Catatan Buruh Migran – Berakhirnya Karier Lady Cempluk

Part 15

Ya Allah, blog ini udah penuh sarang laba-laba aja. Lama nggak keurus karena semakin kesini, semakin kewalahan bagi waktunya. Kerja di Dubai beneran bikin jumpalitan. Ditambah lagi kondisi saat ini yang sedang musim panas. Lelah jiwa raga lah si Buruh Migran ini. Berangkat pagi pulang sore, dan begitu sampai rumah udah lunglai.

Tapi kali ini demi menghidupkan kembali blogpost series #CatatanBuruhMigran, saya ingin bercerita.

Sayang rasanya jika begitu banyak momen terlewatkan begitu saja tanpa sempat saya ceritakan disini untuk kenang-kenangan saya sendiri kelak jika sudah tidak hidup di Dubai lagi.

================================

Pagi itu saya memulai bekerja seperti biasa. Mengelap meja, menghidupkan laptop, login ke system dan membuka Outlook untuk menyortir ratusan email yang masuk dari klien sembari ngemil pisang dan lemon tea hangat.

Begitulah rutinitas awal hari.

”Good morning ” satu persatu teman-teman kantor mulai berdatangan saling menyapa.

Beberapa dari mereka, ada yang selalu berkeliling menyalami rekan sekantor di lantai 40 ini. Macam di kelurahan aja dia, salaman sama semua. Padahal bule lho. Tapi ya baguslah. Daripada yang dateng pasang muka cuek dan jutek.

Tak lama kemudian, ada teman saya yang lain baru datang juga. Sebut saja Lady Cempluk. Dia anak  divisi tetangga. Duduknya pun juga nggak gitu jauh, cuma selang 6 meja dari saya. Mukanya sumringah menyapa kami.

Kenapa saya panggil dia Lady Cempluk ? ya biar gampang aja. Bukannya main fisik, tapi karena cerita ini naratif deskriptif, maka saya berusaha menggambarkan dia apa adanya. Mbak-mbak ini masih muda, tidak terlalu tinggi, pipinya nyempluk ipel-ipel, rambutnya suka dikonde di atas dan kulitnya berwarna sawo kematangan. Iya kematangan. Hehe.

Anaknya baik, meski cenderung pendiam, kadang suka bagi-bagi jajan di pantry. Sehari-sehari pakai headphone terus. Entahlah apa yang didengarkannya. Kalau ada yang penasaran dia dari negara mana, anggap saja dia tetangganya Inspektur Vijay. You know la.

Belum lama duduk di work stationnya, dia terlihat dipanggi atasannya ke dalam ruang kerjanya. Di kantor, kami hampir bisa lihat semua aktifitas orang-orang karena ruangannya hanya dipartisi kaca.

Saya masih nyantai lanjutin bales-bales email.

Nggak lama kemudian, si Lady Cempluk ini berjalan terburu-buru melintas di depan meja saya. Semacam digelandang oleh atasannya untuk menuju ruang Ha Er De. Mukanya pucat. Tatapannya kosong. Tidak lagi terpancar aura sumringahnya ketika datang ke kantor beberapa saat lalu.

Yang saya tahu, atasannya emang orang yang tegas.

Ada apa ini ? nggak biasanya dia jalan terburu-buru seperti itu. Jalannya biasanya suka lelet, nyantai kaya di pantai. Ah, pasti ada yang nggak beres. Pikir saya.

Tapi karena ketika jam kerja, semua orang duduk anteng dan bekerja dalam diam, jadi ya saya pun lanjut kerja lagi. Nggak kepo. Disini individualismenya tinggi. Beda dengan di kantor lama di Indonesia, yang kalau ada apa dikit, langsung deh pada heboh kasak-kusuk hahaha.

Lagi-lagi, saya bisa melihat apa yang terjadi di ruang Ha Er De karena letaknya yang juga cuma berseberangan dari kubikel saya. Pagi itu Lady Cempluk semacam disidang. Dia tertunduk lesu. Sesekali menggelengkan kepala. Namun terlihat berkali-kali mengangguk.

