Keliling Dunia Bersama Buku Born To Travel

Traveling adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka perjalanan isi bumi harus dilanjutkan!”

Begitulah kutipan pembuka buku Born To Travel yang sekaligus menjadi penyemangat para penulis dalam menyusun buku ini. Sebuah buku antologi bertema traveling yang insyaallah akan segera terbit pada 5 Juni 2017 demi meramaikan jagat persilatan dan perbukuan tanah air. Yeay!

Born To Travel

Buku ini bercerita tentang apa?

Kami para penulis ingin mengajak traveling virtual, membaca sambil berimajinasi menjelajah lima benua. Mencoba sedikit mengusik benak pembaca untuk berani keluar dari zona nyamannya. Karena buku ini berisi kisah pelarian para penulis dari rutinitas sehari-hari di dunia kerja untuk melihat dan menghirup dunia.

*hazeg, narasinya disambung-sambungin dengan buku pertama Menghirup Dunia haha*

Beragam kisah penjelajahan dan pelarian ke berbagai destinasi di dunia dihadirkan. Mulai dari surga di timur nusantara: Raja Ampat, ragam budaya tanah Hindustan, kehangatan masyarakat Iran, Uni Emirat Arab yang sebenarnya tidak melulu tentang Dubai, kesan pertama menginjakkan kaki ke negeri paman sam Amerika Serikat, Australia, Ceko, Lithuania, Maroko bahkan sampai Afrika Selatan.

Born To Travel juga dilengkapi foto-foto berwarna sebagai pendukung cerita.

Siapa saja para penulisnya?

Hendra Fu, Ariev Rahman, Taufan Gio, Risa Bluesaphier, Agusmia Putri Haerani, Indra P Nugraha, Immanuel Sembiring, Thofan Meniao, Linda Bungasalu, Irene Tridiani, Haryadi Yansyah dan saya sendiri Fahmi Anhar.

Lalu siapa penerbitnya?

Buku Born To Travel diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Berapa harganya?

Teman-teman bisa mendapatkan buku ini di toko buku Gramedia dan jaringannya di seluruh Indonesia seharga Rp. 78.000,- pada awal Juni 2017 nanti. Dijual pula di ebay, Scoop dan toko buku online lainnya.

Beberapa waktu lalu para penulis membuka Pre Order yang dibanderol seharga Rp. 70.000,- per eksemplar. Dengan sedikit bonus berupa kartu pos dari Luxembourg, Australia dan Peru bagi pemesan yang beruntung. Alhamdulillah diluar dugaan, rekapan pre order mencapai ratusan pemesan. Sungguh diluar dugaan kami. Terima kasih untuk animo teman-teman semua.

Apa yang membedakan buku ini dengan buku bertema traveling lainnya?

Setiap buku antologi traveling pasti memiliki satu benang merah penulisan cerita yang disepakati antara penulis, editor dan penerbit. Ada yang berkisah tentang pencarian jati diri, ada juga yang bercerita tentang siapa saja sosok berkesan yang ditemui selama traveling seperti dalam buku Mengirup Dunia (#eaa promo buku lama lagi), dan masih banyak lagi tema yang lain.

Nah, yang membedakan buku Born To Travel dengan buku antologi traveling lainnya menurut saya adalah benang merah ceritanya, yaitu pelarian para penulis dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Selain itu, rasanya buku ini lebih ancur karena karakter penulis yang ajaib dan sangat beragam, sehingga otomatis berpengaruh pada gaya penulisan khas masing-masing.

Pokoknya beli aja dulu bukunya di Gramedia terdekat haha.

Bagaimana saya bisa bergabung dalam penulisan buku ini?

Kala itu hari Sabtu, 6 Juni 2015 jam 2 dini hari. Saya baru saja mulai merebahkan kepala di pangkuan Dian Sastro kursi tunggu departure hall Terminal 3 bandara Soekarno Hatta sembari membuka gadget untuk memasang alarm agar tak terlelap ketiduran. Hari itu sangat melelahkan, agenda kegiatan saya padat merayap. Pagi sampai siang ngantor di Semarang, lepas Jumatan langsung terbang ke Jakarta untuk mengisi acara Brunei Darussalam Theatrical Talk Show – The Journey of Unexpected Treasures #JourneyToBrunei hajatan adek-adek emesh London School of Public Relation Jakarta PR 16-3C di The Ice Palace Lotte Shopping Avenue. Usai pertunjukan, saya bergegas ke bandara untuk persiapan mengejar penerbangan pertama.

Mata sudah 5 watt. Iseng scroll timeline Facebook, ada status si Hendra Fu yang juga sedang berada di Terminal 3. Saya japri lah makhluk ini, dan benar, dia berada di smoking area luar sementara saya lesehan di dalam. Hendra mengajak untuk kopdar diluar saja karena di dalam gedung AC nya dingin maksimal.

Saya mengenal makhluk pemilik akun Instagram @tukang.minggat ini sudah cukup lama di dunia maya, namun belum pernah bertemu juga. Dan ajaibnya tanpa disengaja malah bertemu saat sama-sama ngemper tengah malam di Terminal 3 bandara Soekarno Hatta ketika menunggu pesawat yang sama pula untuk ke Jogja.

Dari obrolan selama 3 jam itu, terungkaplah kisah-kisah perjalanan yang unik, mimpi-mimpi besar sekaligus gosip hangat para pendekar persilatan tanah air haha. *subuh-subuh nggosip bersama si pandah*

Obrolan paling seru yang saya ingat adalah ketika kami sharing cerita mengenai project buku masing-masing. Kala itu saya dan beberapa sahabat baru saja menerbitkan buku Menghirup Dunia di Grasindo, salah satu penerbit Gramedia grup sementara Hendra dengan serial I’m Not a Backpacker di GPU.

“Eh, kita nulis rame-rame yuk! Bikin buku antologi traveling gitu.” ajak si pandah yang hobi kutangan doang kemana-mana.

“Boleh, detail mekanismenya mau gimana?” saya mengiyakan ajakan dengan setengah sadar karena mata tinggal 3 watt dan otak sudah minta diistirahatkan.

“Jadi gini… blablabla.” Hendra menjelaskan dengan semangat sementara saya mulai halu.

“Oke siap!”

Saya bilang siap-siap aja. Dan begitu sampai rumah baru bingung mau nulis apa untuk project buku ini hahaha.

Bagaimana kalian semua bisa bersama-sama menyusun buku ini?

Agak unik memang, karena terus terang diantara kami belum semuanya saling mengenal sebelumnya dan belum pernah bertemu pula di dunia nyata. Namun dengan memanfaatkan kemudahan teknologi digital, kita semua bisa mendekatkan diri dan berkarya bersama.

Setelah dua tahun berjibaku dengan penulisan cerita, diskusi penulis, setor ke editor, revisi, setor lagi, revisi lagi, setor lagi, revisi lagi, penentuan cover buku, sampai akhirnya dinyatakan masuk daftar antrian siap naik cetak.

Menulisnya sih cepat. Revisi dan antrian naik cetaknya yang lumayan memakan waktu.

Apa pesan tersirat dari buku Born To Travel ini?

Yang jelas, buku ini bukan sebagai ajang pamer sejauh mana kakimu sudah melangkah, seberapa banyak cap paspor dan sticker visa yang didapatkan, sekaya apa pengalaman travelingmu. Namun lebih kepada mencoba berbagi inspirasi kepada pembaca bahwa dunia ciptaanNYA itu sangat luas di luar sana. Dunia tidak hanya sebatas halaman rumah, jalanan yang macet, sepetak kubikel kantor yang sempit. Dunia juga kaya rasa, jauh lebih bercitarasa jika dibandingkan dengan sekotak nasi sayur bekal makan siang di kantor. Ada banyak cara untuk menjelajahinya. Mari kita nikmati dan syukuri keagungan ciptaanNYA selagi masih bisa.

17 Comments
  1. May 5, 2017
    • May 6, 2017
  2. May 6, 2017
  3. May 7, 2017
    • May 9, 2017
  4. May 8, 2017
  5. May 9, 2017
  6. May 11, 2017
  7. May 13, 2017
    • May 15, 2017
  8. May 14, 2017
    • May 15, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*