Catatan Buruh Migran – Kantor Lama VS Kantor Baru

Part 9

Bulan-bulan awal adalah masa-masa terberat bagi saya dalam beradaptasi dengan kehidupan baru setelah pindah bekerja di Dubai. Tidak hanya urusan kantor dan pekerjaan, namun juga kehidupan keseharian pun otomatis menjadi sangat berbeda jika dibandingkan dengan ketika saya masih ngantor di Semarang.

Proses transisi ini berjalan cukup timpang karena walaupun statusnya sama-sama bekerja kantoran, namun aktifitas & suasanya jauh berbeda.

Pekerjaan saya sebelumnya di bidang Corporate Social Responsibility, meskipun sebenarnya tidak bisa sepenuhnya disebut CSR. Tapi apalah itu, biar gampang jelasinnya, anggap saja ini merupakan  campuran antara marketing communication, public relation, event manager, liaison officer, public speaker, media publisher dan er er er yang lain.

Sok iyes banget ya istilahnya hahaha.

Padahal gitu doang kerjaannya.

Udah iyain aja.

Lalu, kerjaannya ngapain aja?

Pokoknya hore-hore lah. Misi utamanya adalah mensinergikan kegiatan sosial dan fokus bisnis perusahaan melalui pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, entrepreneurship dan community development. Masih dalam scope yang terbatas dan segmented sih, namun at least ada wujud nyata pengabdian kepada masyarakat.

Saya merasa sangat nyaman berada di posisi ini karena mendapatkan dua kepuasan. Dalam artian masih dapat memenuhi kewajiban sebagai kepala rumah tangga yang harus membuat asap dapur tetap mengepul sekaligus mendapatkan kepuasan batin atas kegiatan sosial  yang impactnya dirasakan langsung oleh masyarakat penerima manfaat programnya.

Buat saya yang anaknya tipikal nggak bisa diem duduk anteng di kubikel, posisi ini sudah sesuai dengan passion. Kerjaannya ketemu klien baik instansi pemerintahan maupun swasta, membangun relasi, partnership, meeting ini itu, bikin event, ngoceh di depan rang banyak, dan sebangsanya.

Oleh karena itu, posisi ini menghalalkan staffnya untuk tidak harus duduk anteng di belakang meja, melainkan bisa ngantor dari mana saja. Selain itu, saya juga rutin jalan-jalan keliling cabang untuk monitoring program sosial yang dijalankan. Dua tahun terakhir saya diamanahi untuk handle 16 kantor cabang. Sampai-sampai jumpalitan karena harus wara-wiri kesana kemari pindah dari kota satu ke kota lainnya. Mulai dari bawa kendaraan sendiri, diantar supir kantor, naik travel, taksi, bus umum, angkot, sampai seringkali minta babang ojek online buat ngebut gara-gara harus ngejar kereta/pesawat. Meski rutinitas ini cukup melelahkan jiwa raga, tapi kalau eventnya sukses, pekerjaannya lancar, feedback dari customer dan klien bagus, maka capeknya langsung terbayar lunas.

Meski harusnya ada fasilitas tunjangan uang pijat bulanan dari kantor sih ya.

Yang tak kalah serunya adalah, jika divisi lain lebih sering hanya training online, atau jika ada undangan training siklusnya 2 sampai 3 tahun sekali, maka divisi saya ini kebalikannya. Kerjaannya training mulu! Setahun bisa 2-3 kali diklat. Sampai teman-teman sekantor pada bilang kalau divisi saya ini tukang ngabisin duit perusahaan karena keseringan training dan perjalanan dinas hahaha.

Apalagi, masa-masa diklat ini bisa jadi momen perbaikan gizi. Pulang-pulang biasanya berat badan pada naik semua. Lha gimana nggak gendats ? makan terjamin di hotel, coffee break dengan camilan melimpah ruah, teman-teman selalu membawa jajanan/oleh-oleh dari masing-masing daerahnya, ntar malamnya sepulang dari diklat, masih pada keluar bareng-bareng cari jajan.

Rekan satu team di divisi ini hanya ada sekitar 35 orang se Indonesia. Jadi anak-anaknya ya itu-itu aja. Kalau diklat, meeting, ngoceh di group wasap, di socmed ya doi lagi doi lagi. Tak heran jika kemudian rasa kekeluargaan kami menjadi begitu erat. Para atasan juga lihai dalam membina relasi dengan anak-anak buahnya. Nggak ada formal-formal panggil “Pak/Bu”, saya sendiri manggil si bos dengan “Mas/Mbak”.

Etapi meskipun sepertinya hore-hore terus, tetap saja ada sisi nggak enaknya di posisi ini. Misalnya kalau tiba-tiba ditugaskan untuk dinas luar mendadak. Nggak sempat minta uang muka perjalanan dinas ke kantor, lalu harus pakai uang kita sendiri dulu. Setelah perjalanan dinas selesai baru deh minta reimburse. Kalau prosesnya cepet sih gamasyale yes, lha kalau sampai berbulan-bulan, cemana nasib dompet yang semakin mengering ? #tsurhat.

Ada satu lagi nggak enaknya. Setiap akhir training, akan ada post test semacam sertifikasi. Ujiannya gila-gilaan nervousnya karena jenisnya bukan tes tertulis dengan soal multiplechoice yang bisa contek-contekan dengan temannya gitu, bukan!

Ujiannya macam pendadaran skripshit gitu loh. Kita harus berhadapan dengan 2/3 orang penguji untuk pendalaman materi baru yang sudah disampaikan selama training, plus refreshment materi –materi lama. Bisa/nggak bisa jawab, treatmentnya akan sama aja, dikejar terus sampai kitanya gelagapan.

Tapi kalau saya karena anaknya agak ndableg, ya kadang cuma cengar-cengir aja kalau pas ditanyain trus gak bisa jawab.

Keluarga Kedua
Keluarga kedua di kantor lama

Kalau udah nyaman, lalu kenapa resign?

Pada awalnya saya merasa akhirnya menemukan pekerjaan yang memang sesuai dengan skill dan dunia saya. Rasa kekeluargaan juga begitu kuat di divisi ini. Bukan sekedar teman kantor, partner kerja, namun sudah jadi keluarga kedua.

Namun dibalik semua kenyamanan itu, ada pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul sehingga menimbulkan perasaan yang mengganjal.

“Apakah kamu yakin akan terus bekerja di bidang perbankan ini?” – Ya meskipun saya tidak di bagian operasional, di bagian hore-hore, tapi kan gaji saya berasal dari perputaran uang di industri ini dengan segala kontroversinya.

“Apakah kamu sudah yakin dengan jenjang kariermu?” – Yakin nggak yakin sih. Soalnya, career path secara vertikal rasanya akan lama dan sulit ditembus. Meski sudah di declare terbuka kesempatan untuk jenjang karier cross division, namun terus terang, saya tidak tertarik. Nggak mau kalau berkarier di bidang operasional.

Jadi gemana dong? Kan nggak mungkin juga saya bertahan di posisi ini terus.

I have no option.

Lagian jika kita sudah tenggelam dalam zona nyaman, mager, maka akan sulit untuk berkembang. Malas untuk bergerak, menjadi lebih berat untuk menerima perubahan. Stuck.

Padahal satu-satunya kepastian di dunia ini adalah perubahan itu sendiri.

Faktor lain adalah tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga yang harus memenuhi kebutuhan anak istrinya. Bukan berarti di kantor lama tidak cukup, tidak bersyukur, namun rasanya akan berat jika harus terus bertahan di perusahaan yang sedang dalam misi mengkapitalisasi dirinya sehingga berpengaruh pada apresiasi tahunan karyawan yang besarannya selalu berbanding lurus dengan laju inflasi.

Itulah mengapa akhrinya saya memberanikan diri untuk ikhtiar, mencoba mencari hal baru di luar sana. 9 tahun bernaung, sudah cukup rasanya. Lebih dari cukup, sampai ada yang bilang KELAMAAAN DISANA MIII !

Terkadang terbersit juga pertanyaan, iya juga ya, kenapa nggak dari dulu-dulu saya mencoba hal baru?

Namun tentu tidak ada yang perlu disesali di dunia ini. Sebagai makhlukNYA, kita hanya bisa berikhtiar dan menjalani apa yang sudah digariskan. Percayalah, setiap apa yang kita jalani ini adalah yang terbaik dari Allah SWT.

So, if you want to change your circumstances, create an opportunity. Don’t wait for one!

Gimana ceritanya sampai bisa bekerja di Dubai?

Kan udah di ceritain di postingan awal blogpost series Catatan Buruh Migran ini.

Suasana di kantor baru kaya gimana sih?

Ok, sekarang gentian cerita tentang kantor baru. It is totally different.

Dari gedung kantornya dulu deh. Kalau pas di Semarang ngantor di gedung 4 lantai, maka kubikel saya yang sekarang nangkring di lantai 40. Dari sini bisa melihat kawasan elite Dubai Downtown yang dikelilingi kanal yang membiru. Cakep lah viewnya.

Meski lama-lama ngebosenin juga pemandangannya hutan beton doang…

Saya bekerja di sebuah perusahaan asing yang berkantor pusat di salah satu negara di Eropa. Posisinya sebagai staff di divisi finance. Kerjaannya ngebosenin setengah matik! (pake K saking boringnya).

Business Bay Dubai

Ngapain aja cuy?

Beda banget rutinitas ngantornya, karena sekarang saya dipaksa duduk anteng di kubikel bikin laporan rekonsiliasi, analisi data keuangan dan email-emailan dengan klien dari berbagai negara di dunia. No hore-hore, no kerja sambil ngemil gorengan, no kerja sambil yutupan, no kerja sambil ngerumpi, no hahahihi, no perjalanan dinas, dan no no yang lain.

Dalam sehari, rata-rata lebih dari 100an email yang masuk dan harus segera dibalas. Bukan sekedar reply email lho, melainkan harus menganalisa kasus per kasus dulu agar mendapatkan jawaban dan problem solving yang tepat.

Bahkan di hari pertama saya ngantor aja, dapat 715 email di inbox outlook seperti yang pernah saya ceritakan disini.

Catet ya, email-email dari klien ini nggak semuanya pakai bahasa Inggris. Tapi banyak juga klien yang kirim email pakai bahasa Perancis, Cina, Jerman dan Spanyol.

Rasanya pingin nangis gulung-gulung karena nggak ngerti mereka ngemeng apa.

Akhirnya saya berdamai dengan GUGEL TRANSLATE dan menjalin hubungan serius dengan dia sampai sekarang. Karena cuma dialah yang mengerti, memahami saya di kantor hahaha. #pret.

Meski kerjaan ini nggak bikin capek secara fisik, tapi otak dipaksa untuk mikir cukup berat rasanya. Gimana nggak? Karena bentuk analisanya semacam logika. Jika ada kasus A, dengan kondisi B, di negara C dan data pendukungnya hanya ada D, namun di system kantor hanya mendetect data E dan case ini tidak di support divisi F, maka bagaimana penyelesainnya?

Mampuslah!

Sedangkan deadline semakin mendekat. Dan kasus transaksi lain harus segera diselesaikan.

Riweuh lah kalau cerita kerjaan.

And you know what? Ketika saya masuk sini, tidak ada in class training macam di kantor lama dulu. Jadi cuma di briefing sama beberapa manakher dari 3  divisi tentang overview dan alur bisninya, OJT sehari, trus langsung deh disuruh kerja.

Macam dijeblosin gitu aja.

Kalau nggak ngerti, dipersilakan tanya ke rekan kerja atau atasan. Pokoknya sambil kerjaan jalan. Babang sampai stress.

