Catatan Buruh Migran – Cerita Hari Pertama Kerja Di Dubai

Part 7

Hari pertama ngantor…

Pagi-pagi sudah dandan rapi jali mewangi dong. Saya pun melangkahkan kaki keluar dari hotel yang lokasinya tak begitu jauh dari kantor baru ini, meskipun masih agak kliyengan karena baru sampai tengah malam tadi.

Meskipun sekarang diterima bekerja di perusahaan multinasional, kantornya berada di sebuah menara bergaya arsitektur unik setinggi 58 lantai di kawasan elit Business Bay, tapi ya tetap saja namanya buruh. Karena masih ikut orang. Yakan?

Perasaan saya campur aduk pagi itu.

Senang kerena akhirnya bisa memulai langkah baru dalam hidup. Something new.

Semangat karena motif ekonomi, demi keluarga tentunya haha.

Sedih karena harus berpisah dengan anak istri dan keluarga di Indonesia.

Ragu-ragu karena sama sekali belum ada bayangan, pekerjaan yang saya hadapi akan seperti apa.

Malu karena belum kenal teman-teman yang baru.

Grogi karena takut salah ngomong, salah tingkah, salah kostum, dll.

Khawatir kalau ternyata bosnya galak. Temen-temennya sadis-sadis. Atau tiba-tiba dipecat !

Dan lain-lain, semua rasa berkecamuk dalam dada.

Akhirnya dengan mengucap Bismillah, saya ketuk pintu kantor baru yang ada di lantai 40.

“Good morning, I have an appointment with John.”

“Oh sure, come in, have a seat please.” sapaan receptionist yang ramah cukup melegakan saya.

Saya pun dipersilakan duduk di kursi, tak berapa lama, seorang bapak-bapak setengah baya menghampiri.

“Good morning Fahmi, welcome to Dubai.” Senyum sumringah si Bapak menyambut kedatangan saya.

Setelah sedikit basa-basi, saya langsung disodori beberapa lembar kertas aneka formulir untuk keperluan administrasi. Ada kontrak kerja, formulir pengenalan per bagian, pembukaan rekening untuk payroll, resident visa, asuransi kesehatan, dll.

Belum juga kelar ngisinya, saya disodori buku saku perusahaan.

Sebagai anak baru, saya mencoba untuk (sok-sok) cekatan dongs.

Semua saya isi dengan cepat, lalu (sok) serius baca handbook biar ngerti gemana rules di kantor ini yekan.

“Have you finished?” Tanya John.

Saya menggeleng sambil nyengir aja.

“3 minutes left. You have to finish all & understand everything.” Mukanya serius.

EMAMPUS!

Gaberani komplain dong. Anaknya manutan. Saya pun khusyu’ melanjutkan baca kitab suci perusahaan ini.

Tiba-tiba, dia malah ketawa ngakak!

“Why are you so serious? Hahahaha. Take it easy. You don’t need to read all. Just make sure you understand your job description.”

Wasyem! Kirain beneran suruh baca semua. Taunya dikerjain!

Akhirnya saya dibawa keliling ruangan sambil diperkenalkan ke semua divisi. Kenalan ala-ala doang sih, karena habis salaman, saya udah langsung lupa lagi siapa namanya dan dari bagian apa hahaha. Lha abisnya mereka dari berbagai negara, banyak banget pula orangnya. Mostly dari Perancis, India dan Filipina. Sisanya ada yang dari Rusia, Pakistan, China, Swiss, Maroko, Inggris, Singapura, dll.

Singkat cerita, saya lalu dipersilakan menempati kubikel.

Baru saja naruh pantat, sudah disamperin mas OB yang membawa seperangkat alat sholat… eh sepaket stationery lengkap maksudnya. Pulpen 5 macam, pensil, post it, notebook, jepitan kertas, sampai jepitan jemuran pun! Kalau dilihat dari perawakannya, mas OB ini dari India bagoian selatan. Agak keling.

“Sir, if you need something else, just call me.”

Udah kok mz, ini udah lengkap bingit. Makasi loh udah disediain. Di kantor lama, guweh harus beli stationery sendiri soalnyah. | #eaaa #malahtsurhat.

Tak berapa lama, mas IT datang nyamperin. Dari India juga.

“Hi, this is your laptop, monitor, charger and bla bla bla.”

Si mas IT ngasih properti kerja. Sekilas pandangan mata, disini semua orang bekerja memakai dua screen. Saya jadi penasaran, memangnya seberapa banyak atau seberapa ribet sih kerjaannya kok sampai pada pakai dua layar?

Setelah semua perangkat terpasang dengan baik, seorang teman menghampiri saya untuk memandu masuk ke portal-portal yang berhubungan dengan kerjaan.

