Candi Sari Kalasan Yogyakarta

 

Gerbang Candi Sari Kalasan Yogyakarta

Gerbang Candi Sari

Melihat sebuah plang di pinggir jalan bertuliskan “Candi Sari 100 meter”, entah mengapa kemudian secara reflek saya membelokkan motor ke kanan, mengikuti arah papan tersebut. Padahal saat itu saya sedang dalam perjalanan dari Klaten menuju Yogyakarta untuk menghadiri sebuah meeting. -ah cuma sebentar- pikir saya. Rasa penasaran saya akan candi-candi kecil yang ada di sekitar kawasan Kalasan & Prambanan Yogyakarta masih terlalu besar. Saya juga kadang merutuki diri sendiri, kebangetan, sudah melewati jalan raya ini ratusan kali, namun belum pernah sekalipun berbelok sejenak untuk sekedar melihat dari dekat candi-candi kecil di kawasan ini.

Memasuki sebuah jalan kampung beraspal, motor saya jalankan pelan-pelan. Pepohonan di halaman rumah warga cukup rimbun memayungi jalan di siang yang terik kala itu. Ada pohon mangga, kelengkeng, rambutan dan berbagai macam buah lainnya. Terbayang bagaimana kalau pas musim panen buah di kampung ini. Pasti menyenangkan!

Hotel Murah Di Yogya

Candi Sari Kalasan Yogyakarta

Candi Sari Kalasan Yogyakarta

Di ujung depan, terlihat sebuah bangunan batu berdiri menjualang tinggi. Wah epic!! Di tengah-tengah kampung, ada candi. Pikiran saya lalu melayang terbang ke masa lalu. Membayangkan pada jaman-jaman kerajaan Mataram kuno. Dimana candi ini masih aktif digunakan seperti fungsinya. Kesan pertama melihat Candi Sari, candi ini terlihat mirip dengan sebuah candi di kompleks Angkor Thom, Angkor Archaeological Park, Siem Reap Kamboja.

Candi Sari terletak di Desa Bendan, Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sekitar 12 Km arah timur dari pusat kota Yogyakarta. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke 8 pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Baru ditemukan kembali pada awal tahun 1900an dan sempat dipugar pada tahun 1930an.

Menurut literasi sejarah, Candi Sari Kalasan dulunya digunakan sebagai asrama pendeta Buddha. Hal ini terlihat dari bentuk arsitektur Candi Sari yang menurut saya, agak mirip rumah. Tidak seperti arsitektur candi-candi kebanyakan yang digunakan sebagai tempat suci pemujaan dewa-dewi. Terdapat semacam jendela di tingkat kedua candi. Sedangkan puncaknya berupa deretan stupa yang berhiaskan relief unik.

Candi Sari bukanlah candi yang besar. Kira-kira hanya berukuran 17 x 10 meter persegi. Tingginya sekitar 18 meter. Di bagian luar terdapat pahatan arca Kinara-Kinari atau manusia burung dan di bagian dalamnya terdapat 3 ruangan berjajar yang dipisahkan oleh pintu.

Candi Sari Kalasan Yogyakarta

Candi Sari Tampak Samping

Oiya, tiket masuknya hanya 2 juta saja pemirsa. Tapi nol nya ngglundhung tiga hehe, alias cuma Rp. 2.000,- saja. Murah banget kan? Bisa langsung dibeli di sebuah pos penjagaan kecil di depan gerbang Candi Sari. Selain refreshing sejenak, kita juga bisa sekaligus belajar sejarah dan arsitektur. Setiap melihat candi, benteng, ataupun bangunan-bangunan kuno dari masa lalu, saya selalu merasa takjub. Orang-orang jaman dahulu, ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang, teknologi juga masih seadanya, tapi kok sudah bisa membangun sebuah mahakarya. Hasilnya rapi & presisi pula! Padahal dibangun secara manual karena belum ada mesin.

Ahh andai saja ada mesin waktu…

14 Comments
  1. February 26, 2014
    • February 26, 2014
  2. April 15, 2014
    • April 15, 2014
  3. July 2, 2014
    • July 3, 2014
  4. August 17, 2014
    • August 18, 2014
  5. February 12, 2015
    • February 12, 2015
  6. September 15, 2015
    • September 21, 2015
  7. November 5, 2016
    • November 7, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*