Nyari nafkah gini amat yawla…

Kubikel Kerja Di Dubai

Sebagai penghibur diri, paling pol ya kerja sambil streaming radio Indonesia. Lebih seringnya tune in Delta FM Jakarta karena ada zona lagu enak 90an dan #SoreBaraHarsya karena lagu-lagunya lebih “masuk” daripada radio anak muda jaman now.

Yang agak seru tapi sekaligus serem adalah, sebagian besar karyawannya dari Eropa, India, Filipina dan negara-negara pecahan Rusia. Beraneka rupa dan bahasa lah pokoknya. Alhamdulillah untungnya mereka baik-baik, welcome dengan anak baru, karena mungkin juga pada menyadari kalau semuanya adalah pendatang disini dan pernah berada di posisi yang sama dengan saya saat ini.

Kalau personelnya lengkap, di kantor ini akan ada sekitar 60-70an orang. Meskipun lumayan banyak, tapi suasananya hening. Senyap! Semua cuma duduk anteng di kubikel sambil pasang muka serius. Yang terdengar hanya suara cetak-cetik keyboard. Semua dilakukan secara digital menggunakan sarana email dan aplikasi chat internal.

Kontras dengan kondisi di Semarang dulu. Seruangan isinya cuma berenam tapi ramenya udah kaya pasar tiban! Apalagi kalau ada cemilan. Deuh, bakalan bubar semua kerjaan.

Budaya kerja di Dubai

Jika saya bandingkan, budaya kerja di Dubai sangat terorganisir, rapi dan no wasting time! Orang-orang pada datang on time, duduk anteng, kerja serius. Istirahat pun secukupnya. Sebagian besar bawa bekal makan dari rumah atau delivery order. Jarang yang makan keluar kantor. Selesai makan di pantry, ya rata-rata langsung kembali bekerja lagi. Jika sudah jam 5 sore waktunya pulang ya pulang. Nggak ada lembur-lembur.

Beda banget dengan apa yang saya alami bersama teman-teman sekantor di Semarang dulu. Kalau pas niat keluar makan siang rame-rame, kadang jam 11.30 sudah cabut. Makan sambil hahahihi. Selesai makan pake acara mampir shalat di masjid mana, lanjut beli ini anu itu. Yang beli es cendol lah, beli molen lah, lekker Paimo lah, gorengan lah, keripik lah, aksesoris lah, mainan buat anak lah. Pokoknya adaaa aja haha. Dan itu dilakukan rame-rame. Balik kantor sudah jam 13.30 atau 14. Kelakuan.

Lebih parah kalau pas ngantor di Magelang dulu. Saking eratnya rasa kekeluargaan, maka kalau ada yang sedang punya hajat, entah itu nikahan, sunatan, atau takziah di hari kerja jam kerja, maka kalau pas lagi nggak ramai nasabah, bisa-bisa bedhol desa kantornya kosong. Tinggal security doang yang jaga kantor.

Kalau disini mah boro-boro mau pergi bareng-bareng. Lha wong makan bareng di pantry aja cuma ngobrol seperlunya. Individualis.

Masuk akal sih kenapa budaya kerja disini sebegitu ketat dan begitu menghargai waktu. Kerena jika tidak bekerja secara efesien, maka pekerjaan akan menumpuk. Email dari klien itu datang silih berganti, laksana air yang mengalir dari kran yang bocor. #Rauwisuwis.

Jika email menumpuk, tidak segera dibalas atau diselesaikan kasusnya, laporan tidak disubmit sesuai tenggat waktunya, bisa-bisa diamuk para bos dan sang klien. Ending-endingnya ya pertaruhan karier sendiri serta reputasi perusahaan karena di posisi ini saya berhubungan langsung dengan klien sebagai salah satu representasi nama besar perusahaan ini. Kalau nggak bisa kerja, bisa-bisa langsung ditendyangz !