Hanya sekitar 15 menit dia  di dalam ruangan itu, lalu dikawal kembali ke meja kerjanya oleh atasannya.

Dia pun berkemas…

Tanpa sepatah katapun, dia membereskan kubikelnya. Hanya laptop dan beberapa properti kantor yang ditinggal di meja. Saya lihat, dia bahkan tak sempat berpamitan dengan rekan-rekan satu divisinya. Dengan langkah gontai, dia keluar ruangan lewat pintu tengah dan berlalu begitu saja.

Benar, ini pasti ada yang nggak beres. Saya kembali menduga-duga.

================================

Hari berganti hari, saya tidak lagi melihat Lady Cempluk datang ke kantor ini. Rasanya dia juga tidak sedang mengambil cuti. Sementara semua orang tetap dalam sunyi. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Selang beberapa hari kemudian, barulah saya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang teman bercerita bahwa Lady Cempluk melakukan kesalahan fatal, yaitu mengambil sesuatu yang bukan haknya, bukan miliknya, di kantor, pada saat weekend.

Mungkin kala itu dia beralasan lembur atau apalah agar bisa masuk ke kantor. Ketika suasana kantor kosong, nggak ada orang. Beraksilah dia. Membawa pulang sesuatu itu yang teramat disukainya.

HATAPI KAN ADA SISITIVI DIMANA-MANA PLUK, CEMPLUK.

Dodol amat nianak.

YA KETAHUAN LAH!

================================

Ternyata pagi itu adalah terakhir kali saya melihatnya. Baru beberapa menit sampai untuk memulai bekerja seperti biasanya, eh sudah diminta angkat kaki dari kantor ini, untuk selamanya….

Saya cerita disini bukannya untuk menceritakan keburukan orang lain atau mendiskreditkan siapapun, pihak manapun. Toh nama, plot dan kosakata postingan ini sengaja saya samarkan. Dan teman-teman pembaca pun nggak ada yang tahu dan kenal dia siapa sebenarnya kan.

Saya cuma ingin berbagi hikmah dari kejadian ini. Ada pelajaran berharga bagi saya khususnya. Kata orang, kerja di Dubai itu menyenangkan, surga dunia, mendapatkan banyak previlage, gaji gede, benefit ini itu, tunjangan ona anu, hidup nyaman dengan fasilitas kota metropolis dan lain-lain.

Ya memang benar demikian adanya. Kerja keras & keringat kita benar-benar dihargai disini.

Namun itu semua akan lenyap begitu saja karena nila setitik. Kesalahan yang kita perbuat sendiri. Nggak ada ampun disini. Begitu melakukan kesalahan fatas, nggak cuma dihempas manjah, tapi langsung ditendang nista. No excuse!

Kerja di Dubai itu kejam? Demikianlah sisi lainnya.

Saya sendiri masih nggak kebayang gimana nasib Lady Cempluk usai diPHK mendadak. Tiba-tiba nggak punya kerjaan, nggak ada penghasilan, nggak ada yang naggung sponsor visa, nggak ada jatah tiket pulang, nggak ada asuransi kesehatan, nggak ada tunjangan tambahan, nggak tau bisa lanjut bayar kontrakan dan harus bisa survive dari sisa tabungan.

Pilihannya cuma dua. Mencoba mencari pekerjaan baru tanpa memiliki surat referensi dari kantor lama, atau pulang ke negaranya. Hffttt.

Jadi buat teman-teman yang sedang mencari kerja, dimanapun itu, ingatlah bahwa orang dihire karena skillnya, karena kompetensi dan potensinya. Tapi orang dipecat karena habitnya. Karena kelakuannya. Sebegitu pentingnya memiliki good manner dalam keseharian kita.

Semoga ada hikmah yang bisa kita petik dari kisah berakhirnya karier Lady Cempluk.

 

Bersambung…

10 Comments
  1. July 23, 2018
    • August 7, 2018
  2. July 23, 2018
    • August 7, 2018
  3. July 23, 2018
    • August 7, 2018
  4. August 6, 2018
    • August 7, 2018
  5. August 13, 2018
  6. September 5, 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *