Catatan Buruh Migran – Terdampar di Al Rigga

Part 8

Begitu teman-teman tahu kalau saya bekerja di Dubai, rata-rata responnya adalah…

“Wiih keren ya sekarang kerja di Dubai.”

“Ngggggggg…..” cuma nyegir kuda aja.

Keren apaan?! Iya kalau yang dimaksud keren itu kotanya, okelah, memang infrastruktur di megapolitan ini bisa dibilang keren banget. Fasilitas lengkap dan tertata rapi.

Tapi ketahuilah saudara-saudara, tidak semua orang yang ada di Dubai ini hidup bermewah-mewah, bergelimang harta bermandikan emas berlian haha. Klasifikasi soasialnya dimana-mana tetap saja sama. Ada kaum jetsetter, kelas menengah cihuy, kelas menegah ngehe dan kasta sudra. Bahkan ironisnya, disadari atau tidak, sebenarnya kota ini dibangun dengan keringat para buruh konstruksi yang upah bulanannya terasa nggak masuk akal!

Ahh, kapan-kapanlah saya cerita tentang beragam profesi underdog disini. Di postingan lain.

Kali ini, mau cerita tentang akomodasi selama hidup di Dubai.

Saya bekerja di sebuah perusahaan asing, bukan milik pemerintah UAE. Kantor memberikan fasilitas berupa jatah hotel hanya selama seminggu pada awal kedatangan. Meski bukan hotel mewah, tapi termasuk lumayan lah, karena ada pantrynya sendiri, makanya saya bisa masak-masak dan cuci baju sendiri kaya di postingan video sebelumnya.

Lalu setelah seminggu kamu akan kemana Mi?

Nah! Ntu die masyalahnye.

Meski saya juga nggak buta-buta amat tentang Dubai, karena 2015 lalu pernah ngubek-ubek kota ini selama sebulan, tapi saya masih belum tahu betul bagaimana seluk beluk kehidupan sebagai resident karena saat itu cuma sebagai turis yang keasyikan explore beragam tempat wisata di Dubai.

Mau nggak mau, setelah check out dari hotel saya harus sudah menemukan kos-kosan. Tidak murah jika saya harus menyewa apartemen atau villa sendiri. Apalagi yang di sekitar downtown atau dekat kantor. Pengurusan dokumen sewanya pun bakalan ribet. Satu-satunya pilihan yang masih masuk budget buat orang kelas menengah ngehe seperti saya ini ya cari yang agak di pinggiran pusat kota.

Sangat bersyukur karena di hari-hari awal ngantor, saya mendapatkan full support dari teman-teman baru disini. Meski baru kenal, beda negara, beda divisi, mereka menawarkan diri membantu saya mencari akomodasi yang cocok. Mulai dari survey online, telponin pengelolanya, bikin appointment, nemenin survey sana-sini sepulang ngantor dan sampe traktir makan malam segala, katanya sebagai welcome party ! Alhamdulillah, rejeki anak sholeh.

Sayangnya, meski sudah hampir tiap malam sepulang kantor kami ngider ke kawasan Karama, Burjuman, Union, Al Rigga, Deira, Al Barsha, dll namun belum juga menemukan apartemen yang cocok. Kebanyakan di iklan online tertulis India only, Philippines only, Pakistan only, bahkan sampai ada yang detail refer ke nama daerah Kerala only. SAYA CARI-CARI SAMPAI SIWER JUGA NGGAK NEMU IKLAN APARTEMEN YANG TULISANNYA INDONESIA ONLY! Nekad telepon pengelolanya pun, mereka tetep kekeuh nggak mau menerima orang selain seperti yang sudah diiklankan.

Mengapa saya kekeuh untuk mencari akomodasi dengan sesama orang Indonesia atau at least masih serumpun Melayu seperti Malaysia dan Singapura?

Bayangkan saja jika tiba-tiba saya harus gambling hidup serumah dengan orang-orang India, Filipina atau Pakistan yang ketiganya merupakan mayoritas disini.

It’s not only about sharing your apartment, your room, but also sharing your privacy, even more your own life!.

Terdampar Di Al Rigga

Singkat cerita, saya desperate karena nggak nemu-nemu akomodasi lanjutan setelah jatah hotel habis. Udah kebayang bakal keluar biaya lagi untuk extend hotel atau pindah ke airbnb atau ngenesnya ngemper di musholla kantor kalau sampai hari H check out belum dapat kosan juga hahaha.

*lalu bakalan diusir satpam, pastinya!*

Akhirnya saya mendapatkan saran dari seorang teman untuk posting di group facebook komunitas Indo-Dubai. Cari info tentang akomodasi yang isinya orang-orang Indonesia di Dubai.

Iya juga ya? Kenapa nggak dari kemarin dodool?

Alhamdulillah postingan itu mendapatkan beberapa respon positif.

Salah satunya dari Mas Imam namanya, dia kemudian memberikan informasi tentang akmodasi milik temannya, yang lagi kosong di daerah Al Rigga. Senangnya bukan main. Di masa-masa menjelang injury time, akhirnya saya menemukan apa yang saya cari.

Karena sudah nggak sempat survey, maka keesokan harinya saya langsung pindahan. Belum tahu juga kamarnya akan seperti apa, fasilitasnya memadahi atau tidak, karakter orang-orangnya bagaimana. Pokoknya pindah aja dulu, Bismillah. Paling tidak ada dua faktor yang membuat saya mantab menuju ke Al Rigga. Yang pertama, katanya apartemen ini isinya orang Indonesia semua, dan yang kedua, dekat dengan metro station.

Dan begitu sampai…

TERNYATA KAMARNYA KECIL-KECIL CUY!

Ya iyalah kalalu dibandingin dengan kamar hotel kemarin yang sekalian bisa buat latihan karate. Namanya  juga flat, kos-kosan akomodasi bersama, murah pula. Ya kecil kamarnya. Kalau mau yang luas dan fasilitas lengkap ya pastinya ma to the hal!

nakanak sholeh genk Al Rigga pulang Jumatan

Alhamdulillah saya bertemu dengan teman-teman baru disini. Ada Dea dari Bandung, Arief, Didi dan Bang Martin dari Jakarta, Addin dari Depok, mas Nukman dari Bugis, mas Ahmad arek Suroboyo serta Adi dari Banyuwangi. Kebanyakan seumuran, tapi ada juga yang sudah senior alias udah jadi bapak-bapak.

Flat kami terbagi dalam beberapa kamar. Ada yang single room ada yang shared room. Beruntungnya saya ketemu kang Dea, lewat perantara Mas Imam karena kamarnya sudah fully furnished alias saya tidak perlu membeli apa-apa lagi. Bahkan sampai bed cover dan selimut baru pun tinggal suruh pakai aja haha, hamdalah, rejeki anak sholeh lagi.

Ini dia, vlog singkat perkenalan teman-teman baru di Dubai.

Bersambung – Catatan Buruh Migran: Kantor Lama VS Kantor Baru

24 Comments
  1. January 27, 2018
    • February 10, 2018
  2. January 28, 2018
    • February 10, 2018
  3. January 28, 2018
  4. February 7, 2018
    • February 10, 2018
      • February 21, 2018
        • February 26, 2018
  5. February 15, 2018
    • February 26, 2018
  6. February 19, 2018
    • February 26, 2018
  7. February 21, 2018
    • February 26, 2018
  8. February 26, 2018
    • March 9, 2018
  9. February 28, 2018
    • March 9, 2018
  10. March 2, 2018
    • March 9, 2018
  11. March 27, 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *