Bertemu Mbah Harto di Astana Giribangun Karanganyar

Ziarah Ke Makam Astana Giribangun Karanganyar

Sebuah perjalanan impulsif, terkadang malah memberikan kesan yang mendalam. Ada banyak kejutan menarik yang didapatkan. Seperti perjalanan saya bersama keluarga pada akhir pekan kala itu. Tanpa direncakan sebelumnya, mendadak kami memutuskan untuk wisata ziarah ke Kabupaten Karanganyar. Menuju Astana Giribangun, kompleks makam Presiden RI ke-2 Bp HM Soeharto.

Niat awalnya cuma ingin keliling kota Solo saja. Tapi lama-lama kebablasan sampai ke arah Karanganyar. Mau sekalian ke air terjun Tawangmangu, Candi Sukuh dan Candi Cetho kok kejauhan, ke kebun teh Kemuning kok agak ragu dengan mobil dan medannya, akhirnya browsing alternatif wisata Kabupaten Karanganyar, eh… ada Astana Giribangun yang relatif tidak terlalu jauh dari pusat kota. Jadilah kami mengarah kesana.

Sepanjang perjalanan kami bertiga masih haha-hihi saja menikmati pemandangan asri di pinggir jalan yang dilewati ke arah Matesih Karanganyar. Namun begitu sampai jalan tanjakan menuju parkiran Astana Giribangun, saya & istri baru tersadar. Lah… ini kan makam ya, mana kita bawa si cimil Fariz pula haha.

Masa anak bayi diajak ke makam?

Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur sampai.

Ya sudah, bismillah. Niatnya ziarah.

Kondisi area parkir masih sepi pagi itu. Hanya tampak dua buah minibus yang membawa peziarah dari luar kota. Petugas parkir langsung mengarahkan saya ke pos penerima tamu yang lokasinya sederet dengan kios oleh-oleh.

“Sugeng enjang Pak.” Saya menyapa bapak sepuh di pos itu.

“Nggih mas. Yang ziarah berapa orang? Saya pinjam KTP nya dulu.”

“Hanya tiga Pak.” Sembari menyerahkan KTP

Si bapak pun menuliskan data diri di selembar kertas yang kemudian saya baru tahu bahwa itu adalah surat ijin masuk kompleks makam Astana Giri Bangun. Formal banget ya. Batin saya.

“Ini nanti diserahkan ke petugas yang ada di cungkup dalam sana. Sekarang monggo isi kas mas.”

Jalan Menuju Astana Giribangun

Jalan menuju parkiran Astana Giribangun

Peziarah Makam Astana Giribangun Matesih Karanganyar

Peziarah

Foto Presiden Soeharto Makam Astana Giribangun

Foto Presiden Soeharto

Sejarah & Arsitektur Astana Giribangun

Kompleks makam Astana Giribangun masuk ke kawasan Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Jaraknya sekitar 35 km dari pusat Kota Solo. Jika menggunakan kendaraan pribadi, membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit untuk sampai lokasi. Secara geografis, kompleks makam ini berada di lereng tenggara Gunung Lawu. Jadi udara disini pun masih terasa sejuk.

Sebenarnya, Astana Giribangun merupakan kompleks makam keluarga besar Ibu Tien Soeharto yang dibangun pada tahun 1974 oleh Yayasan Mangadeg Surakarta dan diresmikan pada tahun 1976. Ibu Tien Soeharto merupakan keturunan dari trah KGPAA Mangkunegara III, maka tak heran jika lokasi Astana Giribangun ini berada di lereng bukit tepat di bawah kompleks makam Astana Mangadeg dimana pusara KGPAA Mangkunegara III berada.

Gaya arsitektur Astana Giribangun mengadopsi bentuk joglo dengan khas Surakarta beratap sirap. Ada tiga cungkup atau bangunan makam di kompleks ini, yaitu cungkup Argosari yang terletak di tengah dan paling tinggi posisinya, serta cungkup Argokembang dan Argotuwuh. Selain makam Ibu Tien dan Bp HM Soeharto, terdapat puluhan makam lain dari keluarga besar Ibu Tien.

