Di Antara Keheningan Candi Gedong Songo Ungaran Part 1

Suasana di dalam kabin berangsur tenang ketika bus pariwisata yang kami tumpangi melaju kencang menuju Semarang meninggalkan Kota Magelang. Riuh rendah canda tawa teman-teman travel blogger peserta famtrip mulai berganti dengan dengkuran. Beberapa tertidur pulas dalam posisi duduk, memeluk ransel dengan mulut menganga. Seperti tak peduli lagi jika ada lalat hijau atau mungkin bola basket yang tiba-tiba nyasar masuk ke mulut. Pokoknya tidur. Sebagian lainnya masih terkantuk-kantuk ayam. maklum, tenaga kami sudah hampir habis karena terforsir mengikuti rangkaian acara.

travel-blogger-indonesia-famtrip-hut-jateng-2016
ini pada ngapain sih?

“Yak! Teman-teman blogger, kita sudah memasuki kawasan Bandungan Ungaran, mendekati destinasi selanjutnya yaitu Candi Gedong Songo! Salah satu tempat wisata di Semarang.”

Suara Pak Joned sang guide selama famtrip mendadak membaha melalui pelantang di dalam bus. Kami yang sedang enak-enak tidur, tersentak kaget dibuatnya.

Jalanan mulai menanjak tajam sesaat setelah bus memasuki gapura kompleks candi di bagian bawah kampung. Terdengar mesin menderu, supir dan kernet siaga dalam gigi satu. Saya hanya bisa merapal doa kepada yang Maha Kuasa, semoga mesin bus yang kami tumpangi kuat. Mengapa saya begitu khawatir? Karena ada 24 nyawa dalam bus yang kami tumpangi, sedangkan sudut elevasi tanjakan ini cukup ekstrim untuk dilalui kendaraan besar. Saya hanya bisa menghela nafas lega ketika akhirnya bus bisa masuk ke area parkir Candi Gedong Songo dengan aman.

Terus terang, ini kali pertama saya menginjakkan kaki di kawasan Candi Gedong Songo. Sejak kecil hanya tahu dari cerita-cerita Ibu ketika jaman sekolah dulu, beliau pernah mengikuti Persami dan Hiking Pramuka. Ya taunya hanya sebatas ada kompleks candi kuno di lereng gunung Ungaran bernama Candi Gedong Songo. Itu saja.

Ketika pertama kali saya turun dari bus lalu berjalan menuju pintu masuk kompleks Candi Gedong Songo, saya merasakan ada getaran aneh. Sekumpulan energi maha dahsyat meliputi kawasan ini. Iya, begitulah yang saya rasakan.

jalan-masuk-candi-gedong-songo-ungaran
Jalan masuk kompleks Candi Gedong Songo

Hiking Candi Gedong Songo

Menatap lebatnya hutan pinus yang menutupi candi-candi kecil di lereng gunung Ungaran, mengetahui langsung medan yang terjal diatas kami, saya tidak habis pikir. Bagaimana bisa masyarakat pada masa abad ke-8 kala itu membangun candi-candi itu? Sungguh ajaib!

Setelah semua rombongan berfoto bersama di bawah candi gedong satu, kami lalu terbagi dalam beberapa sekte kelompok. Panitia yang sudah berkali-kali kesini, memilih untuk menunggu di bawah. Saya mulai mendaki bersama bogger hore macam Citra Rahman, Koko Koper Traveler, Dita Males Mandi, Winny, Wulan, Adlin, Derus, Irzal, dan Dhanang. Sedangkan mereka yang sudah kelelahan akut, tergabung dalam blogger jompo macam Lenny, Bulan Ubermoon, Parahita, Richo dan Ghana memilih untuk menyewa kuda. Jalur trekking jalan kaki dan kuda berbeda.

pelataran-candi-gedong-songo-ungaran
Pelataran bawah kompleks Candi Gedong Songo
candi-gedong-songo-travel-blogger-indonesia-2
Foto bersama dulu
candi-gedong-satu-candi-gedong-songo-ungaran
Candi Gedong Satu

Pada awalnya kami jalan beriringan sambil sesekali bernyanyi bersama. Sempet ya trekking sambil nyanyi? Hahaha segala suasana akan jadi ceria kalau ada koko Koper Traveler. Yaa walau akhirnya cuma dapat dua bait lalu terhenti karena nafas sudah ngos-ngos-an. Meskipun sudah tersedia track untuk hiking, tapi jalur pejalan kaki dari candi gedong 1 ke gedong 2 ini emang ujubilah terjalnya. Ditambah bebatuan yang mencuat disana-sini karena track sudah rusak.

Pada akhirnya seleksi alam lah yang menentukan. Kak Citra yang memang senang dengan kegiatan alam bebas terlihat gesit semakin meninggalkan kami di belakang. Saya berjalan sekitar beberapa belas meter di belakangnya. Sedangkan teman-teman blogger hore “setengah jompo” tadi semakin tertinggal di belakang sana. Mereka masih bergerombol sembari sesekali berhenti.

Sampai di pertengahan track antara candi gedong 1 ke gedong 2, saya baru menyadari bahwa ternyata saya berjalan seorang diri. Citra sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Begitupun teman-teman lain yang masih di jalur bawah. Saya berhenti sejenak. Memejamkan mata, mengatur nafas, menikmati paduan orkestra alam dari gesekan dedaunan, kicauan burung dan hembusan angin pegunungan yang menelusup diantara pinus dan semak belukar. Menikmati kedamaian diantara keheningan candi Gedong Songo Ungaran Semarang.

track-hiking-dari-candi-gedong-1-ke-gedong-2
Jalur pejalan kaki menuju Candi Gedong Dua
bekas-area-flying-fox-candi-gedong-songo-ungaran
Track dari Candi Gedong 1 ke Gedong 2 melewati area ini

Jalur hiking akhirnya berbelok ke kiri, sedikit menurun melewati bekas area outbound yang kini sudah tidak digunakan lagi. Dan begitu berada di sekitar situ…

DEG! Hati saya tersentak!

Bersambung…

About the author

Indonesian expatriate living in Dubai UAE. I started blogging in January 2011. Awarded as 2nd runner up Skyscanner Travel Bloscars Award Indonesia on 2014. I mostly shares my travel experiences and tips for my readers through write up, photos and videos. Interested in hotel & airlines review, adventures, beaches, cultural festival, architectures, heritage sites, and foodies.
31 Responses
  1. Famtrip ini keren. Pemda Jateng keren, mengenalkan objek wisata Jateng kepada banyak orang dengan mengundang blogger. Saya yakin kunjungan wisatawan domestik akan bertambah signifikan dengan adanya kegiatan ini.
    Penasaran dengan candi gedong songo ini. Semoga suatu saat saya bisa berkunjung kesana.

    1. Aamiin, semoga apa yang dilakukan Pemprov Jawa Tengah melalui Dinas Kebudayaan & Pariwisata ini mendatangkan manfaat positif bagi pariwisata Jawa Tengah. Ditunggu main-mainnya kesini mas 🙂

  2. Selama dulu tinggal di Semarang dan Kudus, aku gak pernah sampai ke Candi Gedongsongo ini. Cuma dengar-dengar dari cerita teman. Eh pas udah tahunan tinggal di Bogor, malah kesampaian main kesitu.
    Cuma awal-awal sampai di sana aku sempat kecewa, karena daerah pembukanya itu kesannya komersil dan touristy banget. Banyak warung-warung dan sebagainya. Soalnya aku ngarep area candi ini, sesepi Plaosan gitu.