Ada banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan baik dari sisi profesional dunia pekerjaan maupun kehidupan. Tak bisa dipungkiri, apresiasi materiil yang didapatkan disini juga jauh lebih layak. Meski expensenya juga besar.

Ahh.. entahlah… saya tak tahu akan kuat bertahan sampai kapan.

Bismillah, Lillahita’ala.

Bersambung – Catatan Buruh Migran: Mengurus Residence Visa & Emirates ID

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
16 Responses
    1. Sayange tunjangan pijat bulanan itu hanyalah angan-angan yang tak kesampaian haha. Etapi sejak di Dubai, benar-benar merindukan bisa pijat tradisional sing kaya ning ndeso-ndeso iku lho. Ora ono disini.

  1. Sumpah baca tulisanmu yg panjangnya kek koran lampu merah ini betah. Gak kek tulisan blogger alay yg gak ketulungan panjangnya tapi ra ono isine.

    Pernah diminta temen buat cabut ke newyork dan cari peluang disana, tapi gak berani!!! Lalu dua bulan lalu dipaksa temen move out to London dannnnn ttp gak berani, karena pasti mulai lagi semua dr nol. Relasi baru, suasana baru dan semua hal baru lainnya walau itu pasti sangat menyenangkaaaaaaannn. Dan kl pun berangkat ortu pasti mencak mencak lagi, berantem lagi, seperti dl waktu mau pindah ke jakarta kudu berantem dam diem dieman dulu sama bokap. Tapi saat itu umur baru 20 tahun, dimana emosi lebih dominan drpada logika. Skrng dah 36 dan move ke luar negeri yo opo iso dan mudah itu pertanyaan beratnya. Hahahahah

    Eniwei kl sempet mampir nang vlog gw ya rek. Versi visual dr blog gw yg gak seberapa ini. Hahahaha

    1. Hahaha maap ya kalau kepanjangan mas, makasih udah mampir. Yanamanya tulisan nyampah jadi yaginideh. Untuk melangkah ke sesuatu yang baru memang dibutuhkan keberanian & kebulatan tekad. Saya juga awlanya banyak pikiran ntar disana gimana gimanu, takut begina beginu. Tapi kalau nggak dicoba, ya we never knows. Sukses atau gagal, bukanlah tujuan utama sebenarnya. Lebih ke bagaimana kita mendapatkan hikmah dari berproses.

      *malah khotbah*

      Ok kapan-kapan aku mampir ke blog mas Fei kalau udah santai. Arapmaklum, kerja jadi buruh disini agak gila-gilaan ngatur waktunya.

  2. Beeegh. Semua serba budaya kerja ya Mas. Yang sama sama satu instansi aja beda kantor pasti punya beda budaya kerja. Apalagi yang lintas perusahaan dan negara. Yang penting pengalaman baru Mas, keep believing in Sidu! Wkwkwkwkw.

    1. Yes mas, beda banget emang budaya kerjanya. Tapi jadi bisa belajar banyak hal baru yang positif, terutama dalam hal profesionalisme bekerja. Meski sempat kena culture shock juga awalnya.

  3. semoga bisa bertahan cukup lama, ya miii.. kalo emang ini jalan yang baik buat lo dan keluarga.
    btw anak estri kok ga ikut pindah? atau beluman?

    1. semoga diberikan jalan yang terbaik dari Allah, karena beneran dunno how long i can survive. bukan masalah kerjaan, orang-orang disini, budaya, makanan, tapi lebih ke keluarga di rumah. nggak bisa jauh-jauh sama si cimil, berat heuheu

  4. Lahh aku kirain ke dubai perjalanan dinas dari kantor lama, ealah ternyata wes resign toh.
    Baca critanya seru juga, puyeng juga ya, seri krn ketemu temen baru dari negara2 lain, puyeng krn kerjaannya mengharuskan bukain google translate.
    Tp aku malah kepengen ngerasain kerja yg karyawannya campuran bermacam budaya bangsa gini, ngelatih bahasa juga kali aja ntar bisa 10 bahasa hehehe

Leave a Reply