Cungkup Argosari Astana Giribangun Matesih Karanganyar

Cungkup Argosari, Astana Giribangun

Makam Presiden RI Ke 2 Soeharto & Ibu Tien

Makam Mbah Harto & Bu Tien

Akhirnya Bertemu Mbah Harto

Setelah melalui beberapa anak tangga, kami sampai di cungkup Argosari. Suasana formal ala orde baru begitu terasa disini. Petugas makam berseragam safari tampak berjaga disini.

“Selamat datang Mas. Bisa lihat surat ijin kunjungan dan KTPnya dulu?”

Saya sodorkan surat yang diminta. “Monggo pak.”

“Baik, mari silakan masuk. Kula dherekke.” Beliau mengantar kami masuk.

Pintu utama cungkup berwarna hitam bertahtakan ukiran khas Jawa pun dibuka. Sunyi. Tak ada peziarah lain. Hanya kami bertiga. Di dalam cungkup nan megah itu, terdapat lima buah nisan yang terbuat dari marmer kualitas nomor wahid. Berkilau.

“Ini makam Ibu Tien, di sampingnya makam Bapak HM Soeharto, lalu disampingnya lagi makam Ibu dan Bapak ibu Tien. Monggo kalau mau berdoa.” Bapak penjaga keluar cungkup dan pintu ditutup kembali.

Hening…

Saya duduk bersila di depan pusara. Istri dan si kecil Fariz mengikuti bersimpuh di samping saya.

“Mas, jangan lama-lama ya.” Begitu bisiknya

Saya tercenung sejenak. Setelah sekian lama, akhirnya bisa bertemu Mbah Harto. Presiden RI ke 2.

Teringat momen ketika negeri ini mendadak gempar mendengar berita wafatnya Mbah Harto sang penguasa yang lengser keprabon setelah 31 tahun berkuasa. Ketika semua media baik dari dalam maupun luar negeri kemudian meliput proesi pemakamannya dari Jakarta hingga Karanganyar. Ketika ribuan orang berdiri di pinggir jalan untuk melihat iring-iringan voorijder dan puluhan mobil mewah yang turut mengantar jenazah dalam prosesi pemakaman Pak Harto pada akhir Januari 2008 dari nDalem Kalitan Solo menuju Astana Giribangun Karanganyar. Saat itu saya termasuk salah satu diantara sekian banyak orang yang berbaris rapi di pinggir jalan raya Ir Sutami depan kampus UNS Solo.

Saya termasuk generasi 90an. Lahir dan besar di era orde baru, dewasa pada era reformasi dan matang pada masa demokrasi. Masih ingat betul bagaimana masa SD saya bisa hafal di luar kepala nama-nama menteri, pembukaan UUD 45, pasal-pasal UUD 45 hingga butir-butirnya. Jaman ketika tontonan di TV hanya ada acara Dunia Dalam Berita, Kelompencapir, Ria Jenaka, Album Minggu dan mBangun Deso bersama Den Bagus Ing Ngarso hahaha. #PostinganPenyingkapUmur

Ahh.. Terlepas dari segala macam kontroversinya, saya mencoba melihat beliau dari sisi positifnya saja. Terima kasih atas semua amal baikmu Mbah. Semoga tenang di alam baka sana dan mendapat ampunan atas kekhilafan semasa hidupnya.

Al Faatihah.

Nisan Makam Presiden Soeharto

Nisan Mbah Harto di Astana Giribangun

Keluarga Cimil Ziarah ke Makam Astana Giribangun

Keluarga Cimil ziarah ke makam Astana Giribangun

Tata Tertib Makam Astana Giribangun

Perhatikan tata tertib ziarah

Note: Tulisan ini sebagai bagian dari peringatan meninggalnya Presiden RI Ke 2 Bp HM Soeharto pada 27 Januari 2008

Bersambung.

22 Comments
  1. January 26, 2017
    • January 28, 2017
  2. January 27, 2017
    • January 28, 2017
  3. January 30, 2017
    • January 31, 2017
  4. January 30, 2017
    • January 31, 2017
  5. February 4, 2017
  6. February 5, 2017
    • February 7, 2017
  7. February 13, 2017
  8. February 16, 2017
    • February 27, 2017
  9. February 17, 2017
    • February 27, 2017
  10. February 26, 2017
    • February 27, 2017
  11. February 26, 2017
  12. February 27, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*