    Menyusuri kompleks candi yang katanya sembilan tapi cuma lima ini memang lumayan menguras tenaga banget ya mas. Letak satu dan yang lainnya berjauhan, dan nanjak-nanjak. Tapi seneng sih, karena bisa sekalian trekking melewati perkebunan sayur warga juga. Walaupun harus hati-hati karena banyak ranjau dari kudanya.

    Btw, lagi asik-asik baca ceritamu langsung putus gitu. Bikin penasaran aja 😀

    1. Eh jadi pernah tinggal di Semarang juga Mas Bart?

      sepakat, akan lebih kece kalau diatas itu bersih dari warung-warung. murni area trekking menuju candi-candinya dengan alam yang terjaga keasriannya. lalu dibuat ekosistem yang “instagramable” wah pasti cakep! semua warung terpusat di kompleks bawah misalnya gitu ya. diperlukan penataan yang lebih komprehensif.

      aku waktu trekking disini langsung nyadar. baru jalan nanjak segini aja udah jompo, pake gaya-gayaan pingin naik Rinjani segala hahaha.

  3. isssshhh aku masuk blogger apaan donk? gak ada namaku di kedua sekte, baik sekte JOMPO dan sekte olahragawan. *naikkuda* *lemparhermeskayakkakaktete*

    tapi ada apaan sih kak? aku kok yo gak ngerasa apa-apa. Malah seneng-seneng aja. Nyanyi-nyanyi. hahah

    1. bhuahahaha yampun adling ketinggalan dimention, padahal aku ngabsennya udah sambil lihat foto lho. kok masih kelewatan aja. maap ya dling, tapi udah aku edit kok, tuh ada namamu.

      makanya baca postingan lanjutannya yak :p

  4. ihhhhhhh, kentang banget sih wkwkwkwk… bikin penasaran aja… ditunggu secepetnya lanjuta part 2 mas :D.. Itu aku liat jalan menuju ke atasnya udh hela napas sendiri ;p.. kebayang capeknya apalagi kalo lg panas terik ;p

  5. Sepertinya Jateng paling ramai banget acara Famtrip[nya. Semoga saja setelahd ari atas, akan ada impact factornya ke bawah. Siapa tahu per kabupaten juga melakukannya. Seperti yang dilakukan beberapa kabupaten di Jateng pada beberapa waktu lalu.

    1. sebenarnya setiap kota-kabupaten ada anggaran untuk program famtrip. hanya saja nggak melulu travel blogger yang diajak. kadang jurnalis, agen travel, media asing maupun mahasiswa pertukaran pelajar.

      kadang juga dinpar butuh inisiasi dari kita-kita untuk perencanaan penyelenggaraannya. makanya, kita support yuk!

    1. body rafting di sungai kreo semarang, nyanyi2. trekking di gedong songo, nyanyi2. rafting di kali progo, nyanyi2. di dalam bus, nyanyi2. begitulah keceriaan jalan bareng koko sinyo hehe. nyanyi2 terus :p

      eh itu kan udah published part 2 nya bro

  6. Iya nih ceritanya nanggung banget, putus di tengah-tengah, haha. Tanjakan ke Gedong Songo memang kurang santai, saya yang pakai motor saja ke sana (dari Semarang) masih berasa ketar-ketir setiap tanjakan terakhir. Tapi kalau dibandingkan Candi Cetho, tanjakan di sini masih belum ada apa-apanya sih Mas, sumpah, haha.
    Sepenglihatan saya, yang jelas kalau Candi Gedong Satu itu penyambutan, letaknya agak terpisah dan paling bawah, mungkin karena itu kali ya jarak antara CG Satu dan CG Dua lumayan, hehe.

    1. sengaja dibuat kentang untuk ending part 1 ini, biar pada kepo kelanjutannya hehe.

      wah kalau tanjakan menuju candi cetho lebih ekstrim lagi? boleh lah kapan-kapan main eksplorasi wisata Karanganyar dan sekitarnya. banyak spot menarik disana kan ya.

Leave a Reply