Wait-wait, ini seriusan gak ada training dulu atau diajarin dulu beberapa hari gitu? Masa iya hari pertama langsung dikasih properti lengkap gini ? perasaan mulai nggak enak.

“Fahmi, I will show you how to login, the process and so on, and so on. Make a note please, so you can remember.”

Iye bang, iyee. Udin gue siapin notebook buat coret-coretan nih.

Dia lalu menunjukkan cara login ke system, aneka menunya, fungsinya, template laporan-laporan, dan alur pekerjaannya. IN A FAST WAY!

Sementara saya manggut-manggut bloon antara ngerti nggak ngerti.

“Any question?”

“Hehe banyak Bang, tapi ntar aja aku tanyanya. Di list aja ya. Sekarang biar aku ulangi sendiri jadi ngerti.”

“Ok, should you have any queries related to this, you can ask me.”

Doski lalu balik ke kubikelnya lagi. Sementara saya komat kamit sendiri di depan monitor. Bukan berdoa, tapi mengulang step by step penjelasan tadi sambil sesekali celingukan cari temen yang senasib, tapi kok nggak ada.

Ada yang aneh dari kantor ini. Ada begitu banyak orang, sekitar 60-70an orang mungkin di lantai 40 ini. Tapi, suasananya hening. Semua khusyu’ di kubikel masing-masing. Tidak terdengar orang mengobrol, suara musik, suara kremas-kremus orang ngemil keripik di meja, ataupun suara dangdutan ala Via Vallen & Nella Kharisma.

Yang terdengar hanya suara cetak-cetik keyboard.

Iya, suara itu doang. Ramai tapi sepi.

Beda banget dengan suasana kantor saya di Semarang dulu. Seruangan isinya cuma berlima, tapi udah kaya limabelas orang lagi arisan ! Bikin laporan sambil ngobrol ngalor ngidul, becanda, aneka cemilan dan gorengan di terhampar di meja, sambil nyetel youtube pula !

Emang sih, dulu judulnya main sambil kerja. Bukan kerja sambil main haha.

Makanya saya kaget dengan suasana disini. Beneran pada kerja. Kerja beneran.

Belum habis pula rasa kaget saya, karena baru hari pertama kok sudah langsung disuruh kerja, eh ditambah pula dengan hal lainnya. Setelah login windows berhasil, login system berhasil, lanjut dengan login outlook. Dan… Jengjeeeeng!!!!

Langsung ada 715 unread email di hari pertama. Mana bahasanya campur-campur pula, nggak cuma Inggris aja! Ada email dari Spanyol, Perancis, dll.

hahahahahahahaha

Yamana gua ngarti isinya apaan? Trus gemana balasnya?!

hahahahahahahaha

*ketawa gila*

Bersambung Part 8 – Catatan Buruh Migran: Terdampar di Al Rigga

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
22 Responses
  1. Aku baru baca dan nonton videonya. Sejak liat foto-foto di IG udah peasaran ini mas Fahmi kerja atau gimana, tapi segan nanya. Soalnya kehadiran di Istana negara tiap 17-an aja masih misteri sampe sekarang, yekan hahahhaha.

    Semoga lancar pekerjaannya di sana ya mas. Sehat selalu dan makin banyak cerita yang dibagikan.

    1. Yampun OmNduuut! Masalah upacara 17an di istana masih kepikiran aja hahahaha. Sekarang jadi ndabisa ikut upacara lagi di istana. Aammin doanya, makasih yes. Sukses juga untukmu mas, semoga kapan-kapan berjodoh untuk ngopi-ngopi bareng ya.

  2. Menarik kak #catatanBuruhMigran, gak sebar pengen tau cerita selanjutnya. Gak kebayang kalau saya di posisi kamu hari pertama langsung disodorin kerjaan.

    Awalnya tuh kirain kamu liburan aja kak ke Dubai seperti trip sebelumnya, ternyata kamu malah kerja disana. alhamdulillah banget yah.

    1. Semoga bisa istiqomah nulis #CatatanBuruhMigran ini ya, secara mulai ketetran bagi waktunya disini haha. Kerjaannya gila-gilaan.

      Akupun juga ndak kebayang bakal nyasar disini masbro, rupanya angin barat membawaku terbang kemari.

  3. Hari pertama udah 700 lebih emel. Gila! Hahaah

    Baca kisahmu buat aku teringat hari pertama kerja di tempat sekarang. Semuanya rasa begitu sepi sekali. Tapi, lama kelaman, aku jadi tukang bisingnya hahha

    1. Aamiin, semoga apa yang diinginkan mbak Annisa tercapai. Tapi nggak selamanya hidup di luar negeri itu enak lho, banyak nelangsanya juga haha, apalagi kalau pas homesick.

Leave a Reply