku nggak bisa banget ngadepin orang yang nagih penuh kelemah lembutan, mohon dibayar dengan agak mengiba gitu. Pernah dulu ada supplier baik banget, ga pernah nagih meskipun aku telat bayar hampir sebulan. Sekalinya nagih ke kantor, nemuin aku sambil pegang rosario dan doa. Pengen mewek aku ngadepin yang begini.

    Sehat-sehat terus di sana ya, Mik! Kutunggu cerita buruh migran berikutnya…

  3. Sisca

    Hah….macam tak pernah kerja di bisnis pelayanan (a.k.a bank) kakak ni…..nasabah yg salah marah2 pun kita pun yg harus minta maaf….harus tetap senyuuum….dijelasin lagi….digebrak pula tetap ga boleh marah hahahhahaaa….anggap aja mereka pensiunan yg emosian 😁😁😁😁

  4. Sisca

    Hahahaha……macam tak pernah kerja di bisnis pelayanan (a.k.a bank) kakak ni…..nasabah yg salah marah2 pun kita pun yg harus minta maaf….harus tetap senyuuum….dijelasin lagi….digebrak pula tetap ga boleh marah hahahhahaaa….anggap aja mereka pensiunan yg emosian

  5. antara mau ngakak dan prihatin kak, etapi aku pun pernah diajak ngobrol pakai bahasa tagalog sama orang – orang filipin di KL. btw, pernah pula diomeli bu ibu saat lagi dines di depan orang banyak, pakai dilempar koin pula dengan semburan kata – kata berisi penghuni kebon binatang wkwkw

Leave